Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad di Ambang Badai
Malam semakin larut. Namun udara di dalam ruang VIP Rumah Sakit Darmawan terasa semakin berat. Keheningan di ruangan itu hanya dipecah oleh suara napas teratur Tuan Besar Darmawan yang kembali terlelap.
Setelah pengaruh obat bius pasca-operasi kecilnya bekerja. Di sudut ruangan, Nana tampak meringkuk di atas sofa kulit yang dingin. Terlelap dalam kelelahan yang luar biasa.
Ia mengenakan jaket milik Rizki sebagai selimut. Sebuah gestur yang menunjukkan betapa ia merasa memiliki pria itu. Bahkan dalam mimpinya, seolah hati Rizki kini hanya untuknya.
Rizki Pratama berdiri mematung di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Namun, matanya tidak melihat keindahan kota.
Fokusnya tertuju pada layar ponsel di genggamannya. Cahaya putih dari layar itu menerangi wajahnya yang tegang. Memperlihatkan gurat kecemasan yang mendalam dengan tatapan mata penuh kekhawatiran.
Jarinya gemetar saat ia menggulir kembali pesan-pesan dari Yudha. Jam di pojok layar menunjukkan pukul 20.55. Lima menit lagi.
Hanya lima menit tersisa, sebelum takdir seorang gadis di desa terpencil itu dikunci. Oleh kalimat sakral yang akan menjadi penjara baginya. Bahkan yang akan ia sesali seumur hidupnya.
Rizki mengetik pesan dengan cepat, napasnya memburu,
“Yudha, masuk ke sana sekarang. Jangan pedulikan apa pun. Katakan pada Larasati, sampaikan selamat dariku. Katakan bahwa aku, Rizki Pratama, mendoakannya. Jika dia ragu, katakan padanya untuk menunda. Aku butuh dia mendengar namaku sebelum dia mengucap janji itu. Mungkin... mungkin itu bisa mengubah pikirannya.”
Rizki tahu rencananya ini terdengar gila dan egois. Ia bahkan tidak mengenal Larasati secara mendalam. Namun, nuraninya berteriak bahwa ia sedang membiarkan sebuah kejahatan besar terjadi.
Ia merasa jika Laras mendengar bahwa pemuda pembawa katapel itu. Sebenarnya adalah seseorang yang peduli padanya. Mungkin Laras akan menemukan kekuatan untuk berkata tidak di depan penghulu.
Namun, pesan balasan dari Yudha menghancurkan harapannya,
“Tuan Muda, kami tidak bisa masuk. Desa Sukamulya mendadak berubah menjadi benteng. Saya dan tim tertahan di ujung jalan masuk desa. Puluhan warga membawa obor dan senjata tajam, mereka menghadang kami. Sepertinya mereka salah paham, mereka mengira kami adalah kelompok preman kota kiriman Permadi yang tempo hari mengganggu Larasati. Suasananya sangat panas, jika kami memaksa masuk, akan terjadi pertumpahan darah. Kami terjebak, Tuan Muda.”
Rizki memejamkan mata, memukul pelan bingkai jendela kaca dengan tinjunya. Sial! Bagaskara benar-benar licik. Rizki curiga warga desa telah di provokasi sebelumnya untuk waspada terhadap orang asing berbaju rapi dari kota. Bagas telah menutup semua pintu pelarian bagi Larasati.
Sukamulya: Altar Pengorbanan
Sementara itu, ratusan kilometer dari kemewahan Jakarta. Suasana di ruang tamu rumah Pak Tarno tampak begitu kontras. Aroma harum melati yang dironce memenuhi ruangan.
Bercampur dengan asap kemenyan tipis dan bau keringat warga yang berdesakan di teras. Suara alunan gamelan sayup-sayup terdengar mengiringi. Sajian jajanan dan makanan rapi tertata di beberapa meja di teras rumah.
Larasati duduk bersimpuh di atas karpet hijau yang sudah usang. Kepalanya tertunduk sangat dalam. Tertutup kerudung putih tipis yang dihiasi payet sederhana.
Di balik kain itu, wajahnya sepucat kertas. Air matanya sudah kering. Menyisakan guratan lelah yang tak terlukiskan. Di sampingnya, Bu Rahayu memegang tangannya erat. Memberikan dukungan yang justru terasa seperti tekanan.
Di depan Laras, Bagaskara duduk dengan tegak. Ia mengenakan jas hitam dan peci. Tampak seperti pria terhormat yang siap memikul tanggung jawab.
Namun, di balik tatapan matanya yang teduh bagi warga desa. Tersimpan sorot kemenangan seorang predator yang baru saja menjerat mangsanya di sudut lubang. Bagas melirik jam dinding di ruang tamu, pukul 20.58.
Sedikit lagi, batin Bagas. Sedikit lagi tanah ini milikku, dan gadis ini akan menjadi tiket emas penutup utangku.
Pak Tarno duduk berhadapan dengan Bagas sebagai wali nikah. Wajahnya berseri-seri, penuh kebanggaan yang membabi buta. Di sampingnya, penghulu dari kantor urusan agama mulai merapikan berkas-berkas di atas meja kayu kecil.
"Saudara Bagaskara bin Broto," suara penghulu memecah kesunyian yang mencekam, "Apakah saudara sudah siap?"
"Saya siap," jawab Bagas dengan suara lantang dan mantap, tanpa keraguan sedikit pun.
Laras merasakan tubuhnya menggigil hebat. Ia teringat kembali pada perhitungan Pati, kematian yang diceritakan ibunya tempo hari. Ia teringat pada pemuda misterius di sungai. Hatinya menjerit, memohon sebuah mukjizat. Memohon agar ada seseorang yang mendobrak pintu itu dan menghentikan kegilaan ini. Namun, yang terdengar hannyalah suara penghulu yang mulai menuntun khotbah nikah.
Di luar rumah, di kegelapan malam, Maya berdiri di antara kerumunan warga. Ia menyilangkan tangan di dada. Memperhatikan pemandangan itu dengan seringai puas.
Ia melihat Laras yang gemetar dan merasa sangat menang. Nikmatilah penderitaanmu, Larasati. Besok, di Jakarta, kau akan tahu bahwa pernikahan ini adalah awal dari nerakamu, gumam Maya dalam hati.
Detik-Detik Penentuan
Kembali ke rumah sakit di Jakarta, Rizki menatap layar ponselnya yang kini menunjukkan pukul 21.00 tepat. Jantungnya berdegup kencang. Seolah-olah ia sendiri yang sedang berada di bawah todongan takdir.
Ia membayangkan suasana di desa saat ini. Suara ijab kabul yang menggema, sahutan "Sah!" dari para saksi dan hilangnya kesempatan untuk menyelamatkan satu jiwa yang ia anggap sebagai titipan ibundanya.
"Maafkan aku, Ibu... Aku gagal menjaga amanahmu," bisik Rizki. Suaranya pecah.
Ia menoleh ke arah ayahnya yang masih tertidur. Hidup ayahnya telah kembali. Namun ia merasa baru saja membiarkan kehidupan orang lain hancur.
Rizki terduduk lemas di lantai rumah sakit yang dingin. Menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia merasa sangat tidak berdaya, meski ia memiliki segalanya.
Uang, kekuasaan, dan nama besar Darmawan ternyata tidak cukup untuk menghentikan satu janji palsu di sebuah desa kecil. Tidak mampu untuk merombak takdir yang sedang berjalan. Menerkam dengan buas tubuh kembang desa.
Tiba-tiba, Nana terbangun karena mendengar suara Rizki yang terisak. Ia segera turun dari sofa, menghampiri Rizki dengan wajah bingung. "Rizki? Ada apa? Kenapa kamu duduk di lantai?" Nana mendekat lalu mendekap tubuh Rizki dengan pelukan hangat.
Rizki tidak menjawab, namun juga tak menolak pelukan Nana. Hatinya berkecamuk bingung dan getir, bahkan ia tak menghiraukan apa pun yang dilakukan Nona Kecil alias Nana.
Ia hanya menatap ponselnya yang kini sunyi. Tidak ada lagi pesan dari Yudha. Kesunyian itu adalah jawaban paling menyakitkan. Ijab kabul itu telah selesai.
Di Sukamulya, suara riuh "Sah!" memang benar-benar menggema. Pak Tarno menyeka air mata bahagianya. Bu Rahayu memeluk Laras yang lemas tak berdaya dan Bagas menjabat tangan para saksi dengan senyum yang paling lebar yang pernah ia tunjukkan.
Larasati kini resmi menjadi istri Bagaskara. Di bawah saksi langit malam yang tanpa bintang, ia telah diserahkan kepada seorang iblis.
Perjalanan penderitaannya baru saja dimulai. Sementara di Jakarta, Rizki Pratama bersumpah dalam hati. Jika suatu saat takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi apa pun dari Larasati.
Ia tidak akan membiarkan Larasati menderita untuk kedua kalinya. Meski ia harus menghancurkan siapa pun yang berdiri di hadapannya. Meski ia harus melawan takdir yang terus berjalan di depannya.