Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: TITIK JENUH SANG PERENCANA
Universitas Nasional Singapura (NUS) pagi itu tampak sangat tenang. Mahasiswa dari berbagai belahan dunia berjalan terburu-buru menuju auditorium, membawa tumpukan buku tebal dan segelas kopi latte. Di salah satu bangku taman yang menghadap ke arah gedung fakultas bisnis, Nata duduk terdiam. Di pangkuannya terdapat laptop tipis yang layarnya terus menampilkan grafik pergerakan aset dan logistik dari tiga negara berbeda secara bersamaan.
Di bawah matanya, ada sedikit bayang hitam—tanda bahwa tidur telah menjadi kemewahan yang ia korbankan selama tiga minggu terakhir. Sejak insiden di keluarga Chen dan dimulainya persiapan "Operasi Naga Laut", beban kerja Nata berlipat ganda.
"Nata? Kamu mendengarkan?"
Suara itu membuyarkan lamunannya. Seorang mahasiswi bernama Chloe, rekan kelompoknya dalam mata kuliah Econometrics, menatapnya dengan heran. "Aku baru saja menjelaskan pembagian tugas untuk presentasi minggu depan. Kamu tampak... jauh sekali."
Nata mengerjapkan mata, menutup layar laptopnya perlahan. "Maaf, Chloe. Aku hanya sedang memikirkan variabel lain dalam model yang kita buat. Lanjutkan, aku mencatatnya."
Meskipun otaknya mampu memproses data dengan kecepatan luar biasa, Nata menyadari satu hal yang mulai mengkhawatirkan: tubuhnya hanyalah wadah biologis yang memiliki batas. Dalam sehari, ia harus menghadiri kuliah, mengerjakan tugas akademik agar profilnya sebagai mahasiswa tetap bersih, memantau operasional Prawira Global di Jakarta melalui Yuda, hingga bernegosiasi dengan Marcus Chen mengenai pendanaan logistik.
Aku mulai kewalahan, batinnya jujur. Arsitek tidak bisa membangun menara sendirian jika ia juga harus memanggul batunya satu per satu.
Malam harinya, di kondominiumnya yang sunyi di Marina Bay, Nata duduk di depan jendela besar. Cahaya lampu dari kapal-kapal kargo di pelabuhan tampak seperti kunang-kunang di kejauhan. Pikirannya melayang pada Yuda di Jakarta dan Kirana di ruko Jakarta Barat. Mereka adalah tim yang hebat, tapi mereka berada di luar jangkauan fisiknya.
Nata membutuhkan seseorang di sini, di Singapura. Seseorang yang bisa menjadi perpanjangan tangan dan pikirannya. Seseorang yang tidak hanya pintar, tapi memiliki loyalitas yang bisa diuji dan ketajaman insting untuk menyaring kebisingan informasi sebelum sampai ke mejanya.
Aku butuh asisten pribadi. Bukan sekadar sekretaris, tapi seorang kepala staf, pikir Nata.
Kriteria asisten yang ia butuhkan sangat spesifik. Orang itu harus memahami teknologi, tapi juga mengerti bahasa diplomasi perbankan. Orang itu harus bisa bergerak di bayang-bayang tanpa keinginan untuk tampil di depan lampu sorot. Dan yang paling penting, orang itu tidak boleh memiliki keterikatan dengan keluarga Chen atau pihak kompetitor mana pun.
Nata membuka sistem internal Prawira Global yang ia bangun. Ia tidak mencari lewat situs lowongan kerja biasa. Ia mulai meretas secara halus basis data beasiswa universitas di Singapura. Ia mencari profil mahasiswa berbakat yang memiliki latar belakang keluarga yang sulit—orang-orang yang memiliki "lapar" yang sama dengannya, tapi tidak memiliki kesempatan atau modal.
Setelah memfilter ribuan data, matanya tertuju pada satu nama: Elena Valeska.
Elena adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Komputer dan Hukum. Rekam jejak akademisnya sempurna, namun catatan keuangannya menunjukkan ia bekerja di tiga tempat berbeda hanya untuk membayar biaya kuliah dan perawatan ibunya yang sakit di Filipina. Elena pernah memenangkan kompetisi keamanan siber tingkat regional, namun namanya tenggelam karena ia tidak memiliki koneksi politik.
Latar belakang yang bersih, beban hidup yang berat, dan keahlian ganda yang langka, Nata bergumam. Dia adalah kandidat yang sempurna.
Keesokan harinya, Nata mengatur sebuah pertemuan "kebetulan" di perpustakaan pusat. Elena sedang duduk di sudut paling pojok, dikelilingi oleh tumpukan jurnal hukum dan kode-kode pemrograman yang ia tulis di buku catatan usang.
Nata mendekat, meletakkan sebuah buku tentang Blockchain dan Hukum Internasional di meja di hadapannya.
"Studi kasus di halaman empat puluh dua tentang yurisdiksi aset digital itu salah," ucap Nata tanpa basa-basi. "Mereka berasumsi bahwa kunci privat bisa disita oleh pengadilan, padahal secara matematis itu tidak mungkin jika menggunakan protokol desentralisasi."
Elena mendongak. Matanya tajam, menunjukkan kecerdasan sekaligus kewaspadaan. "Dan siapa kamu? Mahasiswa baru yang mencoba terlihat pintar?"
Nata duduk di kursi kosong di depannya. "Namaku Nata. Dan aku sedang mencari seseorang yang tahu bahwa hukum saat ini sudah tertinggal jauh di belakang teknologi. Seseorang yang butuh gaji sepuluh kali lipat dari hasil kerja sampingannya saat ini untuk membayar tagihan rumah sakit ibunya di Manila."
Elena terdiam. Ia menutup bukunya dengan pelan. Suasana di perpustakaan yang sunyi itu tiba-tiba terasa tegang. "Bagaimana kamu tahu tentang ibuku?"
"Aku perencana yang baik, Elena. Aku tidak mendekati seseorang tanpa mengetahui fundamentalnya," jawab Nata dengan nada tenang yang berwibawa. "Aku mengelola Prawira Global. Aku butuh kepala staf yang bisa mengintegrasikan hukum dan teknologi untuk Operasi Naga Laut. Kamu akan bekerja langsung di bawahku. Privasi adalah prioritas, loyalitas adalah harga mati."
Elena menatap Nata dalam-dalam, mencoba mencari tanda-tanda penipuan atau niat buruk. Namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang dingin, tua, dan penuh dengan kepastian.
"Apa pekerjaanku?" tanya Elena singkat.
"Tugas pertamamu adalah menyaring semua komunikasi dari keluarga Chen dan memetakan pergerakan aset pesaing kita di pelabuhan Singapura. Kamu akan punya kantor di kondominiumku dan akses ke server terenkripsi yang bahkan pemerintah pun tidak bisa melacaknya. Gajimu akan dikirim dalam bentuk mata uang digital yang bisa kamu cairkan kapan saja tanpa meninggalkan jejak pajak yang memberatkan keluargamu," jelas Nata.
Elena mengambil napas panjang. Baginya, ini seperti tawaran dari iblis, tapi iblis yang menawarkan keselamatan bagi keluarganya. "Kapan aku mulai?"
"Sekarang," jawab Nata sambil menyerahkan sebuah ponsel dengan sistem operasi khusus yang sudah ia modifikasi. "Selamat datang di garis takdir baru, Elena."
Kehadiran Elena segera memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan Nata. Minggu berikutnya di kampus, Nata tidak lagi terlihat lelah. Elena mengurus semua jadwal akademis Nata, melakukan riset untuk tugas-tugas kuliahnya tanpa mengubah gaya tulisan Nata, dan yang paling penting, Elena menjadi filter utama bagi Marcus Chen.
"Nata, Elena baru saja melaporkan bahwa Marcus mencoba memasukkan beberapa klausul tambahan dalam kontrak akuisisi logistik kita," ucap Yuda melalui sambungan video suatu malam.
Nata yang sedang menikmati makan malam yang disiapkan oleh layanan katering kelas atas—juga diatur oleh Elena—tersenyum tipis. "Elena menemukannya?"
"Ya. Dia menemukan bahwa klausul itu secara halus memberikan hak kepada keluarga Chen untuk mengambil alih aset kita jika terjadi gagal bayar dalam waktu 48 jam—sebuah celah yang sangat licik. Elena sudah menyusun draf balasan yang justru akan menjerat Marcus jika dia berani menandatanganinya," lapor Yuda dengan kagum.
Nata menoleh ke arah Elena yang sedang duduk di meja kerjanya di sudut ruangan, jari-jarinya menari dengan cepat di atas keyboard. Elena tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya presisi.
"Bagus. Beritahu Elena, bonus pertamanya sudah masuk ke dompet digitalnya," ucap Nata.
Malam itu, Nata merasa beban di pundaknya jauh lebih ringan. Ia menyadari bahwa merekrut Elena bukan hanya soal mendelegasikan tugas, tapi soal memperluas kapasitas intelektualnya. Sekarang, ia bisa fokus pada inti dari Operasi Naga Laut: memicu perang harga di sektor logistik regional yang akan memaksa para pemain besar untuk bertekuk lutut dan menjual aset mereka kepada Prawira Global.
Di tengah kesibukan kampusnya, Nata Prawira kembali ke ritme aslinya. Ia adalah sang konduktor, dan sekarang ia memiliki asisten konduktor yang mampu menjaga orkestra tetap berjalan saat ia harus beristirahat sejenak.
"Elena," panggil Nata sebelum masuk ke kamarnya untuk tidur.
"Ya, Bos?" Elena menoleh tanpa menghentikan ketikannya.
"Terima kasih. Hari ini aku bisa tidur enam jam. Itu adalah investasi terbaikku bulan ini."
Elena tersenyum kecil—senyum pertamanya sejak mereka bertemu. "Tidurlah, Bos. Naga Laut tidak akan lari ke mana-mana sampai pagi."
Nata menutup pintunya dengan perasaan puas. Ia tahu, dengan tim yang semakin solid—Yuda di teknologi, Kirana di properti, dan Elena di pusat strategi—kekaisarannya kini tidak hanya berdiri di atas satu pilar bernama Nata, tapi di atas fondasi beton yang akan tahan terhadap guncangan apa pun.
Permainan ini baru saja naik ke level berikutnya. Dan kali ini, Nata tidak lagi merasa kewalahan. Ia merasa... siap untuk menaklukkan samudra.
Bersambung.....