NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Akan Datang Sendiri

📖 BAB 31: Aku Akan Datang Sendiri

Ruang tengah rumah aman di Praha membeku dalam diam.

Di layar monitor, Liora duduk terikat di kursi besi. Tangan di belakang punggung, bibir sedikit pecah, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh kebencian. Lampu putih dingin menggantung di atas kepalanya, menciptakan bayangan keras di dinding beton.

Di belakang kursi itu, Vivienne Moreau berdiri tenang dengan mantel hitam dan sarung tangan kulit. Seolah ia sedang mengadakan konferensi pers, bukan menyandera seseorang.

Ia menatap kamera dan tersenyum.

“Selamat malam, Qingyan.”

Han berdiri paling dekat dengan layar.

“Saya benci wanita elegan.”

“Diam,” kata tiga orang sekaligus.

Vivienne melanjutkan.

“Kita berdua memulai dengan buruk. Itu kesalahpahaman yang bisa diperbaiki.”

Liora memutar mata.

“Dia bicara seperti iblis yang ikut kelas etika.”

Vivienne menepuk bahu gadis itu pelan.

“Lihat? Masih bersemangat.”

Qingyan melangkah maju.

“Lepaskan dia.”

“Bisa.”

Vivienne tersenyum.

“Asal kau datang sendiri.”

Ruangan hening.

Beichen berdiri di sisi jendela dengan tangan di saku, tapi semua orang tahu itu posisi berbahaya. Rahangnya mengeras sejak video dimulai.

“Tidak,” katanya datar.

Vivienne tertawa kecil dari layar.

“Menarik. Aku bicara dengan Qingyan, tapi yang menjawab selalu pria bermarga Gu.”

“Karena kau terlalu banyak bicara.”

“Dan kau terlalu terbiasa mengatur.”

Mata abu-abu Vivienne bergeser ke Qingyan.

“Datang sendiri. Bawa liontin dan surat Elena. Dalam dua jam.”

“Kalau tidak?” tanya Qingyan.

Vivienne tersenyum lebih lebar.

“Aku akan mulai dengan jari pianonya.”

Liora mendengus.

“Aku main biola, nenek sihir.”

Vivienne menampar kursinya ringan.

“Lihat? Aku membesarkan selera humor.”

Layar menampilkan alamat.

Teater St. Vojtech Lama

Lalu video terputus.

Sunyi menekan ruangan.

Han angkat tangan pelan.

“Boleh saya bilang ini jebakan yang sangat jelas?”

“Boleh,” kata Mira.

“Terima kasih.”

Qingyan berbalik.

“Aku pergi.”

“Tidak,” kata Beichen lagi.

Ia berjalan mendekat, perlahan, seperti badai yang sengaja menahan diri.

“Kau tidak pergi sendirian ke lokasi yang dipilih wanita psikopat.”

“Dia saudaraku.”

“Dan itu membuatmu emosional.”

“Itu membuatku manusia.”

“Itu membuatmu bisa dipancing.”

Qingyan menatap lurus.

“Dan kau membuat semua hal jadi operasi militer.”

“Karena itu kita masih hidup.”

Xue duduk di meja sambil makan anggur entah dari mana.

“Kalian punya ketegangan seksual yang sangat mengganggu di saat krisis.”

“Diam,” kata Qingyan.

“Tidak.”

Han mengangguk.

“Untuk sekali ini saya setuju dengan dia.”

Mira meletakkan pistol di meja.

“Kita punya waktu satu jam lima puluh menit. Bertengkar nanti.”

Qingyan mengambil liontin dari meja.

“Aku akan datang.”

Beichen menahan pergelangan tangannya.

Sentuhan itu hangat, kuat, dan membuat napasnya kacau.

“Kau tidak dengar aku?”

“Aku dengar.”

“Lalu?”

“Aku tidak selalu patuh.”

Mata pria itu gelap.

“Jangan lakukan ini.”

Nada suaranya berubah.

Lebih rendah.

Lebih pribadi.

Lebih berbahaya bagi jantung Qingyan daripada ancaman senjata.

Ia menarik tangannya pelan.

“Kalau itu kau di kursi sana, aku juga akan pergi.”

“Aku tidak akan tertangkap.”

“Sombong.”

“Realistis.”

Qingyan mendesah.

“Beichen.”

“Tidak.”

“Dia satu-satunya keluarga darah yang mungkin kupunya.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa sulit sekali percaya aku bisa ambil keputusan?”

Beichen diam beberapa detik.

Semua orang menunggu.

Lalu ia berkata pelan,

“Karena setiap kali kau masuk bahaya... aku berhenti berpikir jernih.”

Ruangan mendadak senyap total.

Han menatap langit-langit.

“Wow.”

Xue menepuk meja.

“Akhirnya.”

Mira pura-pura membaca dokumen kosong.

Qingyan tak bergerak.

Jantungnya berdetak terlalu keras.

Beichen seolah menyesali kalimatnya sendiri.

Ia menoleh ke samping.

“Kita fokus.”

Han batuk kecil.

“Sulit setelah itu.”

Qingyan memaksa wajah datar.

“Kita akan fokus.”

Xue berbisik ke Han,

“Dia merah sedikit.”

“Dia cantik saat marah.”

“Kau ingin mati?”

“Sedikit.”

🗺️ Rencana Penyelamatan

Han memproyeksikan peta teater tua ke layar.

“Bangunan abad kesembilan belas. Banyak pintu samping, ruang bawah tanah, balkon tinggi, dan tempat bagus untuk trauma masa kecil.”

“Intinya,” kata Mira.

“Rumit.”

Beichen menunjuk tiga titik.

“Mira ambil sisi belakang. Han ganggu listrik dan kamera. Xue cari jalur kabur.”

“Aku kenapa selalu bagian kriminal?” tanya Xue.

“Karena kau menikmati.”

“Benar.”

Qingyan menatap peta.

“Aku masuk depan.”

“Tidak sendiri,” kata Beichen.

Ia menatapnya.

“Kalau kau ikut dekat, dia akan tahu.”

“Aku tidak perlu dekat.”

“Lalu?”

“Aku akan ada saat kau butuh.”

Jawaban itu sederhana.

Dan terlalu efektif.

🕰️ Satu Jam Kemudian – Jalanan Praha

Mobil hitam berhenti dua blok dari teater tua.

Bangunan itu berdiri megah namun mati. Patung malaikat retak di atap, poster lama mengelupas, pintu kayu besar setengah lapuk.

Kabut menempel di jalan batu.

Qingyan turun lebih dulu.

Ia mengenakan mantel hitam sederhana, tanpa senjata terlihat.

Liontin ada di sakunya.

Beichen memanggil pelan.

“Qingyan.”

Ia menoleh.

Pria itu berdiri di samping mobil, cahaya lampu jalan memotong wajahnya.

“Kalau ada yang salah—”

“Aku tahu. Lari.”

“Bukan.”

Ia mendekat satu langkah.

“Panggil namaku.”

Dadanya mengencang.

“Kenapa kau selalu bicara seperti itu?”

“Karena berhasil.”

“Arrogan.”

“Efisien.”

Ia hampir tertawa.

Nyaris.

Qingyan berbalik dan berjalan menuju teater.

Pintu terbuka sendiri sebelum ia menyentuhnya.

Interiornya gelap dan luas.

Kursi merah tua berdebu. Lampu panggung tunggal menyala, menerangi bagian tengah seperti adegan drama murahan.

Di atas panggung, Liora masih terikat.

Vivienne duduk di kursi penonton baris depan, kaki disilangkan, memegang segelas anggur.

“Ah,” katanya. “Anak baik datang tepat waktu.”

Qingyan berjalan masuk tanpa ragu.

“Aku datang sendiri.”

Vivienne mengangkat alis.

“Bohong kecil. Ada empat orang lain di perimeter.”

Qingyan tak bereaksi.

“Saya sudah bilang,” suara Han di earpiece berbisik panik. “Wanita ini menyeramkan.”

Vivienne tersenyum ke arah Qingyan.

“Tenang. Aku membiarkan mereka hidup... untuk sekarang.”

Qingyan naik ke panggung dan berdiri dekat Liora.

Gadis itu menyipit.

“Kau bodoh.”

“Terima kasih.”

“Kau benar-benar datang.”

“Sayangnya ya.”

Liora memalingkan wajah, tapi Qingyan melihat matanya sedikit basah.

Vivienne berdiri.

“Liontin.”

Qingyan melempar benda itu.

Vivienne menangkap dengan elegan.

Ia membukanya, melihat foto Elena, dan untuk pertama kali ekspresinya retak.

Sedikit saja.

“Sudah lama,” bisiknya.

Qingyan memperhatikan.

“Kau mencintai ibuku?”

Vivienne tertawa kecil.

“Aku menghormatinya. Itu lebih langka.”

“Lepaskan Liora.”

“Segera.”

Vivienne menoleh ke balkon atas.

Lampu-lampu panggung menyala satu per satu.

Dari sisi gelap muncul enam pria bersenjata.

Han berteriak di earpiece,

“Yup. Jebakan klasik.”

Qingyan menatap Vivienne datar.

“Kau bilang tukar.”

“Aku bilang datang sendiri. Kau terlalu cepat menafsirkan.”

“Pelacur tua,” gumam Liora.

Vivienne tersenyum.

“Bahasa, sayang.”

Ia menatap Qingyan.

“Aku butuh dua saudari bersama. Kalian berdua membuka sesuatu milik Elena.”

“Apa?”

“Warisan.”

Tembakan memecah ruangan.

Satu penjaga balkon jatuh ke bawah.

Beichen.

Dari bayangan sisi kiri teater, ia muncul seperti mimpi buruk mahal dalam jas hitam.

“Pertemuan keluarga tanpa undangan membosankan,” katanya.

Baku tembak pecah seketika.

Mira menyerbu dari belakang panggung.

Xue menyalakan alarm kebakaran sambil tertawa.

Han berteriak melalui speaker gedung,

“Saya hacker internasional, dasar amatir!”

Kursi-kursi teater pecah. Kaca hancur. Lampu meledak.

Vivienne tetap tenang.

Ia menekan tombol di tongkatnya.

Lantai panggung di bawah Qingyan dan Liora terbuka.

Keduanya jatuh ke ruang gelap bawah tanah.

Jeritan tertahan.

Di atas, pintu besi menutup.

Suara terakhir yang Qingyan dengar sebelum gelap adalah teriakan Beichen:

“QINGYAN!”

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!