NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Kartu hitam tanpa limit

“Hahahaha!”

Suara gelak tawa terdengar di seluruh penjuru ruang tengah paviliun. Laura memegangi perutnya yang terasa keram karena merasa puas tertawa. Sedangkan yang di tertawakan memasang wajah pasrah saat wajahnya di coret spidol hitam.

“Wajah Kak Ar benar-benar lucu,” Laura menyeka sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.

“Nyonya, Anda bermain curang tadi. Kenapa jadi saya yang di korbankan?”

“Eh? Tidak ya! Kamu saja yang tidak benar bermain,” elaknya.

Arlo menghela napas panjang, mencoba melihat pantulan wajahnya di layar ponsel. Garis-garis kumis kucing dan lingkaran besar di sekeliling matanya benar-benar karya seni yang mengerikan dari Nyonya.

Mentang-mentang anak seni, wajahnya jadi uji coba layaknya sebuah kanvas.

“Kawan, sepertinya garis kumis kucingmu tidak simetris,” celetuk Gabriel. “Nyonya, sepertinya Anda perlu menambahkan sedikit coretan lagi.”

Laura memperhatikan, lalu tersenyum misterius. “Ide bagus! Come! Come! Come!” Laura meringsek maju, berusaha menjangkau Arlo.

Di tempatnya Arlo sudah memasang wajah panik. Matanya melotot tajam pada Gabriel yang memasang wajah mengejek. Sengaja sekali pikirnya.

“Come to Mama!” Laura kembali membuka tutup spidol. Bergerak lebih cepat untuk menjangkau Arlo, namun pria tegap itu sudah berdiri dan berlari menjauhi Laura yang sekarang malah ikut mengejarnya.

Jadilah aksi kejar-kejaran di dalam ruangan paviliun itu. Hans dan Gabriel memperhatikan, sesekali mereka melepaskan tawa pelan yang jarang mereka keluarkan.

“Kak Ar, come to Mama! Kenapa kamu lari?”

“Nyonya, aturan bermainnya tidak seperti ini!” seru Arlo yang masih berlari. Jujur, gerakan lari Nyonya mudanya benar-benar lincah.

Acara berlari mereka terhenti saat suara Owen menginterupsi. Pria itu datang dengan dua piring hidangan yang aromanya langsung membuat perut Laura bergetar. Gadis itu melempar asal spidol di tangannya. Ia berjalan terburu-buru menghampiri Owen.

“Wahhhh! Apa ini? Terlihat enak sekali,” Laura bertanya dengan antusias. Telunjuk lentiknya mencolek bumbu di hidangan itu, lalu kembali memekik senang.

“Kak Owen ini enak sekali!”

Owen terkekeh pelan, sedikit menjauhkan piring dari jangkauan jemari Laura agar tatanan hidangannya tidak hancur berantakan.

“Sabar, Nyonya. Cuci tangan dulu, atau saya tidak akan memberikan makanan ini,” ujar Owen. Aksen bicaranya mirip seperti seorang Ayah yang mengingatkan putrinya.

Laura sedikit mengerucutkan bibirnya, namun tak ayal gadis itu berlari kecil menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Sementara Arlo akhirnya bisa bernapas lega di pojok ruangan, menyandarkan tubuhnya yang sedikit berkeringat karena aksi kejar-kejaran tadi.

“Selamat, Ar. Setidaknya kumismu tidak jadi ditambah,” bisik Gabriel saat Arlo berjalan mendekat.

“Diam kau,” desis Arlo tajam. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, namun sialnya, bercak spidol itu justru makin melebar, membuat wajahnya tampak seperti korban ledakan kompor.

Hans yang biasanya paling datar pun tak tahan untuk tidak berkomentar. “Kurasa kau butuh tiner untuk membersihkan itu, Ar. Spidol yang dipakai Nyonya adalah jenis permanent marker.”

Mata Arlo membelalak. “Apa?!” pria itu semakin panik, menatap wajahnya di layar ponsel, matilah aku pikirnya.

“Hahahaha! Maaf, Kak Ar! Aku lupa memberitahumu!” seru Laura, mulutnya sudah penuh dengan potongan daging udang. “Tapi tenang saja, besok pasti hilang... kalau kamu menggosoknya pakai amplas!”

“Nyonya!” keluh Arlo yang disambut tawa pecah dari seisi ruangan.

Owen menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka. Ia menuangkan jus jeruk segar ke gelas Laura. “Sudahlah, Arlo. Biarkan saja. Hitung-hitung itu tanda kehormatan karena sudah membuat Nyonya tertawa seharian ini.”

Laura mengangguk mantap, mengacungkan jempolnya. “Benar kata Kak Owen! Oh ya, Kak Owen, ini benar-benar luar biasa. Kenapa Kakak tidak buka restoran saja sih? Aku pasti jadi pelanggan tetap!”

“Karena saya merasa bosan dengan keahlian saya, saya ingin mencari pengalaman baru dengan menjadi pengawal Anda.”

Laura mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. “Lain kali ajari aku resep udang saos padang ini, ya? Ini benar-benar enak!” Laura kembali menyuapkan udang tersebut.

Gadis itu teringat sesuatu.

“Oh ya! Di mana Kak Zero?”

“Saya di sini, Nyonya.” Zero datang dengan sebakul nasi juga satu piring bersih. “Anda harus memakannya dengan nasi agar perut Anda kenyang.”

Zero meletakan piring tersebut tepat di depan Laura.

“Kenapa hanya satu,” tanya Laura bingung. “Kalian tidak makan?”

“Kami masih kenyang, Nyonya.” Sahut Hans.

“Jika begitu aku tidak ingin makan. Tidak sopan sekali jika hanya aku yang makan." Laura mendorong piring yang berisikan udang saos padang dengan perasaan tak rela.

“Makan saja, Nyonya. Kami akan makan setelah Anda selesai,” sahut Gabriel.

“Aku ingin makan bersama-sama! Kenapa? Kalian jijik ya makan bersamaku,” Laura merengut dengan wajah yang di buat semenyedihkan mungkin. Ini taktik agar mereka berlima makan bersama nya.

“Tentu saja tidak, Nyonya!” seru mereka serempak.

“Jika begitu ayo makan bersama-sama. Tidak ada penolakan! Kak Ar, tolong ambilkan 5 piring. Kita makan sama-sama!” Laura berseru dengan senang.

Mereka berlima menghela nafas pelan. Walaupun kecanggungan mereka sudah sedikit berkurang. Namun mereka masih harus menjaga batasan. Tapi, mereka tidak tahan melihat wajah murung Nyonyanya, mereka tidak ingin membuat tawa yang beberapa menit yang lalu mengalun indah, tiba-tiba hilang karena keinginannya tidak di penuhi.

Menu makan siang hari ini adalah udang saos padang dan juga tumis kangkung yang menggugah selera. Mereka makan dengan khidmat. Sesekali Laura melemparkan candaan, membuat ruangan itu benar-benar hangat akan interaksi mereka semua.

Dan tanpa mereka sadari, interaksi hangat itu di perhatikan oleh pelayan Kim.

Tadinya pria tua itu ingin mengingatkan Laura untuk makan siang. Namun saat ia datang ternyata Nyonya mudanya sudah makan dengan kelima pengawalnya. Syukurlah batinnya.

Melihat tawa ceria Laura membuat pelayan Kim mengundurkan diri. Ia tidak ingin merusak momen hangat itu.

'Anda jauh terlihat hidup saat tertawa, Nyonya. Syukurlah jika mereka dapat menghibur Anda.' batin pelayan Kim.

Di dalam luasnya penthouse ini, setidaknya ada secercah kebahagiaan yang di dapat Laura. Gadis ceria yang terjebak oleh ikatan yang di namakan pernikahan.

***

Malam berganti dengan cepat, Laura keluar dari kamar mandi dengan setelan baju tidur satin yang melekat pada tubuhnya. Rambutnya masih setengah basah. Ia baru selesai bermain dengan para pengawalnya saat sore hari, setelahnya ia tanpa sadar tertidur. Jadi, ia melakukan ritual mandinya saat malam hari.

Rencana malam ini ia akan begadang untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Gadis itu kembali duduk di depan kanvas, mengabaikan rambutnya yang belum ia keringkan.

Baru saja ia menggoreskan sedikit cat akrilik pada kanvas putihnya, ketukan pintu membuat gerakannya terhenti. Berjalan dengan cepat lalu membuka pintu.

“Pelayan Kim ada apa?”

“Tuan muda ingin bertemu dengan Anda, Nyonya. Beliau menunggu di ruang kerja pribadinya.”

Laura hanya mengangguk dan mengikuti langkah lebar pelayan Kim. Saat ia hendak melangkahkan kakinya menaiki tangga, suara pelayan tua itu menginterupsinya.

“Lewat lift saja, Nyonya.”

“Eh? Apa tidak masalah? Bukankah itu lift pribadi milik suami?”

“Untuk mempersingkat waktu. Nyonya. Tuan muda tidak akan marah.”

Tidak ingin ambil pusing, Laura masuk ke dalam lift tersebut. Tidak lama, hanya beberapa detik saja.

Mereka berjalan menelusuri lorong panjang menuju ruang kerja Gaharu. Suara langkah kaki mereka bergema di setiap lorong yang mereka lewati. Sampai pada pintu besar berbahan kayu mahoni, pelayan Kim mempersilahkan Laura masuk.

“Pelayan Kim tidak ikut masuk?”

Pria tua itu menggelengkan kepalanya. “Masuklah, Nyonya. Tuan muda sudah menunggu.”

Laura menarik nafasnya pelan, lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu tebal di depannya. Suara seseorang di dalam sana mempersilahkan ia masuk. Tanpa banyak pikir ia membuka pintu itu dengan perlahan.

Saat masuk, dapat Laura rasakan aura dingin pada ruangan itu. Interior ruangan yang di buat segermelap mungkin benar-benar mencerminkan pemiliknya.

Di ujung meja sana, Gaharu duduk dengan tegak. Setumpuk dokumen berada di hadapannya. Di kedua tangan besarnya, ia fokus menganalisis setiap tabel laporan. Suara gesekan kertas yang ia balik menjadi melodi yang bergema di dalam ruangan itu.

Laura masih diam mematung. Memperhatikan setiap gerak tangan itu. Gaharu mendongak, menatap Laura dengan wajah tanpa ekspresi andalannya.

“Duduk!” titahnya pelan namun tegas.

Laura menurut, ia duduk tepat di depan Gaharu. Hanya meja kerja yang memisahkan jarak mereka.

Tanpa basa-basi, Gaharu menyimpan lembaran laporan itu. Ia membuka laci lalu melempar sebuah kartu hitam yang benar-benar Laura ketahui.

Black card.

Laura tidak langsung mengambil, ia hanya menatap kartu persegi itu. Matanya terangkat seolah bertanya, 'untuk apa?' dan Gaharu merespon dengan decihan sinis.

“Ambil,” ujar Gaharu, suaranya kini lebih rendah. “Gunakan sesukamu. Beli pakaian yang lebih... pantas, atau apa pun yang biasa dilakukan wanita sepertimu saat mendapatkan 'akses' ke rekening suaminya.”

Laura mengerutkan kening, rasa panas mulai menjalar di pipinya, bukan karena tersipu, melainkan karena harga dirinya yang baru saja tersenggol. Ia sedikit menegakkan punggungnya, membiarkan rambutnya yang lembap jatuh di bahu baju tidur satinnya.

Apa penampilannya seburuk itu saat ini?

“Aku tidak membutuhkannya, suami.” Jawab Laura tenang.

“Jangan bersandiwara di depanku. Kemarin kamu mengatakan jika aku tidak menafkahi mu? Aku tidak ingin di cap durhaka karena tidak menafkahi istrinya.” Gaharu mengetukkan jarinya di atas meja. “Gunakan itu untuk keperluan kuliahmu, atau untuk membayar pengawal-pengawal yang tadi sore kamu ajak 'bermain'. Aku tidak suka melihat istriku terlihat menyedihkan atau kekurangan.”

Laura terdiam sejenak, matanya menatap intens pada kartu di atas meja mahoni itu. Ia kemudian mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh permukaan kartu yang dingin, lalu perlahan mendorongnya kembali ke arah Gaharu.

“Jika ini untuk keperluan kuliah, aku masih punya tabungan dari hasil kerjaku sebelumnya. Dan soal para pengawal...” Laura menggantung ucapannya, “...kamu lebih dari cukup untuk dapat mengaji mereka semua, bukan?”

Gaharu menaikkan sebelah alisnya, tampak terkejut sekaligus terhina dengan penolakan halus tersebut. Suasana ruangan yang semula dingin kini terasa semakin mencekam.

“Kamu menolaknya?” Gaharu bertanya dengan nada tak percaya.

“Aku tidak menolak,” balas Laura tenang. “Aku hanya menolak asumsimu bahwa semua hal tentangku dapat di selesaikan dengan kartu itu.”

Laura menghela nafas pelan. Sebelum ia berdiri, ia menegakkan punggungnya, menatap Gaharu berani tanpa ada sedikitpun ketakutan di dalamnya.

“Jika hanya itu yang ingin kamu sampaikan, aku pamit. Aku masih memiliki tugas yang harus aku selesaikan.”

Tanpa menunggu jawaban, Laura beranjak pergi. Menutup pintu tebal itu dengan perlahan, meninggalkan Gaharu yang masih terdiam dengan pandangan lurus menatap kartu yang baru saja ia berikan, namun istrinya tolak.

Seumur hidupnya, ia tidak pernah mendapatkan penolakan apapun. Semua yang ia perintahkan selalu dipatuhi tanpa bantahan sedikitpun.

Namun hari ini, malam ini, ia baru saja di tolak oleh istrinya sendiri?

***

Kamis, 16 April 2026

Published : Kamis, 16 April 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!