NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan

Tulisan di kertas itu berubah. Endric belum sempat menutup lipatannya ketika tinta hitam itu merayap pelan di permukaan kertas. Huruf-hurufnya bergerak dan bergeser sedikit demi sedikit, seolah memiliki kehidupan sendiri. Matanya terpaku, napasnya tertahan tanpa sadar.

“...Lo lihat ini, kan?” bisik Endric.

Gandhul mendekat dengan kepala miring, memperhatikan tanpa ekspresi berlebihan.

“Lihat.”

Tulisan “Besok malam giliranmu” bergetar halus, lalu di bawahnya muncul goresan baru. Perlahan, seperti ditulis oleh tangan yang tidak terlihat, huruf demi huruf terbentuk. Endric menahan napas, setiap detik terasa lebih panjang saat ia menyaksikan perubahan itu.

“Jangan terlambat.”

Endric langsung menjatuhkan kertas itu. Bahunya tersentak.

“Anjir!”

Gandhul meloncat sedikit ke belakang, refleks, lalu mendecak ringan.

“Lebay, cok. Kertas doang.”

“Ini bukan kertas biasa!” Endric menunjuk dengan tangan gemetar.

“Ya jelas bukan. Kalau kertas biasa, gue juga malas lihat.”

Endric mengusap wajahnya dengan frustrasi. Napasnya masih belum stabil.

“Gue disuruh datang. Besok malam. Itu artinya apa, Ndhul?”

Gandhul menatap kertas itu beberapa detik, matanya sedikit menyipit, lalu menjawab santai.

“Artinya lo dipanggil resmi.”

“Resmi apaan? Ini kayak undangan nikahan, cok!”

“Bedanya yang nikah bakal hidup. Lo...” Gandhul berhenti sebentar. “Belum tentu.”

Endric menatapnya tajam. Rahangnya mengeras.

“Bisa gak lo berhenti ngomong kayak gitu?”

Gandhul mengangkat bahu.

“Gue cuma jujur.”

Endric menghela napas panjang. Ia memungut kembali kertas itu dengan hati-hati, seolah takut benda itu akan bergerak lagi. Tangannya masih gemetar saat melipatnya.

“Gue gak mau datang,” katanya pelan.

“Gak bisa.”

“Kenapa gak bisa?”

“Karena kalau lo gak datang, mereka yang bakal jemput.”

Endric langsung teringat tangan dari bawah lantai. Sensasi dingin itu kembali muncul di punggungnya. Ia menelan ludah, mencoba menepis bayangan itu, tetapi gagal.

“Gue lebih pilih kabur.”

Gandhul tertawa kecil.

“Silakan. Kita muter lagi sampai pagi.”

Endric diam. Ia menatap jalan gelap di depan rumah, lalu menoleh kembali ke dalam. Tidak ada tempat yang benar-benar terasa aman.

“Gue benci tempat ini,” gumamnya.

“Semua juga gitu di awal,” jawab Gandhul.

Mereka masuk ke dalam rumah. Endric langsung mengunci pintu dua kali, lalu mendorong kursi ke depan pintu sebagai penghalang tambahan. Gerakannya cepat dan terburu-buru, seolah sesuatu bisa muncul kapan saja.

“Lo kira ini bisa nahan apa?” tanya Gandhul.

“Minimal gue merasa aman,” jawab Endric cepat.

Gandhul mengangguk pelan.

“Ya, itu penting juga.”

Endric berjalan ke tengah ruangan, lalu duduk di lantai. Kertas itu ia letakkan di depannya. Tatapannya tidak lepas dari tulisan di sana. Ia berharap huruf-huruf itu menghilang, tetapi tetap diam di tempatnya, seperti menunggu sesuatu.

“Ndhul,” katanya pelan.

“Hm?”

“Semua orang yang dapat ini pasti mati?”

Gandhul tidak langsung menjawab. Ia melompat pelan, lalu duduk di seberang Endric. Wajahnya kali ini lebih serius.

“Gak semuanya.”

Endric langsung menatapnya.

“Serius?”

“Serius.”

Ada sedikit kelegaan yang muncul di dada Endric.

“Berarti ada yang selamat?”

Gandhul mengangguk.

“Ada.”

“Gimana caranya?”

Gandhul tersenyum tipis.

“Belum pernah ketemu.”

Endric langsung melempar tatapan kesal.

“Lo sengaja, ya?”

Gandhul terkekeh pelan.

“Biar lo tetap realistis.”

Endric menghela napas kasar.

“Gue butuh solusi, bukan roasting.”

Gandhul diam sebentar, lalu berkata pelan, nadanya lebih datar.

“Biasanya yang selamat bukan karena kuat.”

“Terus?”

“Karena belum dipilih.”

Endric menatapnya kosong. Kalimat itu tidak membantu sama sekali.

“Jadi gue harus apa?”

Gandhul mengangkat bahu.

“Bertahan.”

“Gimana caranya?”

“Jangan mati aja.”

Endric memijat pelipisnya dengan kesal.

“Gue ngomong sama tembok juga lebih membantu.”

“Gak juga. Tembok di sini kadang bisa jawab.”

Endric langsung diam. Ia menoleh pelan ke arah dinding.

“...Serius?”

Gandhul tersenyum tipis.

“Coba saja nanti.”

Endric memutuskan tidak menanggapi. Ia bangkit, lalu berjalan mondar-mandir lagi. Pikirannya berusaha mencari celah logika di tengah situasi yang semakin tidak masuk akal.

“Oke. Oke. Kita pikir logis,” gumamnya.

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih fokus.

“Desa ini punya sistem. Ada aturan. Ada yang milih. Berarti ini bukan acak.”

Gandhul mengangguk.

“Betul.”

“Kalau bukan acak, berarti bisa dimanipulasi.”

Gandhul menoleh, memperhatikannya lebih serius.

“Mulai pintar.”

Endric berhenti dan menatapnya.

“Siapa yang nentuin daftar?”

Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Endric beberapa detik, lalu berkata pelan.

“Yang tadi malam.”

Endric langsung teringat pria tua itu. Tatapannya, tekanan yang terasa di dadanya, semuanya kembali muncul. Ia menelan ludah.

“Yang paling atas kata lo?”

“Iya.”

Endric menarik napas pendek.

“Berarti kalau gue bisa ngelawan dia—”

“Lo mati lebih cepat,” potong Gandhul santai.

Endric langsung diam.

“...Iya juga.”

Beberapa detik hening. Suasana kembali menekan.

Endric menghela napas panjang.

“Oke. Rencana B.”

“Apaan?”

“Gue gak datang. Gue sembunyi.”

Gandhul mengangkat alis.

“Di mana?”

Endric terdiam. Ia melihat sekeliling rumah, tetapi tidak menemukan tempat yang meyakinkan.

“Kamar mandi?”

Gandhul tertawa.

“Lo mau mati di WC?”

“Ya minimal bersih!”

Gandhul masih tertawa.

“Rek, kalau mereka mau ambil lo, tembok pun bisa kebuka.”

Endric duduk lagi, kali ini lebih lemas. Bahunya turun.

“Gue kehabisan ide.”

“Wajar.”

Endric kembali menatap kertas itu. Tulisan di sana tidak berubah, tetapi terasa seperti memiliki tekanan sendiri. Ia sulit mengalihkan pandangan.

“Ndhul,” katanya pelan.

“Hm?”

“Kalau gue datang, lo ikut?”

Gandhul diam sebentar, lalu mengangguk.

“Gue ikut.”

Endric sedikit lega.

“Minimal ada teman.”

“Walau gak bisa bantu banyak.”

“Gak apa-apa. Yang penting ada yang ngomong.”

Gandhul tersenyum tipis.

“Lo takut kesepian, ya?”

Endric tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah cukup jelas.

Malam semakin larut. Tidak ada suara dari bawah lantai, tidak ada ketukan, dan tidak ada panggilan. Justru itu yang membuat suasana terasa semakin tidak nyaman. Keheningan seperti menunggu sesuatu.

Endric akhirnya berbaring di kasur dengan lampu tetap mati. Matanya menatap langit-langit, kosong, tetapi pikirannya penuh.

“Gue gak bisa tidur,” katanya.

“Tidur saja. Biar besok segar,” jawab Gandhul.

“Lo enak. Udah mati.”

“Makanya gue santai.”

Endric mendecak pelan.

Beberapa menit berlalu. Endric akhirnya memejamkan mata, mencoba memaksa tubuhnya beristirahat. Namun belum sempat benar-benar tertidur, suara itu muncul lagi.

Bukan dari lantai. Bukan dari luar.

Dari dalam kepalanya.

“...Endric...”

Matanya langsung terbuka. Ia duduk dengan cepat.

“Lo dengar?” tanyanya.

Gandhul menoleh.

“Dengar apa?”

“Suara...”

Sunyi. Tidak ada apa-apa. Endric mengusap wajahnya.

“Halusinasi lagi...”

Ia hendak berbaring kembali, tetapi suara itu muncul lagi, kali ini lebih jelas.

“...Endric...”

Gandhul ikut mendengarnya. Kepalanya langsung menoleh ke arah dinding.

“Bukan dari bawah,” gumamnya.

Endric ikut menoleh. Dinding di samping kasur tampak diam, tetapi perlahan muncul garis retakan tipis, seolah sesuatu dari dalam mencoba keluar.

Endric mundur dari kasur. Napasnya tertahan.

“Jangan bilang...”

Retakan itu melebar pelan. Dari celah itu muncul satu mata yang langsung menatap ke arah Endric. Mata itu tidak berkedip, tidak bergerak, hanya menatap dengan intens.

Endric membeku.

“Ndhul...” bisiknya.

Gandhul tidak menjawab. Ia menatap mata itu dengan serius. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak santai.

Mata itu bergerak sedikit, mengikuti posisi Endric. Lalu suara itu muncul lagi, lebih dekat.

“...Besok... malam...”

Endric menahan napas. Tubuhnya kaku.

“...jangan... telat...”

Retakan itu menutup perlahan. Mata itu menghilang. Dinding kembali utuh, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Sunyi kembali menguasai ruangan.

Endric berdiri tanpa bergerak. Beberapa detik berlalu sebelum ia menoleh ke arah Gandhul.

“Sekarang gue harus datang, kan?”

Gandhul mengangguk pelan. Suaranya rendah, tanpa nada bercanda.

“Iya . Sekarang lo wajib datang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!