Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tirta Wijaya menatap Bayu sekilas, lalu pandangannya jatuh pada kotak sepatu yang masih terbuka di pangkuan pemuda itu.
Langkah Tirta tiba-tiba terhenti. Matanya yang sebelumnya tenang, kini melebar. Ia mengabaikan Johan sepenuhnya dan berjalan mendekati Bayu dengan langkah setengah tergesa-gesa.
"Anak muda, boleh saya melihat barang itu dari dekat?" tanya Tirta. Nada suaranya sopan, sama sekali tidak ada arogansi seperti Johan.
"Silakan, Pak," jawab Bayu tenang. Ia memegang dasar kotak itu agar Tirta bisa melihat lebih jelas.
Tirta merogoh saku kemeja batiknya, mengeluarkan sepasang sarung tangan katun putih yang selalu ia bawa dan sebuah kaca pembesar perhiasan. Ia memakai sarung tangan itu, lalu mengangkat mangkuk porselen tersebut dengan kedua tangannya dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah bom yang rapuh.
Ia membawa mangkuk itu mendekati cahaya lampu lobi. Ia mengamati permukaan glasirnya, ketebalan porselennya, bentuk lengkungan motif naganya, dan terakhir, ia membalik mangkuk itu untuk membaca enam karakter Tiongkok di dasarnya.
Tangan Tirta Wijaya mulai bergetar pelan. Napasnya tertahan.
"Gelembung glasirnya tidak merata, tanda pembakaran tungku tradisional kayu. Sapuan warna biru kobaltnya menembus masuk ke dalam tulang porselen, karakteristik khas dari bahan "Su Ni Bo Qing" yang hanya diimpor dari Persia pada era tersebut. Dan tanda segel ini... Da Ming Xuan De Nian Zhi," gumam Tirta, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Tirta berbalik menatap Johan dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin.
"Johan, kamu bilang ini barang replika cetakan pabrik?"
Johan menelan ludah. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur di pelipisnya. "I-iya, Tuan Tirta. Warnanya terlalu baru dan mulus..."
"Bodoh!" bentak Tirta, suaranya menggelegar membuat para resepsionis terlonjak kaget. "Kamu hampir saja membuang salah satu mahakarya paling langka dari masa keemasan Kaisar Xuande! Ketidaktahuanmu bisa membuat balai lelang ini kehilangan muka di mata internasional! Ini porselen asli, seratus persen otentik!"
Manajer umum bule yang berdiri di belakang Tirta langsung memelototi Johan. "Johan, kemasi barang-barangmu di meja. Kamu dipecat hari ini juga."
Kaki Johan lemas. Ia mundur selangkah, menatap mangkuk yang tadi ia hina dengan pandangan tidak percaya. Karirnya di dunia lelang hancur dalam hitungan detik.
Tirta kembali menatap Bayu. Matanya berbinar penuh gairah kolektor yang menemukan buruan legendaris.
"Anak muda, dari mana kamu mendapatkan barang dengan kondisi sesempurna ini?"
"Barang ini sudah ada di keluarga saya selama beberapa generasi, Pak. Turun-temurun," Bayu berbohong dengan wajah sangat meyakinkan. Sifatnya yang sering menutupi emosi di depan atasannya di kantor sangat berguna sekarang. "Namun karena ada keperluan mendesak, saya terpaksa harus mencairkannya menjadi dana segar secepat mungkin. Makanya saya bawa ke sini."
Tirta mengangguk paham. Ia adalah seorang pebisnis ulung. Otaknya langsung berhitung. Jika mangkuk ini masuk ke meja lelang bulan depan, kolektor dari Tiongkok, Hongkong, dan Eropa pasti akan ikut campur. Harga penawarannya bisa melonjak tidak masuk akal hingga menyentuh angka puluhan miliar, dan ia mungkin akan kalah saing. Ia harus mengamankan barang ini sekarang juga.
"Dengar, anak muda. Proses lelang itu panjang. Butuh waktu berbulan-bulan untuk verifikasi dokumen, pembuatan katalog asuransi, publisitas, belum lagi potongan komisi balai lelang sebesar dua puluh persen dari harga jual akhir," jelas Tirta dengan nada membujuk.
Bayu diam mendengarkan, membiarkan Tirta melanjutkan tawarannya. Ia tahu posisinya sekarang berada di atas angin.
"Saya menawarkan transaksi pribadi. Bawah tangan. Saya beli mangkuk ini dari kamu hari ini juga, tunai langsung ke rekeningmu. Lima ratus juta rupiah."
Suasana lobi mendadak hening seketika. Resepsionis menutup mulutnya yang menganga. Mantan penilai Johan yang masih berdiri di sana tampak seperti ingin pingsan. Uang lima ratus juta ditawarkan begitu saja di lobi untuk sebuah mangkuk dari dalam kotak sepatu bekas.
Bayu mengingat kembali informasi dari Kacamata Penilai Barang Antiknya semalam. Nilai estimasi pasar benda itu adalah empat ratus lima puluh sampai enam ratus juta rupiah. Tawaran Tirta berada tepat di tengah-tengah. Sangat masuk akal dan adil.
Namun, Bayu bukan orang bodoh yang langsung melompat kegirangan di tawaran pertama.
"Tuan Tirta, saya tahu Bapak adalah kolektor besar. Dan saya juga tahu bahwa mangkuk era Xuande dengan kondisi semulus ini sangat langka di pasaran," Bayu memasang wajah datar, nada suaranya sangat tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya yang mau meledak. "Di pasar internasional balai lelang Christie"s atau Sotheby"s, barang ini bisa menyentuh angka lebih dari enam ratus juta rupiah."
Tirta sedikit terkejut mendengar argumen teknis dari pemuda berpenampilan lusuh ini. Ia tersenyum, menyukai nyali pemuda di depannya.
"Kamu benar. Tapi itu angka kotor belum dipotong pajak dan komisi lelang. Lalu, berapa yang kamu mau untuk melepasnya ke saya hari ini?" tantang Tirta.
"Lima ratus lima puluh juta rupiah. Uang bersih, tanpa potongan apa pun, masuk ke rekening saya detik ini juga. Dan barang ini mutlak menjadi milik Bapak tanpa pesaing," jawab Bayu tegas, menatap langsung ke mata sang konglomerat.
Tirta terdiam selama beberapa detik. Ia menatap mangkuk di tangannya, lalu menatap Bayu, dan akhirnya tertawa lepas. Tawanya menggema di lobi yang hening.
"Luar biasa. Kamu masih muda tapi sangat pandai bernegosiasi. Deal! Lima ratus lima puluh juta," Tirta menyodorkan tangan kanannya yang tidak memakai sarung tangan.
Bayu menyambut jabatan tangan itu dengan mantap. "Deal."
Mereka berdua pindah ke ruang VIP di lantai dua, ditemani oleh manajer balai lelang sebagai saksi transaksi pribadi tersebut. Sambil meminum kopi tubruk yang disajikan oleh pelayan, Tirta meminta nomor rekening Bayu. Ia melakukan panggilan telepon singkat ke manajer bank pribadinya.
Hanya butuh waktu lima menit.
Kring!
Ponsel Bayu yang layarnya retak bergetar di dalam sakunya. Ia mengeluarkannya dan membuka layar notifikasi.
[Transfer Masuk: Rp 550.000.000. Pengirim: Tirta Wijaya.]
Bayu menatap deretan angka nol yang berjejer panjang di layar ponselnya. Kepalanya terasa ringan. Kakinya seolah tidak menapak lantai. Ia menelan ludah, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat seperti orang kampung yang baru menang lotre.
Setengah jam yang lalu, ia harus menghitung sisa koin di dompetnya untuk membeli sebungkus nasi. Sekarang, ia bisa membeli warung nasi itu beserta tanahnya jika ia mau.
"Senang berbisnis denganmu, Nak Bayu," kata Tirta sambil memasukkan mangkuk porselen itu ke dalam koper keamanan berlapis busa baja yang baru saja dibawakan oleh pengawalnya. Ia menyerahkan sebuah kartu nama elegan berwarna hitam bertuliskan tinta emas. "Ini nomor pribadi saya. Jika keluargamu masih menyimpan barang-barang kuno lainnya, jangan repot-repot datang ke balai lelang. Hubungi saya langsung."
"Pasti, Pak Tirta. Terima kasih banyak," jawab Bayu sambil menyimpan kartu nama itu ke dalam saku dadanya.
Bayu berjalan keluar dari ruang VIP, menuruni tangga pualam, dan melintasi lobi utama. Johan sudah tidak terlihat di sana, mungkin sedang membereskan mejanya dengan penuh penyesalan. Para resepsionis yang tadi menatapnya dengan sebelah mata kini menundukkan kepala dengan hormat saat ia lewat.
Begitu pintu kaca otomatis terbuka dan Bayu melangkah keluar dari gedung Balai Lelang Nusantara, angin panas Jakarta menyapanya. Tapi kali ini, udara terasa sangat segar. Suara bising knalpot mobil terdengar seperti musik yang merdu.
Bayu merogoh sakunya, menggenggam ponselnya yang berisi uang setengah miliar rupiah. Otaknya yang analitis sudah kembali bekerja normal, merencanakan langkah mematikan selanjutnya.
"Reza, Pak Handoko," gumam Bayu, matanya memancarkan tekad yang dingin menatap deretan gedung pencakar langit. "Mari kita lihat, seberapa berani kalian menindasku saat aku kembali ke kantor besok."
Permainan baru saja dinaikkan ke level berikutnya.