Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Lintasan Keputusasaan dan Patung Dewi
Lorong Medan Gravitasi Intensitas Tinggi, diselimuti cahaya merah berdenyut. Suara keras energi yang berfluktuasi memenuhi udara.
Mereka tidak membuang waktu. Begitu pintu baja tertutup di belakang mereka, sepuluh anggota tim inti segera melaksanakan rencana yang sudah disusun.
Medan Gravitasi langsung menyergap.
Langkah pertama terasa seperti melangkah ke dalam lumpur beton. Berat tubuh mereka tiba-tiba berlipat ganda, seolah-olah ada raksasa tak kasat mata yang menekan setiap sendi mereka ke lantai. Keringat langsung membanjiri dahi, napas tersengal-sengal.
Namun, Unit Peredam Inersia (Inertial Dampener Unit) bekerja. Dengan dengungan bernada tinggi, perangkat itu mengaktifkan medan anti-gravitasi lokal. Tekanan segera berkurang. Mereka tidak lagi merasakan berat sepuluh kali lipat, melainkan hanya berat dua kali lipat masih melelahkan, tetapi memungkinkan untuk bergerak.
Tim itu, dipimpin oleh Jack, mulai berlari. Ini bukan lagi tentang berjalan, ini tentang perlombaan melawan waktu. Mereka harus terus bergerak sebelum daya baterai alat itu habis, sebelum otot mereka menyerah pada G-Force yang masih tersisa, dan sebelum mereka mencapai Lorong Medan Magnet yang mengerikan.
Tiga jam yang terasa seperti selamanya mereka berlari di lorong yang diselimuti medan gravitasi. Setiap langkah membutuhkan fokus mental yang luar biasa untuk menjaga keseimbangan. Beberapa kali, salah satu dari mereka tersandung, tetapi yang lain dengan cepat menopang sebelum tekanan G-Force menghancurkan organ internalnya. Wajah mereka pucat pasi, namun tekad mereka lebih keras daripada baja yang melapisi lorong.
Kelelahan telah mencapai batasnya.
Mereka akhirnya mencapai batas lorong merah, dan Jack memberi isyarat berhenti sejenak. Mereka cepat-cepat mematikan Inertial Dampener, menghemat daya, dan mengambil napas yang dalam-dalam.
Di Lorong Medan Magnet terasa seperti pindah ke dunia yang berbeda. Lorong ini diselimuti cahaya biru dingin, dan udara terasa lebih bersih, namun penuh ancaman listrik statis.
"Aktifkan Perisai Superkonduktor Aktif!" perintah Jack, suaranya dipenuhi ketegangan.
Tiba-tiba, terdengar suara gesekan logam keras di dinding-dinding lorong jarum-jarum logam sepanjang lengan yang didorong keluar oleh daya magnet raksasa.
"Untuk tidak ada alat ini, kita pasti sudah tertarik dan tertusuk ke arah jarum-jarum di dinding itu," Falix berbisik, terengah-engah, matanya terbelalak melihat jarum logam yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari lengan Superconducting Shield-nya.
"Jika kamu tidak memberitahu kami detail medannya, kita tidak mungkin bisa menghindari jarum dinding itu," ucap Falix kepada Kieran, yang memegang perangkat navigasi yang sensitif.
Kieran hanya mengangguk, fokusnya penuh. Perisai superkonduktor aktif itu berhasil membelokkan jarum-jarum logam, tetapi setiap langkah terasa seperti berenang melawan arus yang kuat semua logam pada peralatan mereka ditarik dengan kekuatan luar biasa.
Saat mereka bergerak, Falix, meskipun kelelahan, selalu menemukan cara untuk memecahkan keheningan yang menyesakkan. Ia melirik ke arah Aura yang berada di sampingnya, mengamati gadis itu yang tampak terlalu tenang.
"Tapi Aura, kenapa kamu tidak terlihat lelah sama sekali, sih?" tanya Falix. Ada sedikit rasa ingin tahu yang tulus di balik nada bercandanya.
Aura tersenyum tipis, tapi matanya dingin dan waspada. "Aku lelah, kok. Hanya aku tahan saja sampai menemukan ruangan yang pas untuk melepaskan lelah. Kita harus lanjut, bukan? Jangan sampai kita mati di sini."
Kata-kata itu, meskipun terdengar dingin, membangkitkan semangat. Jack, yang mendengar dialog itu, mengangguk setuju.
"Aura benar. Kita harus maju," perintah Jack.
Mereka segera mulai mengaktifkan alat kedua sebuah pemancar sinyal yang dipegang oleh Kieran untuk membantu navigasi di Lorong Magnet. Jika mereka salah melangkah, medan magnet yang tidak menentu bisa menarik mereka menjauh dari jalur yang benar dan membuat mereka tersesat total.
Kieran memimpin, mata tertuju pada layar real-time yang menunjukkan fluks magnetik. Mereka bergerak, tidak lagi berlari, melainkan berjalan dengan langkah hati-hati, mengikuti sinyal panduan Kieran.
Satu jam lagi terasa seperti perjalanan yang tak berujung.
Tiba-tiba, sinyal panduan Kieran berhenti. Di depan mereka, Lorong Magnet berakhir. Mereka melangkah melewati ambang pintu, dan medan magnet yang menekan itu lenyap.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang tenang dan dingin. Tidak ada jejak medan magnet atau gravitasi. Semua terasa lega.
Segera, tubuh mereka menyerah. Delapan dari sepuluh prajurit jatuh terjerembap ke lantai, kelelahan fisik dan mental mencapai puncaknya. Napas mereka terengah-engah, paru-paru terasa terbakar, dan otot-otot berkedut tak terkendali.
Aura adalah satu-satunya yang tidak langsung jatuh. Ia menghela napas, berdiri tegak, dan melangkah, melihat sekeliling. Meskipun wajahnya pucat, ia memaksakan diri untuk tetap berfungsi.
Saat ia berjalan melewati para prajurit yang sedang berbagi air minum dari botol kecil mereka yang tersisa hanyalah tetesan Aura menghentikan langkahnya. Ia menyentuh ranselnya dan mengeluarkan dua botol minum besar dan sebuah tas kecil yang tidak pernah terlihat oleh siapapun.
Ia mendekati seorang tentara yang sedang berjuang membuka tutup botolnya.
"Bagikan minuman ini ke semuanya," kata Aura, suaranya pelan tapi jelas. "Sekalian ada cokelat ini juga untuk mengisi daya tubuh."
Aura menyerahkan barang-barang itu. Ia tidak menunggu ucapan terima kasih, melainkan berjalan menuju bagian depan ruangan.
Di depan, ruangan itu ternyata adalah sebuah kuil kecil yang tersembunyi. Patung yang ia lihat bukan patung biasa. Itu adalah patung seorang dewi cantik yang sedang berpose tidur, diukir dari batu kristal yang memancarkan cahaya lembut.
Para tentara yang sudah mendapatkan minuman dan cokelat dari Aura segera membagikannya rata. Energinya yang manis dan air dingin itu segera memulihkan sebagian kecil dari kelelahan mereka. Mereka berbagi pandangan, keheranan akan bekal Aura yang tidak pernah habis.
Jack, setelah meminum seteguk air, segera bangkit. Meskipun lelah, rasa tanggung jawab mendorongnya untuk mendekati sisi Aura.
"Aura," panggil Jack, nadanya penuh rasa terima kasih. Ia menawarkan bagiannya sepotong cokelat dan seteguk air dari jatahnya. "Terima kasih untuk minuman dan cokelatnya. Ini untukmu."
Aura melihat ke tangan Jack, dan ia tersenyum dengan sorot mata yang hangat sesuatu yang jarang ia tunjukkan.
"Aku memiliki punyaku sendiri. Itu bagikan saja ke yang lain, Kak Jack," balas Aura. Ia membuka sedikit ranselnya, memperlihatkannya kepada Jack. Di dalamnya, terlihat beberapa botol minum yang terisi penuh, cokelat batangan, dan berbagai perbekalan lain yang terbungkus rapi. "Lihat, ini botol minumku dan cokelat serta perbekalan di tasku masih ada."
Jack terdiam, terkejut. Aura selalu membawa bekalnya sendiri, jauh dari peralatan tempur standar mereka, dan sepertinya ia selalu menyiapkan lebih dari cukup.
"Kalau begitu, terima kasih ya," ucap Jack, matanya berbinar. Ia segera kembali untuk membagi sisa makanan dan minuman itu kepada tim, merasa lega karena ada sedikit cadangan di tengah keputusasaan.
Aura kembali menatap patung dewi yang tidur itu. Sesuatu tentang ketenangan patung itu, di tengah labirin yang penuh bahaya, terasa seperti petunjuk. Siapa kamu? pikir Aura. Dan mengapa patungmu berada di tempat yang begitu keras ini?