"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Kecantikan Sylvie
Sylvie adalah seorang wanita tinggi. Tingginya sekitar 175 cm, sementara Liam 180 cm dan kemudian menjadi 185 cm setelah ia mengkonsumsi Ramuan Peningkatan Fisik sebelumnya.
Melihat wajahnya, Liam tidak bisa menyangkal bahwa Sylvie memang wanita yang cantik. Bella juga cantik, tetapi tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan Sylvie sama sekali. Karena pikirannya sebelumnya dipenuhi banyak hal, ia tidak benar-benar memperhatikan penampilannya dengan jelas, hanya menganggap semuanya biasa saja.
Sylvie memiliki wajah dan senyum yang lembut. Ia memakai riasan tipis yang semakin menonjolkan fitur wajahnya dengan sempurna. Liam sebenarnya sudah melihat senyumannya sebelumnya, tetapi baru saat ini ia bisa benar-benar mengagumi senyumnya dari dekat.
Rambut abu-abunya diikat menjadi sanggul, dan ia mengenakan setelan standar yang berfungsi sebagai seragamnya.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Sylvie sedikit panik saat merasa Liam sudah lama menatap wajahnya. Rona merah muncul di wajahnya, mengira mungkin ada es krim yang menempel di mulutnya tanpa dia sadari.
Mendengar itu, Liam menarik kembali pandangannya sambil tersenyum.
"Tidak ada," katanya sambil melanjutkan makan es krimnya yang sudah mulai meleleh.
Mendengar itu, Sylvie malah menjadi semakin bingung. Wajahnya semakin memerah saat pikirannya mulai melayang ke mana-mana.
Tak lama kemudian, Liam dan Sylvie sudah selesai makan es krim.
"Kau benar-benar yakin akan baik-baik saja?" tanya Liam sekali lagi.
Sylvie memutar matanya. "Aku sudah bilang berkali-kali kalau aku akan baik-baik saja. Lagi pula, shifku sudah selesai satu jam yang lalu. Dan bahkan kalau mereka memecatku, itu juga tidak masalah karena aku yakin bisa mencari pekerjaan baru dengan cepat."
"Baiklah, kalau begitu," jawab Liam sambil mengangkat bahu.
Hari sudah semakin malam. Liam sangat menikmati waktunya bersama Sylvie. Hal itu membuatnya bisa melupakan banyak hal untuk sementara waktu. Ia melihat ke bawah dan menyadari banyak tas belanja berjejer di dekat kakinya. Itu adalah hasil dari mereka berkeliling mal selama beberapa jam.
Untungnya, dengan peningkatan fisik yang baru saja ia dapatkan, ia tidak mengalami kesulitan membawa semua barang itu saat berbelanja. Bahkan, ia sama sekali tidak merasa lelah.
"Lagi pula… ini adalah pertama kalinya aku bisa benar-benar santai sejak aku mulai bekerja di sini," kata Sylvie dengan senyum puas.
Sebelumnya, Sylvie sempat mengatakan bahwa ia lulus kuliah setahun yang lalu dan langsung bekerja di sini. Ia berkata bahwa karena ia adalah lulusan terbaik, pemilik toko langsung menerimanya sebagai manajer baru.
Sejak saat itu, ia bekerja keras dengan waktu istirahat yang sangat sedikit. Karena ia menikmati pekerjaannya dan gajinya juga tinggi, ia tetap bertahan meskipun sulit.
Sekarang, jika toko memecatnya hanya karena kejadian tadi, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia akan menerimanya dan mencari pekerjaan lain. Namun, ia meragukan bahwa toko benar-benar akan memecatnya, karena ia masih berada di area mal dan sedang melayani pelanggan, jadi itu tidak bisa dianggap sebagai bermalas-malasan.
Saat Liam mendengar ceritanya, ia merasa kagum dengan kemampuannya. Liam sendiri baru tahun pertama kuliah. Dan meskipun dia juga pintar, dia tidak berani mengklaim bahwa dia akan mampu meraih peringkat terbaik setelah empat tahun menjalani kehidupan kampus yang penuh tekanan.
Namun, Sylvie berhasil melakukannya, dan bahkan langsung menjadi manajer setelah lulus.
Memiliki pekerjaan yang stabil dengan gaji tinggi setelah lulus, bukankah itu impian banyak mahasiswa?
Sylvie berhasil mencapainya. Liam tidak bisa menahan rasa iri terhadap bakatnya.
Tentu saja, ia hanya merasa iri, bukan sampai mengidolakannya. Bagaimanapun juga, dengan adanya Sistem, apa yang tidak bisa ia capai di masa depan?
"Yah, aku juga menikmati waktu kita bersama…" tambah Sylvie dengan malu-malu. Makna tersembunyi dari kata-katanya cukup jelas.
Liam tersenyum mendengarnya, tetapi bayangan Bella tiba-tiba muncul di pikirannya.
Ia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran itu. Ia tahu bahwa melupakan hal itu tidak akan mudah.
Ia juga sudah menceritakan tentang Bella kepada Sylvie sebelumnya. Meskipun dia tidak banyak bercerita karena alasan yang jelas, Sylvie setuju dengannya bahwa apa yang dilakukan Bella memang salah.
Bahkan, Sylvie sempat marah besar saat mendengar Bella selingkuh hanya karena hal materi. Ia mengatakan bahwa Bella adalah aib bagi para wanita di luar sana.
Liam tertawa lepas melihat Sylvie begitu kesal demi dirinya.
Sayangnya, waktu menyenangkan pasti berakhir. Hari sudah larut, saatnya pulang.
Sebagai seorang pria, Liam menawarkan untuk mengantarnya pulang. Namun ia langsung merasa malu saat Sylvie mengatakan bahwa ia membawa mobil sendiri dan apartemennya dekat dari mal.
Akhirnya, Liam tidak memaksakan lagi. Sylvie memiliki mobil sendiri, sementara ia hanya berniat menggunakan transportasi umum. Ia merasa malu dengan tawarannya.
Pada akhirnya, setelah tahu Liam tidak punya mobil, Sylvie malah menawarkan untuk mengantarnya pulang. Pada awalnya Liam menolak, tetapi Sylvie bersikeras bahwa dia harus mengantarnya pulang, terutama karena Liam membawa banyak barang.
"Aku adalah salah satu alasan kenapa kau membeli barang-barang sebanyak itu sejak awal. Dan anggap saja ini sebagai balasan karena kau tidak mempermasalahkan perilaku karyawanku tadi. Walaupun mereka kasar, aku tahu mereka masih bisa berubah menjadi lebih baik."
Mendengar itu, Liam hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Karena Sylvie bersikeras,maka akan tidak sopan jika menolak tawarannya, bukan?