NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 21

Sorak tepuk tangan masih menggema ketika Max perlahan melepaskan ciumannya.

Tatapan Alya langsung gugup bertemu dengan mata pria itu dari jarak yang begitu dekat.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Entah karena suasana, atau karena untuk sesaat… ciuman tadi terasa terlalu nyata untuk disebut sekadar bagian dari kontrak.

Max menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berbisik pelan,

“Tersenyumlah sedikit. Semua orang sedang melihat.”

Alya buru-buru mengulas senyum tipis meski pipinya sudah memanas.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi foto dan jamuan makan malam.

Para tamu silih berganti datang memberi ucapan selamat.

“Ternyata cocok juga ya mereka.”

“Padahal awalnya kukira Tuan Max cuma menikah karena terpaksa.”

“Tapi lihat cara dia memperlakukan Alya… nggak kelihatan seperti pernikahan biasa.”

Bisik-bisik itu terus terdengar di berbagai sudut ruangan.

Sementara Alya hanya bisa tersenyum canggung mendengarnya.

Di tengah keramaian, Ayi menyenggol pelan lengan Widya sambil berbisik heboh,

“Gila… aura suami Alya tuh mahal banget.”

Widya menahan tawa kecil.

“Dari tadi mata tamu cewek banyak yang nempel ke dia.”

“Kalau gue jadi Alya, gue nggak bakal kuat tinggal serumah sama cowok begitu,” bisik Ayi dramatis. “Bisa-bisa jantung gue copot tiap hari.”

Widya terkekeh kecil.

Sementara itu, di meja keluarga, Helena tampak duduk dengan wajah puas melihat kemewahan pesta itu.

Tatapannya sesekali berkilat saat melihat para tamu penting menghampiri Max.

Di matanya sekarang, Alya bukan lagi anak yang selama ini ia abaikan.

Melainkan jalan menuju kehidupan mewah.

Berbeda dengan Helena, Tyo justru tampak berkali-kali menyeka matanya diam-diam.

Pria itu benar-benar merasa lega karena setidaknya putrinya kini memiliki seseorang yang bisa melindunginya.

Acara berlangsung hingga malam larut.

Setelah seluruh tamu mulai pulang, Max dan Alya akhirnya masuk ke mobil yang telah disiapkan.

Tidak banyak percakapan di antara mereka selama perjalanan.

Alya terlalu lelah secara fisik dan emosional.

Sedangkan Max tampak sibuk memeriksa sesuatu di tabletnya.

Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah penthouse mewah di pusat kota.

Alya sedikit tertegun saat turun dari mobil.

Gedung tinggi itu terlihat sangat elegan dan eksklusif.

Begitu mereka masuk ke dalam unit penthouse, Alya makin terpaku.

Interiornya didominasi warna gelap dan modern.

Rapi.

Dingin.

Dan sangat mencerminkan pribadi Max.

“Mulai malam ini, Anda tinggal di sini,” ujar Max tenang sambil melepaskan jasnya.

Alya mengangguk pelan.

Seorang wanita paruh baya segera menghampiri mereka dengan senyum ramah.

“Selamat malam, Tuan Max, Nyonya.”

Alya langsung kikuk mendengar panggilan itu.

“Nyonya?”

“Ini Bi Ina,” jelas Max singkat. “Beliau yang akan membantu mengurus kebutuhan di rumah ini.”

Bi Ina tersenyum hangat.

“Nona Alya cantik sekali. Tuan Max bahkan sudah menyiapkan kamar khusus sejak jauh-jauh hari.”

Max langsung melirik tajam ke arah Bi Ina.

Wanita paruh baya itu spontan terdiam lalu tersenyum canggung.

“Saya permisi dulu,” katanya cepat sebelum buru-buru pergi meninggalkan mereka.

Suasana kembali hening.

Alya berdiri kikuk sambil memainkan jemarinya sendiri.

“Kalau begitu… aku ke kamar dulu?” tanyanya hati-hati.

Max menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan lebih dulu menyusuri lorong.

“Ikut saya.”

Alya mengikuti pria itu sampai berhenti di depan sebuah pintu besar.

Saat pintu dibuka, Alya langsung terpaku.

Kamarnya sangat luas.

Dominasi warna krem lembut membuat suasananya terasa hangat dan nyaman, sangat berbeda dengan keseluruhan interior rumah.

Di salah satu sisi bahkan ada rak buku besar dan balkon pribadi menghadap gemerlap kota.

“Kalau ada yang kurang, bilang pada Bi Ina,” ujar Max datar.

Alya menoleh padanya.

“Terima kasih…”

Max hanya mengangguk kecil.

Namun saat Alya mengira pria itu akan pergi begitu saja, Max justru kembali bersuara.

“Saya rasa ada hal yang perlu kita bicarakan mulai sekarang.”

Nada suaranya tenang.

Terlalu tenang.

Dan entah kenapa, hal itu membuat perasaan Alya mendadak tidak nyaman.

Max memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Perlu saya ingatkan. Pernikahan ini hanyalah kontrak,” katanya lugas tanpa basa-basi. “Jadi saya harap kau tidak salah paham terhadap perlakuan saya selama ini.”

Deg.

Kalimat itu terasa seperti air dingin yang disiram tepat ke wajah Alya.

Max melanjutkan dengan ekspresi tetap datar.

“Di depan orang lain, kita akan tetap bertindak sebagai pasangan suami istri yang normal.”

Tatapannya lurus menatap Alya.

“Tapi saat tidak ada orang… saya harap kita tetap menjaga batas.”

Alya menggigit bibir bawahnya pelan.

Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar itu, padahal sejak awal ia sendiri tahu hubungan ini hanyalah pernikahan kontrak.

“Saya sudah menyiapkan kamar ini khusus untukmu,” lanjut Max. “Dan saya akan tidur di kamar sebelah.”

Alya menunduk pelan.

“Oh… iya.”

Melihat respons gadis itu yang tiba-tiba meredup, Max terdiam sesaat.

Untuk pertama kalinya malam itu, sorot matanya tampak sedikit berubah.

Namun hanya sesaat.

“Satu tahun akan berlalu cepat,” ucapnya akhirnya. “Setelah semuanya selesai, kau akan bebas menjalani hidupmu lagi.”

Kata-kata itu justru membuat hati Alya semakin tidak tenang.

Kenapa membayangkan perpisahan di masa depan saja sudah terasa menyakitkan… padahal semuanya bahkan baru dimulai malam ini?

Max memandang Alya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Beristirahatlah. kau pasti lelah.”

Setelah itu, pria itu benar-benar pergi meninggalkan kamar.

Pintu tertutup perlahan.

Dan kini Alya hanya berdiri sendiri di tengah kamar besar itu.

Sunyi.

Sangat sunyi.

Perlahan gadis itu duduk di tepi ranjang sambil menatap cincin di jari manisnya.

Beberapa jam lalu…

Ia resmi menjadi istri Max.

Namun kini, untuk pertama kalinya Alya benar-benar sadar—

Ia menikahi pria yang begitu dekat di depan mata…

tetapi terasa sangat jauh untuk disentuh.

"Lebih baik seperti ini, " Gumamnya seorang diri sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu kamar itu.

1
Neng Nosita
apa yg drencanakan max? apakah pernikahan hanya dijadikan alat bagi mereka yg berkuasa?
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!