Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat Membara Mentari
"Untuk kuliah kita kali ini," kata Pak Irawan, dosen Seni Patung Realistis.
"Kita akan membuat bagian kepala hingga dada," lanjut Pak Irawan.
"Fokus kita pada proporsi dan detail. Ingat, proporsi dan detail," kata Pak Irawan tegas. Para mahasiswa mengangguk.
"Untuk model kali ini, saya panggil khusus untuk kalian. Silakan masuk," kata Pak Irawan sambil tersenyum mempersilakan seseorang dari balik pintu untuk masuk.
Nia menaikkan kedua alisnya. Dia mengenal wanita itu.
"Namanya Mentari Cahaya Abadi. Anak bisnis manajemen. Puteri tunggal Adiwangsa Group," kata Pak Irawan memperkenalkan model untuk kuliahnya hari ini.
Kasak-kusuk terdengar dari mahasiswa. Mentari tersenyum penuh percaya diri. Matanya menangkap sosok Nia, lalu menatapnya dengan tatapan sinis dan merendahkan.
"Baik. Langsung saja. Kalian bisa mulai," kata Pak Irawan lalu mempersilakan Mentari duduk di podium kayu yang sudah disediakan di depan studio.
Semua mata para mahasiswa menatap Mentari tajam. Beberapa terlihat sedang mengukur proporsi dengan pensil yang diangkat sejajar dengan mata. Beberapa ada yang fokus membentuk anatomi dasar dengan tangan penuh tanah liat.
Terlepas dari tatapan tajam Mentari, Nia tetap berkonsentrasi penuh pada tiap detail wajah Mentari —garis rahang, bentuk hidung, bibir, dan bentuk mata tajam dan cantik. Mentari sudah membidik Nia sedari acara perjamuan malam itu karena telah merebut mangsanya.
Kemarin Mentari mendengar dari ayahnya bahwa Angkasa dan Nia telah resmi dijodohkan. Namun, Tuan Muda Mahendra menolak diadakan pesta pertunangan.
'Pasti Angkasa malu punya calon isteri anak panti,' pikir Mentari.
Sudah hampir satu setengah jam berlalu. Patung-patung mulai terbentuk. Pak Irawan berhenti di samping Bumi dan mengamati hasil patungnya.
"Lihat dengan teliti! Perhatikan garis rahang dan transisi ke leher. Jangan hanya meniru bentuk! Pahami strukturnya dengan baik," kata Pak Irawan sambil menunjuk bagian mana yang perlu Bumi perbaiki.
"Baik. Terimakasih, Pak," kata Bumi lalu kembali fokus ke bagian yang ditunjuk Pak Irawan.
Pak Irawan mendekat ke arah Nia, memperhatikan cara Nia membentuk tanah liat. Pak Irawan tersenyum.
"Kamu sudah dapet struktur besarnya. Tinggal lanjut ke detail. Ingat, jangan hanya meniru. Pahami apa yang ingin ditampilkan wajah itu," kata Pak Irawan pelan.
Mentari mengamati hal itu. Dia kira, Nia hanya mahir dalam seni lukis. Dosen terlihat puas dengan hasil patung Nia.
'Ternyata dia memang berbakat,'
***
"Oke. Yang belum selesai, bisa diselesaikan. Saya tunggu sampe jam empat nanti," kata Pak Irawan menutup kuliahnya.
"Studio aman. Nggak ada kelas lagi yang mau make jadi kalian bisa pake sampe jam empat nanti," lanjut Pak Irawan.
"Baik, Pak!" jawab Mahasiswa serentak.
"Mentari boleh pulang. Mereka cuma tinggal finishing aja," kata Pak Irawan pada Mentari.
"Oh, baik, Pak,"
"Terimakasih sudah mau jadi model mata kuliah saya," kata Pak Irawan.
"Sama-sama, Pak. Saya jadi punya pengalaman baru. Kalo di pemotretan saya dituntut untuk terus bergerak. Tapi disini, saya dituntut untuk tetap diam," kata Mentari ramah.
"Capek ya?" tanya Pak Irawan sambil terkekeh.
"Lumayan sih, Pak," jawab Mentari sambil memijit-mijit bahunya.
"Kalo begitu saya duluan. Sekali lagi terimakasih," kata Pak Irawan lalu berlalu.
Mentari masih berdiri di dekat podium, menatap ke arah Nia yang masih sibuk dengan peralatannya.
"Keren sih lo. Dua setengah jam udah jadi," komentar Rasi pada Nia. Nia tersenyum.
"Dunia memang selalu keren," puji Bumi sambil sibuk membuat garis halus rambut dengan needle tool. Nia tersenyum.
"Kalian juga keren. Tuh, bentar lagi selesai," puji Nia.
"Ternyata, beneran berbakat ya? Gue pikir cuma karena nama besar nyokap lo aja," kata Mentari yang ternyata sudah berdiri di depan Nia. Nia terkejut. Bumi dan Rasi saling menatap penuh tanya.
"Lo kenal, Ya?" tanya Rasi. Nia tersenyum. Mentari melirik ke arah Bumi dan Rasi.
"Nona Muda Adiwangsa, suatu kehormatan bagi kami bisa membuat patung berdasarkan model yang menawan," kata Nia sopan. Mentari mendengus.
"Gue heran. Bukannya lo cuma anak pungut? Kenapa Nyonya Mahendra ngebet banget jodohin lo sama Angaksa. Pake susuk?" kata Mentari ketus, membuat Rasi terlihat emosi.
"Heh! Asal lo tau yaa, Angkasa itu..."
"Rasi..." potong Nia tenang sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Mentari tersenyum sinis.
"Mungkin, Nona Muda Adiwangsa bisa bertanya langsung pada Nyonya Mahendra tentang alasannya lebih memilih saya dibandingkan Nona Muda lainnya yang hadir di acara jamuan malam itu," kata Nia dengan nada sopan bak nona muda dari keluarga bangsawan. Rasi dan Bumi kembali bertukar pandang, takjub. Mentari mendengus kesal.
"Liat aja nanti! Bakal gue rebut posisi tunangan itu dari lo. Dasar anak panti!" kata Mentari lalu berlalu meninggalkan studio tanpa mempedulikan semua mata yang menatapnya aneh.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Rasi. Nia tersenyum.
"Aku baik, Ras. Makasih," kata Nia.
"Kenapa sih lo ngelarang gue buat ngasih tau dia kalo Angkasa..."
"Rasi," potong Nia dengan nada lembut sambil menggelengkan kepalanya.
"Simpel, Ras," sahut Bumi yang masih sibuk melakukan finishing pada patungnya. Rasi mengerutkan kedua alisnya.
"Apa?" tanya Rasi.
"Yaaa... karena emang hal itu sengaja dirahasiakan dari publik," kata Bumi sambil sedikit memundurkan badannya untuk melihat hasil patungnya. Nia mengangguk.
"Hah?! Demi apa gitu?" tanya Rasi heran bercampur bingung. Bumi tersenyum.
"Makanya lo nggak ada bibit jadi orang kaya. Masalah kek gini aja lo nggak paham," ledek Bumi.
"Sial lo! Gue serius nih," Rasi mulai emosi. Bumi tertawa.
"Coba lo pikir," kata Bumi, menurunkan nada bicaranya menjadi sangat lirih.
"Mahendra Group. Nggak punya pewaris. Gimana reaksi orang-orang yang merasa punya hubungan darah dengan Mahendra Group?" kata Bumi. Nia menyimak.
"Tunggu. Seinget gue, Mahendra Group punya pewaris tunggal, tapi dari bayi sampe besar nggak pernah di ekspos ke publik," kata Rasi.
"Nah! Itu Angkasa. Sudah pasti," kata Bumi lirih. Rasi manggut-manggut.
"Kenapa nggak pernah diekspos sih? Biasanya orang kaya suka pameran apa aja," kata Rasi heran.
"Mahendra Group pasti punya banyak saingan kan? Bisa aja kalo tuan muda mereka terlalu diekspos akan mendatangkan bahaya bagi tuan muda sendiri khususnya, dan Mahendra Group secara keseluruhan," jelas Bumi. Rasi kembali terlihat manggut-manggut.
"Hebat juga lo bisa paham konflik orang kaya," puji Rasi.
"Itu namanya ilmu deduksi," kata Bumi lalu kembali fokus pada patungnya.
"Jiiaaah... kek detektif aja lo," kata Rasi sambil kembali fokus pada tugas kuliahnya.
Nia diam. Ada hal lain yang dia pikirkan tentang apa yang Bumi katakan. Selama ini, Nia memang sering mendengar tentang Mahendra Group —entah dari berita atau dari percakapan mama dan kakaknya. Namun, dalam berbagai media, tak ada satupun yang memperlihatkan atau membahas tentang Angkasa.
'Mengapa mereka menyembunyikan faktanya?'
***