NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Gema Peluru dan Janji di Tepi Laut

​Adrenalin adalah bahan bakar yang kejam. Ia membuatmu merasa tak terkalahkan saat peluru berdesing di dekat telingamu, namun ia akan menuntut bayaran yang setimpal begitu detaknya mereda.

​Aku merasakannya sekarang. Rasa sakit di pergelangan kakiku akibat melompat dari jendela lantai dua klinik tadi mulai berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum panas yang menusuk persendianku. Namun, rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kulihat di sampingku. Devan memacu motor trail hitamnya menembus jalanan setapak yang becek di pinggiran hutan kargo, napasnya terdengar berat dan kasar melalui interkom helm yang sedikit retak. Lengan kirinya yang terbalut jaket kulit kini tampak basah dan menghitam—darah segar kembali merembes dari luka tembak yang terbuka paksa saat ia menghajar Pak Tarjo di hanggar tadi.

​"Tahan... sedikit lagi, Anya," bisiknya parau. Suaranya bergetar, sebuah tanda bahwa kesadarannya sedang bertarung melawan rasa sakit dan kehilangan darah.

​"Kau harus berhenti, Devan! Kau bisa pingsan di tengah jalan!" teriakku, memeluk pinggangnya semakin erat. Aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang mulai naik, sebuah tanda infeksi atau syok yang mengancam.

​"Tidak... sebelum kita sampai di zona mati," balasnya tegas.

​Kami membelah kegelapan subuh yang berkabut, menjauh dari raungan sirene polisi yang kini terdengar mengecil di kejauhan. Devan membawa kami melewati jalur-jalur tikus yang tak terpetakan di GPS mana pun—lorong-lorong pabrik yang sudah rubuh, jembatan kayu yang reyot, hingga akhirnya aroma garam laut yang tajam mulai menginvasi indra penciumanku.

​Kami tiba di sebuah tanjung kecil yang terisolasi oleh tebing karang. Di sana, berdiri sebuah gudang tua milik koperasi nelayan yang sudah lama bangkrut. Devan mematikan mesin motornya sekitar lima puluh meter dari bangunan itu. Begitu mesin mati, keheningan yang memekakkan telinga langsung menyergap, hanya diselingi oleh suara deburan ombak yang menghantam karang di bawah sana.

​Devan mencoba menurunkan standar motor, namun tubuhnya limbung. Motor itu hampir roboh jika aku tidak segera melompat turun dan menahannya dengan seluruh sisa tenagaku.

​"Devan!" aku menangkap tubuhnya saat ia terjatuh dari jok motor.

​Ia merosot ke tanah yang berpasir, menyandarkan punggungnya pada roda motor. Helmnya terlepas, memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi dengan keringat dingin yang membanjiri pelipis. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini tampak sayu, namun ia masih sempat memberikan senyum tipis yang menyayat hati.

​"Kita... kita berhasil, kan?" gumamnya, tangannya yang gemetar meraba tas ransel tempat laptop perak itu berada.

​"Ya, kita berhasil. Sekarang diamlah," aku segera membuka ritsleting jaket kargoku, mengambil kaos cadangan yang kubawa untuk dijadikan perban darurat. "Lenganmu... ya Tuhan, Devan. Ini buruk."

​Aku merobek lengan jaket kulitnya dengan pisau lipat yang ia simpan di saku. Pemandangan di bawahnya membuat perutku melilit. Luka tembak itu membengkak, merah meradang, dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tanpa alkohol medis di sini, aku hanya bisa menggunakan sisa air mineral untuk membersihkannya secara kasar sebelum membebatnya kuat-kuat.

​Selama aku mengobatinya, Devan hanya menatap langit subuh yang perlahan berubah warna menjadi ungu kebiruan. "Anya..."

​"Hm?" aku tidak menoleh, fokusku sepenuhnya pada simpul perban di lengannya.

​"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang kartu SD itu?" tanyanya pelan. "Tiga tahun lalu... saat kita merencanakan pelarian di bawah pohon beringin bengkel. Kau hanya bilang kau sudah menyiapkan segalanya."

​Aku terhenti sejenak. Ingatan itu berkelebat seperti film lama yang diputar ulang. "Karena aku tahu Ayah akan memeriksa laptop itu lebih dulu jika kita tertangkap. Aku tahu Dokter Frans ahli dalam forensik digital sederhana. Aku menyelipkannya di balik pelat pelindung motherboard karena aku bermimpi... suatu hari nanti, jika kita gagal, setidaknya ada satu bagian dari kebenaran yang tidak bisa mereka sentuh."

​Aku mendongak, menatap matanya. "Aku tidak tahu bahwa 'suatu hari' itu akan memakan waktu tiga tahun, Devan. Aku tidak tahu bahwa aku harus bangun dari amnesia untuk mengingat di mana aku menyembunyikannya."

​Devan meraih tanganku yang berlumuran darahnya, membawanya ke bibirnya, dan mengecup buku-buku jariku dengan pemujaan yang dalam. "Kau lebih pintar dari mereka semua, Nya. Kau selalu menjadi penyelamatku, bahkan saat kau sendiri lupa siapa aku."

​Pukul enam pagi. Cahaya matahari pertama menyembul dari cakrawala laut, memantulkan kilauan perak di atas permukaan air yang tenang. Kami masuk ke dalam gudang nelayan itu untuk mencari perlindungan dari angin pagi yang menusuk. Di dalam sana, Devan berbaring di atas tumpukan jaring nelayan yang empuk namun berbau amis, sementara aku duduk di sebelahnya dengan laptop perak yang kini menyala.

​Dengan jari gemetar, aku membuka baut kecil di bagian bawah laptop menggunakan obeng mini dari peralatan motor Devan. Di balik lempengan logam tipis itu, terdapat sebuah kartu Micro-SD hitam yang sangat kecil. Benda seukuran kuku inilah yang menjadi alasan Ayah bersedia membakar hidupku.

​Aku memasukkannya ke dalam card reader dan menghubungkannya ke laptop.

​Layar berkedip, menampilkan ratusan folder. Folder-folder itu berisi rekaman CCTV asli Proyek Sudirman sebelum 'kecelakaan' terjadi, salinan kontrak material yang ditandatangani Ayah menggunakan perusahaan cangkang, dan yang paling mengerikan: rekaman audio percakapan Ayah dengan Mandor Joko tentang bagaimana cara membuat bangunan itu rubuh tanpa terlihat seperti sabotase.

​"Ini dia," bisikku. Suaraku tercekat. "Ini eksekusi mati bagi karier Ayah."

​Devan mencoba duduk untuk melihat layar, namun ia meringis hebat. Aku membantunya bersandar pada tumpukan kayu. Ia menatap layar itu dengan tatapan yang dipenuhi dendam sekaligus kelegaan yang luar biasa. Tiga tahun penderitaannya, hari-harinya di jalanan sebagai gelandangan, malam-malam berdarahnya di arena tarung... semuanya bermuara pada data-data digital ini.

​"Ibuku..." suara Devan bergetar. "Ratna Mahendra. Dengan ini, Jaksa Satria bisa membuka kembali kasusnya dalam hitungan jam. Dia tidak akan lagi menjadi kriminal di mata dunia."

​Tiba-tiba, dari saku celana Devan, ponsel pintarnya bergetar. Sebuah notifikasi berita muncul di layar yang retak.

​"BREAKING NEWS: PENGGELEDAHAN BESAR-BESARAN DI KLINIK MEDIKA UTAMA. KONGROMERAT HENDRA KUSUMA DAN DOKTER FRANS SUGIARTO DIAMANKAN OLEH SATUAN KHUSUS KEJAKSAAN AGUNG ATAS DUGAAN KONSPIRASI KRIMINAL DAN PENYEKAPAN MEDIS."

​Aku menjatuhkan laptop itu ke pangkuanku. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah membasahi pipiku. Selesai. Semuanya benar-benar selesai. Pria yang selama ini kuanggap sebagai dewa pelindung namun ternyata adalah sipir penjaraku, kini sudah berada di balik jeruji besi yang sesungguhnya.

​"Dia sudah tertangkap, Devan," isakku, membenamkan wajahku di bahunya yang tidak terluka. "Dia tidak akan bisa menyentuh kita lagi. Dia tidak akan bisa memberiku pil itu lagi."

​Devan merengkuhku dengan tangan kanannya, menarikku masuk ke dalam kehangatan tubuhnya yang mulai stabil. Ia mencium puncak kepalaku berkali-kali, membiarkan tangisanku membasahi kausnya. Di dalam gudang tua yang terpencil ini, di tepi laut yang menjadi saksi bisu kebebasan kami, beban seberat gunung yang menindih jiwa kami selama tiga tahun perlahan-lahan menguap.

​"Aku punya satu janji lagi yang belum kutepati," bisik Devan di telingaku.

​Aku mendongak dengan mata sembab. "Apa?"

​"Aku pernah berjanji padamu di Bukit Bintang, sebelum kecelakaan itu... bahwa aku akan membawamu ke sebuah tempat di mana kau bisa menulis tanpa rasa takut. Tempat di mana tidak ada nama Kusuma yang membayangimu," Devan menatap ke arah laut lepas melalui pintu gudang yang terbuka. "Kita akan pergi dari sini, Anya. Ke tempat yang sangat jauh. Begitu urusan kesaksian kita di pengadilan selesai, aku akan membawamu pulang ke kehidupan yang sebenarnya."

​Aku tersenyum, sebuah senyuman tulus yang pertama kali menghiasi wajahku sejak aku terbangun di rumah sakit tiga tahun lalu. "Tempatku ada di mana pun kau ada, Devan. Kau adalah rumahku."

​Kami duduk bersandar satu sama lain, menatap matahari yang semakin tinggi. Kaset rusak di kepalaku kini sudah tidak lagi statis. Pita-pitanya telah tersambung, lagu-lagunya telah kembali, dan melodi yang paling indah adalah suara napas pria di sampingku ini.

​Namun, jauh di lubuk hatiku, sebuah bagian kecil dari diriku tahu bahwa perjuangan hukum melawan Hendra Kusuma akan menjadi jalan yang panjang dan melelahkan. Tapi biarlah itu menjadi urusan esok hari. Untuk pagi ini, di bawah cahaya emas pesisir, kami akhirnya berhak untuk sekadar bernapas sebagai dua manusia yang bebas.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. PERPUSTAKAAN RUMAH ANYA - MALAM HARI (3 TAHUN LALU)

​Suasana sangat hening. ANYA (16 tahun) sedang duduk di lantai di pojok perpustakaan ayahnya yang luas, tersembunyi di balik rak buku Sastra Klasik yang menjulang tinggi. Ia baru saja menemukan pintu rahasia di balik rak buku tersebut.

​Kamera fokus pada wajah Anya yang penuh peluh dan air mata. Di tangannya, ia memegang sebuah laptop perak milik ayahnya yang baru saja ia curi dari ruang kerja bawah tanah.

​ANYA (V.O)

(Suaranya berbisik, penuh ketakutan)

"Ayah bilang ini adalah gudang anggur. Tapi di dalam folder bernama 'Asset Protection' ini, aku melihat wajah orang-orang yang tewas. Aku melihat nama Ibu Devan dicoret dengan tinta merah. Aku menyadari... pahlawanku adalah seorang pembunuh."

​Anya memasukkan sebuah Micro-SD kecil ke dalam slot laptop tersebut. Ia mulai menyalin semua file dengan gerakan panik. Di luar ruangan, terdengar suara langkah sepatu pantofel yang berat dan berwibawa sedang mendekat.

​Tap. Tap. Tap.

​Itu langkah Ayah.

​Anya mematikan laptop itu tepat saat pintu perpustakaan terbuka. Dengan gerakan kilat, ia mencabut Micro-SD tersebut. Ia tidak menyimpannya di saku, ia tahu ayahnya akan menggeledahnya.

​Kamera fokus (Close-Up) pada tangan Anya yang gemetar. Ia membuka penutup baterai jam tangan pemberian ibunya, lalu menyelipkan kartu memori itu di sana, tepat di antara mesin jam yang berdetak.

​AYAH ANYA (O.S.)

"Anya? Sedang apa kau di sini malam-malam begini? Kenapa lampu perpustakaan dimatikan?"

​Anya berdiri, menyembunyikan jam tangannya di balik lengan baju tidurnya. Ia memaksakan sebuah senyum yang sangat manis—senyum yang menjadi awal dari keahliannya berakting di depan monster.

​ANYA

"Aku hanya mencari buku puisi untuk tugas sekolah besok, Yah. Maaf jika aku mengejutkan Ayah."

​Ayah Anya mendekat, mengusap kepala putrinya dengan tatapan yang sangat mencintai namun posesif. Kamera menyorot jam tangan di pergelangan tangan Anya yang berdetak konstan, seolah-olah jam itu sedang menghitung mundur menuju kehancuran total keluarga mereka.

​ANYA (V.O)

"Detak jam ini... akan menjadi bom waktu bagi kerajaan Ayah. Dan aku tidak akan berhenti sampai bom itu meledak di tanganmu."

​Layar perlahan memudar menjadi warna hitam, hanya menyisakan suara detak jam yang semakin keras sebelum akhirnya sunyi total.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!