Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja di atas langit Beth-ell 1
Aku sering memandangimu dari kejauhan. Hanya ingin tahu kamu sedang apa, apa yang tengah menyita perhatianmu. Kadang aku bertanya, siapa kamu? Yang dengan mudahnya memporak-porandakan ketenanganku akhir-akhir ini.
Iya, kamu. Seseorang yang sukses membuat tidurku tidak tenang dan selalu gelisah. Seseorang yang selalu jadi hal pertama yang menghampiri pikiranku setiap kali aku terbangun dari tidurku.
"Bima..." Bima Putra Atmaja. Entah sejak kapan nama itu melekat begitu dalam di ingatanku.
Aku ingat hari pertama menjejakkan kaki di kampus ini. Niatku cuma satu: belajar benar, lulus cepat, kerja, bantu ringankan beban orang tua. Tapi belum genap satu semester, sesosok laki-laki dengan mata sehitam jelaga dan senyum yang memabukkan itu berhasil menyita seluruh waktu dan perhatianku.
Wajahnya selalu muncul di saat aku bersusah payah mengerjakan tugas yang menumpuk dan menguras otak. Atau... mungkin memang aku saja yang tidak cukup pintar? Hehe... Bima cuma jadi kambing hitam. Tapi sungguh, terlalu sering wajahnya menyelinap diam-diam dan mengacaukan konsentrasiku.
"Bima... iya... laki-laki itu bernama Bima."
Seperti saat ini, misalnya. Otakku sudah terlalu lelah mencerna mata kuliah yang tak kunjung aku pahami. Iya, aku tahu. Salahku memang. Aku akui otakku memang tidak sepintar itu.
Saat ini aku memilih berdiam di kelas. Tidak benar-benar sendiri, sih. Masih ada segelintir manusia yang bertahan di sini. Entah apa alasan mereka. Yang pasti, alasannya tidak sama denganku.
Kuletakkan kepala di atas meja, menghela napas panjang. Pikiranku melanglang buana entah ke mana. Mungkin otakku sedang mencarinya di belantara ingatanku. Sebab hanya dengan mengingat Bima, moodku bisa membaik seketika.
Dan... saat pikiranku tidak berada di tempat, saat aku tidak dalam kondisi siaga sama sekali, tiba-tiba kehadiran seseorang yang sangat kukenali membuatku terlonjak. Seketika hawa aneh menjalar di sekujur tubuhku.
Siapa lagi yang bisa membuatku seperti ini, kalau bukan... "Bima!" Aku membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang berdiri di depanku.
"Kenapa kaget kayak lihat hantu?" katanya sambil mengembangkan senyum yang menurutku cukup memabukkan.
"Ah... nggak, aku cuma... aku." Tuhan, kenapa aku jadi gagu begini? Bodoh.
Aku masih mematung ketika Bima dengan santainya menyibakkan anak rambutku yang berantakan. Perbuatannya itu membuat jantungku rasanya mau meledak.
"Apa..." kataku spontan. Ya Tuhan, lagi-lagi aku ngomong nggak jelas. Bodoh... Bodoh... Dasar bodoh.
"Rambutmu mengganggu penglihatanmu, jadi aku singkirin dari wajahmu. Itu aja," jawabnya santai. Tidak sesantai keadaanku saat ini.
Eh, tunggu! Ini kan rambutku sendiri? Bagaimana dia bisa menyimpulkan rambutku menggangguku atau tidak? Bagiku, perlakuannya barusan yang justru sangat mengganggu kewarasanku saat ini._
"Nilam, kenapa diam?" tanyanya, menatapku menyelidik.
"Ah, nggak. Nggak apa-apa. Cuma sedikit kaget," jawabku datar, sebisa mungkin mengatur detak jantung agar kembali normal.
"Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini. Ada apa?" tanyanya.
_Hah, tunggu! Dia bilang apa? "Akhir-akhir ini." Jadi maksudnya dia memperhatikanku akhir-akhir ini?_ Ya Tuhan, jangan biarkan ekspektasiku melambung tinggi karena satu kalimat itu. Aku bisa GR.
"Ya udah, kayaknya kamu memang butuh istirahat. Aku pergi dulu. Maaf ganggu," katanya sambil tersenyum, lalu melangkah pergi. Sementara aku masih mematung, membiarkannya berlalu karena perasaanku tidak karuan. Semoga saja dia tidak mendengar detak jantungku yang seperti sedang lomba lari.
Begitu Bima menjauh, aku langsung menjatuhkan wajah ke atas meja lagi. Rasanya tidak bisa diungkapkan. Pasti wajahku kelihatan merah padam karena menahan malu.
Pagi harinya, entah bagaimana, semangatku naik sepuluh kali lipat dari hari-hari sebelumnya. Ya, tentu saja karena Bima. Dia yang membuat hatiku berbunga-bunga.
Aku berjalan dari rumah ke halte angkot langganan. Karena terlalu senang, aku tidak sadar sudah hampir 20 menit menunggu dan tidak ada satu pun angkot lewat. Aku baru ngeh. Kalau begini terus, aku bisa telat. Moodku sedikit turun.
"Hufft..." Aku menghela napas, berharap angkot segera muncul. Dan sepertinya Tuhan mendengar. Bahkan lebih dari yang aku minta. Bukan hanya angkot yang Dia kirim, tapi Bima, seseorang yang selalu berhasil membuat jantungku berdetak lebih kencang.
Awalnya aku tidak sadar motor yang berhenti di depanku adalah Bima. Baru setelah dia membuka helm, aku tersadar.
"Ayo, bareng! Nanti telat," katanya sambil menyodorkan helm ke arahku.
_Kok dia bisa pas banget bawa dua helm? Jangan-jangan dia sengaja mau antar aku..._ Hehe, aku tersenyum sendiri memikirkannya. Tapi sepertinya Bima tahu apa yang kupikirkan. "Ini aku habis nganter Ibu ke pasar," katanya.
"Oh..." jawabku singkat. Dalam hati, aku merutuki pikiranku sendiri. Benar kata orang: cinta adalah jalan lain untuk menjadi bodoh. Dan aku sudah membuktikannya.
Akhirnya, aku berangkat ke kampus dibonceng Bima. Lagi-lagi dadaku berdegup, berdesir, meletup-letup. Perasaan-perasaan aneh yang hanya muncul kalau aku di dekat Bima.
_Oke, Nilam, bangun. Udah cukup halunya,_ kataku pada diri sendiri.
"Nanti pulang, aku tunggu di sini jam tiga, oke? Jangan telat," katanya sebelum pergi. Tapi..., wait_, Bima bahkan belum dengar jawabanku, iya atau tidak. Main pergi saja. Tapi aku senang sekaligus penasaran. Kenapa tiba-tiba Bima ngajak aku pergi? Jadi tidak sabar menunggu waktu itu tiba.
Seantusias itu aku ingin bertemu Bima sore nanti. Aku menerka-nerka apa yang akan terjadi di antara kami setelah hari ini.
Pukul 14:40, dan yang kutunggu akhirnya datang. Bima menghampiriku, menyapa. "Aku yang harusnya nunggu kamu, kan? Kok malah kamu yang udah di sini duluan?" tanyanya sambil tersenyum penuh arti.
_Nah, gawat, kan? Aku harus jawab apa? Apa aku jujur saja kalau aku kelewat senang mau ketemuan, makanya buru-buru ke sini? Ah, nggak. Gengsiku masih ada._
"Tadi aku selesainya lebih cepat, jadi baliknya juga cepat," jawabku mengada-ada.
"Ya udah, yuk. Keburu sore," sambil menyodorkan helm.
"Kita ke mana?" tanyaku penasaran.
"Nggak jauh. Aku cuma mau ngajak kamu ngobrol sambil nikmatin sore di depan gereja dekat alun-alun. Kalau sore, langitnya bagus banget di sana," jawabnya.
_What?! Nggak salah? Dia kerasukan arwah william Shakespeare apa? Seorang Bima yang cuek bisa-bisanya seromantis ini? batinku melongo.
"Nilam Cahaya Nurani," dia sampai menyebut namaku dengan lengkap sambil menjentikkan jari di keningku.
"Hah?" reaksiku tidak jelas karena terlalu bingung harus berekspresi seperti apa.
"Nah, kan, bengong mulu nih anak," katanya lagi, kali ini sambil menarik tanganku. Dan aku... menurutinya begitu saja.