Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
.
Sinar matahari baru saja menyembul di ufuk timur. Namun, paviliun milik keluarga Wijaya sudah terlihat ramai. Suasana yang biasanya terasa sepi, kaku, dan terlalu rapi, kini penuh dengan suara tawa anak-anak. Langkah kaki kecil yang berlarian, dan percakapan ringan para penghuni baru membuat paviliun itu hidup.
Beberapa pelayan yang memperhatikan semua gerak mereka merasa heran.
“Anak-anak itu tadi bangun sendiri?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya. Lihat itu, masih kecil saja sudah bisa mandi sendiri, bisa pakai seragam sendiri juga” sahut yang lain merasa kagum.
Tak ada teriakan. Tak ada tangisan. Semua berjalan teratur. Seolah mereka sudah terbiasa hidup mandiri sejak lama.
Namun, di antara para pelayan yang kagum itu, satu pasang mata menatap tidak suka. Kartini, pelayan wanita paruh baya dengan riasan tebal melipat tangan di dada.
“Hilih… cuma seperti itu saja. Ya wajar lah penumpang baru. Mereka kan lagi cari muka di depan Tuan besar. Nanti kalo sudah lama juga mulai bertingkah,” gumamnya pelan.
*
Setelah memastikan anak-anak asuhnya berangkat ke sekolah dengan mobil jemputan yang disiapkan oleh Dirga, Amanda bergegas ke dapur rumah utama. Tangannya cekatan membantu menyiapkan sarapan.
Nurdin, seorang koki tua mendekatinya. “Bu Amanda, tidak usah repot-repot begini. Ini sudah tugas kami,” ucapnya sungkan karena Amanda adalah orang yang diterima oleh Tuan mereka.
Amanda tersenyum lembut tanpa menghentikan pekerjaannya. “Tidak apa-apa, Pak. Masa yang lain sibuk, saya cuma duduk diam.”
“Kamu itu cuma orang baru,” Kartini menyela dengan sarkas. “Mana tahu kamu selera Tuan Besar?”
“Kerjakan pekerjaanmu sendiri!” Bu Rani, pelayan yang merawat Putri sejak kecil datang menegur. “Jangan sibuk dengan pekerjaan orang lain!”
Kartini pergi dengan menghentakkan kaki kesal. Tidak ada yang berani membantah jika Bu Rani yang bicara, karena Bu Rani sudah seperti ibunya Putri.
Tap tap tap…
Suara sol sepatu beradu dengan lantai marmer terdengar semakin dekat.
Amanda yang sedang berdiri di dekat meja, menuangkan sup ke dalam mangkuk menoleh. “Putri?” serunya sambil tersenyum melihat siapa yang datang.
“Bu Manda?” Putri membalas senyuman Amanda sambil melangkah mendekat. Matanya menyapu sekeliling, lalu kembali tertuju pada Amanda yang masih sibuk.
“Kenapa Bu Manda di sini?” tanya Putri heran. “Bu Manda kan harus siap-siap untuk mengajar? Di sini sudah ada pelayan yang mengurus semuanya.”
Amanda tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya. “Tidak apa-apa, Putri. Masih jam segini. Ibu jadwal mengajar nya agak siang kok,” jawabnya santai.
Putri mendengus pelan pertanda tidak setuju. Amanda datang ke rumah ini bukan sebagai pelayan. Dia bahkan sudah mengumumkan itu sejak Amanda baru datang kemarin.
Tapi Amanda tidak berhenti. Dia tetap melakukan pekerjaan nya. “Badan ibu akan sakit semua kalau tidak melakukan apa-apa,” alasannya. Tentu saja karena dia merasa berhutang budi keluarga nya sudah ditampung. Mana mungkin hanya akan berdiam diri saja.
Bahkan ayahnya saja ikut membantu pekerjaan tukang kebun karena merasa tak enak hati. Hanya Adinda yang tidak ikut melakukan apapun, karena dia akan dijemput oleh petugas medis yang disiapkan oleh Dirga untuk mulai menjalani perawatan kakinya.
“Serah Ibu, lah!” Akhirnya Putri tak lagi menyuarakan protesnya. Membiarkan Amanda melakukan apa yang wanita itu suka.
Amanda hanya tertawa kecil, lalu menyerahkan sebuah nampan pada pelayan.
“Ini untuk di meja makan, ya?" Putri yang melihat itu langsung sigap membantu. “Biar aku bantu, Bu.”
Amanda sempat terkejut, tapi tidak menolak. Keduanya pun berjalan berdampingan keluar dari dapur menuju ruang makan.
Bu Rani yang melihat interaksi mereka, melihat bagaimana Putri tertawa atau cemberut, ekspresi yang selama ini tak pernah ia lihat, mengusap setitik air mata yang turun tanpa permisi.
“Sudah bertahun-tahun tidak melihat Non Putri seperti itu,” gumamnya. “Semoga kehadiran Bu Manda bisa mengobati luka yang lama tersembunyi. Nyonya… di atas sana Nyonya juga pasti tersenyum, kan?”
Bu Rani menekan dadanya yang terasa sesak kala mengingat kecelakaan yang menimpa Putri dan ibunya dua puluh tahun lalu. Ibunya Putri, Kakek, dan Neneknya Putri, juga Pak Adi, sopir yang membawa mobil tersebut meninggal.
Hanya Putri yang selamat. Itu pun Putri sempat mengalami trauma parah. Untuk membuat Putri lepas dari trauma, Tuan Dirga memanggil seorang dokter hipnoterapi. Setelah itu, demi keamanan, Putri harus disembunyikan dan hidup di desa selama bertahun-tahun. Dan sejak kecelakaan itu juga, Tuan Dirga menjadi lebih dingin dan tak tersentuh.
"Sekarang, sepertinya semua akan berbeda." Bu Rani tersenyum menyimpan harap dalam hati.
*
Meja makan besar sudah tertata rapi. Piring-piring putih berjejer, gelas kristal berkilau, dan berbagai hidangan tersusun menggoda.
Tak lama kemudian, Dirga masuk. Seperti biasa, rapi, dingin, dan penuh wibawa.
Langkahnya tenang, sorot matanya sekilas menyapu ruangan, lalu berhenti saat melihat Amanda duduk bersebelahan dengan Putri. Alisnya sedikit terangkat.
Amanda yang menyadari tatapan itu mencoba bersikap biasa. Namun, tanpa sadar tangannya sedikit mengepal.
"Kamu harus bisa meyakinkan Putri bahwa kamu jatuh cinta padaku dan mencoba mengejarku”
Kata-kata Dirga dua hari lalu kembali terngiang jelas di kepalanya.
Amanda menelan ludah. “Gila… ini benar-benar gila,” gumamnya dalam hati. Matanya melirik sekilas ke arah Dirga yang kini sudah duduk di kursinya dengan wajah datar seperti biasa.
“Bagaimana caranya aku bersikap seperti wanita yang jatuh cinta… pada pria sedingin itu?” Amanda menarik napas dalam. “Tapi ini demi mereka.”
Bayangan Adinda, ayahnya, dan anak-anak asuhnya terlintas cepat. Perlahan, ia mengambil nafas dalam. “Baiklah… aku coba. Semangat, Manda, semangat. Kamu pasti bisa. Cuma pura-pura saja kan? Apa susahnya?”
Amanda menggerakkan tangannya untuk membuka piring Dirga.
Putri dan Bu Rani yang melihat itu sempat saling pandang.
“Silakan, Tuan…” ucapnya pelan sambil menuangkan sedikit nasi dan sup ke dalam piring di depan Dirga.
Dirga tidak langsung merespon. Matanya sedikit menyipit, menatap tangan Amanda yang gemetar halus.
Amanda mencoba tersenyum, meski dalam hatinya ingin mengumpat. “Di dapur rumah Tuan ada banyak bahan makanan. Saya mencoba resep baru, tidak tahu apa Tuan akan suka,” lanjutnya, berusaha terdengar wajar.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa berbeda.
Bu Rani tersenyum dalam hati. Putri mengerutkan kening. “Apa karena Ayah sudah menolong Ardi dan membawa keluarganya ke sini, lalu Bu Manda merasa harus bersikap hormat pada Ayah?”
Kartini yang berdiri tak jauh dari mereka mengepakkan tangan dan menatap Amanda dengan tatapan lebih tajam. "Kurang ajar! Berani-beraninya dia menggoda Ayang Dirga!"
Sementara itu, Dirga perlahan menyandarkan punggungnya.
Matanya menatap Amanda lekat, seolah membaca sesuatu yang tersembunyi.
Sudut bibirnya bergerak sangat tipis, hampir tak terlihat.
“Jadi… kamu mulai bermain, Amanda?”
Dan tanpa disadari siapapun, permainan itu baru saja dimulai.
ya kali rumah Segede itu ga ada cctv nya🤣🤣
makanya punya hati jangan jahat
kamu Kartini ibu jahat
aq mampir k cerita kk ,,