Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waspada
"Heh... bangun dasar sampah!"
Tubuh kurus dan lusuh Yanto tersentak kaget saat ditarik paksa dari tidurnya. Ia baru saja memejamkan mata di emperan toko yang dingin, mencoba melupakan rasa lapar dan dinginnya malam.
Sudah dua hari ia hidup seperti gelandangan. Segalanya habis. Harta, rumah, dan harga dirinya lenyap ditelan meja judi. Bahkan uang hasil menjual anaknya sendiri pun kini raib entah ke mana, habis ditelan kekalahan demi kekalahan.
"Heh... bangun dasar sampah!" hardik salah satu pria bertubuh kekar itu.
Yanto gemetar hebat, tangannya terangkat tinggi menyerah. "Ampun... Tuan-tuan... aku sudah tidak punya uang lagi. Sungguh!"
Pria yang memegang kerah baju Yanto menoleh ke belakang, menatap bosnya dengan tatapan bertanya seolah memastikan.
"Di mana gadis itu?" suara dingin Aldi terdengar mematikan.
"Siapa? Siapa yang kalian maksud?" Yanto semakin bingung dan ketakutan.
"Anakmu!" bentak Aldi tak sabar.
Mendengar itu, Yanto langsung ternganga. Wajahnya pucat pasi menyadari siapa yang dicari orang-orang ini.
"Dia... dia sudah aku jual, Tuan!" jawab Yanto terbata-bata cepat. "Aku jual ke tempat Mami Neni, di kawasan hiburan malam itu. Setelah serah terima, aku langsung pergi karena dikejar penagih hutang. Aku tidak tahu dia dibawa kemana lagi setelah itu! Sungguh Tuan, aku jujur!"
Aldi mendengus dingin, lalu melirik anak buahnya. "Cari wanita yang dia maksud. Bawa dia kemari atau habisi kalau memberontak."
"Siap, Bos!"
Yanto hanya bisa menunduk pasrah, menyadari bahwa nasib buruk belum selesai mengeroyok hidupnya yang sudah hancur ini.
****
Di sebuah tempat hiburan malam, suasana sedang tenang-tenang saja hingga Laura laki-laki berdandan menor yang menjadi resepsionis berlari terbata-bata masuk ke ruangan Mami Neni.
"Mami! Mami! Ada yang cari ye tuh di luar!" teriak Laura dengan suaranya yang melengking. "Garang banget lho, Mami... mukanya serem, matanya tajam banget!"
Mami Neni yang sedang merapikan make up di cermin langsung mendengus kesal. Ia memijat pelipisnya dengan jengkel.
"Hah? Kenapa lagi sih?!" gerutunya. "Baru aja satu masalah selesai, eh masalah baru udah ada lagi."
Belum sempat ia berdiri, tiba-tiba...
BRAAKK!!
Suara gebukan keras terdengar memekakkan telinga. Pintu ruangan itu terbuka paksa, dan seorang pria bertubuh kekar dengan aura mengerikan masuk begitu saja. Ia menggebrak meja kerja Mami Neni dengan kuat, membuat vas bunga dan pernak-pernik di atasnya berguncang hebat.
Semua orang yang ada di sana langsung terdiam kaku, napas mereka tertahan melihat kemarahan yang meledak-ledak itu.
"Kau pemilik tempat ini?" tanya pria itu dingin, tatapannya tajam menusuk hingga ke ulu hati.
"I... iya betul, saya sendiri," jawab Mami Neni berusaha terlihat tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, pria di depannya ini bukan orang sembarangan.
Tanpa banyak basa-basi, pria itu langsung menanyakan maksud kedatangannya.
"Jawab jujur... apakah beberapa waktu lalu ada seorang pria bernama Yanto yang menjual anak gadisnya kepadamu di sini?" tanyanya tegas.
Mendengar pertanyaan itu, Mami Neni langsung menelan ludah. Wajahnya berubah pucat. Ia ingat betul kejadian itu. Gadis yang dijual Yanto itu akhirnya dibawa pergi oleh orang-orang penting, bahkan sampai terjadi keributan kecil dengan keluarga Wiguna juga.
"I... iya ada, Tuan..." jawab Mami Neni terbata-bata. "Benar, Yanto memang menjual gadis itu ke saya buat lunasi hutang. Tapi... tapi..."
"Tapi apa?!" desak pria itu tak sabar.
"Tapi gadis itu sudah tidak ada di sini!" seru Mami Neni cepat. "Sudah diambil orang jauh sebelum kalian datang."
Pria itu Aldi mengerutkan keningnya tajam mendengar jawaban itu.
"Siapa yang membawanya?!" tanya Aldi lagi, nadanya penuh tekanan.
Mami Neni tampak ragu dan enggan berbicara. Ia tahu betul siapa Langit Mahesa, dan ia tidak mau berurusan dengan dua raksasa sekaligus. Namun melihat sikap Aldi yang begitu mengerikan, ia tahu nyawanya terancam.
"Hancurkan tempat ini..." perintah Aldi dingin pada anak buahnya tanpa menatap Mami.
"Bakar semuanya! Habisi siapa saja yang menghalangi!" teriak anak buahnya.
"Ahhh... JANGAN TUAN! JANGAN! AMPUN!" jerit wanita itu ketakutan setengah mati, wajahnya pucat pasi. "Aku bilang! Aku bilang semuanya! Jangan hancurkan tempatku!"
"Dia... dia..." Mami terbata-bata, lidahnya terasa kelu.
BRAKK!!
Aldi kembali menggebrak meja dengan keras, membuat jantung semua orang di sana copot.
"KATAKAN SEKARANG JUGA!!" bentak Aldi murka.
"DIA DIBAWA OLEH LANGIT! LANGIT MAHESA!" teriak Mami Neni tak sanggup lagi menyembunyikan fakta. "Gadis itu sekarang ada di tangan Tuan Langit! Dia yang bawa pergi!"
Aldi mengangguk pelan, seolah puas dengan jawaban itu. Ia mengibaskan tangannya isyarat agar semua anak buahnya mundur mengikutinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu.
Saat pintu tertutup, wanita itu langsung lemas dan terduduk di lantai. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Cepat... ambilkan ponselku! Cepat!" pinta Mami panik pada Laura yang juga masih gemetar.
Laura segera berlari mengambilkan HP itu. Mami harus segera melapor atau mencari cara agar dirinya tidak jadi korban selanjutnya dari permainan kejam ini.
***
Di lantai tertinggi gedung perusahaan Mahesa Group, Charlie baru saja menutup sambungan telepon dengan wajah yang berubah serius dan cemas. Tanpa membuang waktu, ia langsung berjalan cepat dengan langkah lebar menuju ruangan kerja bosnya.
Brakkk!
Pintu ruangan itu didorong terbuka begitu saja.
Langit yang sedang duduk di balik meja kerja raksasa, sedang sibuk memeriksa tumpukan berkas penting, langsung mendongak. Tatapan tajamnya menyapu sang asisten.
"Ada apa denganmu?" tanya Langit dingin, suaranya tenang namun penuh wibawa. Ia tetap melanjutkan aktivitasnya membalik kertas, seolah tak terjadi apa-apa.
Charlie langsung mendekat ke meja, lalu membungkuk sedikit dan berbisik cepat di telinga bosnya memberitahu informasi penting yang baru saja diterimanya.
Mendengar itu...
Srett!
Langit langsung menghentikan gerakannya. Keningnya berkerut tajam, aura di sekitarnya seketika berubah menjadi dingin dan mencekam.
"Kita pulang sekarang!" perintah Langit tegas dan cepat.
Ia berdiri dari kursinya, mengambil jasnya.
"Pastikan penjagaan di rumah diperketat! Jangan biarkan satu semut pun masuk tanpa izin!"
"Siap, Tuan!" jawab Charlie sigap.
Tanpa menunggu lama, keduanya langsung bergegas keluar dari ruangan itu menuju lift, meninggalkan pekerjaan yang belum selesai.
Jangan lupa like komentar dan ikuti ya..