Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesurupan
“Kalau dia tidak pergi, aku yang pergi,” Dewi berkata dengan tegas.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut kecilnya, tetapi dampaknya seperti petir di siang bolong. Amira sampai tertegun mendengarnya. Ia menatap Dewi lama, mencoba memastikan—ini benar anak empat tahun atau jelmaan orang dewasa yang nyasar ke tubuh anak kecil yang badannya memang gemuk.
Andai waktu bisa diulang, Amira tidak akan langsung menampar Nanda. Tamparan Amira pada Nanda membubuhkan luka pada Dewi, membuat Dewi susah menerima dirinya. Dan sekarang Dewi menginginkan dia pergi, sungguh dalam dilema, tetapi Amira bingung harus berbuat apa.
“Dewi, dia ibu kamu… kamu tidak boleh begitu,” suara lirih Nanda terdengar.
Suaranya terdengar lemah. Sejak kecil Dewi selalu dimanjakan Nanda karena Dewi pernah mengalami sakit hampir sekarat. Saat Dewi sekarat, Nanda mempunyai janji kalau Dewi selamat, dia akan memanjakan Dewi. Nanda tahu betul kalau Dewi anak yang keras kepala.
“Tidak!” Dewi berteriak nyaring.
Suasana seketika menegang. Udara terasa berat. Angin berhembus kencang, awan mulai gelap, terdengar suara petir menandakan akan hujan, menambah suasana ketegangan.
Tiba-tiba mata Nanda berbinar sebentar. Nanda memegang dadanya, badannya gemetar, dan “Bruk!”
Tubuhnya jatuh ke lantai. Tergeletak. Diam.
“Nenek!” Dewi berlari. Setiap kali melangkah, bumi seolah gemetar seperti gempa bumi.
Begitu sampai, Dewi langsung menggoyang-goyangkan tubuh Nanda.
“Nenek!” teriak Dewi.
Amira tersentak. Jantungnya seperti diremas tangan tak kasatmata. Ia berlari menghampiri.
Dadanya sesak. Dunia ini kadang tidak adil—baru saja ia merasa mulai berdamai dengan ibunya, sekarang malah harus melihatnya terbaring tak berdaya.
Amira mendekat, tangannya hampir menyentuh.
Dewi berteriak, “Jangan sentuh nenekku!”
Amira membeku.
Kalimat itu seperti pisau kecil yang menusuk berkali-kali.
Ia menelan ludah. Menyesal. Sangat menyesal. Tetapi benar kata orang, penyesalan tidak pernah ada obatnya, dan berandai-andai sudah tidak ada gunanya lagi.
Bayangan semalam terlintas—ia duduk bersama Nanda, mengobrol sambil mencari kutu di rambut. Sederhana. Hangat. Bahkan sempat terasa lucu.
Dan sekarang… semua itu seperti mimpi yang dipaksa berhenti di tengah jalan.
Tak kuat lagi, Amira berjongkok.
“Jangan sentuh nenek!” teriak Dewi lagi.
Namun kali ini Amira mengabaikannya. Ia meraih pergelangan tangan Nanda, mencari denyut.
“Tidak ada… tidak ada…”
Suaranya bergetar. Panik. Dunia seperti runtuh pelan-pelan di dalam dadanya.
“Nenek!” Dewi terus menangis sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nanda.
“Nenek!” Arjuna datang dengan langkah gemetar.
Anak itu menatap Nanda dengan mata berkaca-kaca. Meski Nanda sering terlihat tegas, Arjuna tahu—perempuan tua itu menyayanginya, tidak seperti Ambar, nenek dari pihak ayahnya yang galak dan kejam.
Dewi menangis, matanya terpejam rapat.
Di saat itu, Amira merasakan tangannya dicubit hingga terasa nyeri.
Amira menoleh. Mata Nanda terbuka.
Hampir saja Amira berteriak, tetapi—
cubitan kecil mendarat di tangannya.
Amira langsung membekap mulutnya sendiri.
Oh. Jadi ini sandiwara.
Ia menelan tawa sekaligus lega. Dalam satu detik, semua rasa takut berubah jadi kebingungan. Namun ia mengerti—ini cara Nanda. Cara yang… agak ekstrem, tetapi mungkin efektif.
Amira memilih diam, menyerahkan panggung sepenuhnya pada Nanda.
“Nene… nene… jangan tinggalkan Dewi. Nanti siapa yang ngasih makan Dewi?”
Tangisan Dewi makin pecah.
Arjuna mendekat ke arah Amira. “Mamah, nenek kenapa, Mah?”
Amira hanya menggeleng.
“Mamah, bawa nenek ke rumah sakit, Mah. Nenek harus disuntik, Mah.”
Amira tetap menggeleng.
Arjuna makin bingung.
“Mah, Juna mau panggil ambulans.”
Ia langsung berlari keluar rumah.
Dan tepat di saat suasana mencapai puncak dramatisnya—
“Hihihi…”
Tawa melengking menggema, hampir saja meruntuhkan rumah.
Dewi meloncat menjauhi Nanda. Dewi anak pemberani, siapa pun dia lawan selagi manusia, tetapi Dewi takut pada hantu.
Hujan di luar mulai turun dengan deras, disertai kilatan petir. Angin berhembus kencang, seolah alam mendukung semua tindakan Nanda.
Amira melongo melihat tingkah ibunya itu.
Nanda bangkit duduk perlahan. Matanya memutih. Senyumnya… tidak manusiawi.
“Siapa… siapa kamu? Kamu hantu, ya?” ucap Dewi dengan suara gemetar.
Nanda duduk santai, kaki selonjoran, seperti habis bangun tidur siang.
“Dewi… Dewi…” suaranya berat, serak, dan menyeramkan.
“Nene… nene… jangan nakutin Dewi…”
“Aku bukan nenek kamu, aku Mak Lampir. Nenek kamu aku bawa.”
Suasana berubah. Dari panik jadi horor, tetapi horor yang… sedikit absurd.
“Jangan… jangan bawa nenekku!”
“Nenek kamu akan aku kembalikan asal kamu…”
“Aku… aku nggak akan nakal… aku juga nggak akan banyak makan lagi…”
Nanda tertawa lagi. Kali ini lebih panjang, lebih dramatis.
“Kalau kamu makannya sedikit, nenek kamu tidak akan aku kembalikan.”
Dewi langsung menggeleng panik.
“Tidak… tidak… cepat kembalikan nenekku! Jangan dibawa ke gunung api!”
“Aku akan kembalikan nenek kamu kalau kamu baikan sama mamah kamu.”
“Dia bukan mamahku, dia tampar nenek!”
Nanda tertawa lagi. Suasana makin tegang, absurd.
“Kalau begitu aku akan pergi bersama nenek kamu.”
Tiba-tiba ia mencekik lehernya sendiri, lidah menjulur.
“Jangan… jangan bawa nenek… ya, ya, aku akan baik sama mamah… itu juga kalau dia mau bikin ayam goreng…”
Amira hampir tersedak menahan tawa. Mungkin hanya nenek dan ayam goreng yang penting bagi Dewi, yang lainnya tidak penting.
Nanda menoleh ke arahnya.
“Dan kamu harus membuatkan ayam goreng untuk anak kamu.”
Amira langsung mengerti. Ia ikut bersandiwara.
Ia bersimpuh, menangkupkan tangan.
“Baik… baik… Mak Lampir, saya turuti.”
Dalam hati Nanda mendengus, tetapi wajahnya tetap menyeramkan.
“Kamu harus janji.”
“Iya, Mak Lampir, Dewi janji.”
Dewi bahkan meniru posisi bersimpuh.
Adegan itu absurd sekali. Menegangkan, tetapi juga hampir membuat Amira tertawa.
Di sisi lain, Arjuna sudah bersembunyi di bawah kursi, gemetar seperti daun.
“Air… air…” suara Nanda terdengar serak.
Amira langsung ke dapur, mengambil air.
“Byur!”
Satu ember penuh diguyurkan.
“Dasar anak bodoh, aku minta air minum, bukan air seember,” gerutu Nanda dalam hati.
Dia kesal, namun dia tidak boleh mengganggu ritme dramanya.
Nanda membuka mata. Sekarang sudah ada bola matanya. Dia seperti orang linglung, melihat dirinya, lalu berkata dengan dramatis,
“Basah… kenapa aku basah?”
“Di mana aku… di mana?”
Dewi berlari dan langsung memeluknya.
“Nenek, jangan tinggalkan Dewi, Nek!”
“Basah, Wi, basah,” Nanda mencoba melepaskan diri.
“Nenek, Dewi janji nggak akan nakal.”
“Kamu anak baik, Nak… kamu nggak nakal.”
“Tadi nenek mau dibawa ke gunung api sama Mak Lampir…”
“Apa? Mak Lampir?”
Ekspresi Nanda polos. Akting tingkat dewa.
“Iya, maafin Dewi, Nek… mamah boleh kok tinggal di sini, Nek.”
Amira menunduk, menahan haru.
“Oh iya, Mak Lampir memang seram… nenek jadi takut.”
“Iya, Nek… menakutkan sekali. Dewi nggak mau nenek dibawa ke gunung api.”
Nanda mengangguk pelan, lalu berdiri.
“Oh ya sudah, kalau begitu nenek mau mandi dulu ya… ini juga kenapa hujan di tengah rumah.”
Dewi melangkah ke kamar mandi dan berpapasan dengan Amira yang sedang membawa kain pel.
“Astaga, kamu masih marah sama mamah, ha? Aku minta air minum, kenapa disiram?”
Amira menutup mulutnya, menahan tawa. “Astaga, Mamah, aku gugup sekali. Lagian kalau mau drama itu harusnya direncanakan dulu.”
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪