NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

POV: WAHYU

Kamis malam, pukul sembilan, Wahyu duduk di meja belajarnya dengan buku Hukum Acara Perdata terbuka di halaman terakhir yang perlu dia pelajari. Ujian besok pukul delapan pagi—masih ada sebelas jam.

Secara teknis, materi sudah dia kuasai. Konsep-konsep dasar, prosedur beracara, asas-asas hukum perdata—semuanya sudah masuk dan tersusun rapi di kepalanya. Kemarin malam, sesi kuis dengan Riani membuktikan itu—hampir semua pertanyaan bisa dia jawab dengan benar dan detail.

Tapi Wahyu tetap tidak bisa rileks.

Ada kebiasaan lama yang susah dihilangkan: panik sebelum ujian. Bukan panik karena tidak siap, tapi panik karena... takut gagal. Takut bahwa semua yang dia pelajari tiba-tiba menguap ketika soal ujian ada di depan mata.

Ironis, karena Wahyu adalah tipe orang yang selalu siap. Tapi justru karena dia terlalu sadar akan konsekuensi kegagalan—IPK turun, beasiswa terancam, biaya kuliah tidak ada—maka tekanan itu menjadi sangat nyata.

Dia berdiri dari kursi, berjalan ke jendela kamar. Malam di luar tenang—jalanan kampus sepi, lampu-lampu jalan membentuk jalur cahaya kuning di antara pepohonan. Dari kejauhan terdengar suara motor yang sesekali lewat.

Wahyu menarik napas panjang.

Besok ujian.

Setelah ujian, dia harus selesaikan translation project yang sudah tertunda dua hari. Klien sudah mengirim reminder tadi sore—dokumen dua belas halaman yang harus selesai Sabtu.

Setelah translation, ada meeting BEM Minggu untuk evaluasi acara Donor Darah.

Dan Senin... sidang lagi.

Wahyu menekan pelipisnya yang mulai berdenyut.

Terlalu banyak. Semuanya menumpuk.

Dia kembali ke meja belajar, duduk, membuka halaman terakhir buku yang belum dia baca: asas-asas pembuktian dalam hukum perdata. Matanya menyusuri baris-baris teks, tapi pikirannya melayang.

Ke sidang Senin.

Pengacara Pak Hendra bilang, Senin giliran Direktur Operasional lama perusahaan itu dipanggil sebagai saksi. Orang yang, menurut analisis Pak Hendra, bertanggung jawab langsung atas keputusan menggunakan vendor subkontraktor bermasalah itu.

Jika direktur itu bersaksi jujur—mengakui bahwa dialah yang menunjuk vendor tersebut, bukan ayah Wahyu—maka kasus ini akan mengalami turning point yang signifikan.

Tapi "jika" itu masih tanda tanya besar.

Orang yang takut kehilangan karir dan reputasinya tidak selalu memilih kejujuran.

Wahyu tahu itu.

Ponselnya bergetar. Dia melirik—pesan dari grup WhatsApp keluarga. Dari ibunya.

Ibu: "Yu, besok ujian ya? Ibu doakan. Jangan lupa sarapan dulu."

Wahyu menatap pesan itu.

Ibu yang bekerja di toko kelontong tetangga, pulang sore dengan kaki lelah, masih sempat mengirim pesan untuk mengingatkan Wahyu sarapan.

Dia mengetik balasan:

Wahyu: "Iya, Bu. Terima kasih. Ibu juga jaga kesehatan."

Ibu: "Insyaallah. Bapak juga titip salam buat kamu. Besok lusa Senin sidang lagi, kalau kamu bisa datang, Bapak senang. Tapi kalau sibuk, nggak apa."

Wahyu meletakkan ponsel.

Sidang Senin. Ujian Jumat besok. Translation Sabtu.

Dia bisa atur waktunya supaya semua bisa dijalankan. Tapi yang tidak bisa dia atur adalah... energi mentalnya yang makin hari makin terkuras.

Wahyu kembali membuka buku. Membaca pelan-pelan, mencoba memastikan setiap konsep benar-benar dipahami, bukan hanya dihafal.

Asas audi et alteram partem: hakim wajib mendengar kedua pihak secara berimbang.

Wahyu berhenti di kalimat itu.

Wajib mendengar kedua pihak secara berimbang.

Asas yang indah di atas kertas. Tapi dalam praktiknya—dalam kasus ayahnya—apakah hakim benar-benar mendengar? Apakah ketika pihak perusahaan berbicara dengan pengacara mahal dan argumen yang terstruktur rapi, suara ayahnya yang lelah dan hampir menyerah itu benar-benar didengar dengan porsi yang sama?

Wahyu tidak tahu.

Yang dia tahu, delapan tahun adalah waktu yang sangat lama untuk "mendengar secara berimbang".

Dia menutup buku, mendorong kursi ke belakang.

Butuh udara segar.

Wahyu keluar dari kamar, berjalan ke lorong kost yang sepi, lalu naik ke lantai atap—tempat yang jarang digunakan penghuni kost lain, tapi Wahyu sering datangi ketika butuh ruang untuk bernapas.

Atap kost itu terbuka—tanpa pagar, hanya batas dinding setinggi pinggang. Dari sana, Wahyu bisa melihat sebagian kecil kota: deretan atap rumah, beberapa gedung bertingkat di kejauhan, langit malam yang tidak terlalu gelap karena cahaya kota.

Dia berdiri di sana. Angin malam bertiup cukup kencang, dingin menyentuh wajahnya.

Enam tahun lagi.

Atau lima. Atau empat.

Tidak ada yang tahu pasti berapa lama lagi sampai hidupnya bisa... normal.

Sampai ayahnya bisa berjalan tanpa membawa beban yang terlihat di setiap langkahnya. Sampai ibunya bisa berhenti bekerja di toko kelontong dan istirahat dengan layak. Sampai adik-adiknya bisa tumbuh tanpa terbebani oleh nama keluarga yang terlanjur dicap.

Sampai Wahyu sendiri bisa... bernapas.

Ponselnya bergetar lagi.

Riani.

Riani: "Wahyu, kamu masih belajar? Gimana persiapannya?"

Wahyu menatap layar beberapa detik. Lalu duduk di atas dinding rendah atap kost, mengetik balasan.

Wahyu: "Selesai baca tadi. Lagi istirahat sebentar."

Riani: "Bagus. Istirahat penting. Otak perlu jeda biar materi lebih masuk."

Wahyu: "Aku tahu."

Riani: "Kamu gugup?"

Wahyu terdiam. Pertanyaan yang langsung ke intinya.

Wahyu: "Sedikit."

Jujur lebih mudah lewat teks. Entah kenapa.

Riani: "Wajar. Tapi kamu sudah siap, Wahyu. Kemarin kamu jawab hampir semua pertanyaan kuis dengan benar. Kamu jauh lebih siap dari yang kamu pikir."

Wahyu membaca balasan itu.

Kamu jauh lebih siap dari yang kamu pikir.

Kapan terakhir kali ada seseorang yang berkata seperti itu padanya?

Bukan "semangat" yang terasa basa-basi. Bukan "pasti bisa" yang terasa kosong. Tapi pengamatan yang konkret—kamu menjawab pertanyaan kuis dengan benar, therefore kamu siap.

Wahyu: "Terima kasih sudah bantu kemarin malam."

Riani: "Sama-sama. Itu menyenangkan juga kok buat aku. Aku jadi belajar sedikit tentang hukum perdata 😄"

Wahyu: "Kamu nggak perlu belajar hukum perdata."

Riani: "Siapa tahu berguna. Misalnya kalau nanti aku perlu nuntut seseorang karena wanprestasi 😂"

Wahyu membaca emoji tertawa itu.

Dan tanpa benar-benar merencanakan, sudut bibirnya terangkat sedikit.

Wahyu: "Untuk nuntut wanprestasi kamu butuh bukti tertulis dulu. Perjanjian yang jelas, surat menyurat, atau rekaman."

Riani: "Wah, langsung serius 😂 Tapi oke dicatat. Makanya penting banget buat selalu ada bukti tertulis ya."

Wahyu: "Iya. Dalam hukum, yang tidak tertulis hampir tidak ada artinya."

Riani: "Filosofi hidup yang dalam, Wahyu 😄"

Wahyu menatap layar. Lalu mengetik sesuatu yang tidak terlalu dia pikirkan sebelumnya.

Wahyu: "Kamu... sering begini?"

Riani: "Begini gimana?"

Wahyu: "Ngobrol sama orang yang nggak tidur malam-malam."

Balasan Riani datang setelah beberapa detik.

Riani: "Kalau orang yang penting buat aku lagi nggak tidur... iya."

Wahyu membaca kalimat itu.

Orang yang penting buat aku.

Dia meletakkan ponsel di pahanya. Menatap langit malam di atas kota.

Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya—perasaan yang asing, tidak familiar, tapi tidak tidak-nyaman.

Hangat.

Seperti secangkir kopi di pagi hari yang dingin.

Tapi juga menakutkan.

Karena Wahyu tidak terbiasa dengan hangat. Dan hal-hal yang tidak dia kenal selalu membuatnya waspada.

Dia mengambil ponsel lagi.

Wahyu: "Kamu harus tidur. Besok ada kuliah."

Riani: "Kamu juga. Besok ujian."

Wahyu: "Aku masuk sebentar lagi."

Riani: "Oke. Wahyu... semangat besok ya. Aku yakin kamu bisa."

Wahyu mengetik balasan terakhirnya malam itu.

Wahyu: "Terima kasih, Riani."

Dia menyimpan ponsel. Berdiri, meregangkan punggungnya, lalu turun kembali ke kamar.

Di meja belajar, buku Hukum Acara Perdata masih terbuka.

Wahyu duduk, membaca dua halaman terakhir yang belum sempat dia baca tadi, lalu menutup buku.

Berbaring di kasur. Menutup mata.

Dan kali ini, pikiran tentang sidang Senin dan tekanan ujian besok tidak datang pertama kali.

Yang datang pertama adalah kalimat Riani.

"Kalau orang yang penting buat aku lagi nggak tidur... iya."

Wahyu membuka mata.

Menatap langit-langit.

Penting.

Riani menganggap dia penting.

Dan entah sejak kapan, tanpa dia sadari...

Wahyu mulai menganggap Riani penting juga.

Dia memejamkan mata lagi.

Berbahaya.

Tapi untuk malam ini, dia tidak akan memikirkan itu.

Untuk malam ini, dia hanya akan... tidur. Dengan satu perasaan kecil yang hangat di dadanya.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!