Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Tipis Antara Profesional dan Personal
Sudah dua hari sejak malam Ardi menyentuh Arumi setelah sekian lama. Malam yang terhenti begitu saja saat kenikmatan sudah akan mencapai puncaknya. Malam yang membuat Arumi bertanya-tanya mengapa Ardi tiba-tiba berhenti saat mereka sudah hampir klimaks.
"Aku berangkat dulu," pamit Ardi, kembali pada mode dinginnya.
"Hati-hati, Pa," kata Arumi, mencoba bersikap biasa seperti tak mencurigai apapun.
Dua hari ini, Ardi merutuki dirinya karena teringat Farida saat sedang bercinta dengan isterinya.
"Wanita sialan!" umpat Ardi saat mengemudikan mobilnya menuju kantor.
"Ck!"
Ardi pikir, malam itu, semua akan kembali seperti semula. Normal. Dan Ardi bisa melupakan kesalahannya. Namun, ternyata, bayangan Farida yang bergairah malah melekat erat di pikirannya saat sedang bersama Arumi.
"Gila! Gue gila!" umpat Ardi, kesal.
Sementara itu, Arumi sudah memarkirkan sepeda listriknya di area parkir klinik Dokter Arisa. Arumi menghela nafas panjang sebelum melangkah memasuki klinik. Selain untuk menenangkan pikirannya tentang Ardi, dia juga sedang menyiapkan dirinya untuk bertemu Dimas setelah insiden genggam tangan yang belum dia lupakan.
"Selamat pagi, Bu Arumi," sapa Lia ramah.
"Pagi, Mbak,"
"Bu Arumi mau langsung konsultasi atau mau atur jadwal?" tanya Lia menawarkan.
"Mmm... Dokter Dimas udah dateng, Mbak?" tanya Arumi karena dia tidak melihat mobil Dimas terparkir di area parkir klinik.
"Sudah, Bu. Kalau Ibu mau langsung konsultasi, bisa langsung masuk ke ruang konsultasi," kata Lia.
"Oh. Mmm... Kalau gitu... saya ke toilet sebentar ya, Mbak, baru masuk ruang konsul," kata Arumi.
"Silakan, Ibu,"
Arumi berlalu melewati ruang konsultasi menuju toilet di ujung lorong. Jujur saja, Arumi belum siap bertemu Dimas. Tapi, kalau dia tidak datang di hari konsultasi rutin, itu akan lebih mencurigakan lagi.
"Oke. Atur nafas perlahan. Tenang, Rumi. Ini cuma sesi konsultasi biasa. Dia dokter. Masih muda dan lajang. Nggak mungkin dia tertarik sama wanita yang sudah bersuami dan beranak satu," bisik Arumi, menenangkan dirinya. Arumi menghela nafas panjang sebelum akhirnya keluar dari toilet dan menuju ruang konsultasi.
Tangan Arumi sudah memegang gagang pintu, namun dirinya masih ragu untuk masuk.
"Apa nggak bisa dibuka?" tanya sebuah suara dari belakang Arumi, mengejutkan Arumi. Arumi menoleh. Dimas tersenyum ramah seperti biasa.
"Eh, Dok," Arumi salah tingkah lalu melepaskan tangannya dari gagang pintu.
"Mari, silakan masuk," kata Dimas ramah sambil membuka pintu ruang konsultasi.
Arumi menatap Dimas yang berjalan menuju meja kerjanya. Sepertinya, Arumi terlalu berlebihan memikirkan insiden genggaman tangan itu.
'Sepertinya... aku yang kepedean,'
***
Dimas sudah akan masuk ke ruang konsultasi lagi, saat dirinya mendapati Arumi berdiri terpaku di depan pintu ruang konsultasi sambil memegang gagang pintu. Jantung Dimas mendadak berdenyut membuatnya sedikit sesak nafas tiba-tiba. Dimas menghela nafas panjang, sebelum akhirnya mulai bicara.
"Apa nggak bisa dibuka?" tanya Dimas sambil sebisa mungkin tersenyum ramah seperti biasa.
"Eh, Dok," Arumi terlihat salah tingkah. Dimas tahu, Arumi menyadari perbedaan perlakuannya tempo hari.
"Mari, silakan masuk," kata Dimas ramah sambil membuka pintu ruang konsultasi.
Arumi mengikuti di belakang Dimas dengan ragu-ragu. Entah mengapa, kunjungan Arumi kali ini membuat Dimas sulit untuk bersikap profesional. Ada dorongan emosi aneh yang membuat Dimas ingin bertanya lebih jauh tentang hari itu, hari dimana wajah Arumi begitu membuat nyeri dada Dimas.
"Silakan, Bu," kata Dimas, mempersilakan Arumi duduk di kursi konseling. Arumi mengangguk, lalu duduk dengan tenang di kursi konseling tanpa menyandarkan punggungnya.
"Bagaimana kabar Ibu hari ini?" tanya Dimas membuka sesi konsultasi.
"Seperti biasa, Dok," jawab Arumi singkat.
"Seperti biasa? Belum ada perubahan sikap baik dari Bu Arumi sendiri maupun dari suami?" tanya Dimas mencoba bertanya dengan nada yang sangat sopan.
Arumi diam. Bukan karena dia masih teringat insidennya bersama Dimas. Tapi, dia tidak tahu harus mulai darimana mengatakannya pada Dimas soal malam penuh cinta yang berubah jadi nestapa itu.
Dimas diam. Menunggu. Dia berharap, Arumi tidak menanyakan apapun soal sikapnya tempo hari.
"Mari kita buat Ibu rileks dulu," ajak Dimas, melihat ketegangan di raut wajah Arumi. Arumi menatap Dimas lalu mengangguk.
"Baik. Tarik nafas dalam-dalam. Tahan sebentar, keluarkan dari mulut perlahan. Baik, seperti itu, Bu. Mari kita ulang sama-sama. Tarik dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan. Baik," kata Dimas memberi instruksi pada Arumi agar menjadi lebih tenang dan rileks. Tanpa sadar, Arumi sudah menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi konseling.
"Baik, Ibu bisa mulai kapanpun Bu Arumi siap," kata Dimas.
Arumi menatap langit-langit ruang konsultasi. Dia masih ingat bagaimana malam itu semua akan kembali seperti semula. Semua terasa indah. Hingga pada akhirnya, semua terhenti begitu saja, menggantung tanpa ada penjelasan.
"Malam itu... dua hari yang lalu... setelah sekian lama... kami... melakukannya..." Arumi berhenti.
Dimas menelan ludahnya. Dia tahu, cepat atau lambat dia akan memasuki area ini. Namun, entah mengapa, ada sedikit nyeri yang terasa dalam hatinya.
"Hubungan suami isteri yang... sudah lama tak semanis itu..." lanjut Arumi. Dimas masih terdiam, menunggu.
"Jujur saja, dalam setahun terakhir... suami saya... tidak benar-benar menyentuh saya," kata Arumi.
"Saya tidak curiga dia selingkuh. Karena seperti yang saya pernah ceritakan pada Dokter, semua normal," lanjut Arumi.
"Tiga hari yang lalu... saya coba menanyakan... alasan dia pulang telat tiap hari," kata Arumi. Dimas masih diam, menyimak.
"Bukan jawaban yang saya dapat. Tapi amarah," lanjut Arumi.
"Itu sebabnya... waktu itu... entah mengapa... saya berhenti di depan klinik," kata Arumi, dengan suara yang lebih lirih dan tatapan yang sudah turun dari langit-langit ke dinding. Dimas kini mendapat jawaban atas mata sembab Arumi waktu itu.
"Tapi, setelah itu... malamnya... entah mengapa... suami saya menyentuh saya..." Arumi masih melanjutkan ceritanya.
"Kami... sama-sama... menikmatinya. Atau... begitu yang saya rasa..." lanjut Arumi. Ada nada ragu-ragu dalam suaranya.
"Begitu yang Anda rasa?" tanya Dimas heran. Arumi menoleh, menatap Dimas, lalu mengangguk.
"Saya pikir... dia juga menikmatinya," kata Arumi. Dimas semakin mengerutkan dahinya.
"Tapi... dia berhenti... di saat..." Arumi menghentikan kalimatnya. Dia merasa sudah terlalu jauh menceritakan semuanya.
Dimas beranjak, berjalan menuju Arumi, lalu duduk di kursi dekat kursi konseling.
"Apa yang Arumi pikirkan soal ini?" tanya Dimas sambil menatap lekat-lekat manik mata Arumi. Arumi menatap Dimas dengan tatapan putus asa yang mendalam.
"Apa yang Arumi pikirkan tentang itu? Mengapa tiba-tiba dia berhenti saat kalian sama-sama belum terpuaskan?" tanya Dimas dengan nada gemas. Entah mengapa, Dimas terlihat sangat marah saat itu.
Arumi menatap Dimas dengan tatapan terkejut yang jelas. Kini, Arumi benar-benar yakin, genggaman tangan Dimas pagi itu bukan hanya sekedar kepedulian Dimas sebagai dokter. Melainkan sebagai pria.
'Dokter... jangan bilang kalau Dokter...'
***