NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di sisi lain, Xena baru saja menyelesaikan mandinya.

Ia mencoba membuang segala penat di bawah kucuran air hangat, namun bayangan Prabu yang berdiri lesu di pinggir jalan terus menghantuinya.

Dengan jemari gemetar, ia mengenakan gaun berwarna navy sederhana yang elegan, membiarkan kalung sayap perak pemberian Prabu tetap melingkar di lehernya—tersembunyi di balik kerah gaunnya.

Begitu pintu kamar dibuka, Nathan sudah berdiri di sana, rapi dengan kemeja kasualnya.

Ia memberikan senyum sopan yang menenangkan.

"Kamu tampak jauh lebih segar, Xen," puji Nathan tulus.

Nathan mengajak Xena untuk makan malam di restoran hotel yang memang sudah disiapkan khusus bagi para peserta seminar.

Suasana restoran itu sangat tenang dengan pencahayaan temaram dan iringan musik instrumen yang lembut. Namun, sepanjang jalan menuju meja makan, Xena lebih banyak diam. Matanya sesekali menatap kosong ke arah piring yang masih kosong.

Setelah pesanan mereka datang, Nathan meletakkan garpunya dan menatap Xena lekat-lekat.

"Sebenarnya ada apa, Xen?" tanya Nathan tanpa basa-basi.

"Sejak mendarat tadi, aura dokter jiwamu hilang. Kamu terlihat seperti pasien yang sedang mengalami trauma hebat."

Xena tertegun, tangannya tanpa sadar meraba lehernya, mencari bandul kalung di balik gaunnya.

"Masih belum bisa melupakannya? Cinta pertamamu yang juga suamimu itu?" sambung Nathan dengan nada bicara yang dalam, namun tidak menghakimi.

Xena menghela napas panjang. Ia merasa sesak jika harus terus menyimpan rahasia ini sendirian.

Di hadapan Nathan, yang bukan hanya rekan kerja tetapi juga seorang ahli yang memahami cara kerja pikiran manusia, pertahanan Xena akhirnya runtuh.

"Sulit, Nath," bisik Xena.

"Bagaimana bisa aku melupakan pria yang sudah mengisi sepuluh tahun hidupku, tapi juga pria yang memberikan luka fisik paling nyata di wajahku?"

Xena menceritakan semuanya. Dimulai dari pengabdiannya selama bertahun-tahun, masa-masa sulit saat ia menyembuhkan trauma terbang Prabu, hingga insiden menyakitkan saat tangan Prabu mendarat di pipinya.

Ia menumpahkan segala rasa sakit, rasa takut yang masih menghantui, hingga konflik batinnya yang masih mencintai pria yang sama dengan pria yang ingin ia tinggalkan.

Nathan mendengarkan dalam keheningan yang panjang, membiarkan Xena menumpahkan seluruh beban di pundaknya di bawah langit malam Bali yang kini terasa begitu berat bagi sahabatnya itu.

Nathan mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir Xena dengan saksama.

Sebagai sesama psikiater, ia tahu bahwa di balik gaun cantik dan riasan tipis itu, Xena sedang melakukan "pembedahan" pada lukanya sendiri.

Keheningan sempat menyelimuti meja makan mereka selama beberapa saat setelah Xena menyelesaikan ceritanya.

Nathan meletakkan gelas air putihnya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arah Xena.

Sorot matanya berubah menjadi sangat profesional namun tetap hangat.

"Xen, aku akan bicara padamu bukan sebagai teman, tapi sebagai sesama dokter," Nathan memulai pembicaraannya.

"Dalam ilmu kita, kita tahu bahwa trauma bukan sekadar ingatan, tapi respons tubuh. Wajar jika tubuhmu bereaksi waspada saat Prabu mendekat, karena otakmu sedang menjalankan mekanisme perlindungan diri dari ancaman yang pernah nyata terjadi."

Xena menunduk, memainkan ujung serbet dengan jari yang sedikit gemetar.

"Nasehatku hanya satu," lanjut Nathan.

"Jangan biarkan rasa bersalah Prabu menjadi tanggung jawabmu. Kamu sudah menunaikan tugasmu sebagai istri dan dokter dengan menyembuhkannya. Sekarang, tugasmu adalah menyembuhkan dirimu sendiri. Jika kamu kembali padanya sekarang hanya karena kasihan atau karena dia sedang berjuang, kamu hanya akan membangun rumah di atas fondasi yang retak."

Nathan menjeda kalimatnya, memastikan Xena mendengarkan dengan baik.

"Maafkan dia untuk ketenangan jiwamu, tapi jangan dipaksakan untuk menerimanya kembali jika rasa takut itu masih lebih besar daripada rasa cintamu. Cinta tidak seharusnya membuatmu merasa perlu bersiap untuk dipukul lagi, Xen. Kamu berhak atas rasa aman yang mutlak."

Xena menarik napas panjang, merasa sebuah beban berat seolah sedikit terangkat dari dadanya.

Perkataan Nathan logis dan objektif, sesuatu yang selama ini sulit ia temukan karena emosinya yang terlalu terlibat.

"Tapi bagaimana kalau aku masih merindukannya, Nath?" tanya Xena lirih, suaranya nyaris hilang ditelan musik restoran.

"Merindukan kenangan manis itu manusiawi, tapi jangan biarkan rindu itu membutakanmu pada kenyataan pahit yang pernah ada," jawab Nathan tegas namun lembut.

"Biarkan waktu yang bekerja. Jika Prabu benar-benar berubah, dia akan sanggup menunggu sampai kamu benar-benar siap, tanpa paksaan, tanpa drama. Dan jika tidak, maka kamu sudah tahu jawabannya."

Xena mengangguk pelan, menyeka sudut matanya yang sedikit basah.

Malam itu, di bawah temaram lampu restoran, Xena merasa mulai menemukan kembali pijakannya yang sempat goyah oleh kehadiran Prabu pagi tadi.

Nathan kembali menunjukkan sisi hangatnya untuk mencairkan suasana yang sempat menegang.

Ia menggeser piring steak milik Xena ke arahnya dengan gerakan yang sangat sopan.

"Ayo kita makan steak ini, Xen. Sini biar aku potongkan," ucap Nathan sambil tersenyum tipis, tangannya dengan cekatan memotong daging itu menjadi bagian-bagian kecil agar Xena lebih mudah menyantapnya.

Xena tertegun melihat perhatian kecil itu. Untuk sesaat, ia merasa diperlakukan dengan sangat lembut, tanpa ada tekanan atau tuntutan di baliknya.

Setelah piring itu kembali ke hadapannya, Nathan merogoh ponsel dari saku kemejanya.

"Oh iya, aku hampir lupa menunjukkan ini padamu," ujar Nathan dengan binar mata yang berbeda.

Ia menggeser layar ponselnya lalu menunjukkannya pada Xena.

Di layar itu, tampak seorang bayi mungil yang sedang tertidur lelap dengan bedong berwarna merah muda.

Pipinya yang kemerahan dan jemari kecilnya yang melingkar membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa gemas.

"Lucu sekali dia," ucap Xena spontan.

Senyum tulus akhirnya terbit di wajahnya setelah seharian penuh dengan ketegangan.

"Siapa namanya, Nath?"

Nathan menganggukkan kepalanya perlahan, menatap foto itu dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara cinta yang luar biasa dan kerinduan yang dalam.

"Namanya Aira. Dia baru saja lahir tiga bulan yang lalu," jawab Nathan pelan.

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar.

"Dia adalah satu-satunya harta yang ditinggalkan ibunya untukku."

Xena menghentikan kunyahannya. Ia menatap Nathan dengan tatapan bertanya sekaligus simpati.

"Istriku, dia tidak selamat setelah melahirkan Aira," cerita Nathan lirih.

"Kehilangan seseorang yang kita cintai saat dia sedang berjuang memberikan kehidupan baru adalah jenis patah hati yang tidak pernah diajarkan di buku kedokteran mana pun, Xen."

Xena merasa dadanya sesak. Ternyata, di balik ketenangan dan nasehat-nasehat bijaknya, Nathan juga sedang membawa beban kehilangan yang tak kalah berat.

Malam itu, di sebuah restoran di Bali, dua jiwa yang sama-sama terluka duduk berhadapan—yang satu terluka karena pengkhianatan cinta yang masih hidup, dan yang satu lagi terluka karena perpisahan abadi dari cinta yang ia puja.

Suasana rumah yang luas itu terasa begitu sunyi dan hampa saat Prabu melangkah masuk.

Tidak ada sapaan lembut, tidak ada aroma masakan Xena, dan tidak ada kehangatan yang biasanya menyambutnya pulang.

Rumah ini kini hanya sekadar bangunan beton yang dingin, saksi bisu dari segala kesalahan yang pernah ia perbuat.

Prabu berjalan gontai menuju kamar utama. Ia bahkan tidak berniat mengganti seragam pilotnya yang sudah seharian melekat di tubuh.

Dengan napas yang berat, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terasa terlalu luas untuknya sendiri.

Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara bayangan wajah Xena yang ketakutan di dalam mobil tadi kembali berputar di benaknya.

Rasa sesak itu datang lagi, lebih hebat dari guncangan turbulensi mana pun yang pernah ia hadapi di udara.

"Xena..." bisik Prabu lirih ke dalam keheningan malam.

Ia meraba dadanya yang terasa kosong tanpa kalung keberuntungan yang kini telah berpindah ke leher istrinya.

Ia tahu, permintaan maaf sebanyak apa pun tidak akan bisa menghapus memori traumatis yang ia tanamkan pada wanita yang paling ia cintai itu.

Ia sadar bahwa luka di wajah Xena mungkin sudah sembuh, tapi luka di jiwanya adalah badai yang ia ciptakan sendiri.

"Aku akan menunggumu sampai kamu siap," gumam Prabu dengan suara serak, seolah-olah angin malam bisa menyampaikan pesan itu hingga ke Bali.

"Berapa lama pun itu, Xen. Meskipun aku harus menunggu di depan pintu yang terkunci seumur hidupku, aku tidak akan pergi lagi. Aku akan membuktikan bahwa pria yang pernah memukulmu itu sudah mati, dan yang tersisa hanyalah pria yang ingin menjagamu."

Prabu memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa perih yang menjalar.

Malam itu, di Jakarta yang bising, sang Kapten akhirnya menyerah pada kelelahan dan rasa bersalahnya, tertidur dengan harapan kecil bahwa suatu hari nanti, Xena akan menatapnya tanpa rasa takut lagi.

1
Dew666
💄💄💄
Dew666
💄💄💄💄
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Nur Asiah
manis sekali prabu ini,membuat hati Xena makin meleleh
Nur Asiah
semua novel genre romantis pasti ujungnya ya balikan
my name is pho: enaknya balikan apa nggak nih
🤭
total 1 replies
Nur Asiah
makan xena yg banyak,biar sehat setelah itu berikanlah kesempatan untuk prabu sekali lagi💪💪
falea sezi
males ujungnya balikan/Puke/
falea sezi
skip sena goblok di injak2 harga diri masih aja mau
falea sezi
klo balik sena oon tolol
falea sezi
goblok jd sena q penjarain trs gugat cerai
falea sezi
laki menjijikkan
falea sezi
enak bgt dateng2 suruh nikah
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!