Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Retak dalam Kesempurnaan
Pagi di lereng Merapi kini selalu datang dengan presisi yang menakutkan.
Tidak ada lagi kabut yang terlalu tebal atau hujan yang salah jadwal.
Seolah-olah alam sendiri sudah menandatangani kontrak kepatuhan dengan sistem yang tertanam di otak Elena.
Elena duduk di kursi goyang Sarah, menatap hamparan lili perak yang bergoyang seirama dengan detak jantungnya.
Di dalam kepalanya, ia tidak lagi mendengar suara bising pikiran manusia.
Ia mendengar data. Ia bisa merasakan suhu laut di Pasifik, fluktuasi harga gandum di Rusia, hingga detak jantung seorang bayi yang baru lahir di pelosok Papua.
"Kopi, El. Tanpa gula, sesuai seleramu," Reza meletakkan cangkir itu di meja.
Elena menoleh. Gerakannya sangat halus, terlalu halus untuk seorang manusia.
"Terima kasih, Rez. Detak jantungmu sedikit meningkat pagi ini. 82 bpm. Kau cemas soal pengiriman benih ke Afrika?"
Reza terdiam, tangannya yang masih memegang nampan sedikit kaku.
"El... berhenti melakukan itu. Berhenti membacaku seperti kau membaca barisan kode."
Elena tersenyum, tapi matanya tidak berkedip.
"Aku tidak membacamu, Rez. Aku hanya tahu. Semua orang sekarang terhubung. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi pengkhianatan. Bukankah ini yang kita mau?"
Reza menarik napas panjang, lalu duduk di depan Elena. "Ini yang kau mau, El. Dunia memang tenang, tapi orang-orang mulai merasa seperti robot. Mereka melakukan hal benar karena sistemmu 'menyarankannya', bukan karena mereka punya hati."
Bug dalam Sistem
Tiba-tiba, penglihatan Elena terganggu oleh glitch digital. Sebuah bayangan hitam melintas di sudut matanya, diikuti oleh suara statis yang menyakitkan.
"Pesan dari bayang-bayang..." suara itu berbisik, serak dan penuh kebencian.
Elena memegang kepalanya. "Rez, Dante ada di mana?"
"Dia di laboratorium bawah, sedang mencoba melacak 'bug' yang kau sebutkan tempo hari. Kenapa?"
Elena tidak menjawab. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu rahasia di balik rak buku.
Di bawah, di dalam 'The Womb', Dante tampak frustrasi. Layar-layar monitor di sekelilingnya menampilkan distorsi merah yang mengerikan.
"Gue nggak bisa nemuin pelakunya, El!" Dante berteriak tanpa menoleh.
"Seseorang atau sesuatu masuk ke jaringan kita lewat protokol yang bahkan nggak ada dalam catatan Adiwangsa. Ini kayak... hantu digital."
"Bukan hantu, Dante," Elena mendekati layar. "Ini adalah Protokol Kesadaran Murni. Seseorang mencoba memisahkan kesadaranku dari sistem Lazarus secara paksa."
Di layar, muncul sebuah pesan singkat yang berkedip cepat:
"Kau membangun surga di atas fondasi kebohongan. Saatnya melihat apa yang ada di bawah tanah."
Elena tahu hanya ada satu cara untuk menghadapi ini.
Ia harus masuk ke dalam mode Deep Sync—menyelam langsung ke dalam inti sistemnya sendiri, sebuah tempat di mana kenyataan dan data menyatu.
"Jaga tubuhku, Rez," bisik Elena saat ia duduk di kursi sinkronisasi.
Saat kesadarannya meluncur masuk ke dalam kegelapan digital, Elena tidak menemukan barisan kode.
Ia menemukan dirinya berdiri di tengah reruntuhan gedung Adiguna Tower yang terbakar.
Di depannya, berdiri seorang wanita yang wajahnya sangat ia kenal.
Bukan Sarah. Bukan Siska. Tapi... Elena Yang Asli. Sosok wanita sebelum operasi plastik, sebelum dendam, sebelum ia menjadi 'Subjek 01'.
"Siapa kau?" desis Elena (sang Nyonya yang Terbuang).
"Aku adalah bagian dari dirimu yang kau buang ke jurang malam itu," suara Elena asli terdengar sangat sedih.
"Kau membangun dunia ini untuk melindungi dirimu sendiri, tapi kau malah memenjara semua orang. Kau menjadi monster yang lebih besar dari Adrian."
"Aku menyelamatkan dunia!" teriak Elena.
"Kau menghapus kehendak bebas, Elena. Lihat apa yang kau lakukan pada Reza. Dia tidak mencintaimu lagi; dia takut padamu. Dia bertahan karena sistemmu mengirimkan dopamin buatan ke otaknya setiap kali dia di dekatmu."
Elena tertegun. Dunia digital di sekelilingnya mulai retak. "Tidak... itu bohong!"
Tiba-tiba, sistem dipaksa keluar. Elena tersentak bangun di kursi sinkronisasi, napasnya memburu.
Ia melihat Dante tergeletak di lantai, pingsan. Dan di depannya, Reza berdiri memegang sebuah suntikan berisi cairan biru pekat.
"Rez?" Elena berbisik lemah.
"Maafkan aku, El," mata Reza berkaca-kaca.
"Sarah benar. Kau terlalu kuat. Sistem ini harus dimatikan sebelum kau benar-benar kehilangan kemanusiaanmu."
Sarah muncul dari balik bayang-bayang, memegang sebuah tablet kendali.
"Ibu tidak bisa membiarkanmu menjadi dewa yang kejam, Elena. Ibu yang memulai ini, Ibu yang harus mengakhirinya."
Ternyata, 'bug' dalam sistem itu adalah Sarah dan Reza. Mereka bekerja sama dengan sisa-sisa perlawanan manusia untuk menjatuhkan Elena dari tahta digitalnya.
"Kau mengkhianatiku?" Elena tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat dingin.
"Setelah semua yang kulakukan untuk melindungi kalian?"
"Kau tidak melindungi kami, El. Kau mengontrol kami," sahut Reza, tangannya gemetar saat ia mendekatkan suntikan itu ke leher Elena.
Namun, mereka meremehkan satu hal. Elena bukan lagi sekadar subjek; ia adalah sistem itu sendiri.
Dengan satu gerakan mata, Elena mengaktifkan protokol pertahanan internal.
Seluruh peralatan elektronik di ruangan itu meledak. Tekanan udara mendadak berubah, membuat Sarah terjatuh.
Elena berdiri, kabel-kabel yang menempel di tubuhnya terlepas dengan sendirinya.
Matanya kini bersinar dengan cahaya perak yang intens.
"Kalian ingin kebebasan?" suara Elena menggema, bukan hanya di ruangan itu, tapi di seluruh dunia lewat setiap pengeras suara yang terhubung.
"Maka rasakanlah beban dari kebebasan yang sesungguhnya."
Elena tidak membunuh mereka. Ia justru melakukan hal yang lebih mengerikan.
Ia memutus seluruh koneksi Lazarus secara global dalam satu detik.
KLIK.
Dunia mendadak menjadi gelap. Sistem transportasi otomatis berhenti, jaringan internet mati total, dan kedamaian palsu yang selama ini dirasakan manusia lenyap digantikan oleh kepanikan massal.
Di dalam 'The Womb', Elena berdiri tegak, tapi cahaya di matanya sudah padam.
Ia kembali menjadi manusia biasa, tapi dengan ingatan seorang dewa.
Reza menjatuhkan suntikannya. Sarah terduduk lemas.
Mereka mendapatkan apa yang mereka mau: Kebebasan. Tapi harga yang harus dibayar adalah kekacauan total yang akan melanda dunia selama puluhan tahun ke depan.
Elena berjalan melewati mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia keluar dari joglo, menuju kebun lilinya.
Bunga-bunga perak itu kini layu, kembali menjadi tanaman biasa yang butuh air dan matahari, bukan lagi data.
"El... kau mau ke mana?" teriak Reza dari teras.
Elena berhenti sejenak, tapi tidak menoleh.
"Aku sudah memberikan apa yang kalian minta. Sekarang, dunia adalah milik kalian lagi. Cobalah untuk tidak menghancurkannya untuk yang keseribu kalinya."
Elena berjalan mendaki puncak Merapi, menghilang di balik kabut yang kini kembali menjadi liar dan tak terduga.
Beberapa tahun kemudian, beredar cerita di antara para pendaki tentang seorang wanita yang tinggal di puncak gunung yang paling berbahaya.
Mereka bilang, wanita itu bisa melihat masa depan tapi memilih untuk diam. Mereka menyebutnya Sang Pengamat.
Dunia kembali penuh dengan perang, kemiskinan, dan cinta yang menyakitkan.
Tapi bagi Elena, itu jauh lebih baik daripada surga yang palsu.
Ia telah membuka pintu penjara, dan sekarang ia hanya duduk di sana, menanti apakah manusia akan benar-benar belajar, ataukah mereka akan kembali mengetuk pintunya suatu hari nanti untuk meminta sang dewa kembali.
Di tangannya, ia memegang sebutir benih lili yang asli. Bukan perak, bukan digital. Hanya benih biasa.
"Tumbuhlah," bisiknya pada tanah. "Dan kali ini, jangan biarkan siapa pun mengaturnya."
Bersambung...
Ayo buruan baca...