NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Taksi itu terus melaju membelah kegelapan menuju pinggiran kota, menjauhi gemerlap lampu Jakarta yang kini terasa seperti bara api yang memudar. Di pelukannya, Dion telah tertidur pulas, napasnya teratur dan tenang sebuah kontras yang tajam dengan detak jantung Maya yang masih berpacu hebat.

Maya mengeluarkan ponsel sekali pakai yang dibelikan Bramasta, mengetik sebuah pesan singkat.

"Ibu sudah aman di lokasi baru. Kita bertemu di titik koordinat yang disepakati."

Ia kemudian mematikan ponsel itu dan melepas kartu SIM-nya, mematahkannya menjadi dua, lalu membuangnya ke luar jendela. Ia tidak ingin meninggalkan jejak digital sedikit pun. Arlan bukan pria sembarangan ,ia memiliki sumber daya untuk melacak sinyal telepon dalam hitungan menit.

Sementara itu, di koridor VIP rumah sakit, suasana mencekam menyelimuti udara. Arlan berdiri di depan pintu toilet wanita yang kini terbuka lebar, namun kosong. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol seiring napasnya yang memburu.

"Bagaimana bisa kalian sebodoh ini?!" raung Arlan. Suaranya menggelegar, membuat beberapa suster yang lewat tertunduk ketakutan.

"Maaf, Pak... Ibu Maya mengancam kami, dan kami tidak menduga ada pintu keluar darurat di dalam sana," jawab salah satu pengawal dengan suara bergetar.

Arlan meninju dinding beton di sampingnya hingga buku jarinya berdarah. Ia tidak peduli pada rasa sakit itu. Yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang menghantam dadanya. Maya tidak hanya pergi, dia membawa Dion satu-satunya pengikat yang tersisa antara dirinya dan almarhum adiknya.

"Cari dia! Tutup semua akses bandara, pelabuhan, dan stasiun!" perintah Arlan pada asistennya melalui telepon. "Cek semua rekening banknya, cek siapa yang terakhir dia hubungi!"

"Pak," sela asistennya dari seberang telepon dengan nada ragu. "Saya baru saja mendapat laporan. Ibu Maya sudah mengosongkan brankas pribadinya seminggu yang lalu, dan tanah warisan di Bogor sudah berpindah tangan atas nama pihak ketiga. Uangnya... sudah dialihkan ke rekening anonim di luar negeri."

Arlan terhuyung, bersandar pada dinding. Ia baru menyadari bahwa selama berminggu-minggu ia mengira telah mengunci Maya dalam sangkar, sebenarnya Mayalah yang sedang menenun jaring untuk menjeratnya. Kepatuhan Maya selama ini hanyalah sebuah kamuflase sempurna.

Pukul tiga pagi, taksi itu berhenti di sebuah dermaga kecil yang sunyi. Bramasta sudah menunggu di sana di samping sebuah kapal motor pribadi.

Namun ,baru saja akan melangkah ke atas kapal . " Berhenti ,Maya..." Suara bariton khas seorang pria yang begitu familiar di telinga Maya ,membuat Maya menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mendapati Arlan yang sudah berdiri tepat di belakangnya.

Maya membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok Arlan berdiri di bawah temaram lampu dermaga. Napas pria itu memburu, jasnya sudah tak lagi rapi, dan wajahnya menyiratkan perpaduan antara kemurkaan dan luka yang mendalam. Di belakangnya, beberapa mobil hitam berhenti dengan suara ban yang mencit, mengepung area dermaga kecil itu dalam hitungan detik.

"Kau pikir kau bisa benar-benar pergi, Maya?" Arlan melangkah maju, perlahan namun pasti. Matanya tertuju pada Dion yang tersentak bangun dalam gendongan Maya. "Kau pikir aku tidak tahu siapa Bramasta sebenarnya? Aku yang mendirikan Dirgantara Group, Maya. Tidak ada satu pun transaksi besar di kota ini, termasuk penjualan tanah warisanmu, yang luput dari radar pengawasanku."

Bramasta segera pasang badan di depan Maya. "Pak Arlan, ini sudah masuk wilayah hukum. Klien saya memiliki hak untuk...."

"Diam, Bramasta! Ini urusan rumah tanggaku!" bentak Arlan tanpa mengalihkan pandangan dari istrinya.

Maya mengeratkan pelukannya pada Dion. Ia merasa tubuhnya gemetar, namun matanya menatap Arlan dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan. "Apa lagi yang kau inginkan, Mas? Kau sudah memiliki rumahmu, hartamu, dan egomu. Kenapa kau tidak bisa membiarkan kami tenang?"

Arlan berhenti tepat dua meter di depan Maya. Ia menatap Dion yang kini mulai menangis karena takut, lalu beralih pada tangan Maya yang memucat karena memeluk bocah itu terlalu kencang.

"Kau membawa Dion, Maya. Kau membawa satu-satunya kenangan yang tersisa dari adikku," suara Arlan mendadak merendah, bergetar oleh emosi yang tertahan. "Dan kau pergi dengan cara seperti ini? Setelah semua yang kuberikan untuk pengobatan ibumu?"

"Semua yang kau berikan adalah alat untuk merantai ku, Mas!" teriak Maya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kau tidak memberikan pengobatan, kau memberikan sandera! Kau ingin aku kembali bukan karena kau mencintaiku, tapi karena kau tidak tahan melihat ada satu hal di dunia ini yang tidak bisa kau kendalikan!"

"Aku mencintaimu!"

"Tidak! Kau mencintai dirimu sendiri yang sedang berperan sebagai pahlawan!" Maya mundur satu langkah ke arah bibir kapal. "Jika kau maju satu langkah lagi, aku akan melompat. Aku tidak peduli lagi. Aku lebih baik hilang ditelan laut ini daripada kembali ke rumah yang kau jadikan neraka itu."

Arlan mematung. Ancaman Maya bukan sekadar gertakan; ia bisa melihat sorot mata wanita itu yang sudah kehilangan harapan namun penuh tekad. Untuk pertama kalinya, Arlan merasakan ketakutan yang nyata bukan takut kehilangan kendali, tapi takut kehilangan nyawa wanita di depannya.

Arlan menatap Dion. Bocah itu menyembunyikan wajahnya di leher Maya, menolak untuk melihat pamannya sendiri. Di detik itu, dinding ego Arlan yang kokoh seolah retak.

" Dion....ikut sama papa Arlan." Bujuk Arlan sembari merentangkan tangannya untuk mengambil Dion dari pelukan Maya.

Dion menatap Arkan,lalu menatap Maya seolah mempertimbangkan sesuatu. Dion yang juga begitu dekat dengan Arlan dengan cepat beralih ke pelukan Arlan.

" Mama Maya,papa Arlan sudah menjemput kita,ayo kita pulang...Dion sudah ngantuk banget."

Maya terpaku, tangannya yang semula mendekap Dion kini terasa kosong dan dingin. Pengkhianatan terdalam justru datang dari kemurnian hati seorang anak kecil yang tidak mengerti betapa beracunnya cinta yang ditawarkan pria di depannya. Dion, dengan wajah mengantuknya, kini bersandar nyaman di bahu Arlan ,tempat yang selama ini dianggapnya sebagai perlindungan, bukan penjara.

Arlan menatap Maya dengan binar kemenangan yang kembali menyala, namun kali ini bercampur dengan kelembutan yang manipulatif. Ia mengeratkan pelukannya pada Dion, seolah memegang kartu as yang paling mematikan.

"Kau dengar itu, Maya? Dion ingin pulang," ujar Arlan pelan, suaranya tenang namun tajam. "Kau bisa melompat ke laut itu jika kau mau, tapi kau akan meninggalkan Dion sendirian denganku. Tanpamu. Apakah itu yang kau inginkan? Membiarkan dia tumbuh besar tanpa wanita yang paling dia sayangi?"

Maya terisak, kakinya melemas di ambang batas dermaga dan kapal. Ia terjebak dalam skakmat yang sempurna. Arlan tahu benar, meskipun Maya sanggup menghancurkan dirinya sendiri, ia tidak akan pernah sanggup membiarkan Dion hidup dalam asuhan Arlan yang dingin tanpa ada dirinya sebagai penyeimbang.

"Kau licik, Arlan... kau menggunakan anak sekecil ini untuk menarikku kembali," bisik Maya dengan suara hancur.

"Aku menggunakan apa pun yang aku punya untuk menjaga milikku, Maya," sahut Arlan sembari melangkah mundur menuju mobilnya, tidak memberi ruang bagi Maya untuk meraih Dion kembali. "Mobil sudah siap. Ibumu akan tetap dipindahkan ke paviliun terbaik, dan semua biaya akan tetap ditanggung. Tapi dengan satu syarat , kau masuk ke mobil itu sekarang, dan kita lupakan malam ini seolah tidak pernah terjadi."

Bramasta mencoba menahan lengan Maya, "Maya, jangan. Jika kau masuk ke mobil itu sekarang, dia tidak akan pernah membiarkanmu melihat pintu keluar lagi."

Maya menatap kapal motor yang mesinnya masih menderu, pintu menuju kebebasan yang tinggal selangkah lagi. Namun, ia melihat Dion yang mulai memejamkan mata di pelukan Arlan. Jika ia pergi sekarang, ia bebas, tapi ia kehilangan Dion selamanya. Jika ia kembali, ia menyelamatkan Dion, tapi ia membunuh jiwanya sendiri.

Dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur berkeping-keping, Maya melangkah menjauh dari dermaga. Ia berjalan melewati Bramasta yang menatapnya dengan iba, menuju Arlan yang berdiri dengan angkuh di samping mobil hitamnya.

Arlan membukakan pintu untuk Maya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mendekap Dion. Saat Maya masuk ke dalam mobil, Arlan membisikkan sesuatu yang membuat darah Maya membeku.

"Selamat datang kembali di rumah, Sayang. Kali ini, aku akan memastikan tidak akan ada lagi pintu darurat di hidupmu."

Pintu mobil tertutup dengan dentuman yang berat, mengunci Maya kembali dalam lingkaran obsesi yang tak berujung. Mesin mobil menderu, meninggalkan dermaga yang sunyi dan kapal yang perlahan menjauh tanpa penumpang. Di dalam kegelapan kabin mobil, Maya hanya bisa menggenggam tangannya sendiri yang dingin, menyadari bahwa fajar yang ia nantikan kini telah tertutup oleh bayang-bayang Arlan yang lebih pekat dari sebelumnya.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!