"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sesampainya di ruang makan, atmosfer hangat yang sempat tercipta di dalam kamar langsung menguap, berganti dengan ketegangan yang kembali merayap di udara.
Meja makan panjang berbahan marmer itu sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan sarapan mewah.
Di sana, Emma, Fauzan, dan Mila sudah duduk di posisi mereka masing-masing dengan wajah yang tampak masih ditekuk masam.
Genggaman tangan Mahendra pada jemari Luna tidak terlepas sedikit pun saat mereka melangkah mendekat.
Fauzan mendongak, dan sepasang matanya seketika menajam.
Ia menatap Luna yang sudah siap untuk bekerja dengan pakaian kerja yang sangat rapi, anggun, dan profesional.
Setelan itu membuat kecantikan alami Luna kian terpancar, sangat kontras dengan Mila yang pagi ini mengenakan pakaian santai yang terlalu berlebihan.
Rahang Fauzan mengeras, ada rasa tidak rela yang bergejolak di dadanya melihat wanita yang ia buang kini justru tampak begitu terhormat di samping ayahnya.
Emma yang menyadari arah pandang keponakannya langsung mendengus sinis.
Dengan gerakan anggun yang dibuat-buat, ia meletakkan garpunya ke piring hingga menimbulkan denting yang cukup nyaring.
"Seharusnya sebagai istri Mahendra, kamu di rumah membantu bibi," ucap Emma sambil menatap Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki penuh penghinaan.
"Bukannya malah keluyuran dan dandan rapi seperti mau menggoda pria lain di luar sana. Tahu diri sedikit lah dengan status barumu."
Mendengar sindiran tajam dari adiknya, langkah kaki Mahendra terhenti tepat di ujung meja.
Sorot mata tajam sang Don Juan seketika mengunci wajah Emma dengan pandangan sedingin es.
"Emma, seharusnya kamu yang membantu bibi," sindir Mahendra balik, suaranya berat dan terdengar begitu telak menusuk harga diri adiknya.
"Selama menumpang di rumah ini, aku belum pernah melihatmu menyentuh area dapur sama sekali."
Wajah Emma seketika memerah padam karena diskakmat secara terang-terangan di depan keponakan dan pelayan.
Ia langsung bungkam, tidak berani membantah lebih jauh jika tidak ingin uang bulanannya ikut dipangkas oleh sang kakak.
Mahendra menarik kursi utama untuk Luna, mendudukkan istri kecilnya dengan penuh kelembutan, sebelum ia sendiri mengambil posisi di kursi kebesarannya.
Pria paruh baya itu kemudian menoleh ke arah kepala pelayan yang sedang sibuk menata gelas di dekat konter meja.
"Bibi, apakah kamu memerlukan bantuan istriku untuk mengurus rumah ini?" tanya Mahendra.
Bibi pelayan paruh baya yang sedang memegang teko kaca seketika menghentikan gerakannya.
Mendengar pertanyaan dari majikannya, bibi tertawa kecil sambil menuangkan jus jeruk segar ke dalam gelas milik Mahendra dan Luna.
"Ah, Tuan Besar ini bisa saja," ucap bibi dengan nada yang ramah dan penuh rasa hormat.
"Bibi di sini sudah lama, Tuan Mahendra. Sampai-sampai rambutmu sudah memutih. Semua urusan rumah dan dapur sudah menjadi tanggung jawab bibi dan pelayan lainnya. Tugas Nyonya Muda Luna sekarang hanyalah fokus mendampingi Tuan dan berbahagia."
Jawaban tulus dari bibi pelayan itu laksana tamparan tidak langsung bagi Emma dan Mila.
Mila meremas serbet di pangkuannya dengan penuh rasa iri yang membakar dada, sementara Fauzan hanya bisa menatap piringnya dengan urat leher yang menegang menahan amarah yang kian menumpuk.
Pernikahan yang mereka kira akan membuat Luna menderita, justru malah menempatkan gadis itu di puncak tertinggi penghormatan di dalam istana Dirgantara.
Suasana di meja makan seketika senyap setelah bibi pelayan selesai menyajikan jus jeruk dan kembali ke area dapur.
Mahendra melirik Luna yang duduk di sampingnya, masih tampak sedikit canggung setelah drama kecil dengan Emma tadi.
Dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh wibawa, Mahendra meraba saku jas mewahnya.
Pria paruh baya itu mengeluarkan sebuah dompet kulit premium, lalu menarik sebuah kartu tipis berwarna hitam legam dengan aksen emas.
Kartu itu bukan sembarang kartu; itu adalah sebuah Unlimited Black Card—simbol kasta tertinggi finansial yang hanya dimiliki oleh segelintir miliarder di negeri ini.
Mahendra mengambil black card tersebut, lalu meletakkannya tepat di atas meja makan, tepat di hadapan Luna.
"Sayang, ini untuk kamu dan jangan menolak," ucap Mahendra dengan suara bariton, namun sarat akan kelembutan yang mutlak.
"Gunakan untuk semua keperluan pribadi atau apa pun yang kamu inginkan selama bekerja dua bulan ke depan. Aku tidak mau mendengar istriku kekurangan sepeser pun."
Luna tertegun. Matanya membelalak menatap kartu super mewah yang kini berada di depannya.
"M-mas, tapi aku masih punya uang dari gajiku—"
"Aku tidak menerima penolakan, Nyonya Mahendra," potong Mahendra cepat dengan senyuman tipis yang sangat menawan di sudut bibirnya, mengunci argumen Luna sebelum gadis itu sempat berkeras kepala.
Di seberang meja, pemandangan itu laksana siraman minyak di atas api yang sedang membara.
Mila mencengkeram erat kedua tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya yang dipulas kutek merah menggores telapak tangannya sendiri.
Napasnya memburu menahan rasa iri dan dengki yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Black card itulah yang selalu Mila impikan sejak merayu Fauzan.
Ia membayangkan dirinya akan berbelanja barang-barang bermerek di mal mewah tanpa batas menggunakan kartu itu setelah menikah.
Namun sekarang, kenyataan justru menamparnya bolak-balik dengan kejam.
Jangankan mendapatkan black card, fasilitas Fauzan saja baru saja dibekukan kemarin. Dan yang paling membuatnya gila adalah melihat kartu impiannya itu kini diberikan dengan begitu mudah kepada Luna—wanita yang tempo hari mereka buang dan mereka tertawakan nasibnya.
Fauzan yang duduk di samping Mila pun tak kalah syok.
Ia menatap kartu itu, lalu beralih menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya.
Ayahnya yang terkenal sangat perhitungan dan tegas soal keuangan perusahaan, kini menjelma menjadi sosok suami yang begitu jor-joran dan memanjakan istri tirinya.
"Makan sarapanmu, Luna. Setelah ini aku akan mengantarmu ke kantor Dika," ucap Mahendra santai, seolah-olah baru saja memberikan selembar uang kertas biasa, lalu kembali menikmati potongan daging panggang di piringnya dengan ketenangan seorang penguasa sejati.
Setelah selesai sarapan yang penuh dengan riak kecemburuan dari Mila dan Fauzan, Mahendra menyudahi makannya.
Pria paruh baya itu bangkit dari kursi kebesaran dengan gerak tubuh yang sangat elegan.
Ia melangkah memutari meja makan, lalu dengan lembut mengajak istrinya berangkat ke kantor Dika.
"Ayo, Sayang. Kita berangkat sekarang agar kamu tidak terlambat di hari pertamamu masuk kerja," ucap Mahendra sembari mengulurkan tangan kekarnya, menyambut jemari Luna yang langsung disambut hangat oleh gadis itu.
Mereka berdua berjalan berdampingan keluar dari istana Dirgantara, mengabaikan tatapan penuh dendam dari orang-orang di meja makan.
Sepanjang perjalanan membelah jalanan ibu kota, Mahendra menggenggam jemari Luna dengan erat, seolah menyalurkan kekuatan agar istrinya tidak perlu mencemaskan apa pun hari ini.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi