Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berikan Aku Ruang Untuk Masuk~
Raka hanya bisa tertunduk diam di atas brankar rumah sakit, membiarkan rentetan ceramah dan makian dari sang mama menghujani telinganya. Anggi benar-benar telah kehilangan kesabaran. Rasa kecewa dan amarahnya memuncak melihat putranya yang justru lebih membela wanita pemilih rahim pengganti itu dibandingkan istrinya sendiri, Zira, yang telah menemani selama sepuluh tahun.
"Sekarang bagaimana? Zira sudah kembali ke Indonesia dan sekarang hidupmu hancur! Kamu kehilangan istri yang paling kamu cintai hanya karena kebodohanmu!" ucap Anggi dengan tatapan yang menyala-nyala karena amarah.
"Aku akan menjemputnya kembali ke Indonesia, Ma," gumam Raka pelan, yang seketika membuat Anggi terkesiap syok.
"Menjemput? Kamu sudah tidak waras, Raka?! Memangnya keluarga Lergan akan menerimamu kembali dengan tangan terbuka? Tidak! Mereka akan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya! Bahkan mereka bisa membuat Mama kehilangan pekerjaan yang Mama cintai hanya demi menghukummu!" seru Anggi dengan suara yang melengking penuh rasa malu dan frustrasi.
"Kamu benar-benar pria tidak berguna! Terserah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan setelah ini, Mama sudah tidak peduli lagi!"
Dert! Dert!
Ponsel Raka berdering di atas nakas. Ia melirik layar ponselnya, lalu melirik ke arah Anggi yang langsung membuang muka dengan gusar. Raka ragu sejenak sebelum akhirnya menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Halo?" ucap Raka dengan nada tertahan.
"Kamu di mana? Aku butuh kamu sekarang ...," Suara Ivy terdengar pelan di seberang sana.
Raka menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang menyiratkan rasa lelah yang amat sangat. Kehadiran Ivy yang tadinya ia anggap sebagai solusi, kini terasa seperti beban yang mencekik lehernya. Ia diam sejenak, tak tahu harus merespons apa, sampai akhirnya suara Ivy kembali terdengar, namun kali ini nadanya datar dan hampa.
"Bayi kita sudah tidak ada, Raka."
"APA?!" Raka tersentak hingga hampir terjatuh dari brankar. Dunianya yang sudah runtuh kini terasa benar-benar rata dengan tanah.
.
.
.
.
Sementara itu, di belahan bumi yang berbeda, Zira mulai menjalani hari-harinya di kediaman Lergan dengan suasana yang jauh lebih tenang. Ia mencoba menikmati setiap detiknya dengan canda dan tawa bersama keluarga besarnya. Kehadiran Xavier, bersama dua bayi kembarnya yang menggemaskan menjadi obat penawar yang ampuh. Setidaknya, kebisingan di rumah itu mampu mengalihkan rasa sakit dan kecewa atas hancurnya rumah tangga yang ia bina selama satu dekade.
Pagi ini, Zira sengaja menyibukkan diri di taman belakang. Ia memetik beberapa bunga segar yang mekar sempurna, berniat meletakkannya di dalam vas untuk mempercantik sudut ruangan. Tanpa ia sadari, sepasang mata tengah memperhatikannya dari ambang pintu. Kayden berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu sambil bersedekap dada. Ia seolah tengah memandangi sebuah karya seni yang sangat indah di pagi hari.
"Raka ... wanita secantik dan setulus Zira kamu sia-siakan hanya demi ekor kecoa itu," batin Kayden dalam diam. Ia sudah mengenakan setelan kantor yang rapi, namun ia enggan beranjak karena pemandangan di depannya terlalu memanjakan mata.
"Campelin saja kenapa cih? kayak culut aja cembunyi cembumyi," celetuk Zayra tiba-tiba yang muncul entah dari mana.
Kayden hampir melonjak kaget karena teguran putrinya. "Zayra! Jangan mengejutkan Papa!" desis Kayden memberi peringatan, sementara Zayra hanya menjulurkan lidahnya.
"Kay?" Suara Zira memecah kecanggungan. Zira mendongak dan mendapati Kayden yang tengah menyengir malu karena tertangkap basah sedang memperhatikannya.
"Ah, Zira. Aku ... aku hanya ingin memberikan ini padamu sebelum berangkat kerja," ucap Kayden seraya melangkah mendekat. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan menyerahkannya tepat di hadapan Zira.
Sebuah kalung berkilauan tampak tergantung di tangan Kayden. Kalung itu memiliki liontin yang terukir sangat indah; siluet sepasang kekasih yang tengah menari dengan anggun.
"Kay ...," Zira membulatkan matanya. Tangannya gemetar saat menerima kalung tersebut. Ia menatap perhiasan itu dengan lekat. Ini bukan sekadar kalung biasa, ini adalah koleksi terbatas yang konon hanya terjual lima buah di seluruh dunia. Zira bahkan sempat mengincar kalung ini dulu, meskipun ia hanya berani melihat gambarnya di majalah.
"Kay, ini terlalu berlebihan. Kenapa kamu memberikanku ini?" tanya Zira lirih.
Kayden tersenyum lembut, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh wajah Zira namun ia urungkan. "Karena kamu berhak mendapatkan hal-hal indah di dunia ini, Zira."
Zira justru menundukkan kepalanya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Jangan terlalu berharap padaku, Kay," ucap Zira panjang lebar yang seketika membuat senyuman di wajah Kayden luntur perlahan.
"Why?" tanya Kayden dengan nada rendah, penuh dengan luka yang tersembunyi.
Zira mendongak dengan tatapan berkaca-kaca. "Aku tidak sempurna, Kay. Aku adalah wanita yang gagal. Kamu tahu sendiri kekuranganku, aku tidak bisa memberikan apa yang paling diinginkan dalam sebuah keluarga."
Kayden terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi dingin dan tegas. Ia menatap Zira dengan tajam, seolah sedang menahan kekesalan yang mendalam atas ucapan wanita itu.
"Kenapa kamu selalu mengatakan jika dirimu tidak sempurna hanya karena masalah itu? Apakah menurutmu sebuah pernikahan harus selalu tentang hadirnya seorang anak? Apa cinta yang tulus sudah tidak berarti lagi bagimu?" ucap Kayden dengan intonasi yang meninggi karena kesal.
"Kay, bukan begitu maksudku ...,"
"Dengar, Zira! Aturan dari mana yang mengatakan bahwa dengan menikah denganku kita wajib memiliki anak kandung? Apa menurutmu aku seperti suamimu itu?" Kayden melangkah lebih dekat, mengunci pandangan Zira. "Ini sebenarnya tentang kekuranganmu yang kamu besar-besarkan, atau sebenarnya kamu yang memang tidak pernah mau membuka hati untuk menerima cintaku?"
Zira terkesiap mendengar pertanyaan telak dari Kayden. Pertanyaan itu menggantung di udara pagi yang dingin, menuntut jawaban yang selama ini selalu ia hindari. Di antara aroma bunga yang ia petik, Zira menyadari bahwa dinding yang ia bangun untuk melindungi dirinya justru mulai retak oleh ketulusan pria yang selalu ia anggap sebagai berondong nakal itu.
"Kay ...,"
"Please, berikan aku 1 kesempatan untuk membuatmu jatuh hati padaku. Berikan aku ruang untuk masuk dalam duniamu,"
Degh!