Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Prewedding
Mobil akhirnya melambat, lalu berhenti tepat di depan sebuah bangunan mewah dengan dinding kaca tinggi dan pintu otomatis berlapis emas.
Tulisan elegan terpampang di bagian atas: Lumiere Salon & Spa.
Pintu mobil terbuka.
Martha turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Nayra dan kedua anaknya. Begitu kaki kecil Alea menyentuh lantai, ia langsung menoleh ke kiri dan kanan dengan mata berbinar.
“Di mana tempat mainnya?” tanyanya cepat, hampir tidak sabar.
Nayra bahkan belum sempat melangkah penuh keluar.
Martha tersenyum tipis, sudah seperti menduga. “Ada di dalam, Nona kecil. Ikuti saya.”
Alea langsung menggenggam tangan Nayra, menariknya pelan. “Ayo, Ma!”
Nayra terkekeh kecil, lalu mengangguk. “Iya, pelan-pelan, sayang.”
Sementara itu, Raya turun terakhir. Berbeda dengan Alea, wajahnya datar. Tatapannya menyapu bangunan di depannya sekilas, tanpa ketertarikan. Baginya, tempat seperti ini… bukan sesuatu yang menarik.
Salon. Tempat orang berdandan, merias diri, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang menurutnya tidak terlalu penting.
Ia melangkah masuk tanpa berkomentar. Begitu pintu terbuka, udara sejuk langsung menyambut. Aroma lembut bunga dan parfum mahal memenuhi ruangan. Interiornya luas, dengan lampu gantung kristal, sofa empuk, dan cermin besar di setiap sisi.
Namun perhatian Alea… hanya pada satu hal.
“Mainannya mana?” tanyanya lagi, kali ini lebih semangat.
Martha menunjuk ke sisi kanan ruangan. “Di sana.”
Sebuah area khusus anak-anak terlihat, penuh warna. Ada perosotan kecil, kolam bola, bahkan beberapa mainan edukatif tersusun rapi.
Mata Alea langsung membesar. “Waaah!”
Tanpa menunggu lama, ia langsung berlari kecil ke arah sana. “Ma, aku ke sana ya!”
“Hati-hati!” seru Nayra refleks.
“Iyaaa!” jawab Alea cepat, sudah setengah jalan.
Nayra menghela napas kecil, lalu tersenyum. Setidaknya… salah satu anaknya sangat benar-benar menikmati ini.
Ia menoleh ke samping. Raya berdiri tidak jauh darinya, tangan masuk ke saku hoodie tipisnya. Wajahnya tetap datar, matanya memperhatikan sekitar, tapi tanpa minat.
“Kamu nggak mau lihat-lihat?” tanya Nayra pelan.
Raya menggeleng kecil. “Nggak, Ma,” jawabnya singkat.
Ia melirik ke arah area perawatan. Orang-orang duduk, rambut ditata, wajah dirias, kuku dihias dengan detail.
Raya menghela napas pelan. “Menurutku… salon cuma tempat membuat seseorang kelihatan berbeda dari aslinya,” gumamnya.
Nayra sedikit terdiam mendengar itu. Ada kedewasaan dalam cara berpikir anak itu, tapi juga ada jarak. Seolah Raya sudah terlalu cepat belajar untuk tidak peduli pada hal-hal seperti ini.
Nayra tersenyum tipis. “Bukan hanya ingin tampil beda,” ucapnya pelan. “Tapi juga untuk meningkatkan rasa percaya diri.”
Raya tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit ke arah Nayra, lalu kembali melihat ke depan.
“Memangnya Mama sekarang nggak percaya diri?” tanyanya. "Kenapa mau di ajak kesalon?" lanjutnya ketus.
Nayra hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya itu. Dia tidak percaya kalau Raya se-kritis ini pada dirinya.
Martha kembali mendekat. “Nona Nayra, semuanya sudah siap,” ucapnya sopan. “Silakan ke ruang perawatan.”
Nayra mengangguk. Ia melirik sekali lagi ke arah Alea yang sudah tertawa di dalam kolam bola, lalu ke Raya yang berdiri di sampingnya.
“Ayo,” ajaknya lembut.
Raya mengangkat bahu kecil, tapi tetap mengikuti. Langkah mereka menuju ruang perawatan.
Langkah mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Martha membukanya perlahan.
“Silakan, Nona.”
Begitu masuk, suasana langsung berubah.
Ruangan itu jauh lebih tenang dan lebih privat. Dindingnya dihiasi panel kaca dan ukiran halus. Di tengah ruangan, kursi perawatan mewah sudah disiapkan. Beberapa wanita berpakaian rapi berdiri menunggu dengan sikap profesional.
Namun yang membuat Nayra sedikit terdiam... bukan itu. Melainkan gaun yang tergantung di sisi ruangan. Putih dan elegan, jelas itu bukan sekadar gaun biasa.
Raya juga melihatnya. Alisnya langsung berkerut. “Itu… gaun pengantin, kan?” ucapnya datar, tapi penuh arti.
Nayra tidak langsung menjawab.
Martha melangkah sedikit ke depan. “Hari ini bukan hanya perawatan biasa, Nona,” ucapnya tenang.
Nayra menoleh. “Maksudnya?”
Belum sempat Martha menjawab, pintu di belakang mereka kembali terbuka.
Langkah kaki terdengar.
Nayra membeku sesaat. Ia langsung mengenali langkah itu bahkan tanpa menoleh.
Arsen, ia masuk ke dalam ruangan dengan setelan hitamnya yang rapi. Tatapannya langsung jatuh pada Nayra.
“Bagus,” ucapnya singkat.
Raya langsung menyipitkan mata. “Om ngapain ke sini?”
Arsen tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti beberapa langkah dari Nayra.
“Hari ini fitting terakhir,” ucapnya tenang.
Nayra langsung menoleh cepat. “Fitting?”
“Iya.”
Satu kata, tapi cukup membuat jantung Nayra berdegup lebih cepat.
"Saya pikir… ini hanya ke salon saja,” ucap Nayra pelan, nadanya mulai tidak tenang.
Arsen menatapnya. “Dan itu bagian dari persiapan.”
“Persiapan apa?” tanya Nayra, meski ia sudah tahu jawabannya.
Arsen tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menggeser pandangannya ke arah gaun putih tadi. Seketika, ruangan terasa lebih sempit.
Raya melangkah maju sedikit. “Katanya tiga hari, terus sekarang fitting terakhir?” suaranya mulai tajam. “Maksud Om apa sih?”
Arsen akhirnya menoleh ke arah Raya. "Nanti kamu juga tahu,” jawabannya datar.
Belum sempat Nayra mencerna semuanya, Arsen kembali bicara. “Kita lanjut,” ucapnya singkat.
Nayra mengernyit. “Lanjut… apa lagi?”
Arsen melirik sekilas ke arah Martha. Hanya satu tatapan. Namun cukup membuat Martha mengerti.
Martha langsung bergerak cepat. “Tim, mulai sekarang.”
Seolah mereka sedang menunggu perintah itu sejak tadi. Semua orang di ruangan langsung bergerak cepat.
“Makeup artist, siap!”
“Wardrobe, gaunnya dibawa ke sini!”
“Lighting team, set up di ruang sebelah!”
Suara-suara itu bersahutan, tanpa ragu.
Raya langsung menoleh ke sekeliling. “Ini… apaan sih?”
Nayra sendiri masih berdiri di tempat, sedikit terpaku. “Apa yang terjadi?” tanyanya pelan.
Arsen menatapnya. “Pre-wedding.”
Satu kata itu, seperti petir di siang bolong.
“Apa?” Nayra hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Sekarang?”
“Iya. Sekarang.”
“Kenapa kamu tidak bilang saya dulu?” nada Nayra naik, campuran antara terkejut dan tidak terima.
Arsen tetap tenang. “Kalau saya bilang dari awal, kamu tidak akan mau datang.”
Nayra seketika membeku.
Dua orang wanita sudah mendekat. “Permisi, Nona,” ucap salah satu dari mereka dengan ramah, tapi sigap. “Silakan duduk.”
Tanpa banyak ruang untuk menolak, Nayra perlahan didudukkan di kursi rias. Cermin besar di depannya memantulkan wajahnya, wajah yang masih penuh kebingungan.
“Mulai base makeup.”
“Hair styling siap.”
“Gaun standby.”
Semua bergerak begitu cepat.
Raya mengepalkan tangannya kecil. “Om ini maksa.”
Arsen menoleh sedikit. “Ini untuk kebaikan kalian.”
“Siapa bilang?” balas Raya tajam.
Arsen tidak menjawab. Tatapannya kembali ke arah Nayra. Di kursi itu, Nayra hanya bisa diam saat tangan-tangan profesional mulai bekerja.
Kuasa… sepenuhnya sudah lepas dari dirinya. Beberapa menit berlalu, makeup mulai terbentuk. Rambutnya ditata. Gaun putih tadi akhirnya dibawa mendekat. Saat kain itu disentuhkan ke tubuh Nayra... ia menahan napas.
“Sudah siap,” ucap salah satu staf.
Nayra berdiri perlahan. Dan saat ia mengangkat pandangan ke cermin. Ia sendiri… hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Sunyi sejenak memenuhi ruangan.
Raya terdiam. Alea yang baru saja masuk kembali pun ikut membeku.
“Ma…” bisiknya pelan. “Mama cantik banget…”
Arsen berdiri tidak jauh dari sana. Seperti biasa, tegap dan dingin. Namun kali ini… matanya tidak berpaling.
Tatapannya tertahan. Terpukau... meski ia tidak akan pernah mengatakannya.
“Jalan,” ucapnya akhirnya pelan.
Tim langsung bergerak lagi.
Pintu samping dibuka.
Sebuah ruangan baru terlihat, lebih luas. Dengan latar dekorasi mewah, bunga-bunga putih, dan pencahayaan profesional.
Kamera sudah siap. Fotografer mengangkat tangannya. “Ready! Kita mulai sesi pertama!”
semangat, lanjut thoor😄👍