NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 - Gosip Yang Menyebar

Hari setelah ujian praktik berakhir, Akademi Arvandor kembali ramai seperti biasa. Halaman utama dipenuhi murid yang berjalan berkelompok, suara percakapan bercampur dengan langkah kaki yang tidak pernah benar-benar berhenti, menciptakan suasana yang terlihat normal di permukaan. Namun di balik semua itu, ada perubahan halus yang tidak bisa diabaikan, sesuatu yang terasa meskipun tidak diucapkan secara langsung.

Nama Alverion Dastan mulai disebut di berbagai sudut akademi. Bukan lagi sebagai bahan ejekan atau candaan seperti sebelumnya, melainkan sebagai topik yang dibicarakan dengan nada yang lebih serius. Perubahan itu tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi cukup jelas untuk disadari oleh siapa pun yang memperhatikan.

Di lorong panjang dekat aula pelatihan, dua murid berdiri sambil berbicara pelan. Suara mereka tidak keras, tetapi cukup untuk didengar oleh orang yang lewat di dekat mereka.

“Aku lihat sendiri kemarin. Gerakannya beda.”

“Dia cuma beruntung.”

“Beruntung tidak bikin Varian sampai diam seperti itu.”

Percakapan seperti itu mulai muncul di banyak tempat. Tidak semua orang langsung percaya, beberapa masih meragukan dan menganggapnya berlebihan, tetapi rasa penasaran sudah cukup untuk menarik perhatian lebih banyak orang.

Alverion berjalan melewati lorong itu tanpa mengubah ekspresi. Ia bisa merasakan beberapa tatapan mengarah kepadanya, lebih lama dari biasanya, seolah mencoba mencari sesuatu yang sebelumnya tidak mereka lihat. Tidak ada lagi cibiran terang-terangan, tetapi suasana itu tidak sepenuhnya nyaman.

Bukan lagi sekadar merendahkan.

Ada rasa ingin tahu yang lebih tajam, bercampur dengan penilaian diam-diam yang belum memiliki kesimpulan pasti.

Ia memasuki ruang pelatihan seperti biasa. Beberapa murid langsung menghentikan percakapan ketika ia lewat, sementara yang lain tetap berbicara namun dengan suara yang lebih pelan. Ada juga yang sengaja menatap tanpa berusaha menyembunyikan niatnya, seolah ingin memastikan apakah semua yang mereka dengar benar.

Lysera Virel sudah berada di dalam, duduk di salah satu sudut sambil membaca. Posisi duduknya santai, tetapi dari cara matanya bergerak, jelas ia tidak sepenuhnya fokus pada buku di tangannya. Ketika Alverion masuk, ia mengangkat pandangan sebentar sebelum kembali menatap halaman.

“Kamu jadi topik utama hari ini,” katanya tanpa melihat.

Alverion berhenti di dekatnya, tidak terlalu dekat namun cukup untuk berbicara tanpa menarik perhatian berlebihan.

“Biasanya aku memang sering dibicarakan.”

Lysera menutup bukunya perlahan, kali ini benar-benar mengalihkan perhatian.

“Bukan seperti ini,” jawabnya singkat.

Ia menatap Alverion dengan cara yang lebih langsung, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak ditunjukkan secara terang-terangan.

“Kamu menahan diri kemarin.”

Nada suaranya datar, tetapi pernyataan itu tidak memberi ruang untuk disangkal.

Alverion tidak langsung menjawab. Ia membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya memberikan respons yang tidak terlalu terbuka.

“Semua orang menahan sesuatu.”

Lysera tersenyum tipis, bukan karena puas, tetapi karena jawaban itu sesuai dengan yang ia duga.

“Jawaban yang aman.”

Sebelum percakapan mereka berlanjut lebih jauh, pintu ruang pelatihan terbuka. Varian Zevran masuk dengan langkah santai, diikuti beberapa murid lain yang tampak terbiasa berada di sekitarnya. Kehadirannya langsung menarik perhatian, membuat suasana yang sebelumnya setengah tenang kembali berubah.

Varian berhenti sejenak di dekat pintu, lalu menoleh ke arah Alverion. Tatapannya tidak lagi sama seperti sebelumnya, kini ada rasa ingin tahu yang lebih jelas.

“Aku dengar banyak hal tentangmu,” katanya.

Nada suaranya ringan, tetapi tidak sepenuhnya santai.

Alverion tidak menunjukkan reaksi berlebihan.

“Gosip biasanya memang berkembang cepat.”

Varian berjalan mendekat beberapa langkah, tidak terlalu dekat namun cukup untuk memperjelas arah pembicaraan.

“Gosip yang menarik,” lanjutnya. “Terutama kalau itu benar.”

Beberapa murid mulai memperhatikan dengan lebih jelas. Situasi seperti ini jarang berakhir tanpa perkembangan, dan semua orang tampaknya menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

Namun sebelum ketegangan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar, instruktur masuk dan latihan dimulai. Suasana yang sebelumnya memanas tidak benar-benar hilang, hanya tertahan oleh aturan yang ada.

Sepanjang latihan, Alverion bisa merasakan tatapan yang terus mengarah kepadanya. Tidak hanya dari Varian, tetapi juga dari beberapa murid lain yang sebelumnya tidak pernah peduli. Perhatian itu terasa lebih berat karena tidak disertai kata-kata, hanya pengamatan yang terus berlangsung.

Caelis Rhydor juga hadir, berdiri di sisi lain ruangan dengan sikap yang sama tenangnya seperti biasa. Ia tidak menunjukkan perubahan mencolok, tetapi beberapa kali pandangannya tertuju pada Alverion dengan durasi yang lebih lama dari biasanya.

Pengamatan tanpa suara seperti itu terasa lebih tajam daripada pertanyaan langsung. Tidak ada tekanan yang terlihat, tetapi tetap terasa jelas.

Hari itu berjalan lebih panjang dari biasanya. Waktu terasa melambat, bukan karena aktivitasnya berat, tetapi karena suasana yang terus menekan dari berbagai arah.

Ketika latihan selesai, percakapan kembali muncul dengan lebih bebas. Gosip yang sebelumnya terbatas di beberapa sudut kini menyebar lebih luas, menjangkau lebih banyak orang dalam waktu singkat.

Di asrama, di aula makan, bahkan di jalur luar akademi, nama Alverion mulai dikaitkan dengan berbagai kemungkinan. Beberapa orang menganggap ia menyembunyikan teknik tertentu, sementara yang lain yakin ada faktor eksternal yang membantunya.

Tidak sedikit pula yang tetap meragukan semuanya.

Namun satu hal yang tidak bisa disangkal, ia tidak lagi berada di posisi yang sama seperti sebelumnya.

Malam harinya, Alverion memilih menjauh dari keramaian. Ia berjalan menuju area belakang akademi, tempat yang jarang dilewati murid lain kecuali untuk alasan tertentu. Langkahnya tidak terburu-buru, tetapi cukup terarah.

Udara malam terasa lebih tenang dibanding siang hari. Suara-suara dari area utama hampir tidak terdengar, digantikan oleh desiran angin yang melewati pepohonan.

Namun pikirannya tidak ikut tenang.

Sistem di dalam dirinya masih aktif, memberikan sensasi samar yang tidak bisa diabaikan sepenuhnya. Tekanan yang muncul tidak lagi terasa asing, tetapi juga tidak pernah benar-benar hilang.

Langkahnya terhenti ketika ia merasakan sesuatu.

Ada kehadiran lain di sekitarnya.

Ia tidak langsung menoleh, tetapi fokusnya langsung meningkat.

“Keluar saja,” katanya tanpa mengubah posisi.

Beberapa detik berlalu tanpa respons. Lalu suara langkah kaki terdengar pelan, mendekat dari arah bayangan pohon di samping.

Seorang pria muncul dari kegelapan dengan langkah santai. Wajahnya dikenal, meskipun mereka tidak pernah benar-benar berinteraksi secara langsung.

Ravian Kestrel.

Salah satu murid tingkat atas yang jarang terlibat dalam urusan orang lain, tetapi memiliki reputasi yang cukup untuk diperhitungkan.

“Atau mungkin aku harus bilang, kamu memang berbeda dari yang terlihat,” ucapnya.

Alverion menoleh sedikit, cukup untuk memastikan posisinya tanpa benar-benar mengalihkan fokus dari sekeliling.

“Apa yang kamu inginkan?”

Ravian tersenyum tipis, ekspresinya sulit dibaca.

“Bukan aku yang menginginkan sesuatu.”

Kalimat itu terasa janggal. Tidak ada penjelasan langsung, tetapi cukup untuk menimbulkan kecurigaan.

Sebelum Alverion sempat menanyakan lebih jauh, suara langkah lain mulai terdengar. Bukan satu arah, tetapi dari beberapa sisi sekaligus.

Ia langsung waspada.

Pandangannya bergerak cepat, membaca posisi yang berubah dalam hitungan detik.

Tiga orang muncul dari sisi kiri, dua dari kanan, dan satu lagi dari belakang. Jarak mereka tidak terlalu jauh, cukup untuk membentuk lingkaran yang mengurung tanpa celah jelas.

Formasi seperti itu tidak terjadi secara kebetulan.

Ravian mundur beberapa langkah, memberi ruang di antara mereka.

“Sepertinya kamu cukup populer,” katanya santai.

Alverion menatapnya lebih tajam.

“Kamu membawa mereka.”

Ravian mengangkat bahu ringan.

“Aku hanya memastikan kamu datang ke tempat yang tepat.”

Situasinya langsung jelas. Ini bukan pertemuan biasa, dan bukan juga kebetulan yang tidak disengaja.

Ini jebakan.

Salah satu dari mereka melangkah maju, sikapnya menunjukkan bahwa ia terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

“Kami hanya ingin memastikan sesuatu,” katanya.

Nada suaranya dingin dan tanpa basa-basi.

Alverion tidak menjawab. Ia sudah membaca kondisi dengan cukup jelas. Jumlah mereka lebih banyak, posisi mereka menguntungkan, dan tempat ini terlalu jauh dari pusat aktivitas untuk menarik perhatian.

Pilihan mulai muncul di benaknya.

Tetap bertahan dengan batas yang sama, atau mengambil risiko yang lebih besar.

Namun ia tidak diberi waktu lama untuk berpikir.

Salah satu dari mereka langsung bergerak menyerang. Kecepatannya tinggi dan arahnya jelas, sementara serangan kedua datang dari sisi yang berbeda hampir bersamaan.

Koordinasi mereka rapi.

Alverion menghindar dengan langkah yang terukur. Ia tidak langsung membalas dengan kekuatan penuh, hanya cukup untuk menjaga jarak dan membaca pola serangan mereka.

Mereka bukan murid biasa.

Gerakan mereka menunjukkan latihan yang lebih serius, dan cara mereka menutup ruang tidak memberi banyak pilihan untuk bergerak bebas.

“Jangan terlalu keras,” suara Ravian terdengar dari belakang. “Kita hanya ingin melihat sejauh mana dia bisa bertahan.”

Kalimat itu memperjelas tujuan mereka.

Ini bukan sekadar serangan acak.

Ini pengujian.

Versi mereka sendiri.

Alverion mulai bergerak lebih aktif, menyesuaikan ritme dengan tekanan yang datang dari berbagai arah. Ia menghindar, menahan, dan sesekali membalas dengan serangan singkat yang cukup untuk mengganggu keseimbangan lawan.

Namun tekanan tidak berkurang.

Jumlah mereka membuat ruang geraknya semakin sempit, memaksanya terus berpindah tanpa jeda yang cukup untuk mengambil napas.

Sistem di dalam dirinya kembali bereaksi.

Peringatan meningkat secara bertahap. Indikator kondisi mulai mendekati batas yang tidak aman, sementara opsi penggunaan energi muncul dengan lebih jelas.

Alverion mengepalkan tangan, merasakan ketegangan yang mulai naik dari dalam tubuhnya. Ia tahu batas itu ada, dan ia juga tahu apa yang akan terjadi jika ia melewatinya.

Jika ia menggunakan lebih banyak, situasi ini bisa diselesaikan lebih cepat.

Namun konsekuensinya tidak kecil.

Serangan berikutnya datang lebih cepat dari yang ia perkirakan. Ia mundur satu langkah, napasnya mulai tidak seimbang, sementara lingkaran di sekitarnya semakin rapat.

Mereka tidak memberi ruang untuk keluar.

Ravian tetap berdiri di kejauhan, mengamati tanpa menunjukkan emosi apa pun.

Alverion memahami satu hal dengan jelas.

Situasi ini belum mencapai puncaknya.

Dan apa yang akan terjadi berikutnya akan menentukan arah semuanya.

Ia menurunkan sedikit pusat gravitasinya, memperkuat pijakan sambil mengatur napas. Fokusnya mengerucut, mengabaikan hal-hal yang tidak perlu.

Pilihan itu kembali muncul di benaknya.

Dan kali ini, ia tidak bisa terus menundanya.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!