NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Sandiwara di Balik Pintu Tertutup

"Jadi, Tuan Maximilian ingin memastikan bahwa kami benar-benar berbagi ranjang yang sama, atau dia hanya ingin mengaudit berapa kali suamiku mendengkur di malam hari?"

Suaraku terdengar sinis saat aku melirik Maximilian yang berdiri di ambang pintu kamar utama kami. Pria Swiss itu memegang sebuah papan klip digital, matanya menyapu setiap sudut kamar—mulai dari tata letak bantal hingga aroma lilin aromaterapi yang sengaja kunyalakan untuk menutupi bau kepanikan Liam.

Liam, yang berdiri di sampingku, tampak sangat kaku. Ia hanya mengenakan kaus polos hitam dan celana panjang, namun otot lengannya yang menegang memperlihatkan betapa ia ingin sekali menyeret Maximilian keluar dari sana.

"Prosedur standar, Nyonya Blair," sahut Maximilian dengan nada bicara yang datar dan dingin. "Dalam banyak kasus pernikahan bisnis, pasangan sering kali tidur di kamar terpisah setelah lampu padam. Raven Trust membutuhkan bukti bahwa aliansi ini memiliki keintiman yang nyata, bukan sekadar kontrak di atas kertas."

[Sialan! Dia benar-benar masuk ke kamar kami! Blair, jangan lihat aku... aku merasa sangat telanjang di bawah tatapan pria ini. Apa aku harus memelukmu sekarang? Apa aku harus menciummu agar dia percaya? Tapi bagaimana kalau kau tidak nyaman? Aku tidak ingin menggunakan situasi ini untuk mengambil keuntungan darimu, meskipun aku sangat ingin melakukannya.]

Aku bisa merasakan kegelisahan Liam melalui batinnya. Aku menoleh padanya, memberikan senyum paling manis yang pernah kuberikan—senyum yang biasanya kusimpan untuk momen pribadi.

"Liam, Sayang, sepertinya Tuan Maximilian butuh bukti lebih dari sekadar melihat dua bantal di satu ranjang," ucapku manja sambil melingkarkan tanganku di pinggang Liam.

Liam tersentak, namun dengan cepat ia merespons. Ia merangkul bahuku, menarikku rapat ke tubuhnya yang hangat. "Jika kau ingin bukti, Maximilian, kau bisa melihat bahwa semua pakaian istriku ada di lemari yang sama denganku. Atau kau ingin aku menunjukkan rekaman CCTV kamar ini? Oh, aku lupa, itu ilegal."

Maximilian tidak bergeming. Ia melangkah mendekati meja riasku, menyentuh botol parfumku, lalu beralih ke ranjang. Ia menekan kasurnya dengan ujung jari.

"Kasur yang cukup empuk untuk dua orang. Tapi saya perhatikan... hanya ada satu sisi yang tampak sedikit lebih cekung," ucap Maximilian sambil menatap Liam tajam. "Apakah Anda benar-benar tidur di sini setiap malam, Tuan Liam? Ataukah Anda lebih suka sofa di ruang kerja yang kulihat ada bekas bantal semalam?"

Liam membeku. Skakmat. Semalam Liam memang tidur di sofa ruang kerja karena dia merasa terlalu tegang sejak kedatangan Maximilian.

[Habis sudah. Dia tahu. Dia tahu aku tidak tidur di sini. Bagaimana ini? Jika aset luar negeri dibekukan, proyek satelit di Zurich akan dihentikan! Axelle akan kehilangan akses ke data risetnya! Aku gagal... aku benar-benar gagal menjaga keluarga ini.]

Aku tertawa renyah, tawa yang penuh dengan nada menggoda. "Oh, Maximilian... kau benar-benar teliti. Tapi kau salah mengartikan bekas bantal itu."

Aku melepaskan pelukan Liam dan berjalan mendekati Maximilian. Aku berdiri tepat di depannya, menatap matanya tanpa rasa takut.

"Semalam, Liam memang berada di ruang kerja sampai jam tiga pagi karena harus menyelesaikan laporan audit untukmu," aku berbohong dengan sangat lancar, kemampuan lamaku sebagai pegawai bank dalam menghadapi auditor muncul kembali. "Dan aku? Aku menemaninya di sana. Bantal itu adalah miliku, karena aku tertidur di sofa saat menunggunya selesai bekerja. Setelah itu, dia menggendongku kembali ke kamar ini. Kau ingin aku menceritakan detail apa yang terjadi setelah kami sampai di ranjang ini?"

Wajah Maximilian sedikit berubah. Ia tampak mencari tanda-tanda kebohongan di mataku, namun ia hanya menemukan keberanian yang tak tergoyahkan.

"Pembelaan yang sangat loyal, Nyonya Blair," gumam Maximilian. "Namun, untuk memastikan laporan saya akurat, saya akan memasang sensor suhu di ranjang ini mulai malam ini. Sensor itu hanya mendeteksi keberadaan dua tubuh manusia, tanpa merekam suara atau visual."

Liam mengepalkan tangannya. "Kau sudah keterlaluan!"

"Lakukan saja," potongku cepat. "Kami tidak punya rahasia. Benar kan, Sayang?"

Aku menoleh pada Liam, memberikan kode lewat tatapan mata. Liam mengangguk kaku, meski hatinya berteriak histeris.

[Tidur bersama? Berdua? Satu ranjang dengan sensor suhu?! Itu artinya aku harus memeluknya sepanjang malam agar sensor itu tidak berbunyi?! Ya Tuhan, aku bisa mati karena serangan jantung sebelum sebulan berakhir! Tapi... ini kesempatan untuk benar-benar berada di dekatnya tanpa alasan 'terpaksa'. Terima kasih, Maximilian, kau bajingan yang sangat membantu!]

Setelah Maximilian keluar dengan kepuasan dinginnya, Liam langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu, napasnya memburu.

"Blair... apa yang kau lakukan? Sensor suhu? Kita harus tidur bersama setiap malam mulai sekarang!"

"Itu satu-satunya cara, Liam. Kau mau kehilangan aset Alexander?" tanyaku sambil melepas perhiasanku di depan cermin.

Liam berjalan mendekat, berdiri di belakangku. Bayangannya di cermin tampak sangat besar dan dominan. "Aku tidak peduli soal aset itu sebanyak aku peduli soal kenyamananmu. Aku tidak ingin kau merasa terpaksa tidur di sampingku hanya karena selembar kertas wasiat kakek."

Aku berbalik, menatapnya dengan lembut. Aku menyentuh dadanya yang bidang, merasakan detak jantungnya yang masih liar. "Siapa bilang aku terpaksa? Kita sudah melewati malam yang lebih panas dari sekadar tidur bersama, kan?"

Wajah Liam memerah padam.

"Malam ini, Liam... jangan ke ruang kerja lagi. Tidurlah di sini. Di sampingku," bisikku.

Liam menelan ludah, ia mengangguk pelan. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak sandiwara dimulai, kami benar-benar tidur di ranjang yang sama dengan kesadaran penuh. Liam berbaring sangat kaku di sisi kanan, takut menyentuhku, sementara aku bisa merasakan batinnya yang terus merapalkan doa agar dia tidak melakukan hal bodoh.

Namun, di tengah malam, saat suhu pendingin ruangan mulai turun, aku merasakan sebuah tangan besar menarik selimut untuk menutupi bahuku, dan sebuah pelukan protektif melingkar di pinggangku.

[Milikku. Malam ini kau benar-benar milikku. Aku tidak peduli dengan sensor itu, aku hanya ingin memelukmu sampai pagi.]

Aku tersenyum dalam tidurku. Raven Trust mungkin mengira mereka sedang menjebak kami, tapi sebenarnya, mereka baru saja memberikan alasan bagi Liam untuk tidak pernah melepaskanku lagi.

Sementara itu, di kamar tamu, Maximilian sedang menatap layar tabletnya yang menunjukkan dua titik panas yang saling bertumpukan di ranjang utama. Ia mengambil ponselnya, mendial sebuah nomor internasional.

"Laporannya terkonfirmasi. Mereka sangat intim. Namun, ada sesuatu yang aneh dengan sang istri. Dia terlalu cerdas untuk ukuran karakter yang dilaporkan sebelumnya. Kirimkan tim kedua. Kita harus menyelidiki siapa 'Blair' yang sebenarnya."

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!