NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Hal pertama yang Nate lakukan begitu kembali ke ruangan itu adalah mengganti pakaian.

Benar, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang didapat dari hasil membunuh monster. Dunia ini bekerja selayaknya permainan video. Setiap monster yang dibunuh tidak hanya menjatuhkan item bertahan hidup, tapi juga benda-benda yang bisa digunakan untuk keseharian.

Sejauh ini Nate mendapatkan beberapa pakaian, termasuk pakaian wanita. Ada juga beberapa benda seperti senter dan bantal, tapi sebagian besar yang dia dapatkan berputar pada makanan, minuman, ramuan, dan alat-alat medis.

Setelah mengganti bajunya dengan tunik hitam dan celana hitam pendek yang sederhana namun nyaman, Nate merebahkan dirinya di atas ranjang yang sudah dia lapisi dengan pakaian wanita yang tersisa.

Nah, dia tidak menggunakannya, jadi sekalian saja sebagai alas.

Setelah itu, Nate memanggil statusnya.

\=\=\= STATUS \=\=\=

Nama: Nate Leicester (991)

Usia: 19 Tahun

Aspek: Purple Reaper [F]

Level: 3

EXP: 16/160

STR: 1

AGI: 1

MP: 1

STA: 1

VIT: 1

INT: 1

Poin Stat: 6

Credit: 1.610

Senjata: Violet Reaper [F]

Title: -

\=\=\= LOKASI: S86 \=\=\=

Dia sudah memikirkan alokasi poin ini sejak pertarungan tadi, mengingat-ngingat kekurangan yang terasa paling mencolok.

Yang pertama adalah kecepatannya, benar-benar biasa saja. Dia tidak cepat, tidak gesit, dan satu kesalahan kecil saja bisa membahayakannya melawan monster yang lebih kuat. Yang kedua adalah daya serangnya. Dengan sabitnya, itu sebenarnya sudah cukup untuk menebas monster-monster lemah, tapi Nate tidak yakin hal yang sama berlaku untuk monster di level yang lebih tinggi. Yang terakhir adalah stamina, karena kecepatan dan kekuatan tidak ada artinya kalau tubuhnya tidak bisa mengimbangi.

Karena itu, Nate sudah memutuskan.

[Agi +3] [Str +2] [Sta +1]

Begitu poin selesai dialokasikan, Nate bisa merasakannya secara langsung, tubuhnya terasa lebih ringan, gerakannya lebih responsif, dan ada semacam kekuatan baru yang mengalir di bawah kulitnya, hangat dan solid, hingga dia merasa penuh dengan tenaga.

Sensasi itu memabukkan dengan cara yang sulit dijelaskan.

"Selanjutnya..."

Nate membuka obrolan chat.

[S86] Player 601: Ini gila! Setiap kali kita naik level, EXP yang dibutuhkan terus berlipat ganda, sementara satu monster hanya menghasilkan satu EXP. Sekarang aku terjebak di level satu dan kesulitan untuk naik level, maksudku, ada banyak monster Rank F / Level 1 tapi, orang bodoh mana yang akan menyerbu masuk ke dalam?

[S86] Player 101: Wow! @Player 601 kamu banyak yapping sekali! Memang begitulah konsep kekuatan, kamu tidak akan bisa mendapatkannya semudah itu. Diperlukan ketekunan dan kesabaran!

[S86] Player 397: [Foto] Teman-teman, aku punya Aspek yang sangat kuat. Jika kalian butuh perlindungan, datanglah ke gedung yang punya papan nama bertuliskan [Aveentire], aku sudah membentuk kelompok untuk bertahan hidup di sana!

[S86] Player 331: Tuan @Player 397, bukankah itu dekat dengan menara jam? Saya berada di sekitar tempat itu sebelumnya! Saya akan segera datang.

[S86] Player 231: Teman-teman, ternyata Inti Esensi bisa digunakan untuk membuat benda-benda ajaib. Kita cuma perlu mendapatkan cetak birunya, di sini saya mendapatkan cetak biru senjata api. [Foto]

[S86] Player 404: Terima kasih atas informasinya, Tuan @Player 231, itu sangat membantu! Saya harus bisa mendapatkan cetak biru juga. Sebagai balasannya, saya akan memberitahu informasi juga.

[S86] Player 231: @Player 404 Apa itu?

[S86] Player 404: @Player 231 Ada dungeon yang tersembunyi. Saya belum pernah masuk karena syarat levelnya yang tinggi, tapi di sekitarnya ada sangat banyak monster yang berkeliaran, kamu bisa naik level jauh lebih cepat jika berada di sana.

[S86] Player 231: Itu informasi yang baru! Meski aku tidak berani, tapi itu akan membantu beberapa teman kita yang punya keberanian. Terima kasih, @Player 404.

"Dungeon?"

Itu langsung menarik minat Nate. Dia merebahkan dirinya sejenak, mempertimbangkan, dia sudah beristirahat hampir tiga puluh menit, staminanya sudah cukup pulih, dan tambahan dari alokasi poin tadi jelas membawa perbedaan yang terasa.

Nate menutup obrolan chat.

"Kalau begitu, haruskah aku meninggalkan area ini?"

Tapi meski dia berlagak sedang mempertimbangkan, tubuhnya sudah bergerak lebih dulu, bangkit dari ranjang, mengecek sabitnya, dan menuju pintu.

Jawabannya sudah jelas dari tadi.

Mengapa harus diam di satu tempat ketika yang lainnya terus bergerak menjadi lebih kuat? Nate tidak tahu siapa yang saat ini berada di posisi teratas, tapi dia tidak berniat tertinggal jauh. Kalau memungkinkan, dia ingin berdiri sebagai salah satu yang teratas.

Dia cukup percaya diri untuk itu.

Keluar dari apartemen, Nate kembali disambut pemandangan dari hasil pembantaian sebelumnya, jalanan yang banjir darah hitam, tumpukan tubuh monster yang sudah mengering. Dia tidak repot-repot memperhatikannya dan langsung memikirkan arah mana yang harus dia tuju.

Tujuannya satu: menjadi lebih kuat. Dan untuk itu, dia butuh tempat untuk berburu — idealnya, sebuah dungeon.

"...Hmm, kurasa aku akan berjalan acak saja."

Siapa tahu? Mungkin dia secara tidak sengaja akan tersandung dungeon di tengah perjalanan.

Nate mulai melangkah mengikuti jalan raya. Suasana kota itu sunyi, terlalu sunyi, bahkan. Monster yang disebutkan obrolan chat sama sekali tidak menampakkan diri, dan jalan panjang itu hanya dipenuhi reruntuhan dan angin yang berhembus membawa bau debu dan gosong.

Itu agak membuat frustrasi.

Tapi setelah berjalan cukup jauh, Nate akhirnya mulai sesekali bertemu dengan seekor Murneth atau CryBallon yang berkeliaran sendiri. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup untuk perlahan-lahan mengisi kebutuhan EXP-nya.

Setelah hampir tiga puluh menit berjalan lagi, Nate berhenti.

Di hadapannya berdiri sebuah bangunan yang dulunya tampaknya adalah sebuah sekolah menengah atas. Temboknya masih berdiri cukup tinggi, tapi beberapa bagian sudah runtuh dan terbuka, memperlihatkan bagian dalam yang punya lapangan besar, dan di lapangan itu, ada sesuatu yang berbeda dari Murneth maupun CryBallon.

Monster itu sebesar anjing besar, bertumpu pada dua kaki yang hitam dan kurus, melengkung dengan cara yang terlihat menyimpang seolah tulang-tulangnya dipasang terbalik. Tubuh bagian tengahnya tampak terpelintir, seperti kain basah yang diperas. Dua tangan mencuat di kanan dan kiri tubuhnya, sementara kepalanya menyerupai Murneth, hanya saja wajahnya seperti terdorong ke dalam, seperti seseorang yang baru saja menerima pukulan keras tepat di tengah wajah dan tidak pernah pulih dari itu.

[Monster (Lycanil) Rank F / Lv. 3]

"Level tiga?"

Nate meneguk ludah, bibirnya berkedut. Lycanil punya level lebih tinggi dari Murneth maupun CryBallon, tapi yang lebih mengejutkan bukan bagian itu, melainkan fakta bahwa ada sangat banyak dari mereka yang berkeliaran di lapangan itu, bergerak ke sana kemari dalam kelompok-kelompok kecil yang tidak beraturan.

Nate menjilat bibirnya.

'Jika aku bisa membunuh mereka semua...'

Dia yakin levelnya akan naik cukup banyak dari sini saja.

Sebelum itu, Nate mengecek persediaannya. Tiga ramuan penyembuhan, dua ramuan pemulihan stamina, satu ramuan peningkatan kecepatan, masing-masing rank F, level satu.

"Itu sudah cukup."

Nate menghunus sabitnya. Tatapan abu-abu pucatnya terkunci pada Lycanil terdekat, dan senyuman tipis terbentuk di wajahnya saat dia melesat masuk ke lapangan itu.

Sraaang—!!

Nate mengangkat sabitnya dan menebas Lycanil itu dari samping. Monster itu memekik, melompat mundur dengan panik, tapi tidak cukup cepat untuk lolos sepenuhnya. Bilah sabit merobek dalam di perutnya, memuntahkan darah hitam yang menyembur ke aspal.

Nate tidak menunggunya mati. Dia sudah mengalihkan pandangannya ke dua Lycanil lain yang melesat ke arahnya dari sisi berbeda.

Di belakangnya, tanpa suara peringatan,

Gedebuk.

Lycanil pertama itu roboh, tubuhnya berhenti bergerak sepenuhnya saat korosi dari sabit Nate menghabiskan sisanya.

[Monster (Lycanil) Rank F / Lv. 3 Telah Dikalahkan!]

Nate mengangkat sabitnya. Sensasi notifikasi yang muncul terus-menerus kembali membuat dadanya berdebar kencang, dan senyuman tipis di wajahnya sedikit terangkat.

Sraaang—!!

Dia menebas dengan gerakan melengkung, sekali lagi dengan cara yang sama, merobek perut mereka lalu segera melesat ke Lycanil berikutnya.

[Monster (Lycanil) Rank F / Lv. 3 Telah Dikalahkan!]

[Monster (Lycanil) Rank F / Lv. 3 Telah Dikalahkan!]

Notifikasi itu terus muncul, dan Nate tenggelam ke dalam perasaan ekstasi yang mendebarkan itu.

[Monster (Lycanil) Rank F / Lv. 3 Telah Dikalahkan!]

[Monster (Lycanil) Rank F / Lv. 3 Telah Dikalahkan!]

[Monster (Lycanil) Rank F / Lv. 3 Telah Dikalahkan!]

Tanpa disadari, Nate telah bertarung berturut-turut hampir satu jam penuh, menghabiskan setiap botol ramuannya satu per satu hingga inventorinya benar-benar kosong.

Lapangan itu akhirnya sunyi.

Nate berdiri di tengah-tengahnya sendirian, napasnya berat, pakaiannya basah oleh keringat dan darah hitam yang sudah mulai mengering. Dia menatap lapangan kosong itu sejenak, lalu berkedip.

"Kemana mereka semua pergi?"

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
bysatrio
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!