Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Labirin Kaca dan Penjaga yang Asing
BAB 4: Labirin Kaca dan Bisikan di Koridor
Matahari pagi di Griya Kencana tidak pernah benar-benar terasa hangat. Cahayanya yang masuk melalui jendela kaca besar di ruang tengah terasa steril, menyilaukan namun tanpa nyawa. Apartemen ini terlalu bersih, terlalu rapi, seolah-olah setiap butir debu telah diatur untuk tidak mengganggu pandanganku.
Aku duduk di meja makan marmer, menatap mangkuk sereal yang sudah melunak karena terlalu lama terendam susu. Di seberang meja, Bi Minah sedang sibuk menata buah-buahan di dalam keranjang, sesekali melirikku dengan tatapan cemas yang berusaha disembunyikannya.
"Neng Anya, kok sarapannya tidak dimakan? Nanti lambungnya sakit lagi loh, Tuan Hendra bisa marah sama Bibi," suara Bi Minah memecah kesunyian, nadanya penuh dengan kekhawatiran yang sudah aku hafal di luar kepala.
Aku mengangkat sendok, lalu menjatuhkannya lagi. "Bi," panggilku pelan, mataku lurus menatap punggungnya.
"Iya, Neng?"
"Bibi sudah sempat bertemu tetangga sebelah? Unit 1002?"
Gerakan tangan Bi Minah yang sedang memegang jeruk seketika membeku. Hanya sesaat, mungkin kurang dari sedetik, namun mataku menangkap kekakuan itu. Ia kemudian berbalik dengan senyum yang dipaksakan.
"Unit sebelah? Setahu Bibi, unit itu masih kosong, Neng. Tuan Hendra bilang lantai ini sengaja disewa satu koridor agar Neng Anya tidak terganggu oleh orang asing," jawabnya lancar, terlalu lancar, seperti sebuah naskah yang sudah dihafal.
Dingin mulai merayap di tengkukku. "Kosong? Tapi semalam aku melihat seseorang di balkon sebelah, Bi. Dia berdiri di sana, memegang korek api."
Bi Minah tertawa kecil, suara tawanya terdengar sedikit sumbang di telingaku. "Mungkin Neng Anya kelelahan. Kan Dokter Frans sudah bilang kalau efek samping obat yang baru itu bisa membuat Neng sedikit... berhalusinasi atau bermimpi buruk saat terjaga. Lebih baik sarapannya dihabiskan, ya?"
Halusinasi. Kata itu lagi.
Setiap kali aku mempertanyakan realitas yang aku lihat, jawabannya selalu bermuara pada satu titik: otakkku yang rusak. Aku mulai merasa seperti seekor tikus laboratorium yang terjebak dalam labirin kaca, di mana setiap jalan keluar yang kutemukan akan disebut sebagai ilusi oleh para penjagaku.
Pukul sembilan pagi. Aku melangkah keluar dari unit 1001 dengan tas kanvas yang tersampir di bahu. Koridor apartemen ini sunyi, hanya ada suara dengung mesin pendingin ruangan yang konstan. Karpet tebal berwarna abu-abu gelap di lantai membungkam langkah kakiku, menciptakan suasana yang kian terisolasi.
Aku berhenti tepat di depan pintu unit 1002. Pintu kayu berwarna cokelat gelap itu terlihat sama persis dengan pintuku. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Namun, rasa penasaran yang membakar membuat tanganku terulur, nyaris menyentuh gagang pintunya.
"Mencari sesuatu, Tetangga?"
Suara bariton itu muncul dari arah belakangku, sangat dekat hingga aku bisa merasakan getaran udaranya di telingaku.
Aku terlonjak kaget, berbalik dengan cepat hingga punggungku menabrak pintu unit 1002. Jantungku berpacu gila.
Devan berdiri di sana. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang menutupi kaus abu-abunya, rambutnya yang berantakan hari ini dibiarkan jatuh menutupi sebagian matanya. Ia tidak membawa tas, hanya sebuah kunci magnet di sela jarinya.
"Kau... kau sungguhan ada di sini," bisikku, napasku tersengal. "Bi Minah bilang unit ini kosong."
Devan tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak mengeluarkan suara, hanya hembusan napas merendahkan. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma mint dan kertas terbakar yang sama seperti kemarin.
"Tentu saja dia bilang begitu. Tugasnya adalah memastikan kau percaya pada duniamu yang palsu," Devan menyandarkan bahunya di dinding koridor, menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi semua kebohonganku. "Bagaimana rasanya, Anya? Hidup di tengah orang-orang yang menganggapmu gila?"
Aku mengepalkan tangan. "Jangan bicara sembarangan. Ayah dan Bi Minah melakukannya karena mereka peduli padaku. Aku sedang sakit."
"Sakit?" Devan memiringkan kepalanya sedikit, jarinya perlahan terangkat, menunjuk ke arah pelipisku. "Atau sengaja dibuat lupa? Ada perbedaan besar di antara keduanya."
"Apa maumu, Devan? Kenapa kau pindah ke sini? Kenapa kau terus mengikutiku?" suaraku meninggi, ada rasa takut yang mulai bercampur dengan kemarahan.
Devan tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar kertas kecil yang dilipat rapi—sepertinya sobekan dari sebuah buku catatan lama. Ia menyodorkannya padaku.
"Aku tidak mengikutimu. Aku hanya sedang menagih janji yang belum selesai," ujarnya dingin.
Aku ragu sejenak sebelum mengambil kertas itu. Jari-jariku bersentuhan dengan jari-jarinya yang kasar dan dingin, dan sekali lagi, sengatan memori abstrak menghantam kepalaku. Pening itu datang lagi, lebih tajam.
"Baca itu saat kau sendirian. Dan jangan tunjukkan pada supir atau pelayanmu jika kau masih ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya," lanjut Devan.
Tepat saat itu, denting lift di ujung koridor terdengar. Devan segera menegakkan tubuhnya, auranya kembali berubah menjadi dingin dan tak acuh dalam sekejap mata.
Dua orang petugas keamanan apartemen keluar dari lift, sedang melakukan patroli rutin. Mereka menatap kami dengan curiga.
"Nona Anya? Ada yang bisa kami bantu?" salah satu petugas bertanya sambil melirik Devan dengan tidak senang.
"Tidak, tidak apa-apa. Saya hanya sedang mau berangkat," jawabku cepat, menyembunyikan kertas dari Devan ke dalam saku celana kargoku.
Devan melengos melewati petugas itu tanpa kata, berjalan menuju lift tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Ia masuk ke dalam lift, dan sebelum pintu baja itu tertutup sepenuhnya, aku sempat melihat pantulan matanya yang menatapku melalui cermin lift. Tatapan itu bukan lagi tatapan predator, melainkan tatapan seorang pelindung yang sedang berdiri di ambang kehancuran.
Di perpustakaan kampus yang sepi, aku duduk di pojok ruangan yang paling gelap. Tanganku gemetar saat mengeluarkan sobekan kertas dari saku. Aku membukanya perlahan, takut jika isinya akan menghancurkan kewarasanku yang tersisa.
Kertas itu hanya berisi satu baris kalimat, ditulis dengan tinta hitam yang sudah sedikit pudar, seolah-olah kertas ini telah disimpan sangat lama:
'Cek tanggal 14 Juli di folder tersembunyi laptop lamamu. Kuncinya adalah nama kucing yang mati di depan rumahmu sepuluh tahun lalu.'
Laptop lamaku.
Barang itu ada di gudang rumah utama Ayah. Ayah bilang laptop itu rusak parah akibat kecelakaan dan tidak bisa diperbaiki. Tapi mengapa Devan tahu tentang hal itu? Dan kucing? Kucing apa?
Aku memejamkan mata, mencoba menggali ke dalam lubang hitam di kepalaku. Sakitnya luar biasa. Seolah-olah ada pagar kawat berduri yang mengelilingi ingatan itu.
Tiba-tiba, sebuah gambaran melintas.
Sesosok anak laki-laki kecil dengan lutut yang terluka, sedang menangis di bawah pohon kamboja. Ia sedang memegang kotak kardus berisi bangkai kucing oranye. Dan di sampingnya... aku berdiri di sana, memegang sebuah permen lolipop, mencoba menghapus air matanya dengan tisu basah yang kotor.
"Namanya... Oren?" bisikku tanpa sadar.
Denyut di pelipisku seketika berhenti. Keheningan di perpustakaan terasa semakin mencekam. Aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Devan tidak hanya tahu masa SMA-ku. Dia sudah ada di sana, jauh sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia adalah bagian dari fondasi hidupku yang sengaja dirobohkan oleh seseorang.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
EXT. JALANAN KOMPLEKS PERUMAHAN - SORE HARI (10 TAHUN LALU)
Filter visual hangat dan sedikit berdebu.
ANYA kecil (9 tahun) sedang bersepeda roda empat dengan ceria. Ia tiba-tiba berhenti saat melihat seorang ANAK LAKI-LAKI (10 tahun) yang mengenakan kaus kumal sedang berjongkok di pinggir jalan, menatap seekor kucing yang tidak bergerak.
ANYA KECIL
(Turun dari sepeda, wajahnya penuh simpati)
"Kenapa dia? Apa dia tidur?"
ANAK LAKI-LAKI (DEVAN kecil)
(Suaranya parau karena menahan tangis)
"Dia ditabrak mobil hitam besar tadi. Orang yang di dalam mobil tidak mau berhenti. Mereka cuma melempar uang sepuluh ribu lewat jendela."
Anya kecil melihat selembar uang sepuluh ribu yang tergeletak di aspal, berlumuran sedikit darah. Ia mendongak, menatap rumah besarnya yang berada tepat di depan jalan itu. Ia tahu mobil hitam besar itu milik siapa.
ANYA KECIL
"Maafkan ayahku ya... ayo kita kubur dia di tamanku. Namanya siapa?"
ANAK LAKI-LAKI
"Oren."
Kamera fokus pada kedua tangan kecil mereka yang saling bertaut untuk mengangkat kotak kardus itu. Di kejauhan, terlihat sosok AYAH ANYA yang sedang berdiri di balkon lantai dua, menatap interaksi mereka dengan ekspresi dingin dan tidak suka.
Layar bergetar hebat, transisi ke kilatan lampu biru ambulans dan suara decit rem yang melengking.
FADE OUT.
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??