Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema dari Masa Lalu
Tiga tahun setelah "kematian" resmi keluarga Arkana, dunia bawah tanah mulai melupakan nama mereka. Namun, di sebuah bunker rahasia di bawah reruntuhan gedung tua di pinggiran Jakarta, seseorang tidak pernah lupa.
Sesosok pria dengan luka bakar di separuh wajahnya duduk di depan tumpukan berkas fisik. Di atas meja kayu yang lapuk, terdapat foto buram yang diambil dari satelit ilegal: sebuah mansion hitam di pesisir Islandia.
"Adrian Pratama," gumam pria itu. Suaranya serak, seperti gesekan amplas pada logam. "Kau pikir kau bisa pulang ke Indonesia hanya dalam bentuk cerita, Kenzo? Kau salah."
Di Islandia, musim dingin kali ini terasa lebih menusuk. Adrian, yang kini hampir menginjak usia empat tahun, sedang duduk di ruang perpustakaan mansion. Alih-alih bermain, ia sedang menatap sebuah papan catur elektronik. Lawannya bukan komputer, melainkan ayahnya yang berada di ruang kerja di lantai atas melalui jaringan internal.
*Skakmat.*
Adrian tersenyum kecil. Ia baru saja mengalahkan algoritma pertahanan yang dibuat Kenzo.
"Mama, Papa kalah lagi," seru Adrian saat Aara masuk membawakan segelas susu cokelat hangat.
Aara tertawa, meletakkan gelas itu di meja. "Jangan sombong, Sayang. Papamu mungkin sengaja mengalah agar kau tidak menangis."
"Papa tidak pernah sengaja mengalah," bantah Adrian dengan nada dewasa yang janggal bagi bocah seusianya. "Papa bilang, di dunia nyata, tidak ada yang akan memberiku kemenangan cuma-cuma."
Aara terdiam sejenak. Kalimat itu adalah cerminan dari didikan keras Kenzo. Meskipun mereka hidup dalam kemewahan dan kedamaian, Kenzo tidak pernah membiarkan Adrian tumbuh menjadi anak yang manja. Ia tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh Adrian adalah target bagi banyak orang.
Sore itu, saat badai salju mulai menutup pandangan ke laut, sistem keamanan tingkat satu mansion bergetar. Bukan alarm keras, hanya denyut cahaya merah di pergelangan tangan Kenzo.
Kenzo segera turun ke ruang tengah. Aara sudah berdiri di sana, tangannya berada di balik punggung, menggenggam sebuah pistol kustom yang selalu ia sembunyikan di balik gaun rumahnya.
"Ada kapal nelayan yang berhenti di koordinat buta," bisik Aara. "Bukan kapal jemputan Leo."
Kenzo mengangguk. Ia memberi isyarat agar Aara membawa Adrian ke ruang perlindungan di bawah tanah. "Bawa dia masuk. Aktifkan mode senyap."
"Kenzo, aku bisa membantu—"
"Aara, prioritaskan dia," potong Kenzo tegas.
Aara menatap suaminya, melihat kilatan dingin yang dulu membuatnya jatuh cinta. Ia tahu perdebatan tidak akan berguna. Ia segera menarik tangan Adrian dan menghilang di balik dinding rahasia.
Kenzo berjalan menuju pintu depan. Ia tidak membawa senapan besar, hanya sebuah pisau lipat taktis dan sebuah pemancar frekuensi. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sesosok pria tinggi dengan setelan jas hitam yang basah kuyup karena salju.
"Tuan Arkana," sapa pria itu. Ia tidak tampak seperti pembunuh. Ia tampak seperti seorang pengacara. "Maaf mengganggu ketenangan Anda. Saya membawa pesan dari Indonesia."
Kenzo tetap waspada. "Aku tidak punya urusan dengan Indonesia. Kenzo Arkana sudah mati tiga tahun lalu."
"Memang. Tapi Adrian Pratama masih hidup dalam catatan sipil yang belum sempat dihapus oleh FBA," pria itu menyodorkan sebuah amplop cokelat yang tersegel lilin merah. "Ada seseorang yang ingin memberikan warisan keluarga Pratama kembali kepada pemilik sahnya. Seseorang yang tahu bahwa putra Anda adalah pemegang kunci terakhir dari aset-alih-fungsi yang dulu dikelola oleh kakek Anda."
Kenzo menyipitkan mata. Kakek Adrian? Kenzo selalu menganggap keluarganya sendiri adalah mafia, tapi ia jarang menggali tentang silsilah keluarga dari pihak yang lebih tua yang telah lama menghilang.
"Siapa pengirimnya?" tanya Kenzo.
"Seseorang yang selamat dari tragedi di masa lalu. Seseorang yang menyebut dirinya 'Sang Wali'," jawab pria itu. "Dia tidak menginginkan perang. Dia menginginkan Adrian kembali ke tanah kelahirannya untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya sebelum faksi lain menemukannya."
Kenzo mengambil amplop itu. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menguburmu di bawah es ini."
Pria itu membungkuk hormat dan berjalan kembali ke kegelapan badai salju.
Malam itu, di ruang perlindungan, Kenzo membuka amplop tersebut di depan Aara. Isinya adalah sebuah akta tanah di wilayah pegunungan Jawa Barat dan sebuah kunci fisik kuno yang terbuat dari emas putih.
"Ini jebakan, Kenzo," kata Aara setelah membaca isinya. "Miller mungkin sudah mati, tapi sistem yang dia buat masih berjalan. Mereka ingin memancing kita keluar dari Islandia."
"Atau," Kenzo menatap kunci itu, "ini adalah satu-satunya cara agar Adrian tidak perlu bersembunyi selamanya. Jika dia memiliki aset legal yang besar di Indonesia, dia akan memiliki perlindungan diplomatik yang tidak bisa disentuh oleh unit hitam mana pun."
Aara menyentuh perutnya, seolah teringat saat-saat ia membawa Adrian dalam pelarian. "Kita baru saja mulai merasa damai di sini. Apa kau benar-benar ingin kita kembali ke tempat di mana semuanya dimulai?"
Kenzo menarik Aara ke dalam pelukannya. "Kita tidak akan kembali sebagai mangsa, Aara. Jika kita kembali ke Indonesia, kita kembali sebagai pemilik. Kita akan membangun benteng di sana, di tempat yang mereka pikir adalah kelemahan kita."
Adrian, yang duduk di pojok ruangan sambil mendengarkan, angkat bicara. "Papa, apa Indonesia itu hangat?"
Kenzo tersenyum miring, senyum yang penuh dengan rencana besar. "Sangat hangat, Adrian. Dan di sana, kau akan menjadi raja yang sebenarnya."
Persiapan dilakukan dengan sangat rahasia. Leo membantu memalsukan manifes penerbangan pribadi yang membawa mereka bukan ke Jakarta, melainkan ke sebuah bandara kecil di Bandung.
Saat pesawat pribadi mereka menyentuh landasan di bawah langit senja Indonesia yang berwarna jingga kemerahan, Aara menghirup udara tropis yang lembap. Ia merasa aneh. Setelah bertahun-tahun di tanah es, aroma tanah basah dan melati terasa begitu asing namun akrab.
"Selamat datang di rumah, Adrian," bisik Aara.
Namun, saat pintu pesawat terbuka, mereka tidak disambut oleh pelayan atau pengawal ramah. Di ujung landasan, terlihat selusin mobil hitam dengan lampu strobo yang berkedip.
Kenzo mengencangkan pegangannya pada tas senjatanya. "Sepertinya 'Sang Wali' punya cara yang unik untuk menyambut tamu."
Aara memberikan kerlingan centilnya yang legendaris, menarik kacamata hitamnya turun. "Yah, setidaknya kita tidak perlu mencari taksi, bukan?"
Perjalanan baru dimulai. Di tanah yang hangat ini, rahasia lama keluarga Pratama menanti untuk dibuka, dan Adrian, sang anak Alpha, akan segera mengetahui bahwa warisannya jauh lebih berbahaya daripada sekadar darah mafia.