NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Malam mulai turun. Di ruang makan kecil yang sederhana itu, sebuah meja kayu sudah tertata rapi. Dinda dengan penuh kasih sayang menyiapkan makan malam.

Menu hari ini sederhana saja: nasi hangat, sayur bening bayam, tahu dan tempe goreng, serta sambal terasi buatan sendiri. Wanginya semerbak memenuhi ruangan, makanan yang biasa mereka makan dengan lahap dan nikmat.

"Ayok Bapak, Ibu... makan dulu ya. Maaf ya menunya cuma segini, gak ada lauk mahal." ajak Dinda dengan senyum hangatnya.

Pak Agus mengusap kepala Dinda sayang. "Ah, ini sudah sangat mewah buat Bapak, Nak. Asal dimakan bareng-bareng, nasi putih pun jadi sedap. Kamu hebat ya, sudah masak seenak ini."

Bu Sari tersenyum haru. "Iya, Dinda memang anak sholehah. Hati baik, masak pun enak."

Namun, di ujung meja, Nayla duduk dengan wajah manyun dan bibir dicibirkan. Ia menatap piring di depannya dengan tatapan jijik dan meluat, seolah-olah itu bukan makanan, melainkan sampah.

Dinda menyodorkan piring ke arah Nayla dengan sopan.

"Nay... ayok makan. Ini sayurnya hangat lho. Ayo makan biar gak sakit perut." ucap Dinda.

Nayla menepis tangan Dinda dengan kasar hingga sendok di piring berdentang nyaris jatuh.

"APA INI?! KAU SEBUT INI MAKANAN?!" bentaknya keras.

Suasana yang tadinya hangat langsung berubah beku dan tegang.

 "Lihat nih! Sayur bening doang! Tahu tempe lagi! Ini kan makanan orang miskin ! Makanan sampah! Kalian mau kasih makan aku pake makan kayak begini?!" hardik nayla .

Dinda menunduk sedih, tangannya gemetar menahan sakit hati.

 "Nay... ini kan makanan biasa kita makan dari dulu. Enak kok, sehat juga. Gak ada yang salah sama makanan ini." ucap Dinda masih dengan nada lembut .

Nayla tertawa sinis lalu berteriak. "ENAK APANYA?! DASAR KAMPUNG! SELERA MAKANAN KAYAK PENGGEMAR SAMPAH! DULU DI RUMAH PAPA LEONARDO, AKU MAKAN STEAK, IGA BAKAR, SEAFOOD! TAPI SEKARANG KARENA KAU, AKU HARUS MAKAN SAMPAH KAYAK BEGINI?!"

Nayla mendorong piringnya hingga terbalik. Nasi dan sayuran berantakan di lantai.

"AKU GAK MAU MAKAN! AKU MUAK! AKU BENCI HIDUP BEGINI! SEMUA GARA-GARA KAU DINDA! KAU PEMBAWA SIAL! KAU SUKA LIHAT AKU TERPURUK KAN?!"

Bu Sari tidak terima melihat perilaku anak kandungnya yang begitu kasar dan tidak tahu terima kasih.

"NAYLA! CUKUP! JANGAN KASAR SAMA DINDA ! Dinda masak capek-capek buat kita, kamu balasnya begitu? Syukuri apa yang ada! Kamu itu sekarang tinggal di sini, jadi kamu harus ikut aturan di sini!"

Nayla menatap Bu Sari dengan tajam. "Ibu juga diam! Ibu kan emang orang miskin, jadi wajar kalau Ibu suka makan sampah begini! Tapi aku beda! Aku terbiasa hidup enak! Aku gak mau nurut sama kalian!"

Pak Agus mengebrak meja pelan namun tegas. "SUDAH! JANGAN BICARA KASAR SAMA IBUMU! Kamu mau makan atau tidak, itu urusanmu. Tapi jangan mengganggu kami dan jangan menghina makanan yang halal ini. Dinda sudah berusaha keras, sedangkan kamu cuma bisa mengeluh dan memaki!"

Nayla berdiri dengan kasar, kursi terdorong ke belakang.

"YASUDAH! AKU GAK MAKAN! BIARIN AKU MATI KELAPARAN! PUAS KALIAN?!"

Nayla berlari masuk ke kamar, membanting pintu sekuat tenaga hingga dinding rumah itu bergetar.

Dinda menatap tumpahan makanan di lantai dengan mata berkaca-kaca. Ia lalu berjongkok dan mulai membersihkannya pelan-pelan.

 "Gak apa-apa Pak, Bu... Biar Dinda bersihin. Mungkin Nayla lagi lapar jadi badmood. Nanti juga dia lapar sendiri dan mau makan."

Bu Sari memeluk bahu Dinda. "Kamu anak baik banget Din... Dia jahat sama kamu, tapi kamu masih belain dia. Sabar ya Nak..."

Malam itu, Pak Agus dan Bu Sari makan dengan lahap, menghargai jerih payah Dinda. Sementara di dalam kamar, Nayla hanya bisa memeluk lututnya, perutnya keroncongan luar biasa, tapi egonya terlalu tinggi untuk mau mengalah dan meminta makan. Ia semakin benci melihat Dinda yang selalu terlihat baik dan bahagia, sementara dirinya sendiri yang merusak kebahagiaannya sendiri.

...****************...

 Di kediaman keluarga Dewantara, suasana malam itu terasa sangat sunyi dan dingin. Rumah yang biasanya ramai dan berisik karena tingkah laku Nayla, kini terasa begitu luas dan hampa.

Liana duduk di sofa ruang keluarga, menatap kosong ke arah meja makan. Bayangan wajah Dinda yang tersenyum tulus dan wajah Nayla yang penuh dendam terus berputar di kepalanya. Leonardo duduk di sebelahnya dengan wajah lelah, memijat pelipisnya yang terasa berat.

Bu Ajeng dan Bu Rosa pun tampak murung. Mereka sadar, kemewahan dan harta yang bertumpuk di rumah ini tidak bisa membeli kebahagiaan dan keharmonisan yang baru saja mereka hancurkan dengan tangan sendiri.

Pak Sam dan Pak Bram duduk di kursi utama, menatap anak-anak dan menantu mereka dengan tatapan bijak namun penuh penekanan.

"Rasanya bagaimana sekarang? Rumah besar ini terasa nyaman tidak kalau tidak ada tawa anak-anak?" tanyanya pelan namun menusuk.

Leonardo menunduk dalam. "Hampa, Pa. Sangat hampa. Kami merasa seperti orang gagal. Gagal mendidik Nayla, dan gagal menjaga hati Dinda."

Pak Bram menghela napas panjang. "Kalian tahu kenapa bisa sampai begini? Karena kalian terlalu cepat mengambil kesimpulan. Karena kalian menilai seseorang hanya dari omongan dan kebiasaan lama, bukan dari hati dan bukti nyata."

Bu Ajeng menangis pelan. "Maafkan kami Yah... Kami buta. Kami terbuai oleh sikap manis Nayla selama ini, sampai-sampai kami tidak sadar kalau hatinya sudah membusuk. Dan kami menyakiti Dinda yang begitu baik ."

 "Itulah pelajaran paling mahal buat kalian semua. Jangan pernah menghakimi orang lain sepihak hanya karena dia pendatang baru atau karena latar belakangnya. Dinda datang membawa kebaikan, tapi kalian sambut dengan kecurigaan. Nayla datang membawa racun, tapi kalian suapi dengan kasih sayang."

Liana air matanya jatuh lagi. "Liana sadar Pa... Liana salah besar. Liana menampar anak sendiri karena percaya fitnah. Sekarang Liana mengerti kenapa Dinda enggan pulang. Dia takut, dia kecewa."

"Maka dari itu, mulai sekarang kalian harus berubah. Kalian harus lebih dewasa, lebih bijaksana. Jangan mudah terpancing emosi. Jangan mudah percaya omongan orang lain sebelum kalian cari kebenarannya sendiri."

Pak Sam menatap mereka satu per satu. "Ingat ini baik-baik: Kekayaan dan jabatan tidak membuat kita jadi orang baik. Tapi hati yang bersih dan adil itulah yang membuat kita layak disebut manusia. Kalian punya segalanya, tapi kalau hati kalian tidak adil, kalian akan tetap menderita seperti sekarang."

 "Baik Pa. Kami mengerti. Mulai sekarang kami akan belajar memperbaiki diri. Kami tidak akan gegabah lagi. Kami akan berusaha sekuat tenaga mendapatkan kepercayaan Dinda kembali, pelan-pelan."

"Itu baru benar. Dan untuk Nayla... biarkan dia di sana dulu. Biarkan dia merasakan kerasnya kehidupan. Mungkin dengan begitu dia bisa sadar dan bertobat. Itu juga cara kita menyelamatkan masa depannya."

Malam itu, di rumah mewah itu, mereka tidak tidur dengan nyenyak. Mereka merenungi kesalahan demi kesalahan, berjanji dalam hati untuk menjadi orang tua dan keluarga yang jauh lebih baik di masa depan.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!