NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Canggung yang Menyenangkan

​Pagi itu, matahari Jakarta bersinar dengan sangat terik, seolah-olah badai gila semalam hanyalah ilusi optik. Namun bagi Senja, kejadian di bawah payung hitam itu masih terasa terlalu nyata. Terlalu dekat.

​Sejak ia membuka mata pagi tadi, bayangan wajah Arka yang hanya berjarak beberapa milimeter dari wajahnya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menolak dimatikan. Hembusan napas cowok itu yang menerpa hidungnya, wangi parfum sandalwood yang bercampur tanah basah, dan tatapan mata kelam yang seolah menelanjanginya bulat-bulat... memori itu sukses membuat Senja nyaris menumpahkan dua sendok gula pasir ke dalam stoples garam dapur pagi ini.

​Fokus, Senja. Fokus! Pria itu adalah bos properti yang niat awalnya mau menggusur kedaimu. Dia bukan pangeran berkuda putih, dia cuma cowok arogan yang kebetulan refleksnya bagus saat ada genangan air, batin Senja berteriak frustrasi.

​Ia berdiri di depan cermin toilet kedai, menghidupkan keran dan membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Ia menepuk kedua pipinya agak keras sampai sedikit kemerahan. Setelah memastikan ikatan celemek denimnya kencang—seolah celemek itu adalah baju zirah—ia menarik napas panjang dan melangkah kembali ke area bar.

​Jam dinding berbentuk roda gigi menunjuk ke angka dua kurang sepuluh menit.

​Biasanya, ini adalah rutinitas yang membosankan. Tapi hari ini, sepuluh menit itu terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi. Tangan Senja terasa sedikit kebas saat ia meraih portafilter dan mulai menggiling biji kopi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa jika pintu itu terbuka. Apakah ia harus pura-pura amnesia? Atau malah bersikap canggung?

​Tepat pukul dua siang, lonceng pintu kedai bergemerincing nyaring.

​Bahu Senja refleks menegang. Ia menoleh perlahan, dan napasnya sontak tertahan di pangkal tenggorokan.

​Arka masuk. Kali ini pria itu tidak mengenakan setelan jas atau kemeja kerja yang kaku. Ia memakai kemeja katun berwarna navy gelap yang sangat pas mencetak bahu lebarnya, dipadukan dengan celana chino khaki. Tiga kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, dan lengannya digulung hingga siku.

​Sialan. Kenapa dia harus kelihatan setampan ini kalau lagi pakai baju santai? Di mana aura bos kejamnya? Kenapa dia kelihatan sangat... manusiawi? rutuk Senja dalam hati, meremas ujung lap meja untuk menyalurkan kegugupannya.

​Saat tatapan mereka bertemu dari ujung ruangan, langkah Arka sempat terhenti sekian detik. Kaki pria itu seolah dipaku ke lantai.

​Ada kecanggungan tebal yang mendadak menggantung di udara. Sebuah tensi tak kasatmata—residu dari sentuhan dan tatapan semalam—yang membuat perut Senja seolah dipenuhi kepakan sayap ribuan kupu-kupu yang panik.

​"Hai," sapa Arka pelan saat ia akhirnya berhasil memaksa kakinya melangkah hingga ke depan meja kasir.

​Suaranya agak tertahan, lebih serak dari biasanya. Tidak ada nada perintah yang tegas. Ia bahkan memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, sementara tangan yang lain mengusap tengkuknya sendiri. Pria itu terlihat... salah tingkah. Sebuah pemandangan yang sangat langka, aneh, namun menggemaskan untuk seorang direktur sekelas Arka Danadyaksa.

​"H-hai," balas Senja. Suaranya terdengar mencicit seperti tikus kejepit, sangat tidak Senja sekali.

​Bagus, Senja. Tunjukkan padanya kalau kau kehilangan kemampuan berbicara normal, ejek batinnya sendiri. Ia buru-buru berdehem, membersihkan tenggorokannya yang mendadak kering kerontang. "Kopi yang biasa?" tanya Senja mencoba terlihat santai.

​Arka mengangguk. "Ya. Iced Americano."

​Senja memutar tubuhnya secepat kilat, mulai meracik pesanan dengan gerakan yang sengaja dibuat supersibuk untuk menyembunyikan tangannya yang gemetar. Anehnya, Arka tidak langsung berjalan pergi ke meja sudut favoritnya seperti biasa. Pria itu tetap berdiri di sana, menyandarkan pinggulnya di meja bar sambil memperhatikan punggung Senja lekat-lekat.

​Tatapannya yang intens membuat bulu kuduk di tengkuk Senja meremang tipis.

​"Soal semalam..." Arka tiba-tiba membuka suara, mengalahkan deru bising mesin espresso.

​Senja nyaris menjatuhkan milk jug logam di tangannya. Ia berbalik, menatap Arka dengan mata membulat. Jantungnya berdentum brutal.

​Mati aku. Dia membahasnya. Ya Tuhan, tolong matikan saja mesin ini atau buat atap ini runtuh sekarang juga supaya aku tidak perlu menjawab,batin Senja kalang kabut.

​"Eh? I-iya? Kenapa soal semalam?" Senja berpura-pura bodoh, memeluk milk jug itu ke dadanya seolah benda itu bisa melindunginya.

​Arka mengusap tengkuknya lagi, lalu memalingkan wajahnya sebentar—menatap rak buku, menatap mesin kasir, menatap apa pun asal bukan mata Senja—sebelum akhirnya menatap perempuan itu lagi. "Sori kalau gue bikin lo nggak nyaman. Maksud gue... kejadian di trotoar itu."

​Senja menggigit bibir bawahnya dengan kuat, merasakan wajahnya memanas seperti habis terpanggang sinar matahari Jakarta.

​"Oh... itu," Senja memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat palsu. "Nngggaakk apa-apa, santai aja, Ka. Lo kan niatnya nolongin gue dari cipratan air lumpur. Justru... justru gue yang harusnya minta maaf karena kemeja lo kotor parah kena lumpur demi nutupin gue."

​"Udah masuk laundry, aman," balas Arka cepat. Terlalu cepat.

​Hening kembali menyelimuti mereka berdua selama beberapa detik. Arka mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di permukaan meja kayu. Matanya menyipit sedikit, seolah otak bisnisnya sedang menimbang-nimbang sebuah proposal bernilai miliaran rupiah.

​"Nja, malam ini kedai tutup jam berapa?" tanya Arka tiba-tiba, memecah keheningan.

​Pertanyaan itu membuat kening Senja berkerut bingung. Ia meletakkan cup Iced Americano di depan Arka. "Jam delapan. Sama kayak biasa. Kenapa? Lo mau kirim orang buat ngecek meteran listrik?"

​Arka mendengus pelan mendengar sindiran itu, tapi tidak terpancing. "Lo ada acara setelah tutup?"

​"Nnggaaak ada sih. Paling langsung balik ke kosan buat rebahan. Memangnya kenapa, Ka?."

​Arka menarik napas panjang. Ia menegakkan tubuhnya dari meja bar, menatap lurus ke dalam mata Senja dengan ekspresi yang sangat serius. Namun, di balik keseriusan itu, Senja bisa menangkap setitik kelembutan yang membuat lututnya terasa lemas.

​"Gue ada utang budi karena lo udah ngasih alasan buat gue merombak proyek sialan ini," tembak Arka dengan nada negosiasi khas korporatnya, namun kali ini digunakan untuk tujuan yang jauh berbeda. "Dan lo juga ada utang ke gue karena kemeja gue kotor karna nyelamatin lo semalam."

​"Terus?!" Senja memicingkan mata, berusaha mengimbangi permainan pria itu meski jantungnya sedang tidak baik-baik saja.

Arka​ sembari menggosokan kedua tangannya dengan lembut, menunjukan gestur basa-basi."Gimana kalau kita impas aja?."

​"Impas gimana maksudnya?!"Senja dengan mengkerutkan dahinya, seraya mempertegas pernyataan Arka.

​"Makan malam. Malam ini. Sama gue," ucap Arka straight to the point, tanpa basa-basi lagi. "Gue jemput jam delapan pas di sini. Nggak ada penolakan. Anggap ini bentuk pertanggungjawaban lo atas kemeja gue yang kotor."Arka melemparkan senyum tipis sambil mengangkat kedua alisnya, ber harap respon baik dari Senja.

​Senja melongo. Mulutnya sedikit terbuka. Otaknya yang biasanya kritis dan cepat membalas omongan orang, mendadak error.

​Makan malam? Berdua? Dengan Arka Danadyaksa? Ini kencan? Atau rapat evaluasi kemeja kotor? Sebelum Senja sempat memberikan jawaban, atau mencari alasan paling masuk akal untuk menolak—meski separuh hatinya berteriak ingin mengiyakan—Arka sudah mengambil cup Iced Americano-nya dari meja bar. Pria itu meletakkan selembar uang lima puluh ribu, tanpa meminta kembalian.

​Arka menatap wajah Senja yang masih cengo, lalu memberikan sebuah senyum miring yang sangat tipis. Senyuman yang sukses meruntuhkan sisa-sisa kewarasan Senja dan membuatnya nyaris lupa cara bernapas.

​"Gue tunggu di depan nanti malam, Senja," bisik Arka pelan, nadanya mutlak.

​Pria itu berbalik dan berjalan keluar dari kedai, membiarkan lonceng pintu berdenting ceria, meninggalkan Senja yang mematung dengan wajah semerah tomat dan jantung yang berdetak secepat putaran mesin grinder.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!