Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Matahari siang menyengat lapangan luas di belakang gedung Akademi Awan Putih. Area ini beralaskan rumput sintetis khusus yang bisa meredam benturan jika ada siswa yang jatuh dari ketinggian. Ratusan siswa Kelas Biasa berbaris dengan rapi, masing-masing membawa tas panjang atau kotak kayu di punggung mereka.
"Ugh... Kakiku rasanya masih kesemutan," keluh Lin Fan sambil memijat betisnya. Dia baru saja bergabung kembali setelah menjalani hukuman berdiri selama dua jam di luar kelas.
"Hah... Itu salahmu sendiri karena bergerak saat meditasi," balas Xiao Yan datar. Dia berdiri di sebelah Lin Fan dengan sebuah tas kain usang yang tersampir di bahunya.
"Salahku? Bukankah kau yang menendang kursiku tadi?" Lin Fan menyipitkan mata, menatap Xiao Yan dengan penuh curiga.
"Aku tidak sengaja. Kakiku kram," jawab Xiao Yan tanpa sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya.
"Ugh, ya sudah. Aku memaafkanmu kali ini karena aku sedang sangat bersemangat!" Lin Fan menepuk kotak hitam metalik yang dia bawa. "Lihat ini, Xiao Yan! Ini adalah Pedang Angin Puyuh seri 3000. Ayahku membelinya di toko barang antik, tapi mesin penggerak energinya masih sangat mulus!"
Lin Fan membuka kotaknya dengan bangga. Di dalamnya terdapat sebuah pedang ramping berbahan baja perak dengan ukiran mesin di gagangnya. Pedang itu terlihat cukup canggih untuk ukuran siswa Kelas Biasa.
"Oh. Terlihat mahal," komentar Xiao Yan.
"Tentu saja! Harganya setara dengan keuntungan kedai sayur ayahku selama enam bulan," ucap Lin Fan sambil membelai pedangnya. "Lalu, mana pedangmu? Aku belum melihatmu membukanya sejak tadi."
"Hah... Punyaku tidak spesial," kata Xiao Yan.
Dia merogoh tas kain usangnya dan mengeluarkan sebuah pedang. Namun, begitu pedang itu terlihat, beberapa siswa di sekitar mereka yang tadinya asyik memamerkan pedang canggih langsung terdiam, lalu meledak dalam tawa.
Pedang milik Xiao Yan terbuat dari kayu jati tua yang sudah menghitam. Ada retakan kecil di dekat gagangnya, dan permukaannya terlihat sangat kasar seolah hanya diamplas seadanya. Tidak ada mesin penggerak, tidak ada slot batu energi, hanya sepotong kayu mati yang menyerupai bentuk pedang.
"Pfft! Hahaha!" Seorang siswa di barisan depan tertawa terpinggal-pinggal. "Hei, lihat! Ada yang membawa kayu bakar ke pelajaran terbang!"
"Apa itu? Apakah itu pusaka dari zaman purba?" ejek siswa lain sambil menunjuk pedang kayu tersebut.
Lin Fan menatap pedang kayu itu dengan wajah tidak percaya. Mulutnya terbuka lebar.
"Xiao Yan... kau bercanda, kan?" bisik Lin Fan dengan suara rendah. "Itu benar-benar pedang kayu? Kau tidak bisa terbang dengan itu di zaman modern ini! Pedang kayu tidak punya sirkuit energi untuk menstabilkan gravitasi!"
"Ibuku membelinya di pasar loak seharga lima puluh Yuan," jawab Xiao Yan jujur. "Dia bilang ini kayu berkualitas yang tidak akan patah jika diduduki."
"Hah... Ini bukan soal patah atau tidak, ini soal bagaimana kau mengalirkan energi ke benda mati yang tidak punya konduktor!" Lin Fan menepuk dahinya sendiri.
"Diam semuanya!"
Suara menggelegar Guru Li membungkam ejekan para siswa. Dia berdiri di depan barisan dengan sebuah pedang militer berwarna hitam legam yang melayang di sampingnya.
"Terbang dengan sebuah pedang adalah identitas setiap kultivator modern," kata Guru Li dengan nada serius. "Jika kalian tidak bisa menguasai ini, kalian hanya akan menjadi pejalan kaki seumur hidup. Sekarang, letakkan pedang kalian di tanah di depan kaki kalian!"
Seluruh siswa mengikuti perintah itu.
Tuk.
Pedang kayu Xiao Yan mendarat di rumput sintetis dengan suara yang sangat tumpul, mempertegas betapa tidak berharganya benda itu dibandingkan pedang logam milik siswa lain.
"Langkah pertama adalah resonansi!" instruksi Guru Li. "Salurkan Qi kalian melalui telapak kaki ke arah pedang. Bayangkan pedang itu adalah bagian dari tubuh kalian. Jika resonansi berhasil, pedang itu akan melayang setinggi lutut."
"Hah... Baiklah, mari kita coba," batin Xiao Yan.
Dia menatap pedang kayu retaknya. Di dalam kepalanya, simulasi matematis kembali berjalan dengan kecepatan kilat.
"Analisis material... Serat kayu selulosa tua. Tingkat kerapuhan... Tinggi. Ambang batas toleransi energi... Sangat rendah," batin Xiao Yan. "Masalah utama... Kayu ini tidak punya jalur meridian buatan seperti pedang logam. Jika aku menyuntikkan energi secara langsung, tekanan udara di dalam pori-pori kayu akan memuai dan meledakkannya dari dalam."
Xiao Yan menarik napas pelan.
"Dibutuhkan frekuensi energi yang sangat halus untuk membungkus pedang ini, bukan mengisinya. Keluaran tenaga: 0,0000002 persen. Mode: Gravitasi negatif."
Di sekelilingnya, pedang-pedang milik siswa lain mulai bergetar.
Wuuuung.
Pedang perak milik Lin Fan mulai melayang perlahan, meskipun masih terlihat goyah dan tidak stabil.
"Lihat! Aku berhasil! Aku melayang!" teriak Lin Fan girang.
"Bagus, Lin Fan! Jaga konsentrasimu!" puji Guru Li yang sedang berkeliling.
Guru Li kemudian sampai di depan Xiao Yan. Dia menatap pedang kayu usang itu, lalu menatap wajah datar Xiao Yan.
"Hah..." Guru Li menghela napas panjang. "Xiao Yan, aku tahu meridianmu sempit, tapi setidaknya belilah pedang latihan yang layak. Bagaimana kau bisa melakukan resonansi dengan sepotong kayu?"
"Aku akan mencobanya, Guru," jawab Xiao Yan datar.
Xiao Yan menggerakkan jari jempol kakinya sedikit di dalam sepatu. Setitik kecil energi Qi dilepaskan. Energi itu tidak masuk ke dalam kayu, melainkan membentuk lapisan tipis menyerupai film pelindung di bawah pedang tersebut.
Syuuuut.
Tanpa suara mesin, tanpa getaran, pedang kayu itu naik perlahan ke atas. Benda itu melayang dengan sangat stabil di ketinggian tepat tiga puluh sentimeter dari tanah. Tidak goyang sedikit pun, seolah-olah ada tangan tak kasatmata yang memegangnya.
Guru Li tertegun. Dia membungkuk sedikit untuk memeriksa bagian bawah pedang itu.
"Hah? Sangat stabil?" gumam Guru Li keheranan. "Biasanya pedang kayu akan berguling-guling karena tidak seimbang. Kau... kau pasti memiliki kontrol Qi yang sangat telaten meski kapasitasmu kecil. Ini adalah bukti bahwa kerja keras bisa mengalahkan keterbatasan fisik."
"Terima kasih, Guru," ucap Xiao Yan.
"Baiklah! Sekarang langkah terakhir!" teriak Guru Li kepada seluruh kelas. "Naiklah ke atas pedang kalian! Jaga keseimbangan, dan coba terbang perlahan mengelilingi lapangan!"
Suasana lapangan seketika menjadi kacau.
"Uwaaa! Tolong!" teriak seorang siswa yang kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal ke rumput.
"Wush! Minggir! Aku tidak bisa mengerem!" seru siswa lain yang pedangnya melesat terlalu cepat ke arah pagar.
Brak!
Lin Fan berhasil naik ke pedangnya, tapi kakinya gemetar hebat. Pedang peraknya naik turun seperti sedang berada di atas gelombang laut.
"Xiao Yan... ugh... ini jauh lebih sulit dari yang terlihat!" keluh Lin Fan sambil merentangkan tangannya untuk menjaga keseimbangan.