NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Gilang menarik napas dalam, memaksa bibirnya tersenyum kecil. “Kamu… cantik banget malam ini,” ucapnya pelan, berusaha terdengar tulus.

Perempuan itu tersenyum lebar, matanya berbinar mendengar pujian itu. “Kamu selalu tahu cara bikin aku senang,” katanya sambil terus mengelus dada Gilang, kini lebih lembut, seolah menikmati setiap detik.

Di dalam hati, Gilang ingin muntah. Kata-kata manis yang keluar dari mulutnya terasa seperti racun, tapi ia tahu ini bagian dari pekerjaannya. Semakin puas perempuan itu, semakin besar kemungkinan ia datang lagi — dan berarti uang untuk biaya hidup adik-adiknya bisa terus mengalir.

“Untuk kamu, aku selalu siap bikin bahagia,” Gilang menambahkan dengan suara yang dibuat hangat. Padahal di balik senyum itu, jantungnya berdegup keras, menahan rasa mual dan kelelahan yang semakin menumpuk.

Gilang mendekat, menarik napas pelan, lalu mulai mencumbu perempuan itu. Gerakannya tenang, tapi jelas terlihat dipaksakan.

Perempuan itu terkekeh kecil. “Hmm… iya, gitu. Kamu memang jago bikin aku ketagihan.”

Gilang mengikuti permainan, menciumi setiap lekuk tubuh wanita itu dengan gerakan yang membuat wanita itu mendesah. Tangan wanita itu meraih kepala Gilang, menariknya untuk sebuah ciuman panas. Gilang membalas, meski dalam hati ia hanya ingin semuanya cepat selesai.

“Aku udah gak tahan. Kita mulai sekarang, Romeo,” bisik wanita itu dengan suara bergetar, lalu mendorong tubuh Gilang agar mendekat.

Gilang mengangguk, tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya menuruti permintaan itu. Ia bergerak mengikuti ritme yang diinginkan wanita tersebut. Ruangan sunyi hanya dipenuhi suara napas yang makin berat.

Meski awalnya terasa seperti paksaan, perlahan Gilang membiarkan dirinya tenggelam dalam perannya. Setidaknya malam ini pelanggannya harus puas.

Beberapa menit kemudian, napas wanita itu semakin memburu. Gilang akhirnya menarik diri, menahan napas, lalu terduduk di tepi ranjang, dadanya naik turun. Wanita itu terkulai lemas, bibirnya melengkung puas.

“Kamu bikin aku gila, Romeo…” bisiknya lirih, masih terengah.

Gilang menunduk. Tidak ada rasa bangga, hanya kelelahan yang makin terasa menekan.

"Maaf," ucap Gilang sambil nafasnya memburu, wanita itu menggeleng dan senyuman nakal terukir diwajahnya. "Kamu tidak perlu minta maaf, kamu sangat memuaskan malam ini, Romeo," balas wanita itu dengan senyuman nakalnya.

Gilang membersihkannya dengan tisu, tapi tiba-tiba wanita itu menarik lehernya dan mencium bibirnya lagi.

“Eh—” Gilang terdiam, tubuhnya menegang.

Ciuman itu dalam, membuat dada Gilang berdegup lebih kencang. Ia sempat hendak melepaskan diri, tapi wanita itu semakin menekan bibirnya, seakan belum rela melepaskannya pergi.

Wanita itu melepaskan ciumannya perlahan, napasnya masih memburu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Gilang, suaranya rendah dan menggoda.

“Romeo… apa kamu sudah punya pacar?” bisiknya. Jemarinya menelusuri rahang Gilang, membuatnya kaku di tempat.

“Apa kamu mau jadi pacarku? Aku bisa kasih semua yang kamu minta.”

Gilang menelan ludah, dadanya terasa sesak. Tawaran itu manis di telinga, tapi juga membuatnya muak. Ia hanya bisa tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip topeng.

“Pacar?” Gilang terkekeh hambar. “Aku nggak pantas punya pacar.”

Wanita itu menatapnya bingung, tapi sebelum ia sempat bertanya, Gilang sudah bangkit, meraih kemejanya dan mengenakannya cepat-cepat.

Wanita itu mendekat lagi sebelum Gilang sempat berdiri penuh. Bibirnya menyentuh pipi Gilang, lembut tapi meninggalkan jejak hangat.

Beberapa lembar uang diselipkannya ke pinggang celana Gilang dengan gerakan pelan, hampir seperti godaan.

“Pelihara milikmu yang besar itu dengan baik…” bisiknya manja, membuat rahang Gilang mengeras.

Ia tersenyum genit lalu beranjak pergi dengan langkah ringan, seolah yang barusan terjadi hanyalah permainan kecil.

Gilang hanya terdiam, pandangannya kosong. Rasanya ada yang mengendap di dada—bukan hanya lelah, tapi juga getir. Ia meraih uang itu, menggenggamnya erat, lalu berdiri dan merapikan pakaiannya.

Gilang tetap duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk. Seprei yang berantakan belum ia rapikan, dan napasnya masih berat.

Matanya terasa panas, merah menahan perasaan yang campur aduk.

Tangannya meremas lembaran uang yang baru saja ia dapatkan.

“Maafkan aku, Bu…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Kepalanya tertunduk, seolah meminta ampun pada seseorang yang bahkan tidak ada di sana.

Ia menarik napas panjang, mencoba menelan sesak yang mengganjal di tenggorokannya, lalu perlahan berdiri.

Meski langkahnya berat, ia harus segera pulang. Ada tiga adik dan seorang ibu yang menunggunya.

Gilang melangkah keluar kamar dengan kepala sedikit menunduk. Bau parfum bercampur asap rokok yang memenuhi lorong rumah itu membuat perutnya terasa mual lagi.

Di ujung lorong, Tante Jesica sedang duduk di sofa, menyilangkan kaki sambil memainkan ponselnya. Begitu melihat Gilang, senyum lebar langsung tersungging di wajahnya.

“Romeo,” panggilnya santai. “Kerja bagus, ya. Pelanggan tadi puas banget. Kamu memang andalan Tante.”

Gilang hanya mengangguk lemah. Ia menyerahkan lembaran uang yang diremasnya tadi. Tante Jesica dengan cekatan menghitungnya, lalu menarik sebagian.

“Potong pajak, ya,” ujarnya ringan seolah itu hal biasa. “Jangan lupa, kalau kamu terus bikin pelanggan senang… apalagi kasih full service kayak tadi, kamu bisa dapat bonus. Tante yang urus semuanya.”

Gilang menggigit bibir bawahnya, menahan komentar yang hampir keluar. Ia hanya mengangguk sekali lagi, lalu meraih sisa uangnya.

“Boleh pulang, kan?” suaranya datar.

“Boleh, sayang. Tapi jaga stamina, ya. Kamu laris,” jawab Tante Jesica sambil terkekeh.

Gilang menahan napas, membalikkan badan, dan melangkah keluar dari tempat itu secepat mungkin. Di luar, malam terasa dingin, tapi anehnya tidak cukup untuk menenangkan rasa sesak di dadanya.

Gilang tiba di depan rumah kontrakan mereka yang sempit. Malam sudah larut, jam dua belas lewat lima saat Gilang melihat jam tangannya. Ia mengetuk pintu pelan, takut membangunkan adik-adiknya yang pasti sudah tidur.

Suara roda kursi terdengar dari dalam, diikuti bunyi kunci diputar. Pintu terbuka, menampakkan sosok ibunya.

Wajah ibu pucat, matanya sayu. Ciput tipis menutupi kepala botaknya, sisa kemoterapi beberapa bulan lalu. Tubuhnya tampak semakin kurus, seolah hanya tinggal tulang yang dibalut kulit.

“Kamu baru pulang, Lang?” suaranya lirih, namun ada nada lega.

Gilang menelan ludah, lalu memaksakan senyum. “Iya, Bu. Maaf bikin Ibu nunggu.”

Ibu tersenyum kecil, meski bibirnya tampak kering. “Gak apa-apa… yang penting kamu pulang dengan selamat.”

Gilang membantu mendorong kursi roda masuk ke dalam rumah. Aroma obat-obatan langsung menyergap hidungnya. Di sudut ruangan, tiga adiknya terlihat tidur berhimpitan di satu kasur tipis.

“Ibu udah minum obat?” tanya Gilang sambil meletakkan tas plastik berisi sembako di meja.

“Udah. Tinggal istirahat aja,” jawab ibunya pelan.

Gilang mengangguk, lalu jongkok di samping kursi roda itu. Ia menggenggam tangan ibunya yang dingin. Dalam hati ia berkata lagi, Maafkan aku, Bu. Semua ini demi kalian.

Ibunya mengusap punggung tangan Gilang lalu tersenyum lembut " tetap jadi anak baik ya, nak."

Ucapan itu seakan menusuk hati Gilang, "anak baik" sepertinya julukan itu sangat berbeda jauh dengan dirinya. Gilang yang sekarang sudah rusak, sudah sering dipakai dan mungkin seterusnya akan begitu. Gilang mengecup punggung tangan ibunya berkali-kali, tanpa mengucapkan kata apapun. Lalu ibunya berkata pelan, " sudah, istirahat sana, kamu besok harus kuliah nak."

"Iya Bu," jawab Gilang singkat lalu pergi ke kamar sempitnya. Walaupun belum layak dikatakan sebagai kamar, tapi setidaknya dia bisa melepas lelah diruangan sempit itu.

Gilang duduk bersandar di dinding kamarnya, kasur sempit yng sudah tipis jadi alas tidurnya, setidaknya tidak membuat ia kedinginan saat malam. Ia menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya yang dari tadi tidak sempat ia buka.

Layar menyala, menampilkan deretan notifikasi pesan.

Dari Viona.

Kak, udah sampe rumah?

Kak, nanti kita bikin tugas besok jam berapa?

Kak, kok nggak bales, lagi sibuk ya?

Gilang menatap pesan-pesan itu lama, sebelum akhirnya jempolnya bergerak membuka satu per satu. Senyum tipis terbit di wajahnya — senyum lelah, tapi hangat.

Viona selalu memanggilnya "Kak," bukan hanya karena hormat, tapi karena memang usia Gilang lebih tua daripada sebagian besar teman seangkatannya. Ia baru masuk kuliah dua tahun setelah lulus SMA.

Dulu ia sempat menolak, merasa kuliah hanya akan menambah beban keluarga. Tapi ibunya, dengan sabar dan penuh keyakinan, selalu membujuk. "Kamu harus sekolah, Lang. Jangan kayak Ibu. Pikirin masa depanmu," begitu kata-kata yang akhirnya meluluhkan hatinya.

Ia akhirnya mendaftar, diterima di universitas negeri, dan sejak itu menjalani hidup ganda: mahasiswa di siang hari, pekerja di malam hari.

Gilang mengetik balasan singkat.

Udah, Vi. Maaf baru bales. Tugasnya besok sore aja ya, habis kelas. Aku capek banget hari ini.

Pesan terkirim. Ia menatap layar beberapa detik lagi, menunggu tanda centang dua berubah biru, lalu mematikan ponselnya.

lalu membaringkan tubuhnya, setidaknya untuk merefresh pikiran dan tubuhnya yang sangat lelah malam ini. Gilang menatap foto keluarganya di dinding yang telah usang,perasaan hangat sekaligus perih memenuhi dadanya. Hidupnya terasa berat, tapi ia tahu alasannya kenapa ia masih terus bertahan.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!