"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jatuh
Malam di Jakarta selalu memiliki caranya sendiri untuk menelanjangi kejujuran. Di balik gemerlap lampu gedung pencakar langit yang tampak seperti permata berserakan, ada kesunyian yang mencekam, tempat di mana topeng-topeng mulai retak.
Aku duduk di kursi penumpang mobil Bastian. Kami baru saja menyelesaikan makan malam di sebuah restoran atap gedung di kawasan Jakarta Selatan. Bukan makan malam romantis yang penuh gombalan murahan, melainkan percakapan yang begitu jernih tentang hidup, ambisi, dan rasa takut. Untuk pertama kalinya, aku merasa dihargai bukan karena apa yang bisa kulakukan untuk orang lain, tapi karena siapa aku saat tidak melakukan apa-apa.
"Kamu terlalu sering menjadi payung untuk orang lain sampai lupa kalau kamu sendiri butuh tempat bernaung, Arelia," ucap Bastian lembut. Suaranya yang berat namun tenang menjadi satu-satunya melodi yang menenangkan sarafku malam ini.
Aku menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca mobil. "Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa merasa bahwa kegunaanku adalah nilaiku, Bastian. Bersama Kaivan, aku belajar bahwa aku berharga hanya jika aku bisa membereskan kekacauannya."
Bastian menghentikan mobilnya di lampu merah Sudirman. Ia menoleh, menatapku dengan binar mata yang begitu dalam. "Nilaimu tidak ditentukan oleh seberapa bersih kamu bisa merapikan kekacauan orang lain. Kamu adalah pusat dari duniamu sendiri, Arelia. Dan sudah saatnya kamu berhenti membiarkan orang lain menjadi parasit di orbitmu."
Tepat saat itu, ponsel di tas kerjaku bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor kantor—nomor bagian IT keamanan data. Jantungku mencelos. Firasat buruk yang tadi sore Bastian sampaikan seolah baru saja menemukan bentuknya.
"Halo?" suaraku sedikit bergetar.
"Bu Arelia, maaf mengganggu malam Anda. Sistem keamanan firewall kami baru saja memblokir akses paksa ke folder audit final Adhitama Group. Seseorang menggunakan terminal di lantai lima belas, tepatnya dari kubikel lama Anda, tapi menggunakan protokol override admin yang seharusnya sudah tidak aktif."
Aku memejamkan mata. Rasa mual itu muncul kembali. "Siapa?"
"Log sistem menunjukkan upaya masuk dilakukan menggunakan kredensial lama Bapak Kaivan yang entah bagaimana masih tersimpan di cached memory terminal tersebut. Kami sudah mematikan seluruh jaringan di lantai tersebut sekarang."
Aku mematikan sambungan telepon dengan tangan gemetar. Bastian yang mendengarku dari tadi hanya menatapku tanpa ekspresi terkejut. Ia sudah tahu. Ia sudah memperingatiku sore tadi.
"Dia benar-benar melakukannya," bisikku. Suaraku terdengar seperti serpihan kaca yang pecah.
"Ayo kita ke kantor," kata Bastian tegas. Ia tidak membuang waktu. Ia memutar balik mobilnya di tengah jalanan yang mulai sepi.
Lantai lima belas malam itu tampak seperti pemakaman yang dingin. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu darurat berwarna redup yang memantul di lantai marmer yang mengkilap—pemandangan yang persis seperti sampul hidupku yang suram.
Begitu pintu lift terbuka, aku melihat sosok yang sangat kukenal sedang duduk di kursinya, di kubikel lama di sebelah mejaku. Kaivan. Ia tidak menyadari kedatangan kami. Ia tampak sedang membanting ponselnya ke meja dengan frustrasi, napasnya memburu, dan wajahnya tampak pucat di bawah pantulan layar monitor yang menampilkan pesan Access Denied.
"Apa yang sedang kamu cari, Kaivan?" suaraku menggema di ruangan yang sunyi itu.
Kaivan terlonjak. Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya terpental ke belakang. Begitu melihatku, dan melihat Bastian yang berdiri tegap di sampingku, wajahnya berubah dari pucat menjadi merah padam oleh rasa malu dan amarah.
"Rel... aku... aku cuma mau cari file cadangan untuk laporan sektor D," ia mulai berbohong. Kebohongan yang kini terdengar begitu menjijikkan di telingaku.
"Dengan menggunakan protokol override admin? Dengan mencoba menembus folder audit final yang bukan lagi wewenangmu?" aku melangkah maju, membiarkan suaraku menjadi belati yang menusuknya. "Kamu ingin menyabotase dataku agar aku terlihat tidak kompeten besok pagi, kan? Agar Bastian membatalkan kontraknya denganku dan kembali memohon bantuanmu?"
"Jangan asal tuduh, Arelia!" Kaivan berteriak, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Aku cuma mau bantu! Kamu itu sombong sekarang! Sejak ada dia, kamu merasa paling hebat dan buang aku begitu saja!"
"Saya yang akan menuduh, Kaivan," Bastian melangkah maju, kehadirannya seolah menyusutkan ruang di sekitar Kaivan. "Tindakanmu barusan bukan hanya soal sentimen pribadi. Ini adalah percobaan pencurian data strategis perusahaan. Dan sebagai pemilik proyek ini, saya bisa menyeretmu ke polisi malam ini juga."
Kaivan tertawa hambar, matanya berkaca-kaca karena amarah yang tidak berdaya. "Polisi? Silakan! Seret aku! Biar semua orang tahu kalau Bastian Adhitama yang terhormat merusak persahabatan tujuh tahun orang lain demi analis pintarnya ini!"
"Tujuh tahun persahabatan ini tidak dirusak oleh Bastian, Kaivan," kataku, air mataku akhirnya jatuh, namun ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kemarahan yang teramat sangat. "Kamu yang merusaknya. Kamu yang merobeknya berkeping-keping setiap kali kamu berbohong demi Nadine. Kamu yang menghancurkannya saat kamu menganggap aku hanya sebagai alat, bukan manusia."
Aku berjalan mendekati mejanya, mengambil sebuah bingkai foto kecil yang masih ada di sana—foto kami saat wisuda. Aku menjatuhkannya ke lantai. Kaca bingkai itu pecah, hancur berkeping-keping di bawah kakiku.
"Dulu aku merasa kamu adalah rumah tempatku pulang, Van. Tapi sekarang aku sadar, kamu bukan rumah. Kamu adalah penjara. Dan aku... aku baru saja bebas."
Kaivan terdiam. Ia melihat pecahan kaca itu, lalu menatapku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Kaivan yang benar-benar 'jatuh'. Tidak ada lagi pesona pria keren, tidak ada lagi manipulasi manis. Yang tersisa hanyalah pria dewasa yang pengecut dan tidak bertanggung jawab.
"Ponselmu," pintaku dingin.
"Buat apa?"
"Hapus semua dataku. Jangan pernah kirim pesan lagi. Jangan pernah sebut namaku lagi di depan siapa pun," aku menatapnya dengan pandangan yang paling asing yang pernah kumiliki. "Besok pagi, Pak Dimas akan menyerahkan surat pemecatanmu secara tidak hormat. Jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depan proyek Adhitama lagi."
"Arelia, tolong... aku punya cicilan... Nadine butuh pengobatan..." Kaivan mulai mengiba, mencoba menggunakan senjata terakhirnya.
"Nadine adalah pilihanmu, Kaivan. Maka dia adalah tanggung jawabmu. Bukan bebanku," aku berbalik, tidak ingin lagi melihatnya tenggelam dalam kehinaannya sendiri.
Aku berjalan menuju lift. Bastian mengikutiku, namun sebelum masuk, ia menoleh ke arah Kaivan. "Saya akan membiarkan Anda pulang malam ini tanpa polisi, hanya karena Arelia meminta saya untuk tidak mengotori tangannya dengan sampah seperti Anda. Pergilah. Dan jangan pernah mencoba menjadi bayang-bayang lagi."
Di dalam lift, aku merasa tubuhku gemetar hebat. Bastian merangkul bahuku, memberiku kehangatan yang selama ini selalu kurindukan namun tidak pernah kudapatkan dari pria yang kucintai selama tujuh tahun.
"Semuanya sudah selesai, Arelia. Kamu sudah memangkas dahan yang mati itu," ucap Bastian lembut.
"Rasanya sakit, Bastian. Meskipun itu benar," bisikku.
"Itu adalah sakit karena penyembuhan. Bukan sakit karena luka baru."
Saat kami melangkah keluar dari gedung, Jakarta terasa begitu luas di hadapanku. Tidak ada lagi Kaivan yang menungguku dengan tumpukan tugas. Tidak ada lagi Nadine yang menghantuiku dengan drama-dramanya.
Aku menarik napas dalam-dalam. Udara malam yang lembap terasa begitu murni di paru-paruku.
Nyaris jadi kita.
Kalimat itu kini bukan lagi sebuah penyesalan. Ia adalah sebuah epilog untuk buku lama yang baru saja kubakar. Malam ini, di bawah langit SCBD yang acuh tak acuh, aku tidak lagi merasa seperti tempat pulang yang ditinggalkan. Aku adalah pengembara yang baru saja menemukan arah jalannya sendiri.
Jatuh. Kaivan telah jatuh dari takhtanya yang semu. Dan dalam jatuhnya dia, aku baru saja belajar untuk terbang.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain