NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

Arlo menerima kertas itu dengan sangat alami. Sambil membaca isinya, ia berkata,

“Ada waktu. Hari ini kita ke rumahmu saja.”

Zoya langsung mengangguk. “Kebetulan saya baru membeli steik. Bagaimana kalau sore ini kita makan steik?”

Arlo mengerjapkan mata sejenak sebelum menjawab, “Aku punya sebotol red wine. Nanti akan kubawa.”

Saat menyebut anggur merah, Arlo sama sekali tidak memikirkan hal romantis apa pun. Baginya, menikmati red wine bersama steik hanyalah kebiasaan biasa. Namun bagi Zoya, inisiatif kecil itu justru terasa sangat menyenangkan.

Dengan mata berbinar, ia segera mengangguk riang.

“Baiklah.”

Bisa menghabiskan sore bersama Arlo adalah sesuatu yang sudah lama dinantikannya. Mana mungkin ia menolak?

Namun baru saja mereka melangkah keluar kelas, suara seorang gadis tiba-tiba terdengar dari belakang.

“Profesor Arlo! Profesor Arlo!”

Begitu mendengar panggilan itu, tubuh Arlo yang tadi santai langsung menegang kembali. Ekspresi wajahnya berubah sedikit masam, bahkan sudut bibirnya berkedut tipis… tanda jelas bahwa ia merasa terganggu.

Zoya menoleh ke arahnya dan bertanya pelan,

“Ada apa?”

Arlo menurunkan pandangannya sejenak. Nada ketidaksenangan terdengar jelas dalam suaranya saat ia menjawab,

“Itu salah satu mahasiswaku.”

Namun saat menyebut kata mahasiswaku, hati Arlo dipenuhi rasa enggan.

Kalau bisa memilih, ia sama sekali tidak ingin Adelia menjadi mahasiswanya.

Selain wajahnya yang cantik, menurut Arlo, gadis itu tidak benar-benar memahami apa pun. Pertanyaan-pertanyaannya memang terdengar mendalam di permukaan, tetapi inti pemikirannya kosong dan tidak berbobot.

Tanpa sadar, Arlo melirik Zoya yang berdiri di sampingnya.

Kenapa sesama wanita bisa berbeda sejauh ini? gerutunya dalam hati.

Tak lama kemudian, Adelia berlari menghampiri mereka sambil sedikit terengah-engah. Di saat yang sama, ia diam-diam mengamati Zoya.

Dan begitu melihat wajah Zoya yang cantik dan bersih tanpa cela, ekspresi Adelia langsung berubah tidak senang.

Selama ini Adelia selalu percaya diri dengan penampilannya. Namun berdiri di depan Zoya membuatnya merasa seperti seekor gagak yang meminjam bulu merak. Semua kelebihan yang biasanya ia banggakan seolah langsung kehilangan nilainya.

Adelia bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan emosi. Tatapannya terhadap Zoya langsung dipenuhi rasa permusuhan. Namun karena Arlo masih berada di sana, ia memaksa dirinya berpura-pura lembut dan ramah.

Sambil tersenyum, ia berkata,

“Profesor Arlo, ada pertanyaan yang ingin saya konsultasikan.”

Adelia sudah lama menyelidiki Arlo, jadi ia tahu betul sifat pria itu. Meskipun Arlo tidak memiliki banyak kesabaran untuk urusan pribadi orang lain, selama seseorang bertanya soal pelajaran, ia pasti akan menjawabnya… tak peduli seberapa bodoh pertanyaannya.

Itulah alasan Adelia selalu memakai alasan akademik untuk mendekatinya.

Sayangnya, hari ini berbeda.

Kalau Zoya tidak ada di sini, mungkin Arlo masih akan meluangkan sedikit kesabaran untuk menjawab. Namun sekarang, seluruh kesabarannya seolah habis tak bersisa.

Tanpa berbasa-basi, ia langsung berkata,

“Hari ini saya ada urusan. Lain kali saja.”

Setelah itu, Arlo langsung menoleh pada Zoya.

Dan seolah berganti menjadi orang lain, sorot matanya melunak dengan sangat alami.

“Ayo kita pergi.”

Nada suaranya lembut, bahkan matanya dipenuhi kehangatan yang jelas terlihat.

Kontras itu terlalu mencolok.

Sikap dingin Arlo pada Adelia dibanding kelembutannya pada Zoya terasa seperti perbedaan langit dan bumi.

Dan justru karena perbandingan itulah hati Adelia terasa semakin sakit.

Sebelumnya, ia masih bisa menghibur dirinya dengan berpikir bahwa Arlo memang dingin kepada semua orang. Namun sekarang, melihat sendiri bagaimana pria itu memperlakukan Zoya dengan begitu hangat, rasa tidak seimbang dalam hatinya langsung meledak.

Kenapa… sesama wanita, dia bisa selembut itu padanya?

Padahal demi mengejar Arlo, Adelia bahkan rela meninggalkan orang tua dan mimpinya sendiri.

Bagaimana mungkin ia bisa menerima kenyataan bahwa semua kelembutan Arlo justru diberikan pada wanita lain?

Adelia mengernyit sambil menatap punggung Zoya yang perlahan menjauh.

Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dan berkata dingin pada seseorang di seberang telepon,

“Tolong selidiki seseorang untukku.”

Setelah mengatakan itu, Adelia menutup telepon dan berbalik pergi dengan wajah dingin.

Ia ingin mengetahui latar belakang Zoya.

Arlo dan Zoya terlebih dahulu pergi ke apartemen Arlo untuk mengambil sebotol red wine. Apartemen pria itu memang tidak jauh dari Universitas SS, sehingga mereka tiba hanya dalam beberapa menit.

Sama seperti apartemen Zoya, setiap unit di gedung itu memiliki lift pribadi dengan kartu akses khusus pemilik. Privasinya sangat terjamin.

Begitu masuk, Zoya langsung bisa melihat bahwa desain apartemen Arlo benar-benar mencerminkan dirinya sendiri.

Arlo hanya masuk sebentar untuk mengambil red wine, sementara Zoya memanfaatkan waktu itu untuk melihat-lihat isi apartemennya.

Warna abu-abu dan putih mendominasi ruangan, tata letaknya rapi tanpa sedikit pun kesan berantakan. Tidak banyak dekorasi, bahkan suasananya terasa terlalu tenang dan dingin. Jika bukan karena masih ada jejak kehidupan manusia di dalamnya, Zoya mungkin akan mengira tempat itu hanyalah ruang contoh apartemen yang belum pernah ditinggali.

Tidak butuh waktu lama.

Begitu Arlo menemukan botol red wine yang ia cari, mereka segera pergi.

Namun saat pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar, seseorang yang berdiri di depan lift langsung menarik perhatian keduanya.

Pria itu awalnya hendak masuk ke dalam lift, tetapi langkahnya mendadak berhenti begitu melihat Arlo dan Zoya keluar bersama.

Ekspresi terkejut tampak jelas di wajahnya.

Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan.

Awalnya, tatapannya tampak ramah saat melihat Arlo. Namun begitu menyadari ada seorang wanita berdiri di belakang pria itu, ekspresinya langsung berubah dingin.

Ia berdiri tegak dengan kedua tangan di dalam saku, lalu menatap Zoya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot mata yang menilai.

Ekspresinya sulit ditebak, tetapi ketajaman di matanya terasa sangat jelas.

Melihat Arlo membawa Zoya keluar dari lift, bibir pria itu yang merah seperti darah perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang terasa menggoda sekaligus menusuk.

Dengan suara rendah, magnetis, dan penuh daya tarik, ia berkata,

“Wah, Profesor Arlo… kita bertemu lagi?”

Lalu pandangannya kembali jatuh pada Zoya.

“Oh? Siapa ini?”

Matanya bergerak perlahan mengamati Zoya dengan sangat teliti. Bahkan terdengar decakan kecil penuh kekaguman keluar dari bibirnya.

“Gadis yang sangat cantik…” katanya sambil tersenyum samar. “Profesor Arlo, apakah ini pacarmu?”

Arlo langsung menatapnya dingin.

“Bukan,” jawabnya singkat. “Dia mahasiswaku.”

Namun saat mendengar kata mahasiswaku, sorot mata pria itu sedikit berubah. Bibirnya kembali terangkat membentuk senyum tipis.

“Oh… maaf.” Ia tertawa pelan. “Aku kira dia pacar Profesor Arlo.”

Nada suaranya terdengar santai, tetapi ada sesuatu yang aneh di baliknya.

“Memang salah aku yang bicara sembarangan…” lanjutnya perlahan. “Bagaimanapun juga, Profesor Arlo tidak mungkin punya pacar.”

Ia berhenti sejenak sebelum tersenyum lebih dalam.

“Setahuku… bukankah Profesor Arlo sudah memiliki tunangan?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!