Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru
Ashela merasa hancur. Bagaimana ia bisa menghidupi seorang anak? Cicilan hutang ayahnya saja belum setengah jalan. Biaya sewa kos sering menunggak. Dan sekarang, ada nyawa lain yang bergantung padanya.
Pikiran untuk menggugurkan kandungan itu sempat terlintas sekejap karena rasa putus asa yang amat sangat, namun ia segera menepisnya dengan ngeri.
"Tidak... ini bukan salah bayi ini," bisiknya sambil mengelus perutnya yang masih rata. "Ini bukan salahmu, Nak."
Di tengah tangisnya, Ashela menyadari satu hal. Ia tidak bisa tetap berada di sini. Jika perutnya mulai membesar, orang-orang di kosan akan mulai bergunjing. Rentenir itu akan semakin menekannya jika tahu ia punya kelemahan baru.
Dan yang paling menakutkan, ia takut jika suatu saat pihak keluarga Narendra mengetahui hal ini. Ia tahu orang kaya bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan "noda" dalam reputasi mereka.
Ia harus pergi. Ia harus menghilang lebih jauh lagi.
Ashela bangkit, menghapus air matanya dengan tekad yang baru. Rasa mual itu masih ada, namun kini dibarengi dengan insting melindungi yang luar biasa kuat. Di dalam rahimnya, ada sebuah rahasia besar yang akan ia jaga dengan seluruh nyawanya.
Malam itu, di bawah remang lampu kamar kosnya, Ashela mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam satu koper tua. Ia tidak punya banyak harta, namun ia memiliki semangat yang belum patah. Ia akan meninggalkan Jakarta, mencari kota kecil di mana tidak ada yang mengenalnya, di mana ia bisa membesarkan anaknya dengan tenang sambil tetap bekerja keras membayar hutang ayahnya dari jauh.
"Kita akan baik-baik saja, sayang," bisiknya pada janin yang baru berusia beberapa minggu itu.
"Mama akan bekerja sepuluh kali lebih keras untukmu. Mama berjanji." serunya lagi sambil mengelus lembut perut datarnya.
Ashela menatap foto ayahnya yang usang di dalam dompet. Ia merasa seolah ayahnya sedang menatapnya dengan penuh maaf. Ia akan membawa beban ini, ia akan membawa rahasia ini, hingga waktu yang entah kapan akan mempertemukan segalanya kembali.
Tanpa meninggalkan pesan bagi siapa pun, subuh itu, Ashela melangkah keluar dari kosannya. Ia berjalan menuju terminal bus, meninggalkan semua kenangan pahit dan satu malam penuh gairah yang telah mengubah takdirnya menjadi sebuah perjalanan panjang yang tak terduga.
Sebuah kehidupan baru sedang dimulai, jauh dari kemewahan Narendra Hospital, namun penuh dengan cinta yang tulus dari seorang ibu yang rela mengorbankan segalanya.
Terminal bus di pinggiran Jakarta masih diselimuti kabut tipis dan aroma solar yang menyengat ketika Ashela Safira berdiri di depan loket tiket.
Matanya yang sembab menatap papan rute yang berderet acak. Ia tidak punya tujuan pasti. Yang ia tahu, ia harus pergi sejauh mungkin dari hiruk pikuk ibu kota, dari bayang-bayang gedung Narendra Hospital, dan dari tatapan menghakimi yang mungkin akan ia terima jika tetap bertahan di kosannya.
Sebelum melangkah ke sini, Ashela telah menyelesaikan urusannya dengan kepala yang tegak meski hatinya hancur. Ia menemui Pak Damar di supermarket dan bosnya di kantor logistik.
"Pak, saya mohon maaf. Ada urusan keluarga yang sangat mendesak di luar kota dan saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini," ucap Ashela kemarin sore. Ia tidak menyebutkan tentang kehamilan, tidak juga tentang pelarian. Ia hanya menyerahkan surat pengunduran diri yang ditulis tangan dengan rapi.
Pak Damar sempat menahannya, menawarkan kenaikan gaji kecil-kecilan karena kinerja Ashela yang luar biasa, namun Ashela hanya bisa menggeleng dengan senyum getir.
"Terima kasih, Pak. Tapi saya benar-benar harus pergi." tolak Ashela dengan sopan.
Kini, dengan satu koper tua yang rodanya sudah sedikit goyang dan tas ransel yang berat, ia berdiri di depan bus antarkota jurusan Jawa Barat.
Ia memilih sebuah kota kecil yang letaknya cukup terpencil, sebuah daerah bernama Sukabumi bagian selatan, yang konon suasananya masih sangat asri dan jauh dari keramaian industri. (andai-andai aja yaaaa.)
"Satu tiket ke terminal tujuan terakhir, Pak." ucap Ashela sambil menyerahkan lembaran uang yang ia sisihkan dari hasil lembur terakhirnya.
Perjalanan itu memakan waktu hampir tujuh jam. Selama di atas bus, Ashela hanya menatap keluar jendela.
Pemandangan gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi hamparan sawah hijau, perbukitan yang berkelok, dan jajaran pohon jati yang meranggas.
Setiap kilometer yang ia lalui terasa seperti satu beban yang terangkat dari pundaknya, meski ia tahu beban baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Perutnya sempat bergejolak karena mabuk perjalanan. Ia berkali-kali menelan ludah dan menghirup aroma minyak kayu putih dalam-dalam agar tidak muntah di depan penumpang lain. Ia terus mengelus perutnya yang masih rata, berbisik dalam hati agar sang janin mau bekerja sama dengannya dalam perjalanan ini.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita sampai di rumah baru kita," batinnya.
Ketika bus akhirnya berhenti di sebuah terminal kecil yang sepi, matahari sudah mulai condong ke barat. Udara di sini jauh lebih dingin dan bersih.
Ashela turun dengan langkah gontai. Ia tidak mengenal siapa pun di sini. Tidak ada saudara, tidak ada teman, tidak ada satu pun orang yang bisa ia hubungi jika sesuatu terjadi padanya. Ia benar-benar memulai dari nol.
Ia berjalan keluar terminal, mencoba mencari penginapan paling murah atau rumah warga yang menyewakan kamar.
Setelah berjalan hampir dua kilometer sambil menyeret kopernya, ia sampai di sebuah desa yang dikelilingi oleh perkebunan teh yang luas.
Di sana, ia melihat sebuah papan kayu kecil yang tergantung di depan sebuah rumah panggung tua, "Terima Kos/Kontrakan Kecil."
Ashela mengetuk pintu rumah utama. Seorang wanita tua dengan kerudung lusuh dan wajah yang ramah membukakan pintu.
"Punten, Bu... apakah kontrakan di depan masih ada yang kosong?" tanya Ashela dengan bahasa Sunda yang ia pelajari seadanya saat di Jakarta.
Wanita itu, yang kemudian dikenal sebagai Mak Esih, menatap Ashela dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia melihat seorang gadis cantik yang tampak sangat kelelahan, memikul beban yang seolah lebih besar dari kopernya.
"Masih ada, Neng. Mari ikut Emak," jawab Mak Esih dengan nada lembut.
Mak Esih mengantarnya ke sebuah bangunan kecil di belakang rumah utamanya. Itu adalah sebuah rumah semi-permanen dengan dinding papan dan lantai semen sederhana.
Hanya ada satu ruang tamu kecil yang merangkap ruang tidur, sebuah dapur sempit, dan kamar mandi di bagian belakang. Jauh dari kemewahan hotel bintang lima, bahkan lebih sederhana dari kosannya di Jakarta, tapi tempat ini terasa tenang.
Suara jangkrik mulai terdengar, dan aroma tanah basah memberikan kedamaian yang sudah lama tidak Ashela rasakan.
"Berapa sewanya, Bu?"
"Tiga ratus ribu sebulan, Neng. Tapi air dan listrik sudah ikut Emak saja," jawab Mak Esih.
Ashela menghitung uang di dompetnya. Masih ada sisa yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan jika ia sangat hemat.
"Saya ambil, Bu. Ini uangnya untuk bulan pertama." sahut Ashela.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
karna biasanya perempuan menggunakan logika dari pada perasaan...
asyilla cobalah menggunakan hati mu untuk leo
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...