NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Jarak Dalam Kesunyian

Kesunyian ternyata adalah suara yang paling memekakkan telinga.

Itulah yang dirasakan Arlan selama empat belas hari terakhir.

Mansion yang biasanya terasa hangat dengan suara langkah kaki Kinara atau aroma kopi yang ia seduh di pagi hari, kini berubah menjadi monumen batu yang dingin dan asing.

Setiap sudut ruangan seolah-olah memiliki mulut dan berbisik, mengulang kembali setiap kata-kata kasar dan tatapan dingin yang pernah Arlan berikan pada istrinya.

​Arlan duduk di ruang kerja Kinara saat jam menunjukkan pukul dua pagi.

Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu meja kecil yang temaram, membiarkan cahaya bulan masuk melalui celah gorden yang terbuka sedikit.

Ia duduk di kursi kayu tempat Kinara biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengetik novelnya.

Di atas meja, laptop Kinara masih tertata rapi, namun layarnya gelap—segelap hati Arlan saat ini.

​Ia mengambil sebuah buku catatan kecil bersampul cokelat milik Kinara yang tertinggal di laci.

Dengan tangan bergetar, Arlan membuka lembar demi lembar.

Isinya adalah coretan ide cerita, namun di beberapa halaman belakang, ia menemukan catatan harian kecil yang sangat pribadi.

​“Hari ini Arlan marah-marah lagi karena aku telat makan sepuluh menit. Dia memang monster yang menyebalkan dan posesif, tapi kenapa saat dia memelukku dari belakang sambil meminta maaf, aku merasa seluruh dunia ini berhenti berputar? Apa aku sudah mulai jatuh cinta pada monster ini? Aku takut, Tuhan... aku takut mencintai pria yang mungkin suatu saat akan menghancurkanku.”

​Air mata Arlan jatuh tepat di atas tulisan itu, membuat tintanya sedikit luntur.

"Aku bukan monster karena ingin menyakitimu, Kinara... aku hanya tidak tahu cara mencintai tanpa rasa takut kehilangan," bisiknya pada kegelapan ruangan itu.

​Di saat-saat introspeksi ini, Arlan menyadari betapa egoisnya dia selama ini.

Ia berpikir dengan memberikan kemewahan, ia bisa menghapus luka masa lalu Kinara.

Ia berpikir dengan mengurung Kinara dalam "sangkar emas", ia bisa menjaganya dari dunia luar.

Namun ia sadar, cinta sejati tidak pernah memenjarakan. Cinta seharusnya menjadi sayap, bukan rantai.

​"Kamu benar, Kinara... aku harus membenahi hatiku dulu sebelum aku pantas memintamu kembali," gumam Arlan.

Ia memutuskan untuk membatalkan perintah pencarian paksa melalui detektif.

Ia tidak ingin menyeret Kinara kembali seperti tawanan.

Ia ingin memberi Kinara ruang untuk bernapas, dan memberi dirinya sendiri waktu untuk benar-benar menjadi "Arlan-nya Kinara" yang diinginkan istrinya.

​Sementara itu, ratusan kilometer dari hiruk-pikuk Jakarta, di sebuah desa kecil yang asri di pinggiran kota yang tenang, Kinara sedang duduk di teras sebuah rumah kayu sederhana milik mendiang neneknya.

Suara jangkrik malam dan aroma melati menjadi teman setianya dalam kesunyian yang damai.

Ia mengenakan kardigan rajut tua, memeluk secangkir teh jahe hangat yang uapnya masih mengepul tipis.

​Kinara menarik napas dalam-dalam, menghirup udara malam yang bersih tanpa polusi.

Di sini, di bawah langit yang bertaburan bintang, ia mulai melakukan introspeksi diri yang mendalam.

Ia merenungkan semua kejadian yang telah berlalu seperti menonton sebuah film lama.

Ia sadar bahwa amarah dan dendamnya telah membutakan matanya dari kebaikan-kebaikan kecil yang Arlan lakukan dengan tulus.

​"Aku terlalu fokus pada luka lama sampai aku lupa bahwa Arlan juga punya luka yang sama besarnya," batin Kinara.

Ia teringat bagaimana Arlan selalu memastikan ia memakai kaus kaki saat tidur agar tidak kedinginan, atau bagaimana Arlan diam-diam mendonasikan uang ke panti asuhan atas nama almarhum ayahnya tanpa pernah pamer.

​Kinara mengelus pipinya sendiri, tempat terakhir kali ia menyentuh wajah Arlan dengan lembut saat berpamitan.

Rasa rindu itu mulai muncul secara perlahan, berdenyut pelan namun pasti di dalam dadanya.

Ia tidak lagi merasa takut pada Arlan. Ia justru merasa cemas; apakah Arlan makan dengan benar? Apakah Arlan masih sering begadang di kantor sampai pagi? Dan yang paling penting, apakah Arlan masih menjadi monster atau sudah mulai belajar untuk berdamai dengan dirinya sendiri?

​"Maafkan aku karena sudah mencoba menghancurkanmu, Arlan," bisik Kinara ke arah langit malam.

"Aku pergi bukan karena tidak cinta lagi, tapi karena aku ingin kita sama-sama belajar apa itu artinya saling memiliki tanpa harus saling menyakiti. Aku ingin kita tumbuh di tanah yang berbeda, agar saat kita bersatu nanti, akar kita sudah cukup kuat untuk saling menopang."

​Kembali ke Jakarta, Arlan mulai mengubah kebiasaannya.

Di kantor, ia tidak lagi menjadi singa yang menakutkan.

Ia mulai belajar untuk lebih sabar mendengarkan laporan karyawannya.

Ia mulai belajar untuk tersenyum, meski senyum itu terasa getir tanpa Kinara di sisinya.

Setiap malam sebelum pulang, ia akan masuk ke kamar Kinara hanya untuk mencium aroma bantalnya yang mulai memudar, berjanji dalam hati bahwa suatu saat nanti, ia akan menjemput Kinara dengan cara yang paling terhormat dan penuh kasih sayang.

​"Tunggu aku, Kinara. Saat aku menemuimu nanti, aku akan menjadi pria yang bisa kau banggakan. Bukan monster yang ditakuti, tapi suamimu yang paling mencintaimu," janji Arlan sebelum akhirnya ia jatuh tertidur di kursi kerja istrinya, memeluk sebuah daster milik Kinara seolah-olah itu adalah pemiliknya.

​Perpisahan ini ternyata bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah proses penyembuhan bagi dua hati yang selama ini terikat oleh benang merah yang kusut.

Mereka sedang menyiapkan diri untuk sebuah pertemuan besar—pertemuan yang tidak akan lagi diwarnai oleh rahasia atau ancaman, melainkan oleh pelukan hangat yang telah lama mereka rindukan.

Pesan Moral :

Bahwa terkadang, dua orang harus saling menjauh sejenak untuk menyadari betapa berartinya kehadiran satu sama lain. Jarak bukan untuk memisahkan, tapi untuk memperjelas perasaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!