Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Panggung Masa Depan
Di Tengah Desa
Jalan-jalan Desa Jianxin hari itu cukup ramai.
Beberapa pedagang membuka lapak mereka di pinggir jalan, anak-anak kecil berlarian sambil tertawa, dan para warga tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Bagi banyak orang, ini hanyalah hari biasa.
Namun bagi Cang Li, suasana seperti itu terasa asing sekaligus menenangkan.
Sudah cukup lama ia tidak benar-benar berjalan santai seperti ini.
Mereka berdua berjalan melewati beberapa toko kecil sampai akhirnya Dao Yan menoleh ke arahnya.
“Aku dengar kau diserang pria misterius beberapa hari lalu,” katanya. “Apa lukamu sudah sembuh?”
“Sudah jauh lebih baik,” jawab Cang Li singkat.
Dao Yan mengangguk pelan, lalu melirik ke arahnya.
“Syukurlah. Bibi Ruoxi sempat terlihat sangat panik waktu itu.”
Cang Li hanya diam beberapa saat.
Lalu ia bertanya, “Ngomong-ngomong... di mana muridmu? Aku tidak melihat Jian Po bersamamu.”
Mendengar nama itu, ekspresi Dao Yan sedikit berubah.
Tidak menjadi sedih, tapi lebih lembut.
“Ah, bocah itu sedang pergi bersama orang tuanya ke luar desa,” jawabnya.
Cang Li menatapnya sekilas.
“Masih rajin berlatih?”
Dao Yan tersenyum kecil.
“Lebih dari rajin. Anak itu keras kepala sekali.”
Ada nada bangga dalam suaranya.
“Teknik pedangnya berkembang cukup cepat. Dia selalu bilang ingin cepat menjadi kuat agar bisa melindungi orang-orang yang penting baginya.”
Untuk pertama kalinya sejak keluar rumah, ekspresi Cang Li sedikit melunak.
“Itu bagus.”
Dao Yan menoleh ke arahnya, lalu tersenyum lebar.
Cang Li mengerutkan kening.
“Kenapa kau tersenyum seperti orang aneh begitu?”
Dao Yan tertawa kecil.
“Akhirnya aku melihat sedikit Cang Li yang dulu.”
Cang Li terdiam.
Dao Yan melanjutkan dengan nada lebih tenang.
“Setidaknya sekarang kau mulai bicara lebih banyak. Beberapa hari lalu kau bahkan lebih mirip batu nisan berjalan.”
“Kalau kau terus bicara sembarangan, aku akan menendangmu ke selokan.”
“Lihat? Nah, yang seperti itu. Lebih hidup.”
Cang Li tidak menjawab.
Namun untuk sesaat, sudut bibirnya benar-benar bergerak tipis.
Dan Dao Yan melihatnya.
Itu sudah cukup baginya.
Mereka pun terus berjalan sampai akhirnya tiba di pusat pasar desa.
Rumor Lama dan Nama-Nama Besar
Pusat pasar hari itu lebih ramai dari biasanya.
Di tengah keramaian, sekelompok warga tampak berkumpul di dekat warung teh sambil berbicara dengan penuh semangat.
Topik yang mereka bahas terdengar cukup serius, sampai-sampai Dao Yan dan Cang Li tanpa sadar ikut memperlambat langkah.
“Beruntung sekarang sepuluh dinasti besar sedang dalam keadaan damai,” ujar salah satu warga sambil menyeruput tehnya. “Kalau perang seperti enam belas tahun lalu terjadi lagi, rakyat kecil seperti kita yang paling dulu menderita.”
“Benar,” sahut warga lain. “Aku juga dengar perang itu dulu pecah karena Dinasti Leiting dituduh berkhianat dan diam-diam bekerja sama dengan Benua Jue Wang.”
“Katanya empat dinasti besar waktu itu bergerak cepat untuk menghentikan ancaman sebelum semuanya terlambat.”
Mendengar itu, Cang Li sedikit menundukkan pandangan.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi setiap kali mendengar cerita tentang perang enam belas tahun lalu, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa terusik.
Bukan karena ia tahu jawabannya.
Justru karena ia merasa... ada terlalu banyak hal yang selama ini disembunyikan darinya.
Warga lain ikut menimpali.
“Tapi sekarang keadaan sudah jauh lebih tenang. Kaisar baru Dinasti Leiting juga kabarnya lebih terbuka daripada yang dulu.”
“Meski wajahnya selalu ditutupi topeng, ya?” ujar yang lain sambil tertawa kecil.
“Entahlah, para bangsawan memang suka hal-hal aneh.”
Obrolan mereka lalu beralih ke topik lain yang langsung menarik perhatian banyak orang.
Tujuh Pendekar Pedang Legendaris.
Seorang pria tua yang sejak tadi duduk di bangku kayu mengelus jenggotnya pelan sebelum berbicara.
“Kalian anak-anak muda sekarang mungkin hanya mendengar nama mereka dari cerita,” katanya. “Tapi pada masa itu, mereka benar-benar dianggap penyelamat benua.”
Beberapa warga langsung mendekat, tertarik mendengar kisah lama itu.
Pria tua itu melanjutkan,
“Dulu, dari Benua Jue Wang, muncul seekor monster kuno yang sangat mengerikan. Makhluk itu membawa kehancuran ke mana pun ia pergi. Banyak kultivator kuat tumbang di tangannya, bahkan pasukan dari beberapa dinasti tidak mampu menghentikannya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap orang-orang di sekitarnya.
“Namun pada akhirnya, tujuh pendekar pedang muncul dan bertarung bersama untuk membunuh monster itu.”
Nada suaranya berubah pelan, seolah ia sendiri masih merasakan getaran dari kisah tersebut.
“Karena itulah mereka disebut Pendekar Pedang Legendaris.”
Seorang pemuda di kerumunan bertanya, “Kalau mereka sekuat itu, kenapa sekarang tidak pernah terdengar lagi kabarnya?”
Pria tua itu menghela napas.
“Karena legenda tidak selalu berakhir indah.”
Tatapan Cang Li sedikit berubah.
Pria tua itu melanjutkan,
“Ada yang bilang sebagian dari mereka sudah tewas. Ada juga yang bilang mereka menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang benar-benar tahu.”
Cang Li terdiam.
Pikirannya langsung tertuju pada satu nama.
Ye Chen.
Pria yang membesarkannya.
Pria yang melatih dasar-dasar pedang dalam hidupnya.
Dan pria yang menghilang tanpa penjelasan bertahun-tahun lalu.
Kalau benar Ye Chen adalah salah satu dari tujuh pendekar legendaris itu...
maka semakin jelas bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang tersembunyi di balik hidupnya.
Papan Pengumuman
“Cang Li! Lihat itu!”
Suara Dao Yan tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
Cang Li menoleh.
Dao Yan sedang menunjuk ke arah sebuah papan pengumuman besar yang berdiri di tengah pasar.
Beberapa warga sudah berkumpul di sana sambil membaca isi pengumuman dengan penuh antusias.
Cang Li dan Dao Yan segera mendekat.
Begitu pandangannya jatuh pada tulisan besar di papan itu, mata Cang Li langsung membesar.
Di sana tertulis jelas:
[PENGUMUMAN BESAR]
TURNAMEN KULTIVATOR MUDA ANTAR SEPULUH DINASTI
AKAN DIMULAI DALAM 2 BULAN!
Kerumunan warga langsung ramai.
“Akhirnya dimulai juga!”
“Sudah delapan tahun sejak turnamen terakhir!”
“Katanya para jenius muda dari seluruh dinasti akan datang!”
“Pasti akan sangat seru!”
Namun suara-suara itu perlahan terdengar menjauh bagi Cang Li.
Matanya masih terpaku pada pengumuman itu.
Dadanya berdegup lebih keras dari sebelumnya.
Ia tahu...
ini bukan sekadar turnamen biasa.
Ini adalah panggung.
Kesempatan.
Jalan pertama menuju dunia yang selama ini terasa terlalu jauh darinya.
Kalau ia benar-benar ingin menemukan kembali kalung Yel Feng...
kalau ia ingin mengungkap siapa pria berjubah hitam itu...
dan kalau ia ingin mengetahui kebenaran tentang Ye Chen, masa lalunya, dan bahkan dirinya sendiri...
maka ia tidak bisa terus tinggal diam di desa kecil ini.
Ia harus melangkah maju.
Dan untuk itu—
ia harus menjadi lebih kuat.
Sangat kuat.
Cang Li mengepalkan tangannya perlahan.
Sorot matanya yang semula redup kini kembali menyala.
Dao Yan yang berdiri di sampingnya memperhatikan perubahan itu, lalu tersenyum tipis.
Tanpa perlu bertanya, ia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya.
Turnamen ini...
akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Cang Li merasa bahwa jalan di depannya mulai terlihat jelas.
End Chapter 14