Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Mama Wina tak berkedip melihat semua perhiasan di tubuh nya Winda, dia menelan ludah nya sendiri.
'Benar sekali apa yang di katakan oleh wanita ini, jika aku bisa mendapatkan uang dan join investasi ini, maka aku tidak perlu lagi meminta uang pada Maira!" Guman Mama Wina di dalam hati.
"Gimana, tante tertarik ikut join di dalam investasi ini?" Tanya Winda lagi.
Mama Wina tersadar dari lamunan nya, dia memang tertarik tapi saat ini dia tidak punya uang. Begitu pun dengan Nia, selama ini uang yang di berikan oleh Azam dan Maira selalu habis mereka gunakan untuk berfoya - foya.
"Kita cari uang nya dulu Win, kalau udah dapet kita langsung kasih tahu kamu ya!" Nia berkata pada teman nya tersebut.
"Ya udah gak papa kok, kalian usah dulu cari uang nya. Sayang loh jika gak join, dari pada kerja dari pagi sampe sore belum tentu dapet uang nya. Lebih baik investasi aja, duduk santai di rumah uang ngalir terus!" Kembali Winda melontarkan bujuk dan rayu nya.
Mama Wina dan Nia mengangguk kan kepala nya, isi di kepala mereka sama yaitu bagai mana cara nya agar bisa mendapat kan uang secepat untuk modal investasi.
"Silahkan di nikmati makanan dan minuman nya, semua ini biar saya yang traktir!" Ujar Winda dengan senyum lebar nya.
"Benar kah? Wah makasih banyak ya Win!" Mama Wina senang sekali bisa mendapat kan makanan gratisan hari ini.
"Santai saja kok tante!" Winda berkata dengan ramah.
Mereka bertiga langsung menikmati makanan yang ada di hadapan mereka, ini adalah kesempatan langkah bagi mereka bisa makan makana enak ala restoran gratis lagi. Di rumah mereka hanya di suguhkan dengan ikan asin dan tahu tempe saja.
"Makasih ya Win traktiran nya, tante sama Nia permisi dulu!" Mama Wina segera pamit setelah menghabiskan makanan mereka.
"Sama - sama tan, kalau udah punya uang nya langsung kabarin aku aja ya!" Ujar Winda lagi.
"Pasti itu, Win!" Jawab Nia.
Kedua wanita beda usia itu langsung pergi meninggal kan kafe tempat mereka janjian, sepanjang perjalanan kedua nya tidak henti - henti nya membahas rencana dari mana mereka bisa mendapat kan uang cepat saat ini.
"Dari mana ya kita bisa dapet uang segera saat ini?" Tanya Mama Wina sambil menjatuhkan pantat nya di sofa.
"Entah lah bu, aku juga bingung!" Jawab Nia sambil memijit pelipis nya.
"Kamu beneran gak punya simpanan persiapan, Nia?" Tanya Mama Wina.
"Ma, jika aku punya simpanan perhiasan maka aku tidak akan pusing. Udah lama aku jual dan join investasi sama Winda!" Jawab Nia sambil berdecak sebal.
Mama Wina tampak berfikir keras, jika dia bisa mendapat kan uang untuk investasi, dan hasil dari investasi itu pasti besar. Dengan begitu dia bisa membalas perbuatan Maira oada mereka, tapi sayang nya saat ini mereka tidak punya uang sama sekali. Jangan kan untuk investasi, untuk makan saja mereka bergantung dengan Maira.
"Nia, ibu punya usul jika kau setuju!" Mama Wina berkata pada Nia.
"Apa itu Ma?" Tanya Nia dengan penasaran.
"Bagai mana kalau kita jual saja rumah mu, lalu uang nya kita investasikan sama Winda. Setelah setiap bulan kita mendapat kan keuntungan nya, kau bisa membeli rumah lain yang jauh lebih besar!" Mama Wina menceritakan rencana nya.
"Tapi Ma, itu adalah rumah satu - satu nya peninggalan mas Damar untuk ku dan Ayu. Jika rumah itu di jual, maka kami akan tinggal di mana?" Tanya Nia pada Mama Wina.
"Aduh, begitu saja kok kamu pusing. Ya kamu dan Ayu tinggal di sini, di rumah ini. Kau dan Ayu adalah tanggung jawab Maira dan Azam, jadi sudah seharusnya kamu tinggal di rumah ini!" Ujar Mama Wina.
Nia tampak berfikir sejenak, benar sekali apa yang di katakan oleh mertua nya. Diri nya dan Ayu adalah tanggung jawab Maira dam Azam, jadi sudah sepantasnya mereka berdua tinggal di rumah ini.
"Mama benar sekali, aku dan Ayu bisa tinggal di sini. Lagian kan rumah ini cukup besar, lebih baik rumah itu di jual dan uang nya aku invetasikan sama Winda. Dengan begitu setiap bulan kita bisa mendapat kan uang dari hasil investasi itu!" Nia setuju dengan usul sang Mama mertua .
******
Saat ini Maira dan Arini sedang berada di kantin, mereka sedang istirahat makan siang.
"Rin, kamu bisa bantu aku carikan orang yang mau membeli mobil ku!" Maira berkata pad Arini.
"Kamu mau menjual mobil mu, Mai?" Tanya Arini sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut nya.
"Iya Rin, lebih baik mobil itu aku jual saja. Dari pada terus di gunakan oleh Mas Azam dan keluarga nya, mereka udah sangat keterlaluan Rin. Tadi pagi mas Azam sengaja mengajak keluarga nya sarapan di luar, pale mobil itu. Dia juga meminta ku naik ojek ke kantor!" Maira lalu menceritakan kejadian tadi pagi dengan Arini.
"Kurang ajar, padahal itu kan mobil yang kau beli sebelum menikah dengan nya. Tapi dia mengakui sebagai mobil nya dan tidak membiarkan kau menggunakan nya lagi. Benar - benar tidak tahu malu!" Arini geram mendengar apa yang di alami sahabat nya.
"Maka nya aku mau jual saja mobil itu, aku bisa membeli motor untuk pergi ke kantor, atau aku bisa naik taksi online saja!" Maira berkata pada sahabat nya.
"Kamu tenang saja Mai, aku akan bantu kamu untuk menjual mobil itu. Aku akan promosikan mobil mu di grup jual beli mobil secara online!" Arini berkata sambil mengeluarkan ponsel nya.
"Oh ya, kamu punya foto mobil mu?" Tanya Arini lagi.
"Punya sih, tapi cuma dari luar nya saja. Aku gak punya foto bagian dalam nya!" Jawab Maira.
"Gak papa, kamu kirim saja dengan ku. Besok kau bisa ambil foto bagian dalam nya!" Ujar Arini.
Maira langsung mengirimkan beberapa foto mobil nya pada Arini, dia berharap semoga mobil itu segera laku.
"Mai, boleh aku bertanya sesuatu pada mu?" Tanya Arini dengan serius.
"Tanyakan saja, Rin!" Jawab Maira sambil tersenyum.
"Bagai mana selanjutnya hubungan mu dengan Azam?" Tanya Maira dengan hati - hati.
"Aku sih berharap nya mas Azam bisa bersikap tegas terhadap keluarga nya, aku tidak masalah dia mau memberikan gaji nya pada mbak Nia. Mengingat mbak Nia adalah janda nya mas Damar, kakak nya mas Azam. Menurut ku, jika bukan masalah perselingkuhan aku masih nisa memaafkan nya!" Maira berkata pada Arini.
"Semoga saja ya Mai, sayang sekali Azam masuh berada di bawah kendali ibu nya!" Arini merasa prihatin dengan nasib rumah tangga sahabat nya tersebut.
Maira hanya bisa berdoa, semoga Azam bisa bersikap adil antara istri dan keluarga nya. Sebenar nya Maira tidak masalah ibu dan adik nya Azam ikut tinggal bersam di rumah mereka, hanya saja dia ingin Azam bisa bersikap tegas dan tidak membiarkan mereka menginjak harga diri nya.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH