Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 monster penyebar virus zombie "Varghul"
Api berwarna hijau melesat dengan sangat cepat seperti badai maut, membakar udara di depannya. Pepohonan meledak, tanah terbelah, dan seluruh hutan dipenuhi cahaya kehancuran.
Sarah masih bertahan, berdiri paling depan dengan tubuh yang penuh luka dan lelah.
Ia menutup mata, mengangkat kedua tangannya yang bersinar kemudian memutar kedalam mengumpulkan sisa energi yang masih ia miliki, lalu berbisik pelan, “Untuk kalian... untuk harapan terakhir.”
Cahaya putih keluar dari tangannya semakin besar dan semakin besar, kemudian meledak membentuk kubah raksasa.
BRAAAKK!
Naga zombie kembali mengeluarkan api hijau dari mulutnya yang menghantam perisai cahaya itu. Gelombang benturan mengguncang seluruh hutan.
Reina, santo, dandi, andri dan prisma tersungkur menahan angin dahsyat yang tercipta dari benturan kekuatan sarah dan naga zombie.
Namun Sarah masih berdiri.
Retakan mulai muncul di kubah cahaya.
“Sarah! Mundur!” teriak Reina.
Sarah menggeleng sambil tersenyum lemah. “Kalau saya mundur... kita semua mati.”
"masih ada cara lain, untuk mengalahkan naga zombie ini." teriak reina sambil menangis, air matanya mengalir dipipinya yang terluka.
Lila sistem yang dimiliki sarah juga berusaha menghentikan rencana sarah, namun sarah telah memutuskan untuk berkorban.
"tidak ada cara lain." ucap sarah sambil tersenyum seakan pilihannya adalah yang terbaik.
"kalian harus bertahan hidup dan mengalahkan monster yang masih berada didalam tanah…"
"apa masih ada monster?." mata mereka terbelalak terkejut.
Kemudian Andri menyadari perasaan janggal yang dia rasakan sejak datang didesa.
"reruntuhan kuno." ucapnya pelan namun semua mendengar.
"apa?" serempak menoleh ke arah andri.
"ya andri benar. Kalian harus bisa tetap hidup sampai semua reruntuhan kuno itu muncul dan bunuh monster yang menjaga reruntuhan itu." ucap sarah.
"reina, kalian harus tetap bersama dan jangan pernah membubarkan tim ini."
Sarah menoleh kearah prisma yang tidak percaya tindakan sarah, kemudian sarah melihat kearah depan. "meskipun prisma terlihat lemah dan penakut tapi dia bisa menjadi garda terdepan saat bertarung. Kalian akan menjadi tim yang hebat jika saling bekerjasama."
Cahaya di tubuhnya mulai berubah menjadi partikel-partikel kecil. Rambutnya terangkat diterpa energi besar.
Reina yang tersungkur mencoba untuk bangun. Tubuhnya penuh luka dan darah, namun ia melihat sosok Sarah berdiri sendirian menahan kehancuran.
“Jangan...”
Dengan sisa tenaga, reina bangkit dan mencoba berjalan, tangan kirinya memegang lengan kanannya yang hampir patah dan penuh darah.
Sarah mengangkat tangannya ke langit.
“Segel Cahaya Suci... Pengorbanan Terakhir!” teriak sarah sembari mengerahkan seluruh energinya bahkan inti kehidupannya.
[sarah hentikan] isak lila
"tidak bisa."
Karena sarah bersikeras untuk mengorbankan hidupnya, lila memutuskan untuk membantu sarah hingga akhir memberikan seluruh energi miliknya kepada sarah.
Kubah biru semakin dipenuhi energi dan pecah menjadi ribuan anak panah cahaya yang melesat ke arah Naga Zombie.
Panah-panah itu menembus sayap, dada, mata, dan tenggorokan monster raksasa tersebut.
Naga Zombie meraung kesakitan.
Tubuhnya mundur beberapa langkah, lalu terhuyung.
Namun bola api hijau di mulutnya belum padam.
Sarah menatap reina, santo, dandi, andri dan prisma yang perlahan mengeluarkan air mata, untuk terakhir kali.
“Tolong... lanjutkan hidup.”
Ia melompat lurus menuju kepala naga.
“SARAHHHH!!” teriak semuanya bersamaan.
Tubuh sarah berubah menjadi cahaya murni dan menabrak tepat bola hijau dimulutnya itu.
DUAAAAAAAAARRRRR!!
Ledakan putih raksasa menyelimuti langit malam. Semua orang terlempar ke tanah. Pepohonan tercabut, batu-batu beterbangan, dan awan hitam lenyap seketika.
Beberapa saat kemudian...
Hutan menjadi sunyi.
Kabut perlahan turun.
Di tengah kawah besar, tubuh Naga Zombie hancur menjadi abu hitam yang terbawa angin.
Tidak ada jejak yang ditinggalkan sarah. Dia benar-benar hancur dan mengorbankan dirinya.
Tanpa disadari oleh reina dan teman-temannya inti kehidupan sarah terjatuh berkat perlindungan dari lila.
Reina berlutut sambil menangis diam-diam. Prisma menunduk tanpa kata. Santo memukul tanah keras. Andri memejamkan mata menahan air mata. Dandi menggertakkan gigi.
“Dia menyelamatkan kita dan mengorbankan hidupnya...”
Tiba-tiba tanah di bawah kawah bergetar lagi.
Retakan hitam muncul perlahan.
Dari dalam kegelapan terdengar suara tawa berat dan mengerikan.
“Menarik sekali... kalian membunuh peliharaanku.” suaranya menggema dan menyeramkan.
Wajah semua orang menegang. Memahami situasi yang sangat kacau, musuh tinggal satu namun lebih hebat dari kelima zombie dan naga zombie.
Retakan hitam itu melebar seperti mulut jurang. Tanah di sekitarnya runtuh sedikit demi sedikit, sementara hawa dingin menusuk tulang menyebar ke seluruh hutan.
Tangan berlapis armor hitam tadi mencengkeram tepi kawah.
Lalu perlahan... sosok raksasa itu bangkit.
Tubuhnya setinggi dua pohon besar, mengenakan zirah kuno penuh simbol merah menyala. Di punggungnya tertancap puluhan pedang patah, seolah ia pernah bertarung melawan ribuan musuh dan membunuh semuanya. Wajahnya tertutup helm bertanduk, hanya dua mata merah menyala dari celah besi gelap.
Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
Prisma mundur selangkah. “Monster apa lagi itu..?"
Makhluk itu menatap abu Naga Zombie, lalu tertawa rendah.
“Mainan kecilku dikalahkan oleh manusia terluka.”
Ia memiringkan kepala. “Memalukan.”
Reina maju sambil menggenggam pedang energi yang tak lagi sempurna hampir kehabisan energi.
“Siapa kau?”
Makhluk itu mencabut pedang hitam raksasa dari punggungnya. Suara logamnya membuat udara bergetar.
“Aku Varghul... Jenderal Perang dari Gerbang Kematian.”
Santo berbisik, “Jenderal...?”
Varghul mengangkat tangan kirinya. Dari tanah, tulang-belulang para zombie yang telah hancur bangkit kembali dan menyatu menjadi puluhan prajurit kerangka bersenjata.
“Kalian akan menjadi pasukan baruku.”
“Tidak selama kami masih berdiri!” teriak Reina.
Andri berlari duluan, prisma berlari didepan andri membentuk sebuah perisai di depan. Dengan benturan keras dari tank perisai milik prisma kemudian gantian andri menyerang lutut Varghul. Namun makhluk itu tak bergeming.
Dengan satu ayunan tangan, Andri terpental puluhan meter menabrak batu besar.
“Andri!” teriak Reina.
Santo mengamuk, menyerang dari samping dengan energi pedang yang sangat besar. Tebasannya menghantam pinggang Varghul dan memercik api, tapi zirah hitam itu tak tergores.
Varghul menatap santo, lalu menendangnya. Santo muntah darah dan terseret di tanah.
“Lemah,” gumamnya.
Reina menyerang mata helmnya dengan panah energi melesat sangat cepat, namun Varghul menangkapnya di udara lalu mematahkannya dengan dua jari.
Dandi muncul dari belakang, menusukkan tombak energi ke celah zirah leher. Untuk pertama kalinya, Varghul bergerak cepat. Ia menangkap leher Dandi dan mengangkatnya ke udara.
“Lumayan cepat.”
Dandi berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman itu seperti besi hidup.
Reina melompat tinggi merubah bentuk senjata menjadi tombak dan menusuk tangan Varghul. Cengkeraman terlepas, Dandi terjatuh dan batuk-batuk.
Varghul menoleh pada Reina.
“Kau berani.”
Ia mengayunkan pedang hitamnya.
Reina sempat menahan dengan tombak energi, namun energinya pecah. Tubuh Reina terlempar dan berguling di tanah.
Kini hanya Prisma yang masih berdiri di depan.
Tubuhnya penuh luka, napas berat, tapi matanya tajam.
Varghul berjalan mendekat.
“Kau pemimpin mereka?”
"prisma tolong bertahan sebentar lagi." teriak Reina dia berencana untuk memulihkan energinya didalam ruang dimensi surgawi.
Meskipun hanya 10 menit didalam ruang dimensi surgawi berarti didunia luar hanya beberapa detik, itu lebih dari cukup.
Kemudian reina pergi keruang dimensi surgawi.
"kemana bocah itu pergi." gumam monster tersebut sambil memutar bola matanya untuk mencari keberadaan reina.
Dengan sadar prisma mencoba membentuk energinya menjadi sebuah pedang dan mengangkat pedangnya, meskipun sangat berat baginya untuk menggunakan sesuatu yang bukan keahliannya.
“Aku orang yang akan menghentikanmu.” kedua tangannya memegang pedang sambil bergetar.
Varghul tertawa keras hingga pepohonan bergetar.
“Kau hampir mati, manusia.”
Tiba-tiba mata prisma menangkap pecahan cahaya milik sarah dan mengambilnya. "ini.? Inti kehidupan sarah?." gumam prisma
Seakan mendapat bisikan dari sarah membuat prisma mencoba mencari dari mana asal suara yang dia dengar.
"prisma, kamu dengar kan?" benar-benar suara sarah.
Prisma menatap inti kehidupan sarah, "kamu masih hidup?" tanya prisma
"ya saya masih hidup, tapi hanya tinggal jiwaku. Cepat tempelkan inti kehidupanku dipedangmu."
"apa yang akan terjadi jika saya menuruti keinginanmu."
"saya tahu apa yang ada didalam pikiranmu. Saya tidak pernah menyesal mengenalmu, saya sudah tidak memiliki raga jadi tidak akan bisa hidup kembali."
Kemudian pecahan tersebut oleh prisma ditempelkan keujung pedang energi miliknya dengan terpaksa.
Tiba-tiba pedang energi itu berubah warna dan menyala biru terang.
Angin berputar di sekelilingnya.
Mata Santo membelalak. “Itu kekuatan sarah yang tersisa...”
Prisma menatap Varghul tanpa berkedip.
“Kalau saya hampir mati... berarti saya tidak punya alasan untuk menahan diri lagi.”
Ia mengambil langkah maju. Penuh dengan tekad dan balas dendam akan kematian sarah.
Tanah di bawah kakinya pecah.
Dan untuk pertama kalinya, senyum Varghul menghilang.