NovelToon NovelToon
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Single Mom / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.

"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.

"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 13

Setelah kejadian dimana Jenia mendapatkan panggilan dari sekolah putrinya, Jenia lebih memperhatikan Cwen, bahkan bertanya hal apa saja yang telah putrinya lewati saat di sekolah, apakah ada temannya lagi yang berbuat nakal kepadanya.

Jenia yakin jika Cwen tidak mungkin memukul dan menjambak rambut temannya jika bukan temannya duluan yang menjahili Cwen, dan benar saja begitu Ansel bercerita jika memang temannya lah yang memulai jahil lebih dulu.

Yang lebih membuat Jenia terluka adalah, kenapa Cwen tidak pernah mau membagi kesedihannya kepada dirinya, Cwen selalu saja bersikap ceria, entah dia yang memang lupa dengan kesedihannya atau memang Cwen yang memang pintar menyimpan masalah.

Jenia sengaja berdandan lebih rapi karena hari ini ia ada undangan untuk melakukan casting. Ya, selama beberapa hari ini Jenia mencoba mendaftarkan diri menjadi seorang model, bintang iklan, bahkan sampai bintang film, berharap salah satu di antara banyaknya lamaran milik Jenia, ia diterima.

Ia tidak bisa lagi bergantung kepada orang lain, bulan ini ia harus membayar uang bulanan di sekolah Cwen, belum lagi kebutuhan untuk sehari-hari mereka, karena yang pegangan Jenia semakin hari semakin menipis, dan mungkin hanya akan cukup untuk dua hari ke depan.

Tapi baru saja Jenia keluar apartement, kedua matanya tidak sengaja melihat seseorang yang begitu ia kenal sedang melangkah mendekat kepadanya, cepat-cepat Jenia kembali masuk ke dalam apartemennya, berharap orang itu tidak melihat keberadaan dirinya.

"Kenapa bisa ada di sini?"

"Ya ampun rasanya sudah lama sekali tidak melihatnya, jantungku sampai berdetak tidak karuan, padahal hanya melihat wajahnya saja, belum tentu juga itu benar," ucap Jenia.

"Loh, mama mau kemana?"

Dari arah pintu kamar, Cwen keluar sembari mengucek kedua matanya, ia baru saja bangun tidur siang, dan melihat mamanya yang sudah berpakaian sangat rapi sedikit membuat Cwen panik.

"Ya ampun, sayang, jangan di kucek gitu dong matanya, nanti iritasi,"

Jenia menghentikan kedua tangan Cwen agar tidak lagi mengucek matanya.

"Mama mau kemana?" tanya Cwen lagi karena pertanyaan yang tadi belum juga di jawab oleh mamanya.

"Mama pergi sebentar, mama juga sudah bilang kepada pak guru untuk menjaga Cwen di sini, tapi melihat Cwen yang sudah bangun, bagaimana kalau Cwen yang ke tempatnya pak guru?"

Mendengar itu, Cwen tersenyum lebar, ia senang karena mamanya menitipkan dirinya dengan sang calon papa, Cwen senang sekali.

"Cwen harus mandi dulu tidak, ma?" tanya Cwen.

"Tidak perlu, Cwen masih cantik kok walaupun belum mandi," canda mamanya membuat Cwen terkikik pelan.

"Ayok, mama antarkan Cwen sampai masuk ke dalam apartemen pak guru!"

Cwen mengangguk, ia menggandeng tangan mamanya dengan riang, sepertinya mamanya dengan pak guru sudah lebih dekat, buktinya mamanya yang biasanya tidak mau merepotkan siapapun bahkan terkesan tidak enakan, sekarang berani menitipkan dirinya kepada pak guru.

"Mama dan pak guru sudah dekat ya?" goda Cwen yang mendapatkan pelototan dari mamanya karena bertepatan dengan Cwen yang bertanya pintu Apartemen milik Ansel terbuka.

"Ya ampun, Cwen sudah bangun, baru saja pak guru akan menghampiri Cwen," ucap Ansel mengusap lembut kepala Cwen.

"Sudah dong, Cwen kan anak rajin, jadi sudah bangun tidur siang," balas Cwen berpindah menjadi berdiri di sisi gurunya itu.

"Pak Ansel, saya titip Cwen sebentar ya, saya janji sebelum langit gelap, saya sudah kembali,"

Ansel tersenyum kecil, "tidak apa-apa, kamu bisa meminta bantuan saya kapanpun dan juga apapun, selagi saya mampu, saya akan tetap membantu,"

"Terima kasih, pak,"

Jenia beralih menatap putrinya lembut.

"Sayang, mama pergi dulu ya, mama janji mama akan segera pulang, oke, jaga sikap ketika sama pak guru oke, Cwen juga jangan nakal ya dan membuat pak guru pusing," nasihat Jenia kepada putrinya.

"Siap mama, Cwen akan jadi anak yang baik selama Cwen bersama pak guru,"

"Anak pintar," puji Jenia mengecup dahi putrinya dulu sebelum ia benar-benar pergi dan masuk ke dalam lift.

Entah sadar atau tidak, Ansel malah diam memperhatikan penampilan Jenia yang sedikit berbeda dari biasanya, rambutnya yang biasa ia kuncir kuda, kini terurai, bahkan wajahnya yang biasanya tanpa polesan, kini terlihat bedak dan juga lipstick yang tipis.

Dan itu malah membuat jantung Ansel sedikit berdebar.

***

"Pak guru, ada telpon masuk!" beritahu Cwen berteriak sedikit kuat karena Ansel yang sedang berada di dapur.

Tidak lama dari Cwen yang berteriak memanggil sang guru, terdengar suara langkah kaki yang cepat, Ansel muncul dengan spatula di tangan kirinya, ia sedang memasak untuk makan malam dirinya dan juga Cwen.

"Halo, yah?"

Ansel langsung mengangkat telponnya begitu melihat nama sang ayah pada layar ponselnya.

Ansel mengerutkan dahinya bingung, karena ia tidak mendengar suara sang Ayah yang membalas sapaannya, Ansel kembali melihat layar ponsel untuk memastikan jika yang menelponnya adalah ayahnya. Benar kok, tapi kenapa ayahnya tidak bersuara sama sekali, hanya terdengar suara banyak orang dari seberang telpon, seperti sengaja jika ponsel itu di letakkan sedikit jauh dari keramaian.

"Ayah?"

Ansel mencoba memanggil ayahnya sekali lagi.

"Halo Ansel,"

Barulah suara Ayahnya terdengar, Ansel mendudukan pantatnya di sofa, masih dengan spatula di tangan kirinya.

"Ada apa, yah?" tanya Ansel, karena ayahnya tidak akan menelpon dirinya jika tidak ada urusan yang penting, dan kini ayahnya menelpon dirinya, itu artinya memang ada hal penting yang ingin ayahnya sampaikan kepada dirinya.

"Ansel, bella sudah sampai belum? Paman Angga bilang, ia pergi ke apartemen kamu dengan teman perempuannya yang orang Indonesia?"

Ansel mengerutkan alisnya bingung, Bella? Bersama temannya? Ingin ke apartemen dirinya? Untuk apa?

"Jangan-jangan masih belum sampai?" tanya Ayahnya curiga.

"Loh, sejak tadi tidak ada siapa-siapa kok yang datang ke apartemen Ansel, tidak ada juga yang memencet bel atau mengetuk pintu," beritahu Ansel membuat ayahnya di sebrang sana menghela napas berat.

"Sepertinya mereka tidak menemukan apartemenmu, biar ayah beritahu kepada paman Angga jika Bella dan temannya sama sekali tidak bertemu denganmu,"

Ansel hendak membalas ucapan ayahnya, tapi keburu telpon itu di tutup secara sepihak, Ansel hanya menatap heran ponselnya lalu ia mengendikkan bahunya acuh.

"Yang telpon ayah pak guru ya? Tadi Cwen dengar pak guru memanggilnya ayah?" tanya Cwen bediri dan mendekat ke arah Ansel yang kembali bangkit dari sofa, hendak kembali ke dapur untuk melanjutkan masakannya yang tertunda.

"Benar, yang telpon tadi ayah pak guru,"

"Ayah pak guru baik tidak? Atau jahat sepeti Ayah Cwen?" tanyanya polos.

Ansel mensejajarkan tingginya dengan Cwen, tangan kanannya terangkat untuk mengusap pipi Cwen yang sedikit chubby.

"Cwen tidak boleh mengatakan ayahbCwen jahat lagi oke, mau bagaimana pun ayah Cwen, tidak akan pernah merubah kebenaran, jika ayah Cwen itu tetap ayah Cwen,"

Cwen cemberut, "tapi Cwen tidak suka dengan ayah, ayah sudah membuat mama kesulitan, ayah juga sudah membuat mama menangis, mama pasti sakit hati karena ayah sering marah-marah kepada mama, makanya Cwen jadi tidak suka dengan ayah,"

"Tapi tetap saja tidak boleh berlebihan, kan tetap ayah untuk Cwen,"

Cwen tidak membalas, ia hanya diam sembari memeluk lengan kanan Ansel yang tidak memegang apa-apa.

"Cwen hanya ingin pak guru yang menjadi papa untuk Cwen, Cwen tidak butuh ayah, kalaupun pak guru tidak mau menjadi papa untuk Cwen tidak apa, asalkan pak guru tetap baik kepada Cwen."

1
Lailatul Maulida
lanjut kak thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Ilham
lanjut BG cerita Pertaman nya aku suka cwen ceria sekali bg
Lailatul Maulida
bagus ceritanya ringan pokoknya suka lah 😁
Lailatul Maulida
lanjut kak autor
seru ceritanya
Lailatul Maulida
pecat bu sindy nya thor guru kok Rasis sama bully muridnya
Lailatul Maulida
kasihan cwen di bully di sekolahnya 🥲
Lailatul Maulida
semangat kak thor
Lailatul Maulida
bapak gedeng sukanya nuntut doang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!