Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dari jauh, Rio melihat kehadiran Adrian dan—Mita. Tunggu! Mita?
"Pi, kamu kenapa sih?" Livy mengikuti arah pandang suaminya.
"Nggak apa-apa, temanku baru datang," kilah Rio.
Livy penasaran dan masih melihat lagi ke arah tadi. Baru saat itulah ia melihat kehadiran Adrian dan Mita.
"Itu Adrian kan ya, Pi?" tunjuk Livy ke arah sepasang manusia yang sedang tertawa.
Rio mengangguk. Ia mengunyah siomaynya cepat-cepat karena ingin menghindari pertanyaan dari Livy. Namun, semuanya sudah terlambat dan Rio hanya bisa pasrah ketika tangannya ditahan oleh istrinya dan diajak untuk menyapa Adrian.
"Ayo, Pi. Itu Adrian, udah lama aku nggak ketemu sama dia. Penasaran sama keadaannya sekarang gimana," jelas Livy panjang lebar sambil menarik tangan Rio.
Rio hanya pasrah saat tungkainya hampir sampai di tempat Adrian dan Mita sedang berseda gurau.
"Adrian!"
Adrian dan Mita menoleh bersamaan. Mita meremas lengan Adrian, saat mereka bertatapan langsung dengan Rio dan Livy. Adrian pun langsung menggeser tubuhnya supaya lebih dekat dengan Mita yang nampaknya agak terkejut.
"Hai, Liv, Yo!" Adrian balik menyapa.
"Lo apa kabar, Dri? Gue kok enggak pernah lihat Lo deh," ujar Livy sok akrab.
Adrian terkekeh, "Ya... Gimana mau lihat gue! Lo aja sekarang sibuk di rumah aja kan!"
Livy mengangguk. Lalu menyenggol pinggang Rio dengan sikutnya.
"Kamu diam aja sih, Pi!"
"Ha-hai Dri, Ta!" Rio menyapa teman dan mantan istrinya dengan canggung.
"Oya, kalian udah kenal kan ya. Mita calon istri gue. Insyaa Allah, bulan depan kami married," jelas Adrian sambil mengenalkan kembali Mita pada pasangan di depannya.
"Hah? Serius lo, Dri? Nggak lagi halu kan?" Livy seolah tak percaya dan menatap Mita dengan sinis dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Seribu rius malah, Liv! Kenapa harus halu? Semua nyata adanya, kok!" Adrian mengedikan bahu acuh. Lalu, ia dengan sengaja mengusap rambut Mita dengan penuh sayang.
Rio tidak suka melihat kedekatan Adrian dan mantan istrinya. Entah mengapa, saat Adrian mengatakan mereka akan menikah, ditambah lagi melihat Adrian yang terus menerus saling kontak fisik. Membuat dada Rio sesak dan panas. Bahkan, tanpa ia sadari, tangannya mengepal menahan diri supaya tidak memukul Adrian.
"Pak Adri sama Pak Rio dicariin pak Dirut tuh," ucap salah satu karyawan yang juga menjadi tamu undangan.
"Oya, di mana?" tanya Adrian.
"Di dalam sana, masuk aja, Pak."
Adrian mengangguk mengerti. Ia melirik Rio yang sejak tadi diam-diam melirik calon istrinya. Tidak mau memberikan celah pada Rio, ia pun mengajak Mita untuk menemui dirutnya.
"Yo, Liv, gue duluan." Adrian pamit dan merangkul pinggang Mita protektif. "Ayo, Sayang."
Mita menurut, ia merasa lega karena Adrian tidak membiarkannya sendirian. Ia juga merasa nyaman karena Adrian berusaha melindunginya dari tatapan mantan suaminya dan istri yang dulu menjadi duri dalam rumah tangganya.
"Mas, kenapa perempuan itu, lihatin aku kayak gitu sih! Kayak jijik." Mita berbisik dekat telinga Adrian.
"Hmm... Mungkin dia takut tersaingi sama kamu. Karena kamu cantik dan terhormat. Jadi, wajar kalau ada ketakutan dalam dirinya," jawab Adrian dengan berbisik juga.
Mita ingin menanggapi lagi, tetapi berujung hanya kekehan pelan. Ia telan lagi apa yang ingin diucapkan nya. Ia tidak ingin keluar kata-kata kotor dari bibirnya. Karena menurutnya, perempuan itu sudah kotor tanpa harus dikotori lagi dengan kata-kata.
。◕‿◕。
Acara dimulai, sambutan dari yang punya hajat pun sudah selesai. Kini tinggal acara party dan makan-makan sembari mendengarkan alunan musik pop di atas panggung. Siapa saja boleh mengisi acara di atas panggung.
Lalu, ketika acara musik digelar. Tiba-tiba saja tangan Adrian ditarik oleh pak dirut dan mengajaknya untuk berjoget di atas panggung.
Mita memberikan izin pada Adrian. Membiarkan calon suaminya untuk bergabung dengan teman sejawatnya yang lain.
"Aku tunggu di sini," ucap Mita. Berusaha menenangkan Adrian yang sepertinya enggan untuk ikut gabung dengan yang lain.
Lelah melihat ramai orang, Mita bali badan dan memilih untuk mengambil minum. Tenggorokannya rasanya kering sekali. Entah berapa lama sudah ia berdiri dan memperkenalkan diri di depan teman-temannya Adrian.
"Ta... Kamu sengaja kan?"
Mita balik badan setelah mengambil air bening di meja yang sudah disiapkan. Agak terkejut karena yang menghampirinya adalah Rio.
"Hm?" Mita bingung.
Rio menghembuskan napas berat. Lalu menatap Mita intens. "Kamu sengaja deketin Adrian kan?"
"Sengaja bagaimana ya?" Kening Mita mengerut dalam.
"Iya, kamu sebenarnya masih belum bisa move on dari aku. Makanya kamu deketin Adrian, supaya aku cemburu!" Tuduhnya.
Menggelikan! Mita rasanya ingin sekali meludahi wajah Rio saat ini juga. Sayangnya, ia harus mengendalikan diri karena saat ini dirinya sedang memakai drees cantik dengan tatanan diri yang tak kalah cantik juga. Ia harus menjaga martabatnya sendiri.
Mita terkekeh pelan, "Halu kamu ya!"
"Aku nggak halu. Ini kenyataannya kan? Kamu tau kalau Adrian itu temanku."
"Ya terus kenapa kalau Adrian itu temanmu? Kita sudah lama bercerai. Nggak ada hubungan apapun lagi. Aku bebas mau berkencan dengan siapapun dan menikah dengan siapapun, termasuk Adrian!" Mita malas berdebat dan ia berjalan ke arah lain ingin meninggalkan Rio dengan imajinasinya.
Namun, baru beberapa langkah, Mita sudah dihadang oleh Livy yang sejak tadi ternyata memperhatikan Mita dan Rio yang sedang bicara.
Melihat Livy semeter darinya, membuat Mita menghela napas panjang.
"Jangan gatel sama suami orang!" Livy menuduh Mita yang telah menggoda suaminya lebih dulu. Tangannya terlipat di dada.
Mendengar itu, membuat Mita benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran dua ekor yang telah merusak hidupnya.
"Aku mau lewat," ucap Mita masih dalam kesabaran yang hampir habis. Ia tidak ingin meladeni pelakor.
Livy tidak membiarkan Mita pergi begitu saja. Ia menahan lengan Mita dan meremasnya kencang.
"Aww!" Mita meringis.
"Dengar ya! Gue nggak akan ngebiarin Lo deketin Rio dengan perantara Adrian! Gue tau. Lo deketin Adrian karena masih belum move on dari Rio. Inget! Lo itu mandul. Makanya Rio lebih milih gue yang jelas-jelas udah menghasilkan anak dua dari mantan suami gue dulu!" Livy berbicara dengan nada rendah yang mengintimidasi.
Mita menarik lengannya dengan kencang supaya terlepas dari cengkraman Livy. Lalu ia mendengkus keras dan terkekeh remeh.
"Kalian emang cocok banget sih! Sama-sama pasangan halu!" Mita menjawabnya dengan santai. "Kamu takut ya kalau Rio ternyata belum bisa lupain aku? Jangan bangga dengan hubungan hasil ngerebut. Karena karma itu nggak pernah salah alamat. Tinggal tunggu waktu aja kapan Rio akan selingkuh dari kamu! Dan... jangan bangga dengan anak-anak mantan suamimu dulu. Kalau kamu hamil dari benih Rio, silakan kamu cap aku mandul!"
Rio menghampiri Livy dan Mita. Tepat saat Livy sudah habis kesabarannya.
"Mi, udah!"
"Oya..." Mita berbalik sebentar ke arah Rio dan Livy yang memanas. "Jangan salah paham! Aku bukan tipe perempuan yang suka mungut sampah. Kalau sudah aku buang, nggak akan aku ambil lagi. Jijik!" Mita tersenyum miring, melambai lalu meninggalkan Rio dan Livy yang tercengang.
[]