NovelToon NovelToon
Suamiku (Bukan) Orang Gila

Suamiku (Bukan) Orang Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TWENTY THREE

​Malam telah larut ketika mobil sedan mewah milik Emily Herlos perlahan memasuki pelataran kediaman pribadi keluarga Fabio. Sorot lampu mobil yang memotong kegelapan malam seakan menggambarkan tajamnya amarah yang masih membara di dalam dada wanita itu. Sejak melangkah keluar dari ruang rapat pleno, Emily terus-menerus mengurung diri di kelab malam, mencoba menenggelamkan rasa malunya dalam dentuman musik dan alkohol. Namun, rasa terhina itu tidak kunjung padam.

​Dengan langkah kaki yang dihentakkan kasar di atas lantai marmer, Emily mendorong pintu rumah utama. Kondisi dalam rumah tampak sunyi, hanya ada satu lampu gantung di ruang tengah yang menyala, memberikan kesan remang-remang yang mencekam.

​Di bawah temaram lampu tersebut, Fabio Herlos telah duduk menunggunya. Pria paruh baya itu masih mengenakan kemeja kerja yang kancing atasnya telah terbuka. Tatapannya lurus ke depan, kosong namun mematikan.

​"Baru pulang kau, Emily?" suara Fabio terdengar berat, memecah kesunyian malam dengan nada dingin yang menuntut.

​Emily mendengus, melemparkan tas jinjing bermereknya ke atas sofa tanpa memandang ayahnya. "Aku lelah, Ayah. Jangan mulai mengenceramahiku malam ini—"

​PLAKK!

​Tanpa aba-aba, Fabio bangkit dari posisinya dan melangkah cepat, melayangkan satu tamparan keras tepat di pipi kiri Emily. Suara hantaman telapak tangan itu berdentum nyaring di ruang tengah yang sepi. Tubuh Emily terhuyung ke samping, helai rambutnya yang tertata rapi kini berantakan menutupi sebagian wajahnya.

​Emily tertegun selama beberapa detik, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sambil memegangi pipinya yang mendadak terasa kebas dan panas, ia menoleh dengan mata membelalak penuh amarah. "Ayah?! Kau menamparku? Apa salahku?!" tanya Emily, suaranya naik beberapa oktav karena tidak terima diperlakukan kasar oleh pria yang selama ini selalu memanjakannya.

​"Apa salahmu?" Fabio maju satu langkah, napasnya memburu, wajahnya yang biasa tenang kini memerah padam oleh rasa frustrasi yang mendalam. "Sudah Ayah bilang berkali-kali sebelum rapat dimulai, jangan bertindak gegabah! Jangan memprovokasi harimau yang sedang tidur! Tapi apa yang kau lakukan di depan dewan komisaris? Kau berteriak seperti wanita tidak berpendidikan, dan sekarang... lihat hasilnya! Seluruh borok penggelapan danamu sedang dikuliti habis oleh Aksa tanpa sisa!"

​Emily melepaskan cekalan tangannya dari pipi, lalu menatap ayahnya dengan pandangan menantang. "Jadi Ayah takut? Ayah takut pada si gila itu?! Tapi Emily tidak, Ayah! Aku tidak akan membiarkan posisiku direbut kembali begitu saja. Aku akan membuat Aksa diam di tempat yang seharusnya! Rumah sakit jiwa! Perusahaan Herlos Grup bukan tempat yang cocok untuk menampung orang tidak waras seperti dia!"

​PLAKK!

​Untuk kedua kalinya, Fabio kembali melayangkan tamparan, kali ini di sisi pipi yang berbeda dan dengan tenaga yang jauh lebih besar. Kepala Emily terlempar ke kanan, dan kali ini bekas kemerahan dari jari-jari Fabio langsung nampak jelas di kulit wajahnya yang putih.

​"Ayah!!!" jerit Emily histeris, air matanya mulai menetes karena rasa sakit yang berdenyut di wajahnya.

​"Kebodohan dan kesombonganmu ini yang membuat kamu kalah telak dari Aksa!" bentak Fabio, suaranya bergetar menahan amarah yang tertahan sejak tiga hari lalu. "Jangan pernah lupa, Emily! Biarpun dia cacat secara mental, dia adalah Tuan Muda sah dari keluarga Herlos! Sejak usia lima belas tahun, bocah itu sudah masuk ke dalam struktur inti perusahaan dan membuat rencana ekspansi yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh otak dangkalmu itu!"

​Fabio mencengkeram bahu Emily, memaksanya untuk mendengarkan. "Fokus saja memikirkan bagaimana membuktikan bahwa kau lebih baik darinya di sesi voting minggu depan! Pelajari rancangan kerja, susun strategi! Di balik mentalnya yang tidak waras, setidaknya otak jenius milik Dayaksa tak pernah hilang atau tumpul. Jangan lupa bagaimana dia mempermalukan kamu dan membuatmu tidak berkutik di rapat pleno tadi. Apa kamu masih punya muka untuk berjalan di koridor kantor dengan kepala tegak? Gunakan otakmu, Emily! Bukan emosimu!"

​Fabio melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Emily mundur beberapa langkah. Pria tua itu membalikkan tubuhnya, menolak untuk melihat wajah putrinya lagi.

​Emily memegang kedua pipinya yang terasa terbakar dan panas. Rasa malu, sakit fisik, dan ego yang hancur bercampur menjadi satu, menciptakan badai dendam di dalam dirinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.

​BRAKK!

​Emily membanting pintu kamarnya dengan sangat keras. Di dalam kamarnya yang luas dan mewah, tangisnya pecah menjadi jeritan frustrasi. Ia berjalan menuju meja riasnya yang dipenuhi oleh puluhan botol produk skincare mahal dan kosmetik bermerek dari Paris.

​"Aksa brengsek! Orang gila! Tidak waras...!" jerit Emily sambil mengayunkan tangannya dengan membabi buta, menyapu bersih seluruh botol kaca di atas meja riasnya hingga jatuh berhamburan ke lantai marmer. Suara pecahan kaca yang hancur berkeping-keping memenuhi kamar, cairan-cairan esensial mahal mengalir mengotori karpet bulu.

​Ia mengambil sebuah botol parfum kristal dan melemparkannya ke arah cermin besar hingga cermin itu retak seribu. "Beraninya kamu mempermainkanku di depan semua orang! Beraninya kamu merebut hasil kerja kerasku!"

​Emily terengah-engah di tengah puing kehancuran kamarnya, kedua tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Matanya yang merah menatap pantulan dirinya yang retak di cermin. "Tunggu saja, Dayaksa... Aku akan membalas semua perbuatanmu ini. Aku akan menjatuhkanmu ke jurang terdalam, dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal!"

​Tiga hari telah berlalu sejak hasil di ruang rapat pleno mereda, namun suasana yang sama sekali berbeda kini begitu terasa di kediaman utama keluarga Herlos. Tidak ada lagi drama teriakan Dayaksa yang kehilangan kendali di tengah malam. Tidak ada lagi suara pecahan perabotan dapur atau guci kristal mahal yang hancur akibat amukan tak beralasan. Rumah mewah itu mendadak jatuh ke dalam keheningan yang kaku dan fungsional.

​Della berdiri dengan tenang di depan pintu ruang kerja pribadi Aksa di lantai dua. Tangannya sempat terangkat, berniat untuk mengetuk pintu jati yang tertutup rapat itu, namun gerakannya terhenti di udara. Ada keraguan yang menahan jemarinya. Dari celah bawah pintu, ia bisa melihat bayangan tubuh Aksa yang sedang duduk kaku di balik meja kerja, dikelilingi oleh tumpukan dokumen setinggi gunung.

​Della menurunkan kembali tangannya secara perlahan. Tanpa ada keinginan untuk memaksa masuk, ia hanya bisa memandangi pintu itu dari luar, didera ketakutan mendalam bahwa kehadirannya justru akan mengganggu fokus suaminya yang sedang bertaruh nyawa demi mempertahankan takhta perusahaan.

​Namun, di balik pengertiannya, ada rasa sesak yang mulai merayap di ulu hati Della. Selama tiga hari ini, Della merasa seolah-olah Aksa telah bertransformasi menjadi orang lain. Pria yang biasanya langsung menerjangnya dengan pelukan manja dan meminta ciuman setiap kali pulang kerja, kini berubah total. Setiap kali mereka berpapasan di koridor atau duduk bersama di meja makan, sikap Aksa sangat dingin, datar, dan cuek. Pria itu hanya fokus pada gawai dan berkasnya, nyaris tidak pernah menatap mata Della lebih dari dua detik.

​Apa... apa dia sudah sembuh ya? batin Della dengan cemas, kedua tangannya saling meremas di depan gaun rumahnya. Sikapnya sangat dingin. Apakah setelah otaknya kembali berfungsi normal, dia... dia sudah tidak menginginkanku lagi di sini? Apakah aku hanya berguna saat dia sedang gila dan butuh penenang?

​Pikiran-pikiran buruk itu mulai berputar di kepala Della, membuat dadanya terasa semakin sesak. Rasa bosan dan sepi yang teramat sangat mulai melanda dirinya di dalam mansion yang luas namun terasa seperti penjara es ini. Tidak tahan dengan keheningan di dalam rumah, Della memutuskan untuk membalikkan tubuhnya, berjalan menelusuri koridor menuju halaman samping mansion, tempat di mana terdapat kolam renang terbuka yang dikelilingi oleh taman tropis yang asri.

1
umi
tahan aksa jgn terpancing esmosi mu yaa mereka tau titik kelemahan mu tu .. ingt della pasti kamu tenang tu
umi
kalah jauh kamu adryan jgn main2 lah sma keluarga besar aksa ya . bgi della kamu sdh yg terbaik aksa
umi
gila ya kamu adryan ,blom kena ya dia ni buku lima nya aksa lgi ni maka berkata bgitu pla ..
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
pasti ada sesuatu dengan obat Aska 👀
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
SENJA
aduh jangan kambuh sekarang 😳🥺
SENJA
ciiih ngeselin lu sampah 🤢🤮
SENJA
mantabs
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
waduh jangan sampai Aksa gak fokus lagi karena hasil presentasi kedua belah pihak akan ditentukan saat ini antara presentasi Aksa dan Emily tolong jangan kambuh Sa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Zacky memang tangan kanan yg bisa dipercaya & diandalkan
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😭😭 di hati Della, Aksa menang Voting
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😒 monyeet satu ini benar2 tidak tahu malu, dr awal memang sdh tidak waras si Ardyan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
iya Zacky benar bisa jadi Aksa sedang banyak pikiran jadinya ke mode silent
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
malu gak tuh luuu Adryan Juardi gak mungkin Della mau sama kau lagi huuuu bersama Aksa dia diratukan disayangi sedemikian rupa jadi ga butuh pria munafik kek luuu😏🤨
El Zèphyr
Aksa emang gila, tapi dia punya sisi pintar yang gak orang lain ounya
El Zèphyr
Oh astagaa manusia satu ini bucin sekaliehh
El Zèphyr
Aksa Masi bisa mikir kok kalo hal beginian
El Zèphyr
Tatapan yang mengerikan itu muncul guys
El Zèphyr
Aksaa kau jadi bucin + nurut gitu si sama Della.
Lucu deh kalian berdua
El Zèphyr
noh kan noh kannn liattt
El Zèphyr
ihhh bucin aku mau jugak 😽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!