"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Panggung Sang Pencipta yang Runtuh
"Kau benar-benar mengira bisa menghapus namaku dari dunia ini seolah aku hanyalah kesalahan penulisan, Blair?"
Suara itu melengking di balik hiruk-pikuk musik klasik dalam ruangan Gala Night Alexander Group. Aku sedang berdiri di balkon yang menghadap ke arah laut, menjauh sejenak dari kerumunan kolega bisnis yang terus-menerus memujiku atas keberhasilan desain Phoenix.
Aku berbalik pelan. Di sana, Elodie berdiri dalam kegelapan bayangan pilar. Wajahnya tidak lagi secantik model papan atas yang kukenal. Matanya cekung, kulitnya pucat, dan gaun hitamnya tampak terlalu longgar di tubuhnya yang menyusut. Ia memegang sebuah buku catatan kecil—buku yang sama yang kulihat di kafe tempo hari.
"Elodie," aku menyahut datar. "Masih belum menyerah setelah melihat Lily dikirim kembali ke London pagi ini?"
Elodie tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan amplas. Ia melangkah maju ke bawah cahaya lampu balkon. "Lily hanyalah penghambat. Andreas hanyalah pion bodoh. Tapi kau... kau adalah anomali. Kau adalah virus yang merusak sistem asliku!"
Ia mencengkeram buku catatannya erat-erat. "Aku menulis dunia ini! Aku yang memberikan Liam kekayaannya! Aku yang memberikan Axelle kecerdasannya! Dan aku yang memberikanmu kematian tragis di bab lima puluh! Kenapa kau masih bernapas?!"
Aku melangkah mendekat, sama sekali tidak merasa terintimidasi. "Karena dunia ini bukan lagi milikmu, Elodie. Sejak jiwaku masuk ke sini, pena itu sudah berpindah tangan. Kau bukan lagi penulis, kau hanya karakter yang tersesat dalam obsesimu sendiri."
"Bohong!" Elodie berteriak, air mata frustrasi mengalir di pipinya. "Aku bisa mengubahnya sekarang! Aku akan menulis kecelakaan besar di pesta ini! Aku akan membuat gedung ini runtuh!"
Ia mulai menulis dengan liar di bukunya, namun jemarinya gemetar hebat.
"Tulis saja," tantangku pelan. "Tapi lihatlah di sekitarmu. Liam tidak lagi menatapmu dengan rasa kasihan. Axelle tidak lagi takut padamu. Dan sistem dunia ini... dia mulai menolakmu karena kau mencoba menghancurkan apa yang sudah menjadi kenyataan."
Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Liam muncul dari balik pintu kaca, wajahnya mengeras saat melihat Elodie.
[Dia lagi... wanita gila ini lagi! Dia berani muncul di pestaku? Dia menyentuh Blair-ku lagi? Aku ingin mencekiknya dengan tanganku sendiri! Blair, menjauhlah darinya. Dia sudah kehilangan akal sehatnya.]
"Lepaskan pena itu, Elodie," suara Liam berat dan penuh ancaman. "Keamanan sudah dalam perjalanan. Kau masuk ke sini dengan identitas palsu, dan aku punya cukup bukti untuk menjebloskanmu atas percobaan pembunuhan karakter dan spionase industri."
Elodie menatap Liam dengan tatapan memuja yang mengerikan. "Ralph... ini aku, Elodie. Penciptamu! Aku yang membuatmu mencintai Blair sejak SMA agar ceritanya lebih dramatis! Tanpa aku, kau tidak akan pernah memiliki perasaan itu!"
Liam mendengus jijik. Ia berdiri tepat di sampingku, merangkul pinggangku dengan sangat posesif. "Aku tidak peduli siapa yang menulis perasaanku. Yang aku tahu, setiap kali aku melihat Blair, jantungku berdetak karena keinginanku sendiri, bukan karena tinta di atas kertas. Pergilah dari pandanganku sebelum aku benar-benar bertindak kejam."
"Kalian tidak mengerti!" Elodie histeris, ia mencoba menerjangku, namun pengawal pribadi Liam yang dipimpin oleh Pak Haris segera menangkap lengannya.
"Lepaskan aku! Aku penulisnya! Aku tuhannya di sini!" teriakan Elodie menggema di seluruh balkon, menarik perhatian beberapa tamu di dalam.
Aku mendekat ke telinga Elodie saat dia sedang diseret pergi. "Elodie, di dunia nyata, kau mungkin kesepian dan hanya punya cerita ini untuk menghibur dirimu. Tapi di sini, aku punya keluarga yang nyata. Berhentilah bermimpi, dan mulailah hidup di duniamu sendiri."
Elodie terdiam, matanya kosong saat dia dibawa keluar dari gedung. Buku catatannya jatuh ke lantai, tertiup angin laut hingga lembaran-lembarannya robek dan terbang menghilang ke kegelapan malam.
Liam memelukku erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku. Tubuhnya sedikit gemetar.
[Habis... sudah habis. Wanita itu sudah pergi. Tapi kenapa aku merasa Blair juga bisa pergi kapan saja? Dia bicara soal 'dunia nyata'... apa itu artinya dia akan kembali ke sana? Tidak! Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan mengikatnya di sisiku selamanya.]
"Liam, kau memelukku terlalu kencang," bisikku sambil mengusap punggungnya.
"Aku takut," jawab Liam jujur, suaranya parau. "Aku takut kau akan menghilang seperti tulisan di buku itu."
Aku mendongak, menatap matanya yang penuh ketakutan. "Aku di sini, Liam. Selama kau tidak berubah menjadi anak mami yang manja lagi, aku tidak punya alasan untuk pergi."
Liam tersenyum tipis, mencium keningku dengan sangat lama. "Aku berjanji. Aku akan menjadi pria yang layak untukmu, bukan karena naskah siapa pun, tapi karena pilihanku sendiri."
Kami berdiri di sana, menatap hamparan laut yang luas. Malam itu, bab tentang Elodie resmi berakhir. Namun, aku tahu, sebagai 'Permaisuri Alexander', petualanganku yang sebenarnya dalam mengelola kerajaan bisnis dan membesarkan Axelle baru saja dimulai.
"Ayo masuk," ajakku. "Axelle pasti sedang mencari kita. Dia benci acara formal seperti ini jika tidak ada kita di sampingnya."
"Ayo," sahut Liam.
[Aku mencintaimu, Blair. Lebih dari kata-kata yang bisa ditulis oleh siapa pun.]
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/