NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Hati Yang Patah

Suasana kamar Cinta sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Padahal, jendela kamarnya terbuka lebar, membiarkan deru kendaraan dan suara kicauan burung gereja masuk. Namun, pikiran Cinta sedang berada di tempat lain yaitu tepatnya di depan gerbang sekolah, di mana sebuah motor besar hitam masih terparkir dengan dua orang yang terikat masa lalu di sampingnya.

Cinta duduk di meja belajarnya, menatap layar laptop. Biasanya, jemarinya akan menari lincah merangkai diksi, tetapi kali ini, otaknya seperti mengalami stuck total.

Ia meraih ponselnya, berharap ada sebuah pesan masuk, entah itu permintaan maaf atau sekadar penjelasan lebih lanjut. Namun, layar benda pipih itu tetap gelap. Sunyi.

"Kenapa aku harus berharap?" gumam Cinta lirih.

Ia melempar ponselnya ke atas kasur dengan perasaan kesal pada dirinya sendiri.

Logika yang selama ini ia agungkan seolah sedang menertawakannya. Secara statistik, Clarissa memiliki peluang lebih besar untuk menarik kembali perhatian Rian. Mereka punya sejarah, punya kenangan bertahun-tahun di Jakarta, dan punya ikatan emosional yang sudah teruji waktu. Sementara dirinya? Ia hanyalah teman yang kebetulan duduk di bangku sebelah selama beberapa hari.

"Cinta? Kamu sudah pulang, Nak?"

Suara Mama memecah lamunan Cinta. Pintu kamarnya terbuka sedikit, menampakkan wajah Mamah yang selalu terlihat teduh. Mamah berjalan masuk membawa segelas jus jeruk dingin.

"Eh, sudah Mah," jawab Cinta canggung, berusaha terlihat sibuk dengan tumpukan bukunya.

Mamah meletakkan gelas itu di meja, lalu memerhatikan wajah anak perempuannya dengan saksama. Sebagai ibu, ia tidak bisa dibohongi oleh akting Cinta yang payah. Mata Cinta tidak fokus, dan ada gurat kekecewaan yang tertahan di sudut bibirnya.

"Kok belajarnya lesu begitu? Tadi pagi berangkat semangat sekali, pulangnya malah kayak bunga layu," goda Mamah sambil mengelus rambut Cinta.

"Ada masalah di sekolah? Tugas OSIS lagi?"

Cinta menggeleng pelan, ia memaksakan sebuah senyum. "Tidak kok, Mah. Cuma agak capek saja karena tadi upacaranya cukup lama."

"Beneran tidak apa-apa?" tanya Mama lagi, nadanya menyelidik.

"Tadi pulangnya tidak bareng Rian? Mamah tadi dengar suara motor besar lewat, tapi tidak berhenti di depan rumah."

Pertanyaan Mama seperti menyiramkan garam di atas luka yang masih basah. Cinta menarik napas panjang, mencoba menahan sesak di dadanya.

"Rian... ada urusan tadi, Mah. Jadi aku pulang naik angkot."

Mamah terdiam sejenak, ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Cinta, tapi ia memilih untuk tidak mendesak. "Ya sudah, diminum dulu jusnya supaya segar. Kalau mau cerita, Mamah ada di bawah sedang menyetrika."

Cinta menatap jus jeruk itu, lalu menatap punggung Mamah yang hampir keluar dari kamar. Tiba-tiba, rasa ingin tahu yang besar mengalahkan egonya. Ia butuh perspektif orang dewasa, atau setidaknya perspektif seseorang yang sudah lebih dulu merasakan pahit manisnya hubungan.

"Mah..." panggil Cinta.

Mama berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Iya, Kak?"

Cinta meremas ujung roknya, ia sempat ragu sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepalanya.

"Kalau... kalau misalnya ada seorang cowok, terus dia sudah pindah ke kota lain untuk mulai hidup baru. Tapi tiba-tiba mantannya datang dari jauh, menyusul dia sampai ke sini... itu tandanya apa ya, Mah?"

Mamah tertegun sejenak. Ia membalikkan badan sepenuhnya, menatap Cinta dengan senyum yang perlahan mengembang. Mamah menutup pintu kamar dan berjalan kembali mendekati Cinta, lalu duduk di pinggir kasur.

"Tandanya apa?" Mama mengulang pertanyaan itu sambil tertawa kecil, suara tawa yang membuat Cinta merasa sedikit malu.

"Yah, secara umum, itu tandanya si mantan masih sangat mencintai cowok itu. Dia belum rela melepaskan, atau setidaknya ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka."

Cinta tertunduk. Jawaban Mamah adalah jawaban yang paling ia takuti.

"Tapi..." Mamah melanjutkan, membuat Cinta kembali mendongak. "Itu dari sisi si mantan. Kalau dari sisi si cowok, kedatangan itu bisa jadi ujian. Apakah dia akan luluh karena pengorbanan mantannya yang jauh-jauh datang, atau dia tetap pada pendiriannya untuk mulai hidup baru."

Mamah memerhatikan ekspresi Cinta yang berubah-ubah. "Kenapa tanya begitu? Ini tentang Rian, ya?"

Cinta tersentak, wajahnya memerah seketika. "E-eh? Kok Mamah menyimpulkan begitu?"

"Aduh, Sayang... Mamah ini sudah hidup lebih dulu dari kamu," Mamah tertawa lagi, kali ini lebih lepas.

Cinta menghela napas pasrah. Ia tidak bisa bersembunyi dari insting Mamahnya. "Iya, Mah. Tadi pas mau pulang, ada mantannya datang dari Jakarta ke sekolah. Namanya Clarissa. Dia kelihatan... cantik sekali, dan dia menangis di depan Rian."

Mama manggut-manggut, ia memahami kegelisahan anaknya. "Dan kamu merasa takut Rian akan kembali padanya?"

"Bukan takut, Mah. Hanya merasa... aku ini siapa? Aku merasa tidak enak kalau menghalangi mereka bicara. Makanya aku suruh Rian bicara dulu dengan dia dan aku pulang sendiri. Tapi di sisi lain, aku merasa kecewa. Aku pikir awal yang baru itu benar-benar baru," ucap Cinta lirih.

Mamah memegang tangan Cinta, memberikan kekuatan lewat sentuhannya. "Cinta, dalam hidup ini, masa lalu itu seperti bayangan. Kadang dia mengikuti, kadang dia hilang saat gelap, tapi dia selalu jadi bagian dari diri kita. Rian punya masa lalu, itu fakta. Tapi yang menentukan masa depan Rian adalah pilihannya sekarang."

"Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan memberi mereka ruang untuk bicara. Itu menunjukkan kalau kamu dewasa," lanjut Mamah.

"Kalau Rian benar-benar ingin mulai hidup baru, kehadiran mantannya tidak akan mengubah apa pun. Tapi kalau ternyata dia berubah pikiran... setidaknya kamu tahu lebih awal di mana posisi kamu di hati dia."

Cinta terdiam, merenungkan setiap kata yang diucapkan Mamah. "Jadi aku tidak perlu merasa bodoh karena sudah merasa kecewa?"

"Kecewa itu manusiawi, Nak. Itu tandanya kamu sudah mulai punya perasaan pada dia," Mamah mengedipkan sebelah matanya.

"Tapi jangan sampai kecewamu itu membuatmu berhenti melihat kenyataan. Sekarang, daripada melamun, lebih baik kerjakan tugasmu atau lanjut menulis novel. Biarkan Rian menyelesaikan urusannya. Kalau dia memang untukmu, dia pasti akan mencari cara untuk menjelaskan semuanya padamu."

Mamah berdiri dan mencium kening Cinta sebelum benar-benar keluar kamar. "Ingat, perempuan yang berkualitas itu tidak perlu bersaing dengan masa lalu. Dia cukup menjadi masa depan yang lebih baik."

Sepeninggal Mama, kamar Cinta tidak lagi terasa sesunyi tadi. Meskipun hatinya masih sedikit perih, setidaknya pikirannya kini lebih jernih. Ia mengambil kembali ponselnya. Masih tidak ada pesan.

Cinta menatap layar laptopnya lagi. Ia menghapus beberapa baris kalimat yang tadi ia tulis dengan penuh emosi negatif. Ia menggantinya dengan sesuatu yang lebih kuat.

Masa lalu mungkin datang tanpa diundang, mencoba merusak persamaan yang sedang kita bangun dengan susah payah. Namun, aku belajar bahwa kepercayaan bukanlah tentang tidak adanya gangguan, melainkan tentang tetap berdiri diam sementara gangguan itu lewat. Jika dia adalah bagian dari solusiku, maka masa lalu itu hanyalah soal sisa yang akan habis dibagi waktu.

Cinta menutup laptopnya. Ia memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri dari debu jalanan serta sisa-sisa kegalauan sore itu. Ia tidak akan membiarkan kehadiran Clarissa menghancurkan martabatnya sebagai seorang Cinta.

Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah doa kecil terpanjat. Ia berharap, saat esok pagi tiba dan ia melihat bangku di sebelahnya, orang yang duduk di sana masihlah Rian yang sama Rian yang sudah berjanji untuk tidak lagi menoleh ke belakang.

Malam mulai turun menyelimuti kota ini. Di balik kegelapan, Cinta belajar satu hal lagi yaitu bahwa mencintai seseorang berarti juga harus siap menerima seluruh paket masa lalunya, termasuk yang datang tiba-tiba di depan gerbang sekolah.

Ia mematikan lampu kamar, mencoba untuk tidur. Namun, suara deru motor besar yang samar-samar terdengar dari kejauhan sempat membuatnya tersentak. Apakah itu Rian? Atau hanya perasaannya saja yang terlalu rindu? Cinta menarik selimutnya tinggi-tinggi, mencoba memejamkan mata di tengah ketidakpastian yang masih menggantung.

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!