Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: GADA RAKSASA VS JARUM TIPIS
Suasana di kedai teh mendadak berubah menjadi mencekam. Aura mematikan yang dipancarkan oleh pria bertopeng hantu itu begitu berat hingga meja-meja kayu terlihat bergetar pelan.
Lian Er gemetar ketakutan di belakang Mo Fei. Ia tahu siapa orang ini.
"Itu... Itu Batu Ganas, pendekar utama Sekte Ungu!" bisik Lian Er dengan suara tertahan. "Mo Fei, dia sangat kuat! Gada besinya pernah menghancurkan tembok benteng seketika! Kita lari saja yuk!"
Mo Fei tidak bergerak sedikitpun. Ia tetap berdiri tegak di depan Lian Er, punggungnya kokoh seperti tembok pertahanan yang tak bisa ditembus. Senyum di wajahnya tak pernah hilang, justru semakin lebar.
"Lari? Untuk apa lari?" jawab Mo Fei santai. "Tamu sudah datang jauh-jauh, tidak sopan rasanya kalau kita tidak menyambut dengan baik kan?"
"Berisik!!" teriak Batu Ganas dengan amarah yang meledak. Suaranya menggelegar seperti guntur. "Bocah ingusan! Kau pikir dengan mainan jarum-jarum kecil itu kau bisa melawanku?! Gada ini beratnya lima puluh kati! Satu pukulan saja cukup untuk menghancurkan tubuhmu menjadi daging cincang!"
WUSH!
Tanpa aba-aba, Batu Ganas mengayunkan gada raksasanya.
Benda berat itu meluncur cepat menuju kepala Mo Fei, membawa angin kencang yang menerpa wajah. Kekuatannya begitu besar hingga lantai keramik di bawah kakinya retak-retak karena tekanan.
Lian Er menjerit ketakutan, memejamkan matanya. Ia yakin pemuda berbaju putih itu pasti hancur berkeping-keping.
Namun...
TING!
Suara halus terdengar lagi, jauh lebih cepat dari kecepatan suara ayunan gada.
Seketika, Batu Ganas tersentak. Tangannya yang sedang mengayunkan gada tiba-tiba terasa mati rasa dan lemas. Gada raksasa itu berhenti melayang di udara, hanya beberapa senti saja dari ubun-ubun Mo Fei, tapi tidak bisa turun sedikitpun!
"Apa...?!" mata Batu Ganas terbelalak di balik topengnya. "Bagaimana bisa?!"
"Keras memang," gumam Mo Fei sambil menggelengkan kepala. "Tapi sayang... gerakannya terlalu lambat. Seperti kura-kura yang sedang berlari."
Dengan santai, Mo Fei mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu menjentikkannya pelan ke arah batang gada itu.
DENG!
Gada seberat lima puluh kati itu terpental jauh ke belakang! Pria bertopeng itu bahkan terpaksa mundur beberapa langkah untuk menahan keseimbangannya karena sentakan yang luar biasa itu.
Seluruh anak buah di luar dan di dalam kedai teh melongo tak percaya.
Mendorong gada raksasa hanya dengan dua jari?! Ini bukan manusia! Ini iblis!
"Kau... kau berani meremehkanku?!" Batu Ganas murka bukan main. Wajahnya memerah padam. "MATILAH!! TEKNIK RAKSASA MENGHANCURKAN BUMI!!"
Ia melompat tinggi ke udara, mengangkat gada dengan kedua tangan, dan menghantamnya ke arah Mo Fei dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Bayangan hitam besar muncul di belakangnya, menyerupai raksasa yang hendak melahap segalanya.
Hantaman ini cukup kuat untuk meratakan seluruh bangunan kedai teh ini menjadi tanah datar!
Mo Fei akhirnya menghela napas panjang. Matanya yang tadi santai kini berubah menjadi tajam dan dingin.
"Sudah cukup main-mainnya," ucapnya pelan.
Tubuhnya bergerak.
Bukan menghindar ke kiri atau ke kanan, tapi justru maju menerjang langsung ke arah hantaman mematikan itu!
"GILA!!" teriak salah satu anak buah.
Dalam sekejap, bayangan Mo Fei terlihat berubah menjadi beberapa bayangan samar. Ia bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas mata manusia. Di mana ada tubuhnya, di situ tertinggal kilatan cahaya emas yang indah namun mematikan.
Ting-ting-ting-ting!!!
Suara berdenting terdengar bertubi-tubi, begitu cepat dan rapat seperti hujan batu menghantam atap seng.
Batu Ganas yang sedang di udara tiba-tiba membeku. Matanya terbelalak luas, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia merasa seluruh otot dan saraf di tubuhnya seketika kehilangan kekuatan.
Gada besar itu terlepas dari tangannya, jatuh ke tanah dengan suara BUM yang keras, menimbulkan lubang besar di lantai.
Batu Ganas pun ikut jatuh berlutut, tangannya gemetar hebat menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
"Kau... apa yang kau lakukan padaku?" tanyanya dengan suara parau dan ketakutan. "Kenapa aku tidak bisa bergerak?!"
Mo Fei berdiri tenang beberapa langkah di depannya. Baju putihnya masih bersih, tak sehelai benang pun rusak.
"Aku hanya menyumbat aliran energi di titik-titik vital tubuhmu," jawab Mo Fei santai. "Sekarang, kau seperti boneka yang talinya sudah aku potong. Kau bisa bicara, kau bisa berpikir, tapi kau tidak bisa menggerakkan satu otot pun di tubuhmu."
Mo Fei mendekat perlahan, menatap lurus ke mata lawannya.
"Dan ingat ya... Senjata yang besar dan berat memang terlihat menakutkan. Tapi ingatlah selalu, hal yang paling kecil dan halus... seringkali yang paling sulit ditangkap."
Tiba-tiba, Mo Fei mengangkat jarinya tepat ke arah dahi Batu Ganas.
"Sekarang... giliran kau membayar harga atas keberanianmu menyerangku."
"Tunggu!! Jangan!! Ampun!!" Batu Ganas akhirnya ketakutan setengah mati. Ia bisa merasakan niat membunuh yang begitu tajam menusuk jiwanya. "Aku menyerah! Aku akan pergi dari kota ini! Jangan bunuh aku!"
Mo Fei tersenyum miring. "Terlambat."
SYUT!
Satu jarum emas melesat cepat.
Namun, bukan menembus dahi, melainkan menancap tepat di sisi kiri dan kanan topeng besi yang dipakainya.
TRANG!
Topeng itu terlepas dan jatuh ke tanah, memperlihatkan wajah asli Batu Ganas yang penuh bekas luka dan ketakutan.
"Aku tidak membunuh orang yang sudah tidak berdaya," ucap Mo Fei dingin. "Pergilah. Bilang pada sekte kalian dan siapa saja yang mengirim kalian. Chang An sekarang ada di bawah pengawasanku. Siapa pun yang berani datang mencari masalah... siap-siap menerima kunjungan jarum emasku."
Batu Ganas tidak perlu disuruh dua kali. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia bangkit dan lari terbirit-birit bersama anak buahnya yang lain yang sudah gemetar ketakutan.
Dalam sekejap, kedai teh yang tadi penuh dengan orang berbahaya itu kini kembali sepi. Hanya tersisa puing-puing kerusakan dan aroma pertarungan yang masih tersisa.
Lian Er masih terpaku di tempatnya, matanya tak berkedip menatap punggung pemuda di depannya.
Jantungnya berdegup kencang bukan main. Bukan karena takut, tapi karena... kekaguman yang luar biasa.
Pria yang tadi ia anggap aneh, lucu, dan tidak jelas, ternyata memiliki kekuatan yang sedemikian rupa. Ia mengalahkan pendekar besar yang menyeramkan hanya dengan gerakan-gerakan santai dan jarum-jarum mungilnya.
"Mo Fei..." panggil Lian Er pelan.
Mo Fei menoleh dan kembali memasang wajah cerianya yang biasa. "Iya Putri? Kenapa? Mukanya pucat gitu, takut ya? Hehe."
Lian Er menggeleng cepat, lalu tiba-tiba mendekat dan memegang lengan baju Mo Fei erat-erat. Wajahnya memerah, campuran antara malu dan sungguh-sungguh.
"Aku tidak takut! Aku cuma... aku cuma..."
Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Mo Fei.
"Aku tidak mau kau pergi! Mulai sekarang, kau harus jadi pengawalku! Kau harus mengajariku ilmu jarum itu juga! Aku mau jadi kuat sepertimu!"
Mo Fei terkejut, lalu tertawa lebar. "Wah, wah! Tadi bilang aku tidak gagah, sekarang minta diajarin? Dasar mulutnya keras tapi hatinya lembut ya!"
"Yaaa jawab saja!! Mau atau tidak?!" desak Lian Er sambil memukul pelan lengan Mo Fei.
"Tentu saja mau!" jawab Mo Fei sambil mengedipkan sebelah matanya. "Tapi syaratnya satu... kau harus traktir aku makan bakpao sepuasnya setiap hari! Sepakat?"
"Sepakat!!" seru Lian Er dengan senyum lebar.
Namun, di balik senyum itu, Mo Fei diam-diam menatap ke kejauhan. Ia tahu, pertarungan tadi hanyalah permulaan. Setelah ia menunjukkan kekuatannya secara terang-terangan, pasti akan lebih banyak lagi musuh-musuh besar yang akan datang menantangnya.
Tapi tidak apa-apa.
Selama ada jarum di tangannya, dan gadis ini di sisinya... ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mereka.
"Permainan ini... baru saja mulai menjadi menarik," batin Mo Fei.