NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 2

Hening yang menyiksa merayap di dalam ruangan seluas dua ratus meter persegi itu. Hanya terdengar dengung pelan dari sistem pendingin udara sentral dan detak jam dinding vintage di sudut ruangan.

"Istri?"

Kata itu keluar dari bibir Yvone layaknya duri yang tersangkut di tenggorokan. Ia menatap Dylan seakan pria di hadapannya baru saja berbicara dalam bahasa asing. Tawanya hambar, singkat, dan bergetar. "Anda pasti bercanda. Lelucon macam apa ini, Tuan Hartono? Anda seorang miliarder butuh istri sewaan?"

Ekspresi Dylan tidak berubah sedikit pun. Sorot matanya tetap sedingin es di kutub utara. "Aku tidak pernah bercanda saat menyangkut bisnis, Nona Larasati."

"Tapi kenapa saya?!" Yvone setengah berseru, kepanikan mulai mengambil alih akal sehatnya. "Kita bahkan tidak saling kenal! Di luar sana pasti ada ratusan wanita sosialita, aktris, atau putri pejabat yang akan membunuh demi bisa memakai cincin Anda! Kenapa Anda memilih anak dari seorang pria yang sedang dijerat kasus korupsi?"

Dylan menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menyapu penampilan Yvone dari atas ke bawah, sebuah penilaian tak kasat mata yang membuat Yvone merasa ditelanjangi secara psikologis.

"Justru karena kau adalah anak dari tersangka korupsi," jawab Dylan lambat-lambat, setiap suku katanya tajam dan presisi. "Saat ini, perusahaanku sedang dalam tahap finalisasi merger mega-proyek pariwisata senilai dua puluh triliun dengan pemerintah. Proyek di Bali. Dewan direksi dan kementerian menuntut stabilitas. Mereka menginginkan sosok pemimpin yang memiliki citra 'kekeluargaan' yang kuat, bukan pria lajang yang kehidupannya terus-menerus disorot media."

Dylan mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Yvone yang ketakutan. "Para wanita sosialita yang kau sebutkan tadi? Mereka membawa agenda politik keluarga mereka masing-masing. Jika aku menikahi salah satu dari mereka, aku mengundang ular ke dalam rumahku. Tapi kau... kau berbeda."

"Apa maksud Anda?"

"Kau putus asa. Kau tidak memiliki sekutu, tidak memiliki ambisi kekuasaan, dan tidak memiliki perlindungan apa pun selain dariku. Kau bisa dikendalikan," ucap Dylan dengan kejam. "Lagipula, latar belakang ayahmu yang sedang diselidiki memberiku keuntungan. Jika aku menikahimu dan 'membantu' penyelidikan secara transparan, publik dan elit politik akan melihatku sebagai pria yang bermoral tinggi, tidak memihak, dan penuh belas kasih. Itu adalah publisitas yang tidak bisa dibeli dengan uang."

Yvone merasa perutnya mual. Pria ini tidak melihat manusia; ia hanya melihat pion di atas papan caturnya. Ayahnya yang sedang berada di ambang maut, kehancuran keluarganya semua itu hanyalah variabel kecil yang dihitung oleh otak kalkulatif Dylan Alexander Hartono untuk meraup keuntungan triliunan.

"Buka map itu," perintah Dylan, suaranya memecah lamunan Yvone.

Dengan tangan gemetar, Yvone meraih map hitam tersebut dan membukanya. Halaman demi halaman berisi klausa hukum yang diketik rapi. Matanya bergerak cepat membaca poin-poin utama yang tercetak tebal.

Klausa 1: Pihak Kedua (Yvone Larasati) bersedia menjadi istri sah Pihak Pertama (Dylan A. Hartono) secara sipil selama kurun waktu 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal pernikahan.

Klausa 2: Pihak Kedua diwajibkan tinggal secara permanen di kediaman Pihak Pertama (Penthouse Menara Alexander) dan mengikuti seluruh protokol keamanan keluarga.

Klausa 3: Pihak Kedua harus bersedia mendampingi Pihak Pertama dalam setiap acara publik, pertemuan bisnis, maupun jamuan politik, serta menampilkan citra 'istri yang sempurna dan suportif'.

Klausa 4: Tidak ada kewajiban pemenuhan hak conjugal (hubungan intim) secara privat. Namun, afeksi di depan publik harus dilakukan dengan sangat meyakinkan.

Klausa 5: Jika Pihak Kedua melanggar kontrak, membocorkan perjanjian ini kepada pihak ketiga, atau mengajukan perceraian sebelum masa kontrak habis, maka perlindungan terhadap Bapak Budi Larasati akan dicabut seketika, dan Pihak Kedua bersedia menanggung denda penalti sebesar (Seratus Miliar Rupiah).

Yvone hampir menjatuhkan map itu. Seratus miliar? Bahkan jika ia bekerja seumur hidup tanpa makan dan minum, ia tidak akan pernah mengumpulkan uang sebanyak itu.

"Ini... ini bukan kontrak kerja," bisik Yvone, mendongak menatap Dylan. Air mata keputusasaan akhirnya lolos dan mengalir di pipinya. "Ini surat kepemilikan. Anda ingin membeliku."

"Sebut saja sesukamu," balas Dylan dingin. Ia mengambil sebuah pena emas Montblanc dari saku jasnya dan meletakkannya di atas kontrak. "Waktumu menipis, Yvone. Jaksa penuntut umum sedang dalam perjalanan menuju rutan saat ini. Sekali mereka memindahkan ayahmu ke sel isolasi khusus, aku tidak bisa lagi menjamin keselamatan nyawanya dari orang-orang Pak Hadi."

Nama itu Pak Hadi. Menteri yang disebut-sebut Pak Darma sebagai dalang penjebakan ayahnya.

Yvone memejamkan mata. Bayangan wajah lelah ayahnya di bawah guyuran hujan malam itu berkelebat di benaknya. Jangan hubungi teman-teman Ayah. Jangan percaya siapa pun. Ayahnya tahu ia akan dibungkam. Ayahnya tahu ia tidak akan selamat.

Di rumah, adik perempuannya, Lia, sedang menangis sendirian, menunggu kabar darinya.

Yvone hanya memiliki dirinya sendiri. Kebebasannya, masa depannya, impiannya semua itu tidak ada harganya dibandingkan nyawa Budi Larasati.

Dengan napas yang ditarik tajam dan menyakitkan, Yvone membuka matanya. Ia menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan, mengubah raut wajahnya yang hancur menjadi topeng ketangguhan.

Ia meraih pena emas itu. Tinta hitam menggores kertas, menyematkan nama Yvone Larasati di atas garis putus-putus. Tanda tangan yang menjadi saksi bisu kematian kebebasannya.

Ia mendorong map itu kembali ke arah Dylan. "Sudah selesai. Anda mendapatkan boneka Anda."

Dylan melihat tanda tangan itu sejenak, wajahnya tak menunjukkan emosi, kepuasan, maupun kemenangan. Ia hanya mengangguk pelan, seolah ini adalah hasil yang sudah ia pastikan sejak awal.

Ia mengangkat telepon di mejanya dan menekan satu tombol. "Marco," ucap Dylan ke dalam speakerphone. "Kontraknya sudah ditandatangani. Eksekusi Protokol B. Pindahkan Budi Larasati ke fasilitas penahanan VIP di bawah pengawasan orang-orang kita malam ini juga. Jangan biarkan orang-orang kejaksaan menyentuhnya."

"Baik, Bos. Segera dilaksanakan," suara seorang pria yang Yvone duga adalah Marco, sepupu sekaligus pengacaranya terdengar dari seberang.

Sambungan terputus. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, sebuah panggilan masuk ke ponsel Yvone yang berada di dalam tasnya.

Yvone mengambilnya dengan panik. Nama 'Pak Darma' tertera di layar.

"V-Vone!" suara Pak Darma terdengar terengah-engah dan penuh ketidakpercayaan. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi kepala rutan baru saja membatalkan surat pemindahan ayahmu! Mereka malah memindahkannya ke sel khusus dengan fasilitas kesehatan lengkap, dan ada empat penjaga keamanan pribadi yang berjaga di depan pintunya. Ayahmu aman, Vone! Ayahmu aman!"

Tangis lega pecah dari bibir Yvone. "T-Terima kasih, Pak Darma. Tolong pantau terus Ayah." Ia mematikan sambungan dan memeluk ponselnya di depan dada, dadanya naik turun meraup oksigen. Beban raksasa yang menghimpit paru-parunya selama tiga hari terakhir sedikit terangkat.

Ayahnya aman. Setidaknya untuk saat ini.

Tapi ketika Yvone mengangkat kepalanya, ia tersadar bahwa ia baru saja keluar dari satu sangkar harimau, hanya untuk masuk ke dalam rahang naga.

Dylan Alexander Hartono telah berdiri dari kursinya. Pria itu mengancingkan jasnya dengan elegan, berjalan mengitari meja, dan berhenti tepat di depan Yvone. Jarak mereka sangat dekat, membuat Yvone harus mendongak untuk menatap wajah pria setinggi hampir seratus sembilan puluh sentimeter itu.

Wangi maskulin dari cologne mahal beraroma vetiver dan cedarwood menguar, mendominasi indra penciuman Yvone. Entah kenapa, aroma itu terasa mengintimidasi.

Dylan mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang panjang dan dingin menyentuh dagu Yvone, mengangkat wajah wanita itu agar menatap lurus ke matanya. Sentuhan itu tidak kasar, tapi sama sekali tidak memiliki kelembutan. Itu adalah sentuhan posesif.

"Ayahmu sudah aman," bisik Dylan, suaranya bergetar rendah di udara. "Sekarang giliranmu memenuhi kewajibanmu, Istriku."

Tubuh Yvone meremang mendengar sebutan itu. "Apa... apa yang harus saya lakukan sekarang?"

"Pergi ke apartemen kumuhmu. Kemasi barang-barangmu yang paling penting. Tinggalkan sampah yang tidak berguna," perintah Dylan mutlak. Matanya mengunci mata Yvone, memancarkan dominasi absolut. "Sopir pribadiku, Pak Joko, sudah menunggumu di bawah. Ia akan membawamu ke penthouse. Mulai malam ini, kau tidur di rumahku. Kau hidup di duniaku. Dan ingat aturannya, Yvone..."

Dylan menunduk sedikit, menyapukan ibu jarinya ke rahang Yvone yang menegang.

"...Jangan pernah berpikir untuk lari. Karena aku akan selalu menemukanmu."

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!