Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Luka Sidoarjo dan Langkah Jagoan
Matahari sore di pinggiran jalan raya Sidoarjo terasa sangat menyengat kulit yang sudah terbakar, namun hati Guntur Hidayat jauh lebih panas saat melihat kekasihnya turun dari mobil mewah tepat di depan matanya sendiri.
Guntur turun dari motor matic-nya yang berdebu, ia masih mengenakan jaket hijau khas atribut ojek online yang sudah pudar warnanya karena setiap hari dipakai mencari nafkah demi masa depan yang ia impikan.
"Kita putus sekarang juga, Guntur! Aku capek hidup susah, capek kepanasan di atas motor, dan aku malu setiap hari cuma bisa makan bakso pinggir jalan terus sama kamu!"
Teriak Amanda Felicia dengan wajah penuh kebencian sambil melirik rendah ke arah Guntur yang hanya terdiam mematung di pinggir jalan raya yang ramai itu.
Guntur mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia menatap kotak makanan di jok motornya yang tadinya ingin ia berikan sebagai kejutan kecil untuk merayakan hari jadi mereka yang sudah berjalan tiga tahun.
"Tapi Amel, aku sudah kerja keras narik ojek siang dan malam, semua uangnya aku tabung setiap hari buat biaya lamaran kita nanti supaya kamu bisa hidup bahagia dan tidak kekurangan."
Jawab Guntur dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan sisa-sisa hubungan yang sudah dia perjuangkan dengan tetesan keringat dan air matanya sendiri.
Amanda Felicia justru tertawa sinis dan meludah ke tanah, ia menatap pria kaya yang menunggu di dalam mobil mewah itu sebelum kembali menghina Guntur dengan kata-kata yang sangat menusuk ulu hati.
"Lamaran pakai uang tip koin dari penumpang? Jangan mimpi ketinggian, mending kamu balik ke desa jadi tukang ngarit saja daripada jadi gembel yang nggak tahu diri di kota ini!"
Setelah mobil mewah itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap, Guntur menarik napas panjang dan menatap langit Sidoarjo yang mulai memerah, ia bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata untuk wanita seperti itu.
Malam harinya di sebuah rumah sederhana di Desa Gedangan, Guntur duduk bersimpuh di lantai di depan ayahnya, Bapak Suryo, dan ibunya yang sangat lembut, Ibu Siti Khumairoh.
"Pak, Buk, kulo nyuwun pangestu nggih. Benjang subuh Guntur badhe pamit mangkat merantau teng Jakarta kersane saget ngerubah nasib keluarga kita dan mboten diremehke tiyang malih."
Ucap Guntur sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan sangat takzim, memantapkan niatnya untuk bertarung di kerasnya Ibu Kota Jakarta.
Keesokan paginya, setelah menempuh perjalanan jauh, Guntur akhirnya tiba di Jakarta dengan membawa ransel besar dan sebuah kardus mie instan berisi perbekalan sederhana dari desanya.
Baru saja ia melangkah keluar dari terminal, tiba-tiba sebuah mobil sport merah mewah melaju kencang dan hampir saja menghantam tubuh Guntur yang sedang kebingungan mencari arah jalan.
Seorang wanita cantik dengan pakaian kantor yang sangat elegan keluar dari mobil tersebut sambil membanting pintu dengan sangat keras.
"Heh, Gembel! Kamu punya mata nggak sih? Kalau mau mati jangan di depan mobil saya, kamu tahu harga mobil ini jauh lebih mahal dari nyawamu yang lusuh itu!"
Bentak wanita itu yang ternyata bernama Vanesha Adeline, CEO muda yang merupakan sepupu Amanda.
Guntur bukannya takut, ia justru berdiri tegak dan menatap wajah ketus Vanesha dengan tatapan santai sambil nyengir sengklek andalannya.
"Waduh, ini Mak Lampir baru keluar dari hutan mana ya? Cantik-cantik kok mulutnya kayak knalpot bus kota yang berkarat, panas bener kalau ngomong!"
Setelah meninggalkan Vanesha yang mengamuk, Guntur berjalan hingga tiba di depan gedung "The Dragon" dan melihat seorang pria paruh baya, Bang Soni, sedang dikepung lima preman bersenjata.
Melihat pengeroyokan itu, darah jagoan Guntur mendidih; ia meletakkan kardus mie instannya dengan rapi di trotoar lalu melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa.
"Woi Mas-Mas tatoan! Mending kalian pulang bantu Ibu goreng tempe daripada ganggu orang tua di jalan begini!"
Teriak Guntur sambil melayangkan tendangan lurus yang tepat mengenai dada preman terdepan hingga terpental jauh.
Hanya dalam hitungan menit, Guntur melumpuhkan semua preman itu dengan teknik silat warisan kakeknya yang sangat lincah, membuat Bang Soni ternganga tidak percaya melihat kehebatan pemuda itu.
"Luar biasa! Siapa namamu, Anak Muda? Kamu punya bakat yang sangat langka, mulai hari ini kamu harus ikut saya dan akan menjadi orang kepercayaan saya!"
Ucap Bang Soni sambil merangkul bahu Guntur, menandakan bahwa petualangan Guntur Hidayat di Jakarta baru saja dimulai dengan ledakan yang hebat.