NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28| Gavino dan Gavian

Kaki dan tangan kecilnya diikat kuat, ruangan berbau apek berdebu dengan penerangan temaram. Kedua kelopak mata terbuka, ia memicing mengerang perlahan. Manik mata hazel mengedar menyapu gudang kosong, atensinya berhenti di samping. Di mana tubuh saudara kembarnya keadaan yang sama dengan dirinya. Dengan kaki dan tangan terikat, peluh di dahinya turun perlahan.

"Gavian," panggil Gavino serak.

Tidak ada reaksi apapun dari Gavian, saudara kembarnya itu tetap terpejam. Gavino beringsut, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengeliminasi jarak di antara mereka berdua. Napas Gavino kecil tersengal-sengal, ia terjerebab disertai dengan ringisan saat dagunya terhantam lantai berdebu bercampur kerikil. Kegaduhan menganggu Gavian, erangan dan ringisan samar-samar terdengar semakin lama semakin jelas.

"Gavian," panggilnya lagi, kali ini suara Gavino mencicit memanggil anak lelaki yang lahir lima menit lebih dahulu darinya.

Erangan samar dari bibir Gavian mengalun, kelopak matanya terbuka lalu kembali tertutup. Gavino beringsut kembali, tubuhnya dan Gavian menempel. Gavian kecil telah mengumpulkan seluruhnya kesadarannya, ingatan terakhirnya adalah saat mereka diajak bermain di taman kompleks perumahan. Sebelum ia tak lagi ingat apa-apa, kaki dan tangannya terasa sakit serta nyaris mati rasa.

"Gavian," panggilan untuk kesekian kalinya memanggil Gavian.

Gavino resah, manik mata hazelnya bergetar, matanya perlahan mulai basah. Gavian melirik ke samping, jari jemari kecil saudara kembarnya itu bergetar ketika menyentuh tangan Gavian.

"Tenanglah nggak apa-apa, Kakek dan Papa pasti akan nyelamatin kita. Selagi aku ada di sini, nggak akan pernah aku biarkan kamu disakiti oleh siapa pun," janji Gavian tegas sebagai seorang kakak, ia memiliki tanggungjawab melindungi adiknya.

Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya mereka berdua alami, hanya saja kali ini tampaknya keluarganya benar-benar kecolongan. Biasanya sang kakek dan ayah akan langsung bertindak, hingga Gavian maupun Gavino tak akan berlama-lama dihadapan dalam ketakutan.

Gavino mengigit bibirnya. "Aku takut, kenapa mereka tidak langsung menyelamatkan kita?" keluh Gavino ada kemarahan di nada suaranya.

Gavian menggeleng lemah, ia duduk bersandar di dinding berjamur. Derap langkah kaki memantul dari luar gedung sampai memasuki gedung gudang terbengkalai itu terdengar jelas. Gavino mengepalkan tangannya, ia melirik waspada ke arah suara yang datang.

"Pura-pura tidurlah," bisik Gavian memberikan titah pada adiknya.

Gavino sontak saja menutup kedua kelopak matanya, degup jantungnya bertalu-talu. Keluarga Van Houten memiliki banyak sekali musuh, semakin besar sebuah kekuasaan maka semakin besar pula kebencian dari orang-orang pada keluarga Van Houten. Apalagi cara kepala keluarga menangani pekerjaan cenderung tanpa hati nurani, entah itu merebut secara paksa atau dibeli secara sukarela. Bisnis keluarga Van Houten terus merakak naik, sebagai calon pewaris.

Si kembar yang baru berusia enam tahun menjadi sasaran empuk dari para musuh bisnis keluarga, hanya dua kemungkinan yang membuat si kembar diculik. Satu untuk menekan atau mengacam pemimpin keluarga Van Houten, dan yang kedua adalah membalas dendam atas kerugian yang musuh derita. Gavian adalah anak yang cerdas diusia yang baru menginjak enam tahun, dibandingkan dengan Gavino yang tak begitu berminat mendengar pengajaran privat sang kakek.

Gavian kecil harus memastikan, apa yang diinginkan oleh orang yang menculik mereka. Jika hanya menginginkan sesuatu dari keluarga Van Houten, Gavian akan tetap diam sampai penyelamatan dilakukan. Namun, jika yang dinginkan adalah kematian untuk menghancurkan hati pemimpin keluarga. Maka ia harus bertindak, mencari cara untuk kabur dari penculik.

Pencahayaan senter di tembakan ke arah Gavian dan Gavino secara bergilir, dengusan dari salah satu pria yang mendekati keduanya terdengar.

"Sayang sekali, kalian harus menanggung dosa pria tua bangka itu. Cih," ujarnya berdecak ringan.

"Mereka juga menikmati harta haram keluarga sialaan itu, dua anak lelaki ini juga harus membayar apa yang mereka terima Bang. Menjual setiap organ tubuhnya, dan mengirimkan tubuh kosong tanpa mata, jantung, ginjal, paru-paru, dan hati. Mereka pasti akan meraung, terutama pria tua bangka yang sudah menghancurkan bisnis keluarga kita. Membuat Papa dan Mama bunuh diri, mereka semua harus tau bagaimana rasanya kehilangan orang tercinta dengan cara yang paling sadis. Hahaha...."

Suara gelak yang menggema memecah keheningan malam yang gelap, tubuh Gavino menggigil matanya terpejam erat. Mendengar percakapan keduanya, mereka hanya akan dihadapkan kematian paling mengenaskan.

"Sudah disiapkan dokternya?" tanya pria yang awal berbicara.

Kepalanya mengangguk tawanya disudahi begitu saja."Udah Bang, dua jam lagi kita berangkat. Mereka yang lain menutupi jejak kita, rencana kita sudah disusun matang-matang. Sudah pasti akan berhasil."

"Ayo, kita cek mobilnya lagi," balasnya.

Pencahayaan senter yang tadinya diarahkan pada keduanya langsung berpindah, suara langkah kaki menjauh terdengar semakin memelan dan menghilang. Air mata turun dari mata kecil Gavino, isaknya menyayat hati. Gavian membuka kelopak matanya, matanya hitam legam itu menatap dingin ke arah lantai.

"Berhentilah menangis, kita pasti bisa pergi dari sini dengan selamat," sela Gavian menoleh ke samping.

Mata Gavino yang basah dan memerah berbenturan dengan manik mata hitam legam Gavian, bibirnya digigit.

"Bagaimana caranya? Ki-kita akan mati...." Gavino pesimis.

Gavian menatap tajam ke arah kembarannya, ia duduk tegap. "Dengar! Nggak ada yang akan menyakitimu. Aku akan membuka jalan untukmu keluar hidup-hidup dari sini. Apapun yang terjadi salah satu dari kita harus selamat, kamu paham. Jangan menangis, ingat ajaran dari Kakek. Kita keturunan Van Houten yang tangguh, pantang menangis apalagi menyerah." Gavian mengingatkan sang kembaran.

Gavino mengangguk-angguk, Gavino merogoh saku belakangnya. Suara besi berukuran sepanjang jari kelingkingnya keduanya terjatuh mengalihkan perhatian Gavino, pupil matanya melebar menatap besi tajam di ujungnya.

"Kamu bantu aku buka tali ini, kita harus bergegas." Gavian tenang memberikan intruksi pada Gavino.

Tangan Gavino susah payah meraih besi, begerak mengiris tali dengan napas memburu. Degup jantungnya bertalu-talu, peluh menetes semakin deras. Tali di tangan Gavian terputus, Gavian bergerak cekatan membuka ikatan tali di kakinya. Sebelum membuka itakan di tangah dan kaki Gavino, keduanya bangkit perlahan dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.

Gavian memimpin pelarian, bersembunyi lalu kembali bergerak menjauhi gudang kumuh. Kaki kecilnya langsung berlarian bersama tanpa arah yang jelas, yang keduanya ketahui saat ini adalah 'lari' menjauh dari tempat penyekapan.

BRUK!

"Ugh! Sakit." Gavino terjebab ke depan ketika tersandung akar pohon membentur batu kerikil runcing.

Gavian berhenti, ia membatu adiknya berdiri. Deru napas keduanya memburu, tempurung kaki Gavino terluka. Air matanya kembali mengalir, kepalanya menggeleng seakan menyatakan ketidak mampuannya ia untuk kembali berlari.

"Ayo! Kita nggak bisa berhenti di sini," desak Gavian dengan napas sesak.

Kepala Gavino menggeleng, "Nggak! Aku nggak sanggup lagi. Pergilah, aku akan bersembunyi di sana. Cari bantuan."

Gavian dapat merasakan betapa kuatnya tubuh Gavino bergetar, air mata terus berderai. Sementara tangan kirinya menyentuh luka di tempuran kakinya yang berdenyut-denyut perih, Gavian iba.

"Sembunyi, jangan sampai ketahuan. Aku akan kembali ke sini saat menemukan bantuan," putus Gavian percaya diri.

Kepala Gavino mengangguk, Gavian membantu Gavino berdiri. Menyembunyikan saudara kembarnya di semak-semak, ia kembali bergerak. Suara gemuruh tembakan memantul di malam yang kelam, suara kaki berlarian menuju ke arah mereka membuat Gavino mau tak mau kembali memaksakan kedua kaki kecilnya.

"Itu dia! Anak sialan itu!" seruan keras mematikan disertai bunyi tembakan mengudara.

Timah panas melesat menembus tepat ke otak, cipratan darah di rerumputan mengudang kengerian yang sulit untuk dijelaskan rembulan di atas langit menjadi saksi kebrutalan yang terjadi. Gavian dan Gavino sama-sama membeku, tubuh ambruk bersamaan suara gonggong anjing, bersatu dengan suara deru mobil jeep dan langkah kaki. Pencahayaan dari lampu senter ditemani mobil, suara tembakan saling bersahutan. Bersamaan dengan teriakan dari beberapa tentara, tubuh kecil itu bergetar. Air seni mengalir di sela kaki kecilnya, keadaan hutan kacau. Tubuh lainnya ambruk, matanya menatap nanar ke arah tubuh yang tak lagi bergerak.

SRAK!

Gemericik tirai ditarik ke samping menganggu tidur pria jangkung di atas ranjang king size, ia mengerang tangannya terangkat menghindar dari pencahayaan matahari yang menyerukan memasuki ruangan kamar bernuansa abu-abu. Permukaan kasur tepat di belakang punggung lebarnya basah, bulir-bulir peluh di dahinya turun ke samping saat empunya tubuh menggeliat.

"Bangun Bung!" seru Kai, menghadap ke arah ranjang.

Gavino mengerang membalikkan tubuhnya, kelopak matanya terbuka. Manik mata hazel itu menatap lambat ke arah jam weker di samping nakas dahinya berlipat.

"Tadi gue mimpi apa ya?" tanyanya lirih.

"Hah? Lo ngomong apa?" tanya Kai mendengar gumaman tak jelas Gavino.

Pulang dari study tour, Kai dan yang lainnya memilih menginap di penthouse. Kai memang terbiasa bangun lebih pagi di bandingkan Gavino dan yang lainnya. Merecoki Jayden dan Gavino yang terbiasa bangun lebih telat.

"Bukan apa-apa," jawab Gavino masih mengerutkan dahinya.

Kai melangkah menuju pintu keluar. "Kita sarapan bersama, si Sebastian udah pesan makanan. Cuman nungguin lo doang yang masih molor."

"Hm," gumam Gavino sebagai reaksi.

Pintu terbuka dan tertutup kembali, Gavino menyentuh wajahnya naik ke arah sisi sudut matanya yang basah. Kerutan di dahinya semakin kuat, ada air mata di sudut matanya.

Gavino sungguh tak ingat apa yang ia mimpikan seolah-olah semuanya tertutupi kabut kelabu, telapak tangannya bergerak menyentuh dadanya terasa kehampaan, kepahitan, dan kerumitan. Ia lalu bergerak mengedarkan matanya ketika ia sadari ia berada di kamar yang biasa ia tempat ketika menginap di penthouse, kelopak matanya berkedip.

"Eh, apakah gue dan yang lainnya nggak jadi study tour?" tanya Gavino duduk perlahan dari posisi tidurnya.

🤧🤧🤧 Sedih kali kalo soal kilas balik Gavino/Gavian. Btw, author untuk bagian anak kecilnya pakek 'Aku' dan 'kamu' ya, 🫰🏻🤭

#Edit : Gavian dan Gavino kembar identik. Serta Gavian yang sering muncul di tubuh Gavino remaja bukanlah roh/hantu ya kakak-kakak. Karena Gavino menderita 'Kepribadian Ganda' atau dikenal sebagai (Gangguan Identitas Disosiatif/DID).  Di mana kepribadian lain mengambil alih ke sadaran si empunya tubuh, ini terjadi karena trauma berat. Kepribadian yang hadir sebagai bentuk perlindungan untuk diri sendiri, melepaskan dari rasa sakit yang tak tertahankan.

Kepribadian ganda (DID) adalah respons psikologis ekstrem terhadap trauma, bukan sekadar memiliki banyak "sisi" seperti alter ego yang disengaja.  Individu dengan DID sering kali tidak menyadari adanya kepribadian lain dan mengalami amnesia (kehilangan ingatan) saat kepribadian lain mengambil alih. Dan di sini si Gavino ini memiliki kepribadian lain dari seorang Gavian (pemberani, tangkas, dan cerdas).

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!