NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: GOSIP DI BALIK TEMBOK DAN HATI YANG TERGORES

Pesta pernikahan itu mungkin sudah usai, tenda-tenda mulai dibongkar, dan lampu-lampu hias telah dipadamkan. Namun, di kampung Tebet, pesta yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan pesta makanan atau musik, melainkan pesta lidah.

Di Indonesia, terutama di kampung-kampung padat penduduk, informasi bergerak lebih cepat daripada internet. Dan bahan bakarnya adalah gosip.

Di teras rumah Bu RT, asap rokok kretek mengepul tipis (meski kebanyakan pelakunya perempuan). Di atas meja, tersisa kue kering setengah habis dan gelas-gelas teh manis yang sudah dingin. Empat ibu-ibu inti kampung duduk melingkar, mata mereka berbinar-binar khas detektif yang sedang membedah kasus pembunuhan.

"Ih, gila sih tadi," buka Bu Lik Minah, tetangga sebelah kiri musholla, sambil mengunyah kerupuk dengan suara nyaring. "Lo liat nggak gaya si Rina? Jalan kayak ratu Inggris! Padahal dulu kan dia cuma anak hilang yang bajunya sobek-sobek. Sekarang? Wah, sok suci banget!"

Bu RT, yang merasa paling berkuasa karena rumahnya jadi posko pembagian nasi kotak tadi, menyeringai sinis. "Iya, Min. Gue perhatiin dari tadi. Itu gaun pengantinnya pasti mahal banget. Lo tahu nggak harganya? Kata orang dalam, satu helang benangnya bisa buat beli motor baru! Si Aris itu memang gila harta, ya. Masa mau nikah sama korban beginian? Nggak takut bawa sial?"

"Dasar laki-laki," sahut Bu Darmi, ibu tiga anak yang paling jago menebar fitnah dengan wajah polos. "Makin rusak barangnya, makin dikejar sama orang kaya. Mungkin si Aris punya selera aneh. Atau jangan-jangan... si Rina pake ilmu pelet? Lo inget nggak, dulu si Rina itu biasa aja, mukanya kusam, badannya kurus kering. Tiba-tiba sekarang glowing banget! Pasti ada apa-apa."

"Ih, bener juga kata lo, Mi!" Bu Lik Minah langsung setuju, matanya melebar. "Gue lihat tadi pas salaman, kulitnya halus banget kayak bayi. Mustahil! Masa bekas diperkosa bisa sehalus itu? Pasti duit si Aris dipakai untuk operasi plastik sana-sini. Makanya sekarang berani jalan tegak."

Bu RT menghela napas panjang, pura-pura prihatin tapi sebenarnya menikmati sekali momen ini. "Ya namanya juga nasib kita beda, Bu. Kita ini rakyat kecil, kerja banting tulang cuci baju, masak, urus anak, ya wajar kalau muka kita keriput, tangan kita kasar. Lah si Rina? Tinggal duduk manis, dapat suami triliuner. Hidup tuh nggak adil ya. Tuhan kayaknya lagi tidur waktu bagi-bagi rezeki buat kita."

"Tuh kan!" seru Bu Darmi sambil menunjuk-nunjuk. "Gue sih yakin, nggak bakal langgeng. Nanti kalau si Aris bosen, si Rina bakal dibuang lagi. Malu-maluin aja jadi mantan istri Tuan Aris. Mending jadi istri montir kayak rencana awal sama si Dimas, itu lebih nyata. Ini? Sok cantik, sok suci, padahal aslinya..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya memberikan kode jari telunjuk ke arah bibir, seolah berkata: Kita semua tahu aibnya.

Mereka tertawa bersama, tawa yang renyah namun penuh racun. Dalam pikiran mereka, menjatuhkan Rina adalah cara terbaik untuk menaikkan harga diri mereka yang terasa rendah. Jika Rina bahagia karena "curang" atau "ilmu hitam", maka kegagalan hidup mereka menjadi wajar dan bisa dimaklumi.

Sementara ibu-ibu sibuk di dapur, di sudut pos ronda yang agak jauh dari keramaian, sekelompok gadis remaja hingga awal dua puluhan sedang berkumpul. Mereka adalah gadis-gadis desa yang merasa diri mereka "lebih layak". Ada Siska, si paling cantik di kampung menurut versi sendiri; ada Yuni, yang rajin ikut lomba dangdut; dan beberapa lainnya yang hari ini datang ke pesta dengan harapan bisa melirik para pria kaya teman Aris.

Wajah mereka cemberut. Bedak tebal di wajah mereka mulai luntur oleh keringat, membuat garis-garis kekesalan semakin terlihat jelas.

"Gue nggak habis pikir," gerutu Siska sambil membetulkan letak hijab mahalnya yang sebenarnya KW super. Dia menatap nanar ke arah rumah kontraknan Rina yang kini sudah dipagari tinggi. "Si Rina itu apa sih spesialnya? Coba lo liat mukanya. Biasa aja! Hidungnya pesek, matanya sipit. Kalau gue yang jadi pengantin tadi, pasti jauh lebih meriah!"

Yuni mengangguk kuat-kuat, sambil memutar-mutar rambut palsu extension-nya. "Bener banget, Sik! Gue tadi udah dandan mati-matian. Pakai kebaya baru, parfum impor. Harapannya kan bisa kenalan sama temennya si Aris. Eh, malah si Aris matanya cuma melotot ke si Rina doang! Kayak nggak ada wanita lain di dunia ini selain dia. Menjijikkan!"

"Padahal gue lebih putih lho," keluh gadis lain bernama Tati, mengangkat lengannya yang memang lebih cerah karena jarang kena matahari dibanding Rina yang dulu sering bantu ibu jualan. "Gue perawatan rutin ke salon tiap minggu. Si Rina? Dulu aja dia nggak pernah denger nama skincare. Tiba-tiba sekarang jadi dewi? Nggak masuk akal! Pasti si Aris buta!"

Siska mendengus kesal, kakinya menendang kaleng kosong hingga berbunyi nyaring. "Gue yakin si Rina itu manipulator ulung. Dia pure akting jadi korban lemah biar si Aris kasihan. Laki-laki kaya itu kan biasanya punya kompleks pahlawan. Pengen nyelamatin orang. Nah, si Rina mainin itu! Kalau gue jadi dia, gue malu. Masa jadi terkenal karena kasus perkosaan? Harusnya dia sembunyi, bukan malah pamer kebahagiaan!"

"Iri sih, gue iri," aku Yuni tiba-tiba, suaranya lirih tapi penuh dengki. "Gue lebih cantik, gue lebih pandai bergaul, gue anak orang baik-baik (orang tua Yuni sebenarnya pemilik toko kelontong yang sering naikkan harga beras). Kenapa bukan gue yang dinikahi Tuan Aris? Kenapa harus dia? Apa kurang cantik gue? Apa kurang seksi?"

Mereka saling pandang. Dalam hati masing-masing, ada perasaan tidak terima yang membuncah. Mereka merasa dunia ini salah tempat. Seharusnya, kecantikan fisik dan usaha memoles diri adalah tiket utama menuju kebahagiaan. Fakta bahwa Rina—yang mereka anggap "rusak" dan "biasa saja"—bisa meraih puncak menara emas, membuat keyakinan mereka tentang keindahan dan kebaikan runtuh.

"Ah, sudahlah," kata Siska akhirnya, mencoba menutupi kekecewaannya dengan kesombongan. "Nanti juga ketahuan aslinya. Laki-laki itu bosennya cepat. Begitu si Rina udah nggak bisa akting lemah, si Aris bakal cari yang segar. Dan saat itu terjadi... kita tunggu saja. Kita akan lihat siapa yang tertawa terakhir. Gue bakal tetap siap-siap. Siapa tahu si Aris butuh selir atau teman hiburan nanti."

Mereka tertawa lagi, tawa yang dipaksakan. Tapi di balik tawa itu, ada luka ego yang dalam. Mereka iri bukan sekadar pada uang Aris, tapi pada fakta bahwa Rina dicintai secara utuh, sementara mereka hanya bisa menawarkan kecantikan luar yang ternyata tidak cukup untuk membeli hati seorang pria sejati.

Jauh dari telinga-telinga jahil itu, di dalam rumah kontrakan yang kini sudah disulap menjadi hunian nyaman namun tetap sederhana, Rina dan Aris duduk berdua di ruang tamu.

Aris sedang memijat kaki Rina yang lelah berdiri seharian. Rina terlihat lesu, matanya sembab.

"Kenapa, Sayang?" tanya Aris lembut. "Masih sakit hati sama kejadian Dimas?"

Rina menggeleng pelan. "Bukan cuma Dimas, Kak. Tadi... tadi aku dengar bisik-bisik ibu-ibu waktu ambil nasi. Mereka bilang aku pakai ilmu pelet. Bilang aku operasi plastik. Bilang aku nggak pantas."

Suara Rina bergetar. "Mereka juga bilang... aku ini aib. Bahwa kamu menikahiku cuma karena kasihan atau karena selera aneh. Kak, apakah... apakah aku benar-benar noda buat kamu?"

Aris berhenti memijat. Ia bangkit, lalu duduk di samping Rina, mengangkat dagu istrinya agar menatap matanya.

"Dengar saya, Rina," ucap Aris tegas, tatapannya membakar keraguan di mata istrinya. "Biarkan mereka bicara. Biarkan ibu-ibu itu menyalurkan iri hati mereka dengan gosip murahan. Biarkan gadis-gadis itu merasa lebih cantik dengan kaca spion mereka yang retak. Itu urusan mereka dengan Tuhan."

Aris mengusap air mata di pipi Rina dengan ibu jarinya.

"Kamu tahu kenapa saya memilihmu? Bukan karena kasihan. Bukan karena ingin jadi pahlawan. Saya memilihmu karena di saat semua orang melihatmu hancur, saya melihat cahaya iman yang tidak padam di matamu. Di saat semua orang menjauh, kamu masih percaya pada kebaikan. Itu kecantikan yang tidak dimiliki Siska, Yuni, atau ibu-ibu tetangga kita. Kecantikan itu tidak bisa dibeli dengan operasi plastik, tidak bisa diraih dengan bedak mahal."

Rina tersenyum tipis, hatinya sedikit terhibur

"Mereka iri, Rin," lanjut Aris. "Karena mereka sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa cinta sejati itu tentang menerima kekurangan, bukan memamerkan kelebihan. Mereka iri karena kamu memiliki sesuatu yang tidak bisa mereka beli: Hati yang bersih dan pasangan yang mencintai jiwamu, bukan tubuhmu."

Aris mencium kening Rina lama. "Biarkan mereka menggonggong, Sayang. Kita tetap berjalan. Bulan madu kita besok ke Swiss. Biar mereka sibuk dengan gosip mereka, kita sibuk membangun surga kecil kita sendiri."

Rina memeluk Aris erat. Di luar, suara gosip masih terdengar samar-samar terbawa angin malam. Tapi di dalam pelukan Aris, Rina merasa kebal. Gosip mungkin bisa merusak reputasi, tapi tidak bisa menghancurkan cinta yang dibangun di atas kebenaran.

Dan malam itu, di kampung Tebet, tidur nyenyak hanya milik dua insan yang saling memahami. Sementara para penggosip dan si pembenci, mungkin akan terjaga sepanjang malam, digerogoti oleh rasa iri yang mereka tanam sendiri.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!