NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:672
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Rumah

Setelah tiga hari di rawat, Zoe di izinkan pulang karena kondisinya yang memang sudah membaik. Namun seperti biasa, Joe sangat sibuk di perusahaan sehingga dia meminta supir untuk menjemputnya. Zoe pun tidak terlalu berharap. Karena dia sudah cukup berharap selama ini.

Mobil putih mengkilap itu berhenti tepat di depan pilar-pilar kokoh yang menopang kemegahan Mansion Erlangga. Zoe terdiam sejenak, jemarinya mengusap pelan jok kulit mobil, matanya menatap fasad bangunan yang sekarang terasa seperti penjara bawah tanah baginya. Jika biasanya degup jantungnya akan berpacu liar karena intimidasi atmosfer rumah itu, kali ini hanya ada ketenangan yang dingin—sedingin es yang membeku di nadinya.

"Nona Muda, kita sudah sampai," ucap sopir dengan nada datar, nyaris tanpa rasa hormat.

Zoe tidak menjawab. Dia mengingat bagaimana dulu jantungnya akan berdegup kencang hanya dengan melihat gerbang mansion ini. Dulu, setiap sudut rumah ini adalah ancaman.

Ibu tirinya yang bermulut manis namun berbisa, serta ketiga saudara tirinya yang selalu punya cara untuk membuatnya merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Dan Ayahnya? Pria itu hanyalah bayang-bayang yang sibuk mengejar angka di gedung pencakar langit. Sampai tidak sadar bahwa putrinya sedang menderita di bawah tekanan orang-orang yang di bawah oleh Ayahnya.

Ia mendorong pintu mobil, melangkah keluar dengan keanggunan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Beberapa pelayan yang melintas sengaja membuang muka, bahkan ada yang tertawa kecil sembari berbisik sinis, menganggap kepulangan Zoe hanyalah kembalinya sang "pecundang" ke kandang singa.

"Lihat, si pecundang sudah pulang. Kirain bakal betah di rumah sakit selamanya," bisik salah satu pelayan dengan nada meremehkan.

Zoe menghentikan langkahnya tepat di depan mereka. Dia tidak menoleh, namun auranya membuat tawa pelayan itu mendadak tercekat.

"Kalian lupa cara menyapa?" suara Zoe terdengar tenang, namun dingin seperti es yang menusuk tulang.

Salah satu pelayan memberanikan diri menyahut, "Maaf Nona, kami sedang sibuk. Nyonya Besar menyuruh kami menyelesaikan ini cepat-cepat."

Zoe membalikkan tubuhnya perlahan. Dia menatap pelayan itu dengan tatapan kosong yang mengintimidasi, sebuah tatapan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dari seorang Zoe yang penakut.

"Rumah ini milik keluarga Erlangga. Dan sejauh yang aku tahu, namaku masih tercatat sebagai pewaris sah di kartu keluarga ini," Zoe melangkah mendekat, membuat pelayan itu mundur selangkah karena gentar. "Jika dalam tiga detik kalian tidak menunjukkan tata krama yang benar, pastikan kalian mengemas barang-barang kalian sebelum matahari terbenam. Karena aku tidak butuh pelayan yang lupa siapa yang menggajinya."

Pelayan itu gemetar, wajahnya pucat pasi. "Ma-maaf, Nona Muda. Selamat datang kembali."

Zoe tidak membalas. Dia hanya menegakkan bahunya, mengangkat dagu sedikit lebih tinggi, dan melangkah masuk ke dalam aula utama dengan langkah yang mantap. Dia tidak lagi masuk sebagai korban, melainkan sebagai pemilik yang siap mengambil kembali tahtanya.

Begitu daun pintu jati setinggi tiga meter itu terbuka, Zoe disambut oleh pemandangan tiga wajah yang amat ia kenal. Dika bersedekap di dekat tangga, sementara Siska dan Maudy duduk di sofa beludru dengan tatapan yang seolah hendak menguliti Zoe hidup-hidup.

"Pulang juga kau? Sayang sekali! Aku sudah membayangkan kamar utama akan kosong selamanya. Aku benar-benar berharap kau tidak pernah menginjakkan kaki lagi di sini," cetus Siska, suaranya melengking memecah keheningan ruang tamu yang luas.

Maudy menimpali dengan senyum miring yang meremehkan, "Akan jauh lebih baik jika kau membusuk di dasar jurang itu, Zoe. Bahkan Tuhan pun sepertinya enggan menerima jiwamu yang menyedihkan itu, makanya Ia melemparkanmu kembali ke sini untuk kami siksa."

Zoe berhenti tepat di tengah ruangan. Bukannya menunduk gemetar seperti biasanya, ia justru menarik sudut bibirnya tipis—sebuah seringai yang membuat suasana seketika mencekam. Ia menatap mereka satu per satu dengan sorot mata tajam yang belum pernah mereka temui sebelumnya.

"Terima kasih atas sambutan hangatnya," suara Zoe terdengar tenang namun berwibawa, bergema di langit-langit ruangan yang tinggi. "Tapi sepertinya kalian lupa satu hal penting. Jurang itu tidak membunuhku, tapi justru mencuci habis rasa takutku. Jadi, jika kalian berharap aku akan menangis di pojok kamar seperti dulu... kalian harus menyiapkan skenario yang jauh lebih kreatif dari sekadar makian murahan ini."

Siska dan Maudy tertegun. Dika, yang sedari tadi diam, mulai merasa tidak nyaman dengan perubahan drastis Zoe.

"Satu hal yang kalian lupakan," suara Zoe keluar dengan tenang, hampir seperti bisikan yang menggema. "Tuhan mungkin tidak menginginkanku, tapi maut juga tampaknya terlalu segan untuk menyentuhku. Jadi, daripada mengutuki kepulanganku, bukankah lebih baik kalian mulai mengkhawatirkan diri kalian sendiri? Karena sekarang, aku sudah di sini."

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Ketiga saudara tirinya tertegun, lidah mereka seolah kelu melihat perubahan drastis pada sosok yang selama ini mereka injak-injak.

Zoe membalikkan badan tanpa menunggu balasan, melangkah santai menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup, gurat ketegangan di wajahnya luntur, berganti dengan senyum tipis yang tampak asing. Matanya tertuju pada anjing peliharaannya, satu-satunya makhluk yang ia cintai di rumah ini, yang sedang berguling manja di atas karpet.

"Milo! Sini, Sayang..." panggil Zoe lembut.

Namun, saat mata anjing itu bertemu dengan mata Zoe, gerakan riangnya mendadak berhenti. Bulu-bulu di punggungnya berdiri tegak. Bukannya mendekat, anjing itu justru memundurkan langkahnya dengan tubuh gemetar hebat, mengeluarkan suara rintihan ketakutan seolah melihat sosok monster yang mengerikan.

Zoe tertegun, tangannya yang terulur membeku di udara. "Ada apa? Ini aku..."

Ia mencoba mendekat, namun anjing itu justru menyalak panik dan menyudut di pojok ruangan, menolak disentuh oleh pemiliknya sendiri.

Di tengah kebingungan yang menyesakkan dada itu, sebuah suara berat yang dingin—suara tanpa wujud yang seolah berasal dari balik dinding atau bahkan dari dalam kepalanya sendiri—terdengar jelas di telinganya.

"Apa yang terjadi dengan Zoe? Auranya... auranya membuatku gemetar ketakutan..."

Zoe tersentak. Ia menoleh dengan cepat, mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang remang-remang. Jantungnya berdegup kencang, namun ruangan itu kosong. Hanya ada dia, dan seekor anjing yang ketakutan.

"Suara siapa itu? Siapa yang bicara? Keluar!" teriak Zoe waspada.

"Zoe, kau benar-benar berbeda. Jiwamu... auramu terasa sangat asing, seolah ada hal lain yang menyatu di sana," suara itu terdengar lagi, lebih jelas sekarang.

"Aura apa? Hei, siapa kau? Jangan bermain-main denganku! Ayo keluar!" bentak Zoe, tangannya mengepal siap untuk membela diri.

"Kau bisa mendengarku, Zoe. Akhirnya... kau bisa mendengarku."

Zoe menahan napas. Matanya perlahan turun, beralih ke arah Milo yang masih menatapnya dengan mata bulat yang ketakutan. Bibir Milo tidak bergerak, namun frekuensi suara itu berasal dari arahnya.

Zoe membelalakkan mata, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan. "Jangan bilang... Milo? Kau... kau yang bicara?"

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
adegan romantis di suasana yang menegangkan🤭... secara tidak langsung stev mengklaim Zoe adalah miliknya.lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!